Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 135: Cafe Outdoor


__ADS_3

Jawaban Rey begitu datar, membuat Asma terkekeh pelan. Langkah kaki sang suami menjauh darinya, tapi itu tak jadi masalah karena ia langsung menyusul, lalu tanpa permisi menggandeng tangan sang suami. "Tuan Kulkas bisa ngambek juga, ya? Gini deh, kita cari kedai ice cream. Tenang, aku yang traktir."


"Apa aku kelihatan tidak bisa bayar?" sindir Rey melirik Asma kesal, tapi wanita itu tengah berusaha untuk membujuknya.


Pria ngambek lebih susah untuk ditenangkan. Entah akan jadi apa? Sepanjang sisa waktu sebelum acara resepsi pasti terasa lebih lama. Keduanya berjalan menuju area taman yang sekaligus bersebelahan dengan cafe outdoor dengan view pantai di kejauhan sana. Eksotik dan pantas untuk dijadikan tempat moment kebersamaan.


Asma melambaikan tangan pada seorang pelayan, begitu ia menemukan tempat yang cocok untuk sekedar nongkrong bersantai ria. Sementara Rey masih saja perhatian dengan menarik kursi untuk tempat ia duduk, "Terima kasih, Tuan Kulkas. Silahkan duduk!"


"Hmmm, kenapa gak jawab pertanyaan dariku?" tanya Rey ikut duduk di kursi lain yang berhadapan dengan Asma. Keduanya saling menautkan pandangan mata mencoba menelusuri dalamnya akal sehat yang kian terbelenggu perasaan cinta.


Tidak ada jawaban, wanita itu justru memesan makanan dan minuman tak sehat serta ice cream sesuai keinginan hati. Sehingga mengalihkan perhatian Rey yang hanya bisa menggelengkan kepala keheranan. Menu makan yang dipilih Asma benar-benar tidak bisa diprediksi.


Pizza, burger, steak, pasta saus BBQ, ikan bakar special level sepuluh, sate bakar bumbu rujak. Es campur, sop buah, kopi cappucino, dan ice cream. Siapa yang mau makan dan minum sebanyak itu? Mereka hanya berdua, tapi memesan seperti datang rombongan.


"Apa kamu sanggup makan semua itu?" Rey menatap lekat manik mata istrinya, ia mencoba meyakinkan diri bahwa semua yang sudah dipesan bisa habis dan tidak mubazir.


Bukan masalah uang yang akan dihabiskan, tapi ia tidak ingin makan secara berlebihan karena itu bukan anjuran yang baik. Apalagi sebagai seorang suami memiliki kewajiban untuk mengingatkan seorang istri yang mode kalap untuk menikmati makanan tak sehat.


Seulas senyum tipis tersungging menghiasi wajah, "Ralat. Kita yang akan makan semuanya. Bukan aku atau kamu. Btw, kenapa Mas makannya dikit? Padahal kebanyakan cowok makan porsi banyak."

__ADS_1


"Pertanyaanmu itu, loh. Gak ada pertanyaan lain ...," sergah Rey hanya sekedar menggoda Asma, ia paham wanita itu ingin mengalihkan obrolan ke hal yang bisa mengubah suasana hati menjadi lebih baik.


Istrinya menggelengkan kepala pasti, membuatnya harus ikut bersantai dengan haluan baru yang tampaknya lebih baik dari ketegangan. "Sayang, Aku terbiasa makan sambil bekerja. Belum tentu jadwalnya, kadang Bagas sampai ngomel kaya emak-emak."


Perhatian seorang sahabat rasa saudara yang sangat luar biasa. Tanpa harus dijelaskan, Asma bisa membayangkan bagaimana omelan Ka Bagas. Sebenarnya orang yang memiliki kasih sayang besar, tetap memerlukan pasangan yang tepat. Bukankah kodrat manusia yang berjodoh adalah saling melengkapi?


"Emak aja, bisa kalah dari Ka Bagas kalau lagi ceramah. Gitu maksudnya, Mas?" Asma terkekeh pelan dengan pertanyaan ambigu yang terlontar begitu saja, ia sendiri menyadari betapa Bagas selalu menjiwai setiap karakter di dunia yang penuh emosi.


Binar kebahagiaan yang kembali bersinar di mata sang istri, membuat Rey mengikuti alur obrolan dengan perbincangan yang begitu santai. Karakter yang sangat jarang dikeluarkan, tapi hari ini berhasil menjadi alasan kebersamaan layaknya kedua sahabat yang sudah lama tak bersua.


Pelayan kembali datang membawa pesanan. Satu persatu piring diletakkan ke atas meja, tetapi berhubung makanan dan minuman yang dipesan cukup banyak sedangkan pilihan tempat kecil alias tipe minimalis. Akhirnya beberapa menu dibiarkan tetap di troli meja pengantar makanan.


Uap putih yang mengepul menyebarkan aroma makanan lezat. Di atas meja sudah tersedia makanan yang harus dimakan selagi masih hangat. Seperti steak, pasta saus BBQ, ikan bakar special level sepuluh, sate bakar bumbu rujak. Ditemani es campur yang menyegarkan. Sementara makanan lain masih di tempat terpisah.


"Mas, mau taruhan gak?" celetuk Asma menggeser posisi ikan bakar special level sepuluh ke hadapannya dan menukar steak kedepan Rey yang pasti terbiasa makan menu satu itu.


Rey menaikkan alis seraya menatap istrinya tak paham, "Taruhan? Kamu mau belajar main kartu? Jangan aneh-aneh deh."


Astaga, kenapa pria itu memiliki pemikiran yang sempit? Apa semua taruhan harus di atas meja judi. Gak 'kan? Tak ingin terpancing emosi, Asma menghirup udara dalam-dalam, lalu mengembuskan secara perlahan. Perubahan mood yang terlalu mendadak, membuatnya jaga diri agar tetap aman terkendali.

__ADS_1


"Sudahlah, percuma jelasin." Diambilnya sedikit daging ikan bakar bagian ekor, lalu mengoleskan kuah bumbu rujak yang beraroma nanas segar. "Berdoa dulu! Aaaa ...,"


Tangan yang terulur menyodorkan secuil daging ikan bakar diterima Rey dengan senang hati. Suapan pertama terasa begitu lezat. Kadang-kadang ia lupa kebiasaan istrinya yang suka makan bareng. Apalagi karena kesibukan semakin, justru mengurangi jadwal kebersamaan mereka berdua. Siang menjelang sore dengan kehangatan perhatian seorang istri untuk sang suami.


Suapan demi suapan saling memberikan dukungan dan nikmat akan kasih sayang. Pasutri itu begitu romantis sehingga tanpa sadar menjadi pusat perhatian banyak orang. Termasuk seseorang yang mencoba memastikan penglihatannya tidaklah salah orang. Tangan berulangkali mengucek mata, tapi pemandangan di depan dengan jarak tujuh meter masih tetaplah sama.


"Mas! Apa yang kamu lihat?" tanya seorang wanita menegur suaminya yang entah sibuk menatap apa. Rasa penasaran membuatnya ikut menoleh ke arah tatapan mata sang pria, tapi bayak sekali pelanggan lain yang bisa menjadi tujuan.


Apa pasangan romantis yang lagi sibuk suap-suapan? Atau keluarga besar yang tengah merayakan hari ulang tahun seorang anak kecil? Bisa saja para pelanggan lain yang berada di antara batas pandangan mata. Meski sekilas wajah ada yang tidak asing, tetap saja ia tidak mendapatkan jawaban dari kepastian.


"Ayah! Ibu! Boleh Niko main?" seorang anak laki-laki menatap ke-dua orang tuanya yang saling berpaling, ia tidak paham kenapa orang dewasa selalu bersikap seperti musuh dan seringkali manyun.


Diusapnya kepala sang putra yang duduk di sebelah kanannya, "Jangan jauh-jauh. Hati-hati mainnya."


Izin dari ayahnya, membuat anak itu melonjak kegirangan turun dari kursi yang terasa membosankan. Makanan yang dipesan masih menunggu proses pengantaran sehingga bisa diselingi untuk menikmati pemandangan sekitar. Akan tetapi, tidak untuk si pria dengan debaran jantung tak berirama.


Dag, dig, dug. Suara detak jantung yang benar-benar terdengar tanpa harus meletakkan tangan di depan dada. "Apa kita harus melanjutkan pernikahan paksa ini? Lihatlah, banyak pasangan yang saling mengasihi tapi kita? Jangankan untuk menyayangi, saling menghargai saja tidak."


"Kalingga! Jangan mulai lagi, kita disini buat Niko." ucap Citra lirih seraya menoleh kanan kiri. Ia tak ingin berdebat di tempat umum yang berakhir mempermalukan diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2