Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 140: Masa Lalu yang Terdampar


__ADS_3

Rey menghentikan aktivitasnya yang tengah mengurus masalah pelayan, lalu ia berbalik hingga tatapan matanya jatuh menatap sang istri. Dimana Asma tersenyum manis ke arahnya berharap mendapatkan izin. Bisa saja pergi begitu saja, tapi wanita itu selalu memberi hak seorang suami disetiap kesempatan yang ada.



"Kalian pergilah! Lakukan seperti perintahku." Langkah kakinya berjalan menjauh dari kedua pelayan yang ada di belakangnya. Tanpa ia sadari ada tangan yang mengepal membencinya.



Jarak hanyalah sebuah kata lain dari takdir, begitulah manusia menyebutnya. Walaupun sudah ada di depan mata, tetapi tidak ada garis penyatuan. Maka, tak seorangpun bisa merubah alur waktu dari setiap pertemuan dan perpisahan. Manusia boleh berharap, boleh juga menolak. Namun tak akan menjadi nyata tanpa izin dari Yang Maha Kuasa.



Seperti dia yang menatap pertemuan Rey dan Asma dengan tatapan saling mengasihi. Tanpa sadar, tangannya meraih gelas menyalurkan seluruh emosi yang terpendam. Kemesraan di depan umum menjadi pemandangan untuk seluruh tamu undangan. Bagaimana tidak?



Rey mengecup kening Asma tanpa sungkan, lalu memeluk gadis itu tanpa menyisakan jarak. Sakit, lebih perih dari goresan pisau. Tiba-tiba gelas di tangan pecah tak berbentuk mengalir bersama aroma anyir sehingga membuat pelayan lain terperanjat dan buru-buru mengeluarkan sapu tangan sekedar untuk menahan aliran darah.



"Aku gak papa. Sebaiknya, aku pulang. Tidak usah peduli luka ini, permisi." Kalingga beranjak dari tempat duduknya. Langkah kakinya gontai, tetapi ia tak sanggup untuk menoleh ke arah dimana pujaan hatinya masih terbenam dalam pelukan pria lain.



Gemuruh di dada dengan hawa panas yang menjalar di seluruh tubuh. Apa ia cemburu? Perasaan yang selama ini menghilang bagaikan ditelan bumi. Kenapa rasa itu hadir kembali? Ia tak menyangka bahwa kisah cinta bisa serumit ini. Andai saja waktu bisa diputar, mungkin saat ini dunia menjadi miliknya seorang.



Kemewahan bukanlah hal utama, tetapi untuk memiliki identitas. Ia telah memilih harta dibandingkan cinta. Satu kesempatan terhapus, lalu tergantikan kesempatan kedua. Kemudian apa yang terjadi? Setiap kesempatan diabaikannya tanpa berpikir hasil dari tindakan.



Apa kurangnya Asma selama menjalin hubungan dengannya? Gadis itu selalu berusaha memahami tanpa bertanya. Berusaha mengayomi meski kehidupan dilanda badai. Sekali saja tindakan, selalu menjadi peringatan. Dimana letak dari ketidakjelasan?



Selama bertahun-tahun, hubungan diperjuangkan dari dua sisi. Akan tetapi ketika jalan itu sudah salah dan tak sekalipun bisa melindungi pasangannya. Apa masih bisa disebut hubungan? Kenyataan tetap sama. Ia tak mampu memahami Asma, meski gadis itu selalu mengalah dengan keinginannya.



Hati telah hancur berkeping-keping. Kini emosi yang tersisa. Kesadaran di waktu usang dan penyesalan terakhir yang tidak bisa mengubah apapun. Semua jelas tanpa harus mengenakan kacamata. Wanita yang selalu menjadi ratu di hatinya telah mendapatkan kebahagiaan yang layak. Senyuman manis menjadi bukti nyata.



Suara jeritan yang menggema di area parkir terdengar begitu menyayat hati. Luka, kecewa, sedih, penyesalan berbaur menjadi satu tanpa bisa dipisahkan. Tak peduli dengan orang-orang yang memperhatikan kegilaannya. Pria itu terus menerus berusaha melampiaskan rasa dengan berteriak sesuka hati.

__ADS_1



Sementara di dalam area pesta. Rey kembali mengunjungi beberapa kolega, sedangkan istrinya menikmati jalan-jalan di tepi pantai bersama Fay dan beberapa wanita lain yang merupakan keluarga. Meskipun begitu, tetap diikuti pengawal agar tidak ada yang berbuat jahat. Pasti tidak nyaman jika dibuntuti.



"Ka, kita duduk sana, yuk!" Fay menunjuk batang pohon yang terlihat cukup kokoh untuk di duduki beberapa orang. Asma mengangguk menyetujuinya.


Jovanka menarik gaun Asma, "Ma, boleh selfie bareng nenek?" Tatapan mata yang memelas dengan seulas senyum pengharapan. Siapa yang bisa menolak gadis se-imut putri satu itu.


"Bu, gak papa bawa Jova, aku duduk disitu. Kalian!" Asma melambai hingga kelima bodyguard berjalan menghampiri nyonya mudanya. "Bantu dan awasi keluarga ku! Kami akan duduk diam tanpa merepotkan. Pergilah."



Perintah tuan atau nyonya? Tetap saja hukumnya mutlak karena pasutri itu memiliki kekuasaan yang sama. Bukankah demikian? Kepergian anggota yang lain, membuat Asma dan Fay duduk diatas batang pohon seraya menikmati pemandangan pesisir pantai. Sesekali mengamati kegiatan yang lain agar tetap waspada.



Tiba-tiba, Fay mengulurkan sebuah kotak kado di hadapannya. Tampak menarik, tetapi kenapa harus memberikan kado? Seakan memahami pemikiran sang kakak. Wanita satu itu meraih tangan kakaknya, lalu meletakkan kado agar diterima oleh sang penerima yang sah.



"Seseorang menitipkan kado ini pada Nau, lalu Nau titip ke aku dan katanya untuk Ka Asma. Jadi kita ikut penasaran, siapa yang mengirim kado tanpa mau bertemu denganmu. Apa mungkin itu Elora?" jelas Fay tanpa basa basi, tapi berakhir dengan kecurigaan pada si wanita tak bermuka.




Perlahan dibukanya kertas kado yang hanya setipis selembar tisu hingga muncul sebuah kotak cincin kaca. Kotak itu, seharusnya berisi sepasang cincin tapi yang tersisa hanya sebuah cincin untuk pria. Apa maksudnya?



Fay melihat ada gulungan kertas yang menempel di kertas kado. Sontak diambilnya, lalu dibuka. "Assalamu'alaikum, Kesayanganku. Apa kamu melupakan cinta kita? Ingatlah aku walau sejenak karena hati ini, masih milikmu. Salam Kalingga."



Speechless dengan setiap kata yang tertulis di gulungan kertas. Meski tulisan begitu kecil, tetap saja jelas dibaca tanpa kacamata. Fay menoleh ke arah Asma. Sang kakak yang memejamkan mata mencoba untuk menetralisir emosi di hati. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ia melupakan sesuatu tentang riwayat kisah cinta sang kakak?


Hening tanpa ada kata. Suara deburan ombak semakin terdengar begitu jelas, membawa kenangan masa lalu yang menyisakan luka dalam di hatinya. Kenapa harus kembali? Apa yang tersisa di antara mereka selain rasa sakit yang kini mulai terlupakan. Ketika semua sudah berakhir. Apa harus datang sebagai kabut bayangan?


Entah apa yang terjadi, tapi saat ini yang bisa dilakukan hanyalah merengkuh tubuh sang kakak. Ia mencoba menguatkan dan berharap kebersamaan bisa meringankan beban hati yang masih terpendam. Sadar akan kegelisahan dan luka di setiap helaan napas pelan seorang Asma.



Wanita yang biasanya fine dan tegar. Lalu malam ini terlihat rapuh tanpa ada harapan. Mata yang terpejam seakan enggan melihat kenyataan di depan mata. Apakah sesakit itu? Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain Asma. Waktu yang bisa mengurangi tekanan emosi sesaat, walau tak mengubah apa yang sudah terjadi.

__ADS_1



Dua puluh menit telah berlalu. Asma mulai membuka matanya, lalu melepaskan diri dari pelukan Fay. Wanita itu menghapus sisa air mata yang terlalu asing untuk kehidupannya saat ini, kemudian menyerahkan kotak cincin ke tangan sang adik.



"Dia, masa lalu. Aku tidak bisa menerima, apalagi menyimpan bersama kehidupan masa kini ku. Semua sudah berakhir, berikan saja pada yang lebih membutuhkan." ujar Asma membuat Fay mengerjap mencoba mencerna permintaannya yang kali ini sedikit membingungkan.



Apa harus memberikan cincin tersebut pada pengemis? Sepertinya tidak mungkin, lalu diberikan untuk siapa? Jika diamati mungkin hanya emas biasa yang berkisar harga satu juta lebih, tapi tetap saja memiliki nilai kenangan bagi sang pemberi. Meski begitu, bukan berarti bisa menggadaikan masa kini hanya karena masa lalu yang tidak berguna.



"Aku akan kirimkan sebuah alamat. Kirim balik cincin itu tanpa suratnya! Gunakan saja kurir dan sampaikan pesan yang akan ku tulis nanti." sambung Asma, seketika mengembalikan kesadaran Fay yang harus travelling memikirkan beberapa kemungkinan.



"Tapi, Ka. Siapa itu Kalingga?" Fay menatap Asma. Dimana kakaknya tersenyum tipis dengan tatapan kosong mengikuti deburan ombak di lautan.


...✼ •• ┈┈┈┈๑⋅⋯ ୨˚୧ ⋯⋅๑┈┈┈┈ •• ✼...


.


.


.


Assalamu'alaikum, Happy Ramzan Readers.


Othoor comeback 😭🤕☔


Semoga kalian sehat slalu. 🤲


Mohon maaf lahir batin, yak. 🥰


Othoor cuma mau bilang, kepoin karya lain yg baru, Yuk🤭


...🍃Area Horor Karya Ketiga🍃...



...☔Area Romance movies☔...


__ADS_1


Noted: update 1 bab perhari for Jerat Karma 2 with Istri Rasa Depkolektor.


__ADS_2