Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 46: Syarat Menjebak, Deal?


__ADS_3

Dua jam kemudian. Suara kumandang adzan telah berlalu bersambut suara salam. Menangkupkan kedua tangan dengan mata terpejam, hembusan nafas ketenangan. Suara lantunan doa yang terdengar khusyuk bersahut aamiin dalam kepercayaan.



"Mas!" Panggil Asma seperti biasa dengan tangannya yang terulur bersiap melakukan ritual setelah beribadah magrib bersama.



Kecupan tangan, beralih kehangatan doa yang menyentuh ubun-ubunnya. Setiap kali perasaan tenang, damai dan nyaman akan datang. Seperti tetesan hujan membasahi keringnya hati. Tidak ada hentinya bersyukur memiliki pasangan hidup yang bisa membimbing dan menjalani kehidupan seperti surga yang dirindukan.



Dulu, ia berpikir terlalu keras. Bagaimana suaminya nanti? Apakah keras kepala seperti sang ayah atau galak seperti suami tetangga? Kadang juga berpikir, bagaimana jika seperti mantan tunangannya yang tidak bisa membela pasangan sendiri? Ini dan itu, tanpa sadar berubah menjadi rasa takut tersendiri.



Pemikiran yang salah, tapi sejak menjadi istri Reyhan Aditya. Semua rasa takut menghilang tanpa jejak. Tak memungkiri, ia mencoba untuk belajar memahami seorang pria dengan kehidupan yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari kehidupannya. Tidak mudah, tetapi keduanya mencoba untuk menerima satu sama lain.



"Asma, malam ini kamu boleh makan makanan yang kamu inginkan. Setelah itu, dimulai sarapan pagi hari esok ....,"



"Aku mau, mie ayam spesial dengan topping daging dan sayur melimpah, tapi jangan ditambah daun bawang, daun seledri, apalagi bawang goreng. Pizza terbaik, kebab ukuran medium dengan isi yang spesial. Ah ya, martabak telur dan minumannya sebotol soda, sprite atau coca cola. Request terakhir, ice cream box yang ukuran sedang. Udah itu aja."



Terdiam seribu bahasa. Menu tak sehat yang disebutkan istrinya, apa tidak berlebihan? Tidak ada makanan yang berat seperti nasi, sayur. Justru yang dipilih, semua menu bisa menjadi penyebab radang tenggorokan. Emang bener, syaratnya hanya membiarkan makan sesuka hati.



Ingin menyesal mengiyakan syarat dari Asma. Akan tetapi, ya sudahlah. Cuma malam ini, esok tidak lagi menikmati makanan yang penuh dengan takaran yang tidak menyehatkan. Satu yang harus dipersiapkan yaitu menerima ceramah dari dokter. Dia yang memberi izin, jadi yang bertanggung jawab hanya dirinya seorang.

__ADS_1



"Baiklah, seperti keinginan Istriku." Rey membungkukkan setengah badannya, "Apa masih ada lagi? Sebelum aku memesan semua makanan itu."



Diletakkannya mukena ke tempat biasa, lalu berjalan menghampiri Rey yang bersikap seperti seorang pengabdi untuk seorang tuan putri. "Mas, bukankah peraturan berlaku untuk kita? Kenapa tidak sekalian memesan makanan favoritmu juga? Setidaknya, malam ini menjadi malam kemerdekaan."



Ide yang bagus, kenapa tidak terpikirkan? Jika memesan makanan kesukaannya yang sebenarnya tidak jauh beda dengan makanan tidak sehat. Sudah pasti, dokter akan diam ikut menikmati. Bukan memberikan ceramah. Iya 'kan? Pasti iya. Saran yang menggiurkan.



"Mas, jangan terlalu dipikirkan. Pesan saja, ayo turun." Digenggamnya tangan kanan Rey, langkah kaki berjalan menjauh dari tempat peristirahatan. "Omong-omong, sejak sampai dirumah, aku tidak melihat anggota keluarga lain. Apa mereka lagi berlibur?"



Hening, walau tetap ikut berjalan di samping sang istri. Bagaimana mengatakan tentang keluarga? Ketika situasi dan kondisi tidak memungkinkan. Ingin membawa Asma duduk bersama, lalu berbagi cerita, tetapi saat ini bukan waktu yang tepat. Lalu, kapan waktu yang tepat akan datang?




Bibir bisa saja menegaskan ucapan. Namun sorot mata mengatakan kebenaran. Tidak peduli seberapa pintar seseorang menyembunyikan emosi. Pada kenyataannya, hanya senyuman yang memanipulasi. Sadar atau tidak. Semua orang akan sama, hanya saja cara mengekspresikan yang berbeda. Sebanyak suara tawa yang terdengar hampa dengan air mata tanpa kata.



Asma menghentikan langkah kakinya tepat di puncak tangga. Sejenak mengedarkan pandangan mata ke seluruh penjuru ruangan yang mampu dijangkau matanya. Dari satu sudut, ke sudut lain. Dari satu pigura lukisan, ke lukisan lain. Rumah mewah, tapi tidak ada satupun foto dari keluarga suaminya. Termasuk foto Rey dan Bagas.



Tidak mungkin seperti film ishq marjawan, bukan? Dimana menikah hanya untuk menjadi tumbal atas nama cinta. Pria polos yang menikahi gadis desa, tetapi ternyata hanya untuk menjebak saja. Sesaat pikiran loading ke film yang tayang setahun lalu di ANTV. Sontak saja Asma tersenyum simpul.

__ADS_1



"Are you okay, Asma?" Rey tak tahu dengan isi pikiran wanitanya yang berdiri di sebelah kirinya, tetapi tatapan mata fokus menelisik ke seluruh sudut ruangan. Lalu, tiba-tiba menyunggingkan senyum, tetapi senyuman itu nampak asing.



"Hmmm, Aku hanya tidak paham. Apa bedanya rumahku dengan rumahmu, Mas?" Dilepaskannya tangan sang suami, lalu menunjuk ke arah bawah di antara ruang makan dan dapur. "Furniture yang memperindah ruangan, tapi tidak ada satu foto yang bisa mengidentifikasi ini rumah Tuan Muda Reyhan Aditya."



"Maksudnya?" tanya balik Rey semakin tak tahu arah pembicaraan Asma.


Suara helaan nafas tak lagi terdengar, wanita itu berbalik menatap ke arahnya. Tatapan mata serius dengan tanda tanya. Alis terangkat membentuk lengkungan, seulas senyuman tipis terbit menghiasi menyempurnakan ekspresi yang tidak bisa diterjemahkan.


"Aku tidak akan menjelaskan. Beri aku waktu dua hari, maka semua akan jelas dengan bukti nyata. Deal?" Asma mengulurkan tangan kanannya, lirikan mata nan tajam mengharapkan persetujuan.



Disambutnya hangat tangan sang istri, lalu menghentakkan sebagai persetujuan. Apapun yang akan dilakukan oleh Asma. Tentu ia tak akan keberatan. Ini bukan hanya rumahnya, tetapi juga rumah milik wanitanya. Tanpa disadari pasutri itu, jika semua disaksikan oleh Bagas yang sengaja berdiam diri di depan pintu kamar dengan jarak empat meter.



Hubungan akan terus mencari jalan untuk saling memahami hingga menjadi penyatuan. Asma tidak membutuhkan bantuannya untuk mendapatkan hati Rey. Kini, ia sadar. Bukan wanita itu yang membutuhkannya, tetapi keluarga inilah yang bersyukur dan sangat mengharapkan sentuhan seorang wanita.



Namun, untuk mewujudkan apapun yang ada di kepala wanita itu. Tentu hanya bisa berkeluh kesah padanya. Asma bisa menghandle impian, hanya saja untuk mewujudkan harus menerima bantuan nyata. Dari dalam hati, Bagas selalu berjanji untuk menjadikan istri Rey sebagai saudarinya. Ia yang memilih, maka tanggung jawab Asma juga ada di pundaknya.



Dirasa pasutri itu, tidak lagi berbincang hal serius. Barulah ia memberanikan diri berjalan menghampiri kedua saudaranya. Suara langkah kaki yang langsung mengalihkan perhatian Rey dan Asma, hingga tatapan mata saling beradu. Senyuman saling menyapa dalam kegelapan malam yang melanda.


__ADS_1


"Bagaimana perasaanmu, Asma? Apa sudah lebih baik?" tanya Bagas dengan suara lembut, membuat Rey mengernyitkan. "Bro, jangan berpikir jauh. Kamu saudaraku, Asma saudariku. Aku akan belajar adil, tidak berat di sebelah. Jadi, ayo turun. Apa kalian sudah memutuskan menu makanannya?"


__ADS_2