Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 40: Menu Makanan


__ADS_3

Rey tak bisa berkutik lagi. Ia kembali duduk, "Baiklah. Seperti keinginanmu, Istriku."


Bukan pasrah, tapi lebih baik mengalah. Meski ekspresi wajah tetap tenang. Asma masih mencoba untuk tahu, sebenarnya apa yang menjadi alasan khawatirnya, sedangkan ia tak mungkin memberitahu secepat itu. Akan lebih baik, jika istrinya tidak pernah tahu tentang Elora.


Meskipun itu tidak mungkin karena undangan untuk acara resepsi sudah mulai tersebar dan tamu undangan termasuk keluarga Elora. Dimana papa wanita itu adalah salah satu rekan bisnis yang masih bergulir menjadi proyek pembangunan apartemen.


Ini bukan dilema, melainkan sebuah bentuk penjagaan diri untuk keluarga barunya. Apalagi mengingat bahwa Asma hanya gadis biasa yang belum terbisa atas kehidupan para pebisnis. Mau, tak mau ia harus membentengi agar semua tetap aman terkendali. Begitu juga dengan Bagas , dimana pria itu juga melakukan hal sama.


Bagas mencoba untuk memulai obrolan ringan, tetapi Asma tetap diam menikmati keheningan dalam pengawasan. Gadis itu, tak ingin mencoba menggali hal yang bukan ranahnya. Lagi pula seseorang akan berterus terang tanpa diminta. Iya 'kan?


Setelah menunggu pesanan selama kurang lebih dua puluh lima menit. Akhirnya makanan datang. Pelayan langsung menyajikan hingga memenuhi meja yang tidak seberapa besar itu. Ada udang saus tiram, tumis daun pepaya, fried chicken, pizza ukuran sedang dan tiga jus squash delight strawberry. Makanan yang ringan, tetapi cukup menyakiti tenggorokan. Setidaknya ada segenggam nasi yang bersanding dengan si ayam goreng tepung.


''Selamat makan.'' ucap Asma mengambil bagiannya, tak ingin larut dalam rasa penasaran karena itu hanya membuatnya semakin kelaparan.


Tidak ada yang mengeluh. Ketiganya menikmati makanan bersama dalam diam dan khidmat. Tidak ada yang mengganggu hingga lirikan mata Bagas tak sengaja melihat Elora berada di seberang di luar cafe. Tentu ia berpikir keras harus melakukan sesuatu secara cepat.


''Aku permisi ke toilet sebentar,'' pamitnya tanpa menunggu jawaban dan langsung meninggalkan meja makan.


Langkah kakinya bukan menuju toilet, tetapi keluar meninggalkan cafe. Asma tidak melihat, tapi Rey tak melepaskan pandangan matanya dari sahabatnya itu. Ketika menyadari alasan kepergian Bagas, seketika hatinya cemas akan penilaian sang istri. Jika tahu kebenaran dari mulut orang lain.

__ADS_1


Tak ingin gegabah, ia beranjak dari tempat duduknya, berpindah ke kursi Bagas agar bisa duduk menghalangi pandangan Asma yang mungkin bisa melihat keberadaan Elora. Tentu ia harus memiliki alasan yang tepat dan untuk itu, sebuah ide melintas menjadi jalan keluarnya.


"Asma, bisa makan bersama? Aku tidak selera makan sendiri." Rey menukar piringnya yang memang baru tersentuh beberapa suap saja, membuat sang istri mendongak menatap ke arahnya. "Aku kangen makan bareng, boleh ya?"


Tidak ada jawaban, tetapi dibiarkannya saja mencomot makanan yang ada di piringnya. Alhasil makanan yang tidak seberapa ludes dalam hitungan. Entah lapar, atau doyan. Asma membiarkan tanpa berkomentar walau ia masih merasa lapar. Lebih baik untuk diam, lalu menikmati jus yang menyegarkan.


Meski makanan di meja makan tersisa bagian untuk Bagas, tapi pria satu itu masih belum kembali juga. Entah kemana perginya, tapi anehnya. Kenapa Rey nampak tenang bahkan tidak cemas seperti tadi. Ingin bertanya, namun lebih baik berpura-pura tidak tahu saja.


"Mas, Aku izin ke toilet sebentar." Pamitnya yang merasa mulai tidak enak dengan rasa sakit di perutnya.


Baru saja ingin beranjak dari tempat duduknya, tapi ia tak sanggup untuk berdiri. Tubuhnya terasa lemas. Apa yang terjadi? Helaan nafas panjang sambil memejamkan mata. Ingin menahan rasa sakitnya, namun semakin ditahan. Justru tubuhnya bergejolak seperti tersengat listrik. Hawa panas yang menyeruak dengan rasa remuk yang menyapa.


"Astagfirullah, kamu sakit. Sebaiknya kita ke rumah sakit." Rey berniat untuk membantu istrinya bangun, tetapi belum sempat memegang tangan wanitanya dengan benar. Sang istri sudah terlanjur pingsan tak sadarkan diri. "Asma!"


Seruan yang keras hingga mengejutkan orang-orang disekitarnya. Disaat bersamaan, Bagas baru kembali masuk ke dalam cafe. Pria itu juga berkeringat, tetapi karena baru selesai mengecoh Elora untuk pergi menjauh dari cafe. Langkah kakinya berlari kecil menghampiri meja makan.


"Rey, ada apa?" tanyanya seketika panik melihat Asma yang beralih ke dalam gendongan sang sahabat.


"Kita harus bawa ke rumah sakit terdekat. Kamu urus pembayaran dulu, susul aku segera." pinta Rey tak bisa menunggu lebih lama lagi, anggukan kepala sahabatnya memberikan jalan untuk ia pergi meninggalkan cafe.

__ADS_1


Begitu juga dengan Bagas. Pria itu bergegas meminta bill pada pelayan, lalu membayar tanpa menunggu kembalian. Langkah kaki terus berjalan menuju tempat parkiran. Setelah mendapatkan sharelock dari Rey, ia bergerak cepat memasuki mobil. Perjalanan kali ini, tidak terlalu lama. Dimana sang sahabat membawa Asma ke rumah sakit yang berjarak tiga gedung pencakar langit dari mall tempat mereka berkumpul.


Sepuluh menit kemudian. Sampailah ia ke rumah sakit Medika. Sebuah rumah sakit yang terletak di pusat kota, namun bukan rumah sakit utama. Bagas turun dari mobil, lalu berlari kecil menuju lobi rumah sakit. Kemudian bertanya pada salah satu suster penjaga depan, dimana ruang rawat Asma berada.


"Kamar Anggrek block D. Dari lorong depan, belok kanan trus lurus sampai taman baru belok kiri dan kamar ada di urutan ketiga, Tuan." jelas sang resepsionis ramah.


Lagi dan lagi, Bagas berjalan berpacu dengan waktu. Ia ingin memberikan dukungan pada sahabatnya. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada Asma, tapi Rey pasti membutuhkannya sebagai keluarga. Begitu mencapai kamar yang dimaksud. Dilihatnya Rey tengah berjalan mondar-mandir tidak sabar dengan wajah cemas.


"Rey, duduklah!" tegasnya, tetapi sang sahabat tetap melanjutkan kecemasan dalam penantian.


Untuk pertama kalinya, ia melihat kecemasan dimata Rey. Biasanya kecemasan itu untuk dirinya, tetapi sekarang Asma juga berhak mencuri perhatian sang sahabat. Apakah yang ia lihat bisa dianggap sebagai permulaan yang baik? Padahal, ia merasa hubungan pasutri itu masih membutuhkan banyak terapi cinta kebersamaan.


Suara pintu ruangan yang terbuka dengan kemunculan sang dokter, menghentikan kesibukan Rey. Dihampirinya wanita berjas putih yang keluar seraya melepaskan kacamata kerjanya. "Keluarga pasien yang mana?"


Rey dan Bagas saling pandang. "Kami keluarga pasien."


Kekompakan di antara kedua pria di depannya, membuat sang dokter tersenyum simpul. Tidak menyangka, jika pasien memiliki kakak yang sangat perhatian, bahkan begitu mengkhawatirkan keadaan yang normal dialami oleh pasiennya.


"Adik kalian baik-baik saja, tapi hanya perlu istirahat. Sepertinya terlalu kelelahan. Apa adiknya, mas-mas ini baru menikah?" tanya sang dokter setelah memberikan penjelasan singkat.

__ADS_1


__ADS_2