Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 158: Tanya Jawab, Karena Kulfi


__ADS_3

Pertanyaan Fay mengalihkan perhatian Bagas. Dimana pria itu menggeser posisi duduk mencari kenyamanan bersandar setelah punggung terasa panas. Satu pertanyaan yang mengingatkan ia akan janji pada sang sahabat, tiba-tiba ingatan itu menggelitik hati.


Seulas senyum menawan tersungging tanpa disadarinya. "Bukan aku yang pertama kali mengenal Asma. Justru Rey menjadi titik awal pertemuan takdir kami. Kamu tahu, anak satu itu anti bersinggungan sama namanya cewek."



"Tanya saja sama karyawan perusahaan. Pasti cuma bisa mengagumi tanpa berani melirik kecuali sekretarisku yang sudah tobat. Asma seperti magnet bagi Rey dan aku suka itu karena kakakmu gadis yang baik.



"Dari awal, aku yakin dia gak neko-neko. Suatu saat nanti, andai keluarga kami mengalami kesulitan. Aku percaya Asma mampu bertahan menjadi istri yang menguatkan dan tidak ragu untuk membantu. Yah begitulah penilaian akan adik dewasaku." jelas Bagas berterus terang membuat Fay menganggukkan kepala paham.



Bagas melanjutkan ucapannya sekedar untuk tahu dari sisi sebaliknya. "Bagaimana dengan persaudaraan kalian. Apa sudah lama? Ku lihat kalian saling mendukung satu sama lain. Di saat aku main tuduh, Asma marah dan memberi ultimatum. Disaat adikku terluka, kamu siap menjadi tameng dan sandaran. Kalian berusaha untuk saling melengkapi."



"Saudara tak sedarah. Kurasa nama itu tidak tepat karena hubungan ini terikat dengan emosi hati." Sesaat menghela napas melepaskan rasa lelah fisiknya, "Di saat orang lain memerlukan penjelasan dariku tapi tidak dengan Ka Asma. Kita seperti dua raga tetapi satu pemikiran hanya saja satu perbedaan yaitu keras kepala."



"Kakakku satu itu, bisa keras kepala kalau sudah kelewat tidak mau mendengarkan. Sukanya menghilang kalau sudah merasa pusing akan masalah yang ada. Bukan untuk menghindari hanya saja sejenak merenung. Selalu kembali berusaha tetap kuat.



"Padahal hatinya saja membutuhkan tempat untuk ketenangan. Maka dari itu, Ka Asma seringkali jatuh sakit karena terlalu banyak pikiran. Jadi jangan heran kalau tiba-tiba demam atau bertingkah diam seperti lagi puasa bicara. Astagfirullah, harusnya Rey yang tahu semua ini." Fay menepuk keningnya pelan karena salah orang untuk mendengarkan kepribadian seorang Asma.



Melihat Fay yang serba salah begitu menggemaskan. Bagas terkekeh pelan, "Apa bedanya? Rey pasti akan memahami Asma dengan caranya. Aku sudah dapat kabar anak itu akan menyewa helikopter hanya untuk menunjukkan Kashmir pada istrinya. Aku hanya membayangkan betapa protective sahabatku itu."



"Kenapa? Apa karena tentang kelebihan Ka Asma yang berpura-pura polos?" tanya Fay menebak maksud dari Bagas.



Anggukan kepala sang pria membuat Fay ikut traveling. Bagaimana menjadi Rey? Ia sendiri tidak tahu karena jujur saja. Seorang pria dengan titel CEO tetapi gagal mengenali kepribadian Asma yang hanya menyesuaikan keadaan. Jika yang lain tau, kenapa pria itu tidak tahu?



Fay dan Bagas tidak tau saja bahwa Rey termakan alibi Asma menyangkut novel. Hobi yang bisa dijadikan alasan untuk tetap bersikap polos tanpa harus bertindak berlebihan. Seperti yang tengah dilakukan kedua insan di luar masjid Jama. Dimana Asma membeli jajanan jalan untuk memenuhi rasa ingin tahunya.



Sementara Rey yang ada di toilet tak mengetahui istrinya tengah bercakap menggunakan bahasa asing agar bisa berkomunikasi dengan penjual jajannya. Sungguh hal yang bisa menjadi kejutan, jika sampai ketahuan. Maka dari itu, Asma selalu memperhatikan setiap tindakannya.



"Thank you so much, Sir." ucapnya setelah mendapatkan Dum Olav dari si penjual yang merupakan bapak berusia lima puluh tahunan.

__ADS_1



Dum Olav atau sering juga disebut sebagai Dum Aloo ini merupakan salah satu makanan khas Kashmir yang cukup terkenal. Sajian ini merupakan hidangan vegetarian yang lezat dan sayang sekali kalau tidak dicoba.


Kuliner ini berbahan kentang yang diolah bersama dengan yoghurt, bubuk jahe, adas dan bumbu rempah khas lainnya sehingga menghadirkan rasa yang unik dan aroma yang nikmat. Dum Alov ini bisa dinikmati dengan chapatti atau naan agar terasa semakin nikmat.


Sembari menunggu, Asma duduk di bawah pohon yang rindang. Meski seorang diri tetap tak membuatnya merasa takut. Justru ia bisa menikmati pemandangan indah sepuas hati. Satu suap masuk ke mulut. Dinikmatinya makanan yang asing di lidah tetapi rasa jahe langsung menyapa indra perasa.



"Bumbu rempah yang melimpah tapi not bad. Apalagi cuaca mendukung." Sekali lagi menggigit dum alov yang memang harus dinikmati secara perlahan.



Kesibukannya menikmati jajanan hingga tidak menyadari kedatangan Rey yang ditemani Amir dari arah lain. Kedua pria itu saling pandang karena melihat Asma hanya seorang diri. Tentu saja tidak bisa dibenarkan. Apalagi di sekeliling terlihat cukup sepi dan jika sesuatu terjadi. Siapa yang bertanggung jawab?



"Sayang, dimana Samir?" tanya Rey dengan nada tak senang atas tindakan ceroboh sang tour guide yang dipercaya untuk menjaga istrinya. Asma menoleh memperhatikan perubahan ekspresi wajahnya yang kesal. "...,"



"Duduk sini! Aku mau kamu coba makanan ini," Ditepuknya tempat duduk alami sebelah kanan. Lalu menyodorkan jajanan yang baru dibelinya dengan senyuman manis. "Liburan untuk saling mengasihi. Jadi tenanglah, Tuan Kulkas."



"Amir, cepat cari dimana Samir!" titah Rey tegas tanpa mengindahkan nasehat Asma karena apapun alasannya. Keamanan sang istri yang utama. Bukan egois, ia hanya ingin orang paham akan arti tanggung jawab.




Tentu tidak salah karena itu hak seorang suami untuk menjaga istrinya. Apalagi berada di negeri orang. "Mas, Samir pergi karena aku ingin ice cream. Jadi jangan marah, okay. Cobalah rasanya terlalu banyak jahe dan aku tidak suka."



Sepotong dum alov diberikan tetapi Rey hanya menerima makanan jika disuapi. Akhirnya Asma mengalah dengan menyuapi pria itu. Sesekali ikut menikmati dari potongan yang sama dengan senang hati. Jajanan yang bisa menjadi penenang suasana hati.



"Sayang, kamu beli ini sendiri atau Samir yang membantumu?" tanya Rey tiba-tiba karena penasaran, membuat Asma hampir tersedak.



Bungkus dum alov diserahkan pada Rey, lalu mengambil tisu dari dalam tas selempangnya. "Aku beli sendiri tapi harus buka google cuma buat bayar. Sepertinya Samir kesulitan mencari keinginanku karena itu terlambat."


Baru saja ingin bertanya lagi tiba-tiba Amir datang bersama Samir. Kedua pria itu berjalan cepat seperti dikejar sesuatu. "Maaf, Tuan. Saya benar-benar menyesal telah meninggalkan Nona Asma sendirian."


"Sok lah kalau mau marah tapi aku mau jalan aja." ucap Asma beranjak dari tempat duduknya tanpa menoleh ke samping membuat Rey menahan napasnya meredam kekesalan di hati.


Langkah kaki yang dengan sigap mensejajarkan diri seraya buru-buru merengkuh pinggang istrinya. "Sayang! Jangan jalan cepat. Masih mau ice cream? Bagaimana kalau coba kulfi?"

__ADS_1


Tawaran yang tidak bisa ditolak karena kulfi merupakan ice cream khas yang seringkali ditayangkan saat menonton film India. Daripada penasaran, lebih baik mengiyakan. Sehingga keempat insan itu meluncur ke sebuah cafe yang cukup terkenal karena menjual kulfi dengan banyak variasi rasa.



Kulfi adalah makanan penutup susu beku yang berasal dari Delhi selama era Mughal pada abad ke-16. Ini sering digambarkan sebagai "es krim tradisional India". Kulfi adalah manisan tradisional anak benua India , yang biasa dijual oleh pedagang kaki lima yang disebut kulfiwallah . Dessert satu ini juga populer di Bangladesh , Myanmar , Nepal , Sri Lanka , dan Timur Tengah dan bagian dari masakan Nasional India, Pakistan, Trinidad dan Tobago.



Kulfi lebih padat dan lebih lembut dari es krim biasa. Muncul dalam berbagai rasa. Yang termasuk krim tradisional (malai), mawar, mangga, kapulaga( elaichi ), kunyit( kesar atau zafran ), dan pistachio. Rasa yang lebih baru meliputi apel, jeruk, stroberi, kacang tanah, dan alpukat.



Tidak seperti es krim, kulfi tidak dikocok, menghasilkan makanan penutup yang padat dan padat mirip dengan custard beku. Oleh karena itu, kadang-kadang dianggap sebagai kategori yang berbeda dari makanan penutup berbahan dasar susu beku. Kepadatan kulfi menyebabkannya meleleh lebih lambat daripada es krim



"Sayang, mau rasa apa?" Buku menu ditunjukkan. Rey dengan sabar mengartikan setiap nama yang menggunakan tiga bahasa yaitu Pashto, Urdu, dan Inggris.



"Rasa mawar, mangga, malai, apel." jawab Asma dengan binar mata penantian. Terlihat ingin menghabiskan seluruh persediaan yang ada di toko itu sendirian.



Amir bahkan mengerjap tak menyangka akan pesanan sebanyak itu karena yang dia tahu. Setiap porsi akan berisi enam potong kulfi dengan rasa sama. Jika pesanan langsung empat rasa, maka enam kali empat. Apa kuat makan sebanyak itu?



"Non, porsi disini bisa dikatakan sekali makan banyak. Begini saja, saya akan request khusus agar dibuatkan seporsi beda rasa. Permisi." Samir beranjak dari tempatnya.



Pria itu melakukan seperti apa yang dikatakan karena dia juga ikut bertanggung jawab untuk setiap kegiatan dan menu yang bisa dinikmati. Pemesanan kulfi dibuat khusus sehingga per orang hanya mendapatkan empat potong kulfi dengan beda rasa.



"Manis, lembut, aromanya juga harum. Bisa dibawa ke hotel kah?" Asma sibuk menikmati kulfi rasa mawar sambil bertanya membuat wajahnya belepotan.



Rey mengambil tisu, lalu menghentikan istrinya sesaat hanya untuk mengelap lelehan kulfi yang menempel di pipi. "Kita bisa pesan nanti, Sayang. Makan dulu tanpa bicara."



Pemandangan romantis yang membuat hati tentram meski harus gigit jari. Apalagi melihat Asma yang jahil dengan menarik tangan Rey menikmati kulfi rasa lain tanpa harus mengurangi bagiannya sendiri.



"Tuan Kulkas, nanti dingin loh. Jangan pelit, bagi punyamu." celetuk Asma ketika Rey mengalihkan kulfi ke tangan satunya.


__ADS_1


Suara merajuk yang terdengar menggemaskan. Ternyata sikap anak kecil Asma hanya muncul karena si dingin kulfi. "Itu di depanmu mau buat apa? Nanti kebanyakan bisa sakit perut."


__ADS_2