
Rey tak ingin berdebat karena yang dikatakan Bagas memang benar. Tanpa menunda waktu, ia berjalan menuju pintu utama, sedangkan Bagas langsung menghubungi seseorang untuk menangani Elora dan segera memberikan informasi lebih lanjut. Pria satu itu lupa, Fay masih berdiri dengan bersandar di samping mobilnya.
Mau bagaimana? Ka Asma sudah masuk, suaminya juga, sedangkan ia ditinggal bersama pria yang sibuk sendiri. Mendadak hati kesal, namun lebih baik bersabar. Setidaknya masih ada ponsel untuk bermain menghabiskan waktu yang terasa begitu panjang.
"Ok, kabari aku secepatnya." Bagas mematikan panggilan, lalu menoleh ke arah Fay yang menundukkan pandangan sibuk mengotak-atik benda mati tak berdering. "Kamu! Ayo masuk."
Tidak sopan sekali memanggil orang yang udah tahu nama dengan kamu. Mana suaranya keras lagi, tapi mungkin suasana yang panas mengubah isi hatinya menjadi bara api. Bisa saja seperti itu, iya bukan? Tanpa menjawab, Fay mengikuti langkah Bagas yang berjalan di depan.
Entah kenapa sejak pertama bertemu pria satu itu, seperti ada yang salah. Apa mereka dipertemukan hanya untuk ketegangan? Sangat jelas wajah tegas tanpa ekspresi menatapnya dengan tatapan ambigu. Terkesan menghindari, seakan bertemu musuh. Namun, berbeda lagi dengan penilaian Bagas.
Pria itu hanya ingin menjaga jarak dari wanita manapun yang sudah memiliki pasangan. Baginya wanita di dunia sangatlah banyak dan beragam. Jadi tidak perlu melirik, apalagi mencoba untuk dekat dengan kekasih orang lain. Arah tujuan saja sudah salah, bagaimana akan membiarkan hal tidak benar menjadi bagian hidupnya?
Keduanya masuk ke dalam rumah secara bersamaan, tetapi Bagas yang tiba-tiba berhenti mendadak, sedangkan Fay berjalan tanpa melihat ke depan. Akhirnya menabrak punggung yang terasa keras hingga membuat kepalanya berdenyut, "Astagfirullah, sakit juga ternyata."
"Kalau jalan lihat ke depan, HP simpen!" Sindir Bagas bukannya minta maaf pada gadis itu, "Bi Jia! Kemari."
Ingin membalas sindiran Bagas, tapi hatinya masih bisa menahan sabar. Mengingat rumah yang di pijaknya adalah rumah suami sang kakak. Tentu harus bersikap tenang agar tidak menimbulkan masalah kecil, apalagi yang besar. Pandangan mata menelusuri beberapa sudut ruangan yang nampak tanpa hambatan.
Rumah yang indah dengan desain yang wah. Hanya saja, kenapa rumah sebesar itu tidak ada satu foto pun yang biasa menjadi pelengkap atau pemanis interior. Aneh. Pertanyaan demi pertanyaan semakin menumpuk hingga sentuhan tangan seseorang mengagetkannya.
Ternyata wanita yang dipanggil Bagas mencoba menyadarkan dirinya dari lamunan sesaat. "Maaf, Bi. Ada apa?"
"Mari saya antar ke kamarnya, Nona. Tuan Bagas masih memiliki pekerjaan." Bi Jia mengulurkan tangan kanannya, membuat Fay mengangguk paham.
Langkah kaki keduanya berjalan beriringan, Fay merasa sedikit lebih baik karena Bi Jia mau menjelaskan beberapa hal yang dianggap sebagai informasi dadakan. Meski hanya pembicaraan tentang ruangan-ruangan yang ada di rumah itu, dan tidak sekalipun menyinggung masalah sang majikan.
__ADS_1
Tidak menyangka dengan niat sang kakak online. Dimana telah menyiapkan kamar tamu yang bisa dibilang sebagai kamar utama. Meski bukan yang paling utama. Bi Jia juga mengatakan persiapan sudah dilakukan sejak berita kedatangannya akan mengunjungi kota Jakarta.
"Bi, terimakasih. Maaf ya ngrepotin." Ucap Fay sebelum Bi Jia benar-benar keluar dari kamarnya, wanita itu menganggukkan kepala, lalu pergi meninggalkannya sendirian.
Fay sejenak merenungi peristiwa yang baru saja terjadi. Memikirkan siapa Elora dan kenapa justru mengira ia yang menjadi istri Rey. Apa karena posisinya yang kebetulan atau memang dunia luar masih buta dan tidak tahu seperti apa wajah dari istri pria itu?
Bingung? Tidak demikian karena dari sudut pandang lain arah, ia mengingat percakapan Bagas bersama seseorang yang meminta masalah Elora untuk segera dibersihkan. Jadi, secara tidak langsung. Kakaknya tidak tahu siapa itu Elora dan pihak pria berusaha untuk menyelesaikan masalah tanpa menambah masalah.
Ifii, sadarlah! Tanpa ada konfirmasi jawaban yang pasti. Kenapa berpikir jauh? Sabar.~batin Fay mencoba menenangkan diri dengan merebahkan tubuhnya yang tiba-tiba terasa begitu lelah, padahal tidak melakukan pekerjaan apapun.
Sementara itu, di kamar sebelah hanya terjadi perbincangan satu arah saja. Dimana Rey berusaha menjelaskan situasi yang mereka alami. Namun masalahnya, pria itu bingung merangkai kata hingga membuat Asma terdiam. Ia membiarkan suaminya mengatakan ini dan itu tanpa spasi ataupun koma, apalagi titik.
Dua puluh menit telah berlalu, tapi masih dengan situasi yang sama. Sepertinya tidak akan mendapatkan kemajuan dari hasil perbincangan yang terkesan ambigu. Tanpa banyak tanya, satu gerakan tangan ia gunakan untuk membungkam bibir yang terus berkelana.
"Tenang, Mas." Asma melepaskan tangannya, ia tahu sikapnya terlalu kasar dengan berani membekap suaminya sendiri. "Maaf untuk yang barusan."
Bukannya marah, Rey justru meraih tangan wanitanya. Mengusap, lalu mengecupnya dengan perasaan yang menghangatkan hati. "Butterfly. Itu panggilan ku untuk istri tercintaku. Bukan hanya sekedar kata, Asma setiap kali melihat keceriaan di matamu ada yang menggetarkan jiwa di dalam raga ini."
"Kebahagiaan sederhana yang selalu terpancar dari matamu. Aku merasakan kebebasan yang selalu menjadi identitasmu. Seperti kupu-kupu yang terbang melintas tanpa batasan. Seperti itulah aku belajar mencintaimu." Sambung Rey sepenuh hati tanpa ada tipu daya, setiap kata yang keluar menjadi ungkapan hati yang terdalam.
Terharu kah? Sedikit, tetapi ia paham jika Rey berusaha sebaik mungkin untuk menjaganya. Meskipun untuk itu menyembunyikan hal yang berpotensi menjadi ladang kesalahpahaman. Mungkin tidak pernah terjadi apapun di antara sang suami dan wanita itu, tapi isi hati dan pikiran manusia. Siapa yang tahu?
"Mas, aku tidak mempermasalahkan masa lalu karena itu sudah berlalu." Dibimbingnya sang suami untuk duduk di sebelahnya, lalu mengalihkan pandangan mata menatap hampa dinding yang masih berwarna putih bersih. "Satu pertanyaanku, apakah cinta itu ada di antara kalian atau ...,"
"Tidak ada cinta untuk Elora. Kemarin, hari ini ataupun esok. Aku telah menetapkan hati untuk mencintai istri sah ku yaitu kamu. Nyonya Reyhan Aditya." Jawab Rey begitu tegas menyela pertanyaan sang istri yang bisa menggoyahkan ketidakpastian.
__ADS_1
Cukup mengejutkan, tetapi menghantarkan keyakinan hati. Kini jelas sudah, apa yang harus dilakukannya. Hanya saja yang menjadi masalah adalah harus melibatkan orang-orang di sekitar yang bahkan tidak tahu inti permasalahannya. Sejenak merenung memikirkan segala kemungkinan hingga kepala terasa tertekan.
"Mas, aku mau buat kopi. Mau dibuatin sekalian?" tawar Asma seraya beranjak dari tempat duduknya, membuat Rey merasa dilema.
Ada rasa khawatir ketika istrinya tidak memberikan reaksi apapun. Bukan hanya itu saja, ia juga takut seandainya sang istri meragukan pengakuan isi hati yang memang tidak memiliki kepalsuan. Seumur hidup sengaja mengasingkan diri dari kaum hawa, dan itu dilakukan hanya untuk menjaga hati yang bisa saja khilaf.
"Boleh," jawab Rey mencoba menahan diri untuk tetap tenang meski hatinya terus bergejolak, lebih baik membiarkan Asma mendapatkan kopi karena itu akan memperbaiki mood sang istri.
Lima menit kemudian. Asma sudah kembali membawa dua cangkir kopi dengan aroma pekat yang menggoda. Racikan yang pasti seperti biasanya, tetapi ketika mood terlalu campur aduk. Rasa yang di dapat akan memiliki perbedaan. Satu cangkir untuk masing-masing, tetapi gadis itu mengubah tempat bercengkrama menuju balkon di luar kamar.
Pemandangan langit cerah tak membuat gadis itu menyingkir melipir ke pinggir balkon. Ayunan yang menjadi pilihan terbaik untuk kembali melanjutkan diskusi. Mau, tak mau, langkah kaki menyusul sang istri. Keduanya duduk bersebelahan, lalu menikmati seruput kopi yang masih memerlukan kesabaran.
"Butterfly, apa kamu marah denganku?" tanya Rey kembali membuka obrolan, setelah merasa waktu yang pas untuk berdiskusi bisa berlanjut hingga menghentikan Asma meniup kepulan asap yang terus menguar dipermukaan cangkir.
"Takaran dari kopi yang kita minum hanya dua setengah sendok teh gula pasir dan satu setengah sendok teh kopi hitam. Sedikit saja keraguan di saat menuangkan ke dalam cangkir, maka rasa yang dihasilkan sudah berbeda." jelas Asma tanpa menoleh ke samping, dimana suaminya berada.
Ia tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah kali ini, tapi sepertinya harus memastikan beberapa hal yang bisa menjadi masalah baru. Tentu bukan hanya demi kebaikan bersama karena masalah cinta dan obsesi terkadang bisa membentur dinding kesabaran. Bukan tidak mungkin berimbas pada bisnis, mengingat Elora terlihat mengenal Rey lebih baik.
"Mas, bisa jelaskan secara singkat tentang Elora? Pertemuan awal, motif, status, dan karakteristik wanita itu, padaku. Setidaknya aku bisa mengenalnya dari sudut pandang suamiku sendiri." pinta Asma yang tak ingin menambah kebingungan dalam diri suaminya akan filosofi tentang secangkir kopi.
Bukannya tidak mungkin untuk memahami, tetapi ia ingat dengan bait puisi yang menjelaskan tema resepsi pernikahan mereka. Dimana Rey berusaha mencari tahu artinya, meskipun tidak mendapat makna yang sebenarnya. Yah, semua kembali pada diri sendiri untuk menyelesaikan teka-teki yang memang membuat orang lain merasa kesulitan.
"Mulai dari pertemuan? Apa kamu tidak akan terluka, jika kisah masa lalu membawa kenangan yang tidak enak di dengar." Ucap Rey memastikan kesiapan Asma akan permintaan yang mungkin menjadi penyesalan di kemudian hari.
Bukannya menjawab, Asma hanya menggeser posisinya hingga duduk bersila menghadap Rey dengan tatapan mata tanpa keraguan. Siap? Ia ingin semua jelas, bukan absurd seperti pelarian tanpa arah tujuan. Masalah akan selalu ada hingga terselesaikan. Benar bukan?
__ADS_1