Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 90: Karena Jovanka


__ADS_3

Ketegangan seketika ambyar berganti kepanikan, tetapi bukan karena jawaban dari Axel yang justru tenggelam dengan suara tangisan dari ruangan lain. Semua orang beranjak dari tempat mereka, lalu berlari meninggalkan ruang keluarga. Langkah kaki saling berebut menyusul.


Kamar tamu lantai bawah dengan pintu setengah terbuka menjadi tujuan mereka. Suara tangisan Jovanka berhasil menyudahi pertemuan para orang dewasa. Kini mereka berkumpul di kamar tersebut dengan wajah lega karena anak itu hanya terbangun.


"Princessnya daddy, tenang sayang. See daddy disini." Axel terus mengusap kepala putrinya, namun gadisnya melepaskan diri dan langsung meraih tubuh Asma yang berdiri tidak jauh dari ranjang. "...,"


Asma mengangkat tangan kanannya agar Axel tidak khawatir. Digendongnya tubuh Jovanka yang bergelayut manja memeluk pinggang, "Jovanka sayang, kenapa, Nak? Cup jangan nangis lagi."


"Mr. Axel, kita lebih baik ke luar. Biarkan istriku menenangkan Jovanka. Ayo!" Lambaian tangan sebagai panggilan, membuat satu persatu orang meninggalkan kamar.


Mereka pergi tanpa mengusik usaha Asma yang sibuk mengajak Jovanka untuk kembali tenang. Percakapan kecil menghantarkan kenyamanan. Melihat interaksi itu, Axel tak bisa berbuat apapun lagi. Rasa takutnya kembali datang menyapa. Bagaimana hari esok?


Jika terus dibiarkan, maka putrinya akan terluka. Sementara kehidupan mereka tidak mungkin akan menjadi bagian hidup seorang Asma. Sebagai pria sejati, ia sadar tidak seharusnya berpikir buruk. Apalagi mencoba untuk merebut istri partner kerja sendiri. Hidup berdua sudah cukup.


Pemikiran ini dan itu terus bergelut di dalam kepala, membuat Axel tidak sadar dengan langkah kakinya. Tiba-tiba saja, ia terkejut dengan rasa sakit di kening, "Astagfirullah, sejak kapan ada tembok disini?"


"Sejak rumah di bangun," jawab Fay yang mengamati semuanya, termasuk tingkah tamu malam ini. "Saya permisi."


"Fay!" Rey memanggil gadis itu tanpa berjalan mendekat. "Makasih, istirahatlah."

__ADS_1


Kepergian Fay, membuat ketiga pria dewasa itu duduk menunggu di ruang tamu. Selama beberapa saat tidak ada obrolan selain keheningan hingga Bagas memulai percakapan karena merasa bosan harus diam dan tanpa melakukan apapun. Pertanyaan basa-basi, meski masih seputar saham dan hal-hal baru di dunia bisnis.


Percakapan random, tetapi bisa mengusir kesepian, sedangkan di dalam kamar. Wanita itu bisa bernafas lega setelah mendengarkan suara deru nafas teratur sang putri. Jovanka kembali tidur, namun di saat mencoba melepaskan pelukan untuk dibaringkan ke tempat tidur. Justru tangan mungil itu semakin memeluk erat.


"Jovanka, aku harap suatu hari nanti kamu mendapatkan ibu yang bisa memberikan seluruh cintanya untukmu. Rasa takut, ketidakpercayaan, amarah dan juga kebahagiaan sederhana itu, bisa menyatu mewarnai hidup. Andai ibu ada disini, pasti bisa mengajarkan semua itu." bisik Asma ikut terluka dengan emosi milik Jovanka.


Kesedihan yang terus merenggut rasa tenang seorang gadis usia dini. Siapa lagi yang akan memahami, jika bukan dirinya. Situasi dan kehidupan mungkin berbeda, tetapi tidak dengan emosi. Kenyataannya ia juga pernah berada di posisi Jovanka. Tidak memiliki yang anak lain miliki.


Kenapa dunia selalu dipenuhi ketidakadilan? Sadar benar proses pendewasaan setiap manusia berbeda. Akan tetapi, rasa sesak di dada semakin membawa luka yang selama ini tersembunyi di balik kedewasaan. Siapa yang bisa mampu melawan semua itu?


Dulu ia memiliki ibu yang mampu menjadi segalanya. Mengajarkan arti hidup dengan suka duka di dunia yang fana. Lalu kini, bagaimana dengan Jovanka? Apakah memiliki Axel sebagai ayah yang sibuk, gadis itu bisa berdiri di kakinya sendiri? Pertanyaan demi pertanyaan menghantarkan Asma memeluk dilema.


Ya Allah, berkahilah keluarga hamba dengan keturunan kami. Semoga pernikahan kami menjadi ladang pahala untuk saling mengasihi. Semoga kabar baik bergema di seluruh penjuru rumah kami. Aamiin.~ Rey membasuh wajah dengan tangkupan tangan, doa sederhana yang akan selalu menjadi kebahagiaan kecilnya.


"Mas, jangan berdiri di depan pintu. Gak baik," celetuk Asma pelan, membuat Rey tersenyum lalu berjalan menghampiri wanitanya yang sudah pantas menggendong buah hati mereka.


"Apa kamu tidak capek? Sini berikan Jovanka padaku, pasti pegal 'kan?" ujar Rey seraya mengulurkan kedua tangan, Asma berbalik menatap mata tetapi tidak memberikan Jovanka padanya. "Butterfly, are you okay?"


Tanpa permisi, tangan yang berniat menggantikan tugas Asma. Tangan yang sama mengusap air mata yang membasahi kedua pipi istrinya. Tatapan sendu dengan rasa tak karuan. Seketika hati ikut merasakan duka dalam diam. Apa yang terjadi? Kenapa sampai menangis? Ia tak tahu apapun.

__ADS_1


Rey bingung dengan situasi yang ada di depan mata, "Butterfly, please bicaralah! Jangan buat aku khawatir."


"Gak papa, Mas. Bisa katakan pada Mr. Axel kalau Jovanka menginap di kamar kita?" balas Asma tak ingin menambah beban hati yang bisa menyebarkan kesedihan.


Permintaan itu menjelaskan ada yang Asma sembunyikan, tetapi untuk saling berbicara terbuka harus menunggu waktu lain. Biarlah malam ini berlalu dengan menyetujui Jovanka tidur di kamarnya. Malam yang semakin larut dengan tubuh lelah, mereka semua harus beristirahat.


Rey berbicara apa adanya dengan menjelaskan situasi secara singkat. Ia juga mengatakan semua demi kebaikan Jovanka yang tidak mau lepas dari istrinya. Tentu Axel menolak hingga melihat dengan mata kepala sendiri. Dimana sang putri tercinta terlelap begitu tenang dalam gendongan nyonya rumah.


Sayup-sayup terdengar suara kumandang azan membangunkan jiwa untuk menunaikan kewajiban. Suara langkah kaki yang berjalan perlahan berjalan memasuki kamar mandi. Harapannya cuma satu yaitu gadis kecil yang masih terlelap tidak mendapatkan gangguan. Mata yang terasa berat meminta kesegaran.


Belum juga menutup pintu, tiba-tiba ada yang menahannya. "Mas, Aku mau mandi."


Rey tetap mendorong pintu, apalagi Asma tidak menghalangi pergerakannya. Langkah kaki beralih melewati garis pembatas, lalu menutup pintu secara perlahan. Tak lupa ia mengunci agar tidak ada yang masuk, semua dilakukan tanpa mengalihkan tatapan matanya yang intens menenggelamkan diri menikmati mata coklat yang masih mengantuk.


Satu gerakan membawa tubuh wanitanya jatuh ke dalam pelukan. Tidak ada keterkejutan, sepertinya sang istri mulai hafal kebiasaan dirinya. "Butterfly boleh aku minta sesuatu?"


"Hmm. Katakan! Apa keinginan suamiku di pagi buta. Apakah semua ini berkaitan dengan Jovanka?" tanya balik Asma dengan melingkarkan kedua tangannya bergelayut manja dipundak suaminya.


Seulas senyum menjelaskan segalanya, tetapi bukan jawaban yang di dapat. Rey mendekatkan diri, lalu membisikkan sesuatu dengan dengan nafas yang hangat menyentuh tengkuk leher. Sontak saja, ia berusaha melepaskan diri meskipun gagal. Sentuhan yang terus menjalar hingga menghadirkan sengatan.

__ADS_1


"Mas, lepas ...,"


__ADS_2