Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 7: Mencari Alasan lagi


__ADS_3

"Rey, jangan ditekuk wajahmu. Senyum dikit ....,"


"Bang, kopinya, sekalian buat teman Abang." ucap Asma datang membawa nampan dua gelas kopi hitam.


Bagas tersenyum menyambut kopi yang selalu membuatnya tidak sabar untuk mencicipi rasa hangat dengan seduhan yang pas di lidahnya. Pria itu lupa dengan tujuannya, tetapi tidak akan melupakan lirikan tajam dari Rey yang terus menembus seperti kilauan senjata tajam.


"Asma, kenapa berhenti kerja? Bukankah kamu kuat kerja di pabrik. Apalagi, pergi tanpa kasih kabar ....,"


Asma menghela nafas pelan, lalu menatap Bagas tanpa senyuman. "Bang, Aku hanya ingin pulang. Pertanyaan abang, tidak akan mengubah keadaan."


Ya ampun, apa gadis ini tidak tahu. Jika Bagas wakil CEO? Bagaimana dengan mudahnya bicara sedingin itu, apa tidak berpikir dua kali.~keluh hati Reyhan berusaha menahan diri agar tidak mengatakan apapun.


Sementara Bagas hanya menggaruk kepala yang tidak gatal. Ia lupa, jika Asma tidak suka kehidupan pribadinya di urusi. Buru-buru ia mengerlingkan mata, memberikan kode agar Rey memberikan pulpen yang masih terus digenggam.


"Ini." ucap Rey sambil mengulurkan pulpen berhasil menjebak dirinya dalam situasi canggung. Bukannya menerima, Asma hanya menatap pulpen dengan alis terangkat. "Pulpenmu."


"Ambillah. Itu pulpen yang aku pinjam darimu, maaf baru sempat ngembaliin." Sambung Bagas menjelaskan, barulah Asma menerima pulpennya.


Tangannya terulur mengambil pulpen, tetapi disaat bersamaan terdengar suara ibu memanggilnya. Sontak saja Asma tak sengaja menyentuh tangan Rey yang dingin, sedangkan pria itu tersentak akan aliran listrik yang merambat. Pulpen menggantung, tak jadi diambil.


Rasanya begitu aneh. Kenapa bisa tersetrum? Gadis itu hanya menyentuh tangannya sesaat, tetapi alirannya memacu detak jantung berdetak lebih cepat. Apalagi ketika Asma menoleh hanya untuk minta maaf atas ketidaksengajaan yang dilakukan.

__ADS_1


"Maaf, Aku tinggal ke belakang dulu." ucap Asma, lalu beranjak dari tempatnya meninggalkan kedua tamu yang masih asing baginya.


Sementara itu, Rey mengatur nafas. Tarik, buang, tarik, buang, seperti tengah melakukan yoga dadakan. Pulpen diletakkan tanpa menunggu Asma lagi, ia tidak ingin merasakan sengatan yang sama dua kali. Bagas tersenyum tipis, ia mengawasi semua yang terjadi. Satu sisi, Asma yang masa bodo, dingin, dan sisi lain Reyhan yang sibuk dalam dunia pikiran.


Keduanya cocok, tetapi harus ada pemicu agar bisa disatukan. Masalahnya, ia tak tahu. Apa yang akan menjadi langkah selanjutnya. Tidak mungkin mengembalikan pulpen trus. Iya 'kan? Bagas terus menyeruput kopi hingga sebuah ide terbang menghampirinya. Alasan baru yang bisa digunakan untuk menghabiskan waktu lebih banyak lagi.


"Nando, bisa kita pergi. Pulpen sudah dikembalikan, jadi bebas sekarang. Ayo balik." ajak Rey menyadarkan lamunan singkat sahabatnya, firasat yang tidak baik akan terus menghantui karena ia memiliki sahabat rasa musuh.


Bukannya menjawab, Bagas terus membungkam mulut dengan menyeruput kopi tanpa berhenti hingga Asma kembali ke ruang tamu. Gadis itu, terlihat baru mencuci muka. Entah apa yang terjadi. Setelah menghilang selama lima menit. Justru tatapan matanya nampak semakin sendu.


Ada yang tidak beres, tapi apa? Ingin bertanya, namun tidak memiliki hak untuk tahu lebih jauh lagi. Mungkin benar, sebaiknya pulang agar gadis itu bisa beristirahat. "Asma, Aku pamit dulu. Oh iya, apa kamu punya kesibukan beberapa hari ke depan?"


"Bisa jadi tour guide? Aku baru pertama kali ke kota Kebumen. Jadi, ajak kami jalan. Bisa ya." bujuk Bagas yang lebih tepatnya memaksakan keinginannya secara harus, membuat Asma mengangguk pasrah. "Yes. Jadi, mulai kapan?"


"Bang! Putuskan dulu mau kemana. Aku jarang keluar rumah. Jadi hanya tahu dua tempat. Satu pantai bocor dan satu lagi alun-alun kota, bahkan kalian bisa mengunjungi kedua tempat itu, tanpa tour guide." jelas Asma tanpa sungkan.


Bagas tersenyum, "Kemanapun itu, setidaknya kami ada teman dari kota ini. Jadi, tidak masalah mau ke pantai atau hanya ke alun-alun kota. Kenapa tidak malam ini saja? Bagaimana."


Bagas mengalihkan tatapan matanya bergantian ke arah dua orang yang sama-sama dinginnya. Tidak ada permusuhan, tetapi tidak juga berteman. Namun seakan sepakat untuk melakukan penolakan, walau akhirnya pasrah. Pertemuan itu berakhir dengan perjanjian malam akan jalan bersama.


Kepergian kedua pria itu, membuat Asma menyandarkan tubuhnya ke dinding. Rasanya ada yang aneh. Bayangkan saja, hanya karena satu pulpen yang bisa dibeli ke warung. Kenapa Bagas rela melakukan perjalanan berjam-jam hanya untuk mengembalikan pulpennya?

__ADS_1


Bisa saja telfon, lalu bilang apapun yang bisa menghindari untuk hal seaneh itu. Apapun itu, ia tak mau larut memikirkan. Semua sudah terjadi, sekarang hanya bisa menjalani apa yang belum terjadi. Sibuk merenung tentang semuanya, tiba-tiba ibu memanggilnya lagi.


Buru-buru ditutupnya pintu depan rumah, lalu tak lupa membawa nampan dengan gelas kopi bekas tamu kembali ke dalam. Ternyata ibu hanya minta dibesarkan volume ponselnya. Yah, saat ada tamu. Asma memang tengah memberikan ponsel sebagai tempat hiburan sang ibu.


Sebuah film diputar, lalu ia tinggal melakukan pekerjaan rumah. Sayangnya tamu menghentikan niat bebenahnya. Jangankan make up, penampilannya saja sudah tidak karuan. Celana jeans dan kaos oblong kebesaran. Polos, tapi tidak merasa kekurangan sesuatu.


Sementara itu, Rey memilih diam tak peduli dengan penjelasan Bagas yang sejak masuk ke mobil berusaha menceritakan segala sesuatunya. Nasi sudah menjadi bubur, begitulah peribahasanya. Percuma mau mengeluh, apalagi marah hanya karena hal sepele.


Tiba-tiba, Bagas menepikan mobilnya. Lalu, menoleh ke arah Rey. "Kamu marah karena aku deketin Asma atau marah karena menemaniku? Come on, aku juga ingin bahagia. Kamu tahu lah, apa maksudnya. Apa harus aku jelaskan?"


"Hmmm." Rey mengangkat tangan kanannya, seketika Bagas terdiam tak ingin meneruskan apa yang seharusnya. "Apa kamu mencintai gadis itu?"


Satu pertanyaan yang terdengar menyayat hati. Rasanya berat mengucapkan tanya itu, tetapi ia harus tahu isi hati dari sahabatnya sendiri. Aneh, ketika rasa nyeri menyentil jiwanya. Sesuatu sudah terjadi, tapi harus dihentikan.


Bagas menatap Rey sungguh-sungguh, lalu mengambil ponselnya. Tanpa kata, pria itu menunjukkan nama my future (Masa depanku) di kontak dari nomor yang memiliki foto profil bertuliskan Asma. Sedetik, dua detik, hanya helaan nafas yang terdengar saling beradu.


"Baik. Aku akan bantu, asal kalian bahagia." ucap Rey pasti dengan keputusannya, dan langsung disambut hangat kepalan tangan Bagas yang terulur padanya. "Sahabat."


Ketika mengucapkan kata sahabat. Rey sangat terpaksa, ntah apa yang pria itu pikirkan. Namun, Bagas masih ingin menikmati wajah muram sahabatnya. Ia tahu, Rey tidak rela, tapi berusaha untuk merelakan. Orang bilang, kepercayaan dan cinta membutuhkan ujian. Jadi, sudah waktunya membuktikan itu.


.

__ADS_1


__ADS_2