Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 20: Treatment By Tuan Kulkas


__ADS_3

[Kami akan keluar nanti malam, kirimkan saja makan siang dan juga perlengkapan yang sudah aku pesan. Ingat, kamu sendiri yang harus membawa ke kamarku!]


"Gini ya, rasanya ditinggal nikah duluan." Ucap Bagas mendengus sebal, walau hanya perasaan kesal sesaat. "Ya sudah, ajak orang tua Asma aja buat makan bareng. Dibanding aku kelaparan."


Pria itu berjalan meninggalkan depan kamar Rey. Satu hal yang bisa disyukuri adalah sahabatnya menerima pernikahan tanpa syarat. Lega rasanya. Melihat Rey memulai hidup baru dan usahanya tidak sia-sia. Sedikit drama, tetapi hasil yang maksimal.



Sepanjang lorong terdengar suara siulan, membuat beberapa staff hotel menoleh melihat Bagas yang lewat dengan wajah begitu memancarkan kebahagiaan. Refleksi dari hati yang berbunga-bunga akan menyebar seperti virus.


Putaran roda waktu terasa begitu cepat. Rasa lelah yang mendera bersambut lenguhan suara khas bangun tidur. Menggeliat meregangkan kedua tangan seraya mengerjapkan mata. Sesaat menyesuaikan sinar cahaya yang masuk ke retina agar bisa melihat dengan jelas.


"Siang, Istriku. Sudah bangun?" sambut Rey tersenyum manis menatap sang istri yang masih setengah kesadaran karena nyawanya belum terkumpul semua.



Asma terdiam. Berpikir tentang semua yang sudah terjadi. Apa semua bukan mimpi? Kenapa pria itu sangat baik padanya. Bukan curiga, tetapi rasa cemas tak melepaskan sesak di hatinya. Rasa kehilangan yang akan menghancurkan.



Rey terus menatap Asma, lalu mengusap wajah gadis itu dengan kasih sayang. "Buang semua rasa takutmu. Lihat! Aku disini dan tidak akan pergi darimu. Sekarang, cepatlah mandi. Kita akan makan siang. Perutmu juga sudah bunyi, tuh."



Benar saja. Gadis itu baru menyadari, jika perutnya benar-benar lapar. "Bisa tutup matamu? Aku akan pergi ke kamar mandi."



"Kenapa?" tanya Rey berpura-pura tidak tahu maksud dari Asma, tetapi rona merah di pipi sang istri begitu menggemaskan. Ingin sekali mengerjai gadis itu, "Sini, Aku bantu ke kamar mandi."



Belum sempat menjawab, Asma terkejut dengan gerakan Rey yang cepat menyibak selimut. Tubuhnya terpampang begitu jelas tanpa penghalang. Ingin mengeluh, tetapi perlakuan sang suami tidak bisa ditolaknya.



Entah itu romantis atau disebut apa. Tubuhnya melayang menyentuh bersandar dada Rey. Pria itu melakukan apa yang ia katakan. Tak ingin semakin malu, lebih baik memejamkan mata. Menikmati aroma parfum maskulin yang begitu menyeruak memenuhi indra penciuman.



"Boleh aku tanya sesuatu? Jika istriku tidak keberatan." Ucap Rey setelah memasuki kamar mandi, lalu memasukkan tubuh istrinya ke bath up.



Asma hanya mengintip dengan rasa penasaran, membuat Rey tersenyum nakal. Tingkah absurd si gadis desa, bukankah kebalik? Harusnya dia yang tutup mata karena melihat tubuh polos istrinya. Kenapa jadi, gadis itu yang menutup mata karena di lihatin olehnya.


__ADS_1


"Apa kamu siap untuk meninggalkan kedua orang tuamu?" Tatapan mata berubah serius, seketika Asma membuka mata membalas tatapan matanya, "Rumahku ada di Jakarta, sedangkan di Temanggung hanya salah satu cabang perusahaan. Ku harap, kamu paham maksudku."



"Bisa kita bicarakan nanti? Setidaknya biarkan aku mandi dulu." Jawab Asma tak ingin mengabaikan pertanyaan suaminya yang serius, tapi lihat saja posisi keduanya.



Rey yang jongkok di sebelah bath up, dan dirinya yang terbaring dalam bath up tanpa air. Aneh kan? Lagian mereka tengah berada di kamar mandi. Akan lebih baik, jika berbicara serius dalam suasana yang tidak absurd.



Rey mengangguk, lalu pergi meninggalkan kamar mandi. Benar yang dikatakan istrinya, masih ada waktu dan bukan di kamar mandi juga untuk berbincang serius. Penantian selama dua puluh menit berakhir, ketika suara pintu terbuka.



Tatapan matanya tak lepas dari gadis yang baru saja keluar dengan memakai handuk sebatas dada dan di atas lutut. Sepertinya handuk ukuran sedang. Rambut yang basah meninggalkan jejak air, langkahnya begitu hati-hati. Sesekali nampak Asma menggigit bibir bawah.



Rey merasa, istrinya kesakitan karena berjalan begitu lambat. Tak tega rasanya, "Stop! Diam disitu."



Asma menoleh, bingung kenapa pria itu menghentikan dirinya. "Ada apa, Mas?"




Rey menurunkan Asma, di depan cermin. Lalu mengusap wajah manis istrinya agar terpejam. Biarlah ia memberi treatment terbaik agar mendekatkan keduanya. Satu tangan merengkuh pinggang, sedangkan satunya lagi menyibakkan handuk yang menutup tubuh.



"Aku akan membantumu bersiap." Bisikan Rey meremangkan bulu kuduk, sentuhan demi sentuhan membuat Asma semakin memejamkan mata.



Tangan dingin yang sibuk mengeringkan tubuhnya. Acara berganti pakaian berubah menjadi kemesraan. Suara decakan yang memenuhi kamar mengubah rasa lapar menjadi kepuasan. Erangan yang berlabuh menghangatkan ranjang.



Pergulatan panas kembali menyatukan kedua insan. Rey kembali membuat istrinya lemas tak berdaya. Aroma segar dari wanita itu, tak mampu mengalihkan akal sehatnya. Peraduan dalam kenikmatan tak bisa terelakkan.


Peluh yang membanjiri tubuh menyatakan sisa pelepasan, bersambut kecupan hangat. Rey kembali merengkuh tubuh Asma menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Tatapan mata yang saling beradu dengan deru nafas yang berpacu.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Asma membuka obrolan setelah melayani suaminya yang tidak bisa menahan diri untuk menikmati surga dunia.

__ADS_1



Rey menyingkirkan anak rambut dari leher Asma yang menghalangi pemandangannya, "Aku masih tidak percaya, jika kita sudah menikah. Jujur saja, setiap kali menatapmu sedekat ini. Ada rasa yang tidak bisa aku pahami."


Rasa apa? Asma menaikkan alisnya, tatapan mata semakin serius. Ia ingin tahu, sebenarnya apa yang ada di dalam hati dan pikiran pria itu. Walau iya sendiri sadar. Hubungan yang terjalin baru sesaat, namun keterbukaan akan memperbaiki segalanya.


"Dulu, aku selalu memandangmu dari ruang tempatku bekerja." Seulas senyuman membawa sepenggal kenangan masa lalu, "Gadis pendiam dengan kesendirian. Makan di tempat yang sama, dan selalu sibuk memainkan gawai. Apa kamu suka sendiri?"



"Mas, hidup bukan tentang satu hal. Kenapa kamu tidak turun, dan menyapaku?" Asma tak ingin begitu mudah untuk mengatakan siapa dirinya, mengenal bukan berarti penjelasan. "Aku lupa, kamu kan bos. Tuan Kulkas yang sukanya natap anak buah tajam."



Rey mengernyit akan pernyataan dari Asma. Kapan, dia melakukan seperti yang dikatakan gadis itu? Seingatnya, tidak sekalipun ia melihat Asma di sekitarnya selama di dunia kerja. Lalu, bagaimana bisa berasumsi seperti itu?



Kebingungan yang tergambar jelas di wajah pria itu, membuat Asma memegang tangan kekar yang masih saja menatap menyentuh pipinya. "Mas coba ingat deh. Hari sabtu saat semua karyawan berangkat pagi, beberapa datang terlambat dan memberi alasan yang tepat."



"Sayangnya, seorang pria dengan pakaian rapi kemeja hitam yang baru saja ingin keluar dari pabrik memeriksa apa yang terjadi di pos satpam. Pria yang galak, salah sih. Mirip kulkas. Gak mau dengerin penjelasan, eh main suruh karyawan buat pulang semua." Sambung Asma mencoba mengulas sebuah memori yang mungkin tertindih kenangan baru.



Rey berpikir sejenak. Kapan peristiwa itu terjadi? Setelah memikirkan, akhirnya mengingat kejadian yang dimaksud Asma. Hanya saja kejadian itu, terjadi satu bulan yang lalu. Kurang lebih, bukan tepat satu bulan juga.



"Bagaimana kamu tahu, tentang itu?" tanya Rey penasaran.


Seulas senyuman tanpa binar kebahagiaan mengubah suasana. "Aku salah satu karyawan yang harus pulang. Pakaian basah kuyup karena kehujanan, belum lagi harus nunggu mamas buat jemput. Benar-benar tidak adil."


"Maaf, Aku tidak tahu tentang itu ....,"



"Santai aja, Mas." Asma menggeser posisi, lelah berbaring walau harus menahan rasa sakit dibawah sana. "Setidaknya, aku tahu jika di tempat sebesar itu ada pria dingin seperti kulkas."


...πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ...


...πŸƒVisual Tokoh Utama πŸƒ...



__ADS_1


__ADS_2