Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 137: Nau Vs Ifii


__ADS_3

Sebuah pertanyaan selalu menjadi awal perbincangan lain. Dilepaskannya tangan Nau dari pundak, lalu berbalik menghadap pemuda yang kini siap menjadi pendukung tanpa meminta syarat. Jujur saja ia merasa arah angin perubahan lebih baik.


"Bisa katakan padaku dulu. Siapa alasan dibalik perubahan sudut pandangmu? Jika kamu jujur, aku akan katakan tanpa ada yang menjadi rahasia." tutur Fay pelan tapi pasti, membuat Nau menggaruk kepala. Pemuda itu bingung ingin menjawab apa. Pasti ada sesuatu yang tidak dia tahu.


Nau merasa Fay tengah berusaha mewujudkan impian untuk masa depan dan dia sendiri berusaha memenuhi janji yang pada dirinya sendiri. Meski apapun yang dilakukannya tak luput dari pengaruh sang Kakak Asma. Perdebatan di perusahaan mengubah mindset secara keseluruhan.


"Naufal Bramantyo! Gue disini, jangan bilang mau ngindarin pertanyaan." celetuk Fay seraya melambaikan tangan berharap adik sepupunya tidak kabur seperti biasa.


Senyumnya terlalu kaku dengan wajah yang ambigu. "Sebenarnya gini, pas ngerjain proyek haunting lokasi terakhir. Ternyata perusahaan itu punya suami Ka Asma. Di sana kita ngobrol, lebih tepatnya berdebat. Jadi gitu deh," Sebaik-baiknya kejujuran akan baik ketika terungkap di waktu yang tepat.


"Oh, gitu. Syukurlah, Ka Asma tidak harus menceramahi panjang kali lebar biar adik sepupuku paham. By the way, apa yang dikatakan Ka Asma?" tanya Fay meneruskan pengalihan obrolan yang sengaja dilakukannya.


Senyuman di wajah pemuda itu perlahan memudar berganti tatapan serius menatap Fay tanpa berkedip. "Jujur, gue gak tau posisi elo seberat itu. Ifii, gue minta maaf. Kalau gara-gara janji dan syarat yang keluarga ajuin berpengaruh besar ke kehidupan elo jadi gak tenang."


Nau memang bijak, tapi kebijaksanaan tanpa pemahaman. Bisa menjadi keputusan tanpa arahan yang tepat. Tidak salah mengharapkan saudara memiliki pasangan yang sempurna dan berusaha menjodohkan dengan seseorang. Akan tetapi berubah menjadi masalah ketika semua hanya berupa janji karena terpaksa.

__ADS_1


Tanya saja pada setiap insan yang single. Apa masih bisa berkomitmen ketika didasari oleh keterpaksaan dan janji? Padahal pernikahan itu janji suci. Dimana tidak ada hak serta kewajiban yang bersyarat. Pemahaman dan persepsi dari makna pernikahan terlalu luas untuk dijabarkan.


Bagi Fay, pernikahan adalah menyempurnakan ibadahnya. Lalu bagaimana dengan Nau? Kenyataannya fase kehidupan keduanya berbeda. Saat ini, posisi Fay memang sudah mengenal hingga hapal tentang hubungan. Sementara sang adik sepupu? Pemuda itu masih baru memulai perjalanan cinta di kehidupan yang kejam.


"Kata Ka Asma, cewek harus bisa sadar diri. Fisik boleh aja lemah, tapi mental harus kuat. Respect myself, baginya dunia bukan segalanya tapi kewarasan yang utama. Intinya semua harus dari diri sendiri." sambung Fay seketika kembali membawa Nau pada skakmat yang dilakukan sang kakak online.


"Kalian ini buka biro konseling ya? Kenapa pembahasan berat banget. Padahal gak angkat beban." celetuk Nau membuat Fay tak kuasa menahan tawa. Apa salah dengan pernyataannya? Entahlah karena memahami wanita selalu berakhir serba salah.


Fay memegangi perutnya. Kenapa pemikiran adik sepupunya terlalu kontras? Yah jika saja bisa membuka biro konseling, tentu banyak yang antri. Hanya saja sebuah pertanyaan mengganggu pemikirannya. Berapa banyak orang yang bisa mengerti bahasa sastra seorang Asma?


"Gak bisa buka, Nau. Ka Asma hanya lulusan sekolah menengah pertama dan untuk membuka layanan konseling dibutuhkan ijazah. Sistem pemerintahan harus ikut menaungi agar masyarakat bisa percaya bahwa lembaga tersebut memang sudah diizinkan praktek.


"Lebih dari itu, pasien yang daftar bisa saja jadi duplikat Ka Asma. Prinsip, karakteristik dan keras kepala yang complicated. Bukannya kamu udah lihat salah satu dari tindakan kakak kita? Apa masih diragukan?" tanya Fay mengakhiri penjelasan singkat tentang alur yang tidak bisa direngkuh karena keadaan.


Nau seakan mengerti, pemuda itu mengangguk paham. "Jadi, kembali ke topik awal. Sekarang katakan, apa alasanmu melepaskan Fatur dan dengan lantang menyatakan telah memiliki pria lain. Apa elo punya pacar? Kok gue gak tahu."

__ADS_1


Apakah harus jujur? Bagaimana jika Nau langsung menolak keputusan yang sudah diambilnya? Dilema di hati seketika membuatnya bungkam. Sesaat terdiam seraya menghela napas panjang. Siap atau tidak, ia tetap harus komitmen dengan ucapan yang sudah keluar dari bibir.


"Actually, I'm just surviving, not struggling. Is this called defeat?" Tatapan mata menunduk menatap lantai yang mengkilap, sadar akan masa depan yang mulai dipastikan. "Aku menerima lamaran Bagas. Kurasa ini lebih baik karena disini ada Ka Asma yang memahamiku."


Apa maksud dari kebenaran itu? Nau tidak habis pikir ketika Fatur yang dijodohkan keluarga diterima dengan perjanjian bersyarat, sedangkan Bagas yang notabene pria asing langsung diterima begitu saja. Apa tidak salah dengar? Ia hanya bisa menelan saliva kasar.


"Gue, no comments. Seperti yang udah gue katakan. Apapun keputusan elo pasti tak dukung, tapi bisa kasih kepastian gak? Bagas bakalan bahagiain saudara terbaik gue." ujar Nau mengutarakan isi pikirannya tanpa sungkan.


Perbincangan kedua saudara itu begitu jelas tanpa ada batasan. Tanpa disadari ada orang lain yang mendengarkan semuanya. Gelora panas di hati menyadarkan api cemburu, tapi apa ia punya hak? Tidak. Fay telah menentukan pilihannya sendiri, sedangkan takdir memihak pada pria lain yang menjadi kegagalannya menjadi suami gadis itu.


"Nau, kita ini manusia. Bukan cenayang. Apa harus masa depan kelihatan di depan mata? Inget ya, kita manusia yang hanya bisa memilih jalan, menetapkan hati, meyakinkan diri. Semua indah pada waktunya. Gak usah aneh-aneh!" Fay gemas dengan pertanyaan Naufal. Lah dikira lagi ajang teropong masa depan.


Pepatah saja sudah jelas. Jika orang mengetahui masa depan, maka tidak ada penyesalan. Akan tetapi kehidupan tetaplah rahasia Ilahi. Masih mau tanya tentang hal di luar kemampuan? Kenapa gak tanya hal sederhana. Misal, kapan hubungan diresmikan?


Padahal pertanyaan sesimpel itu aja, kadangkala berubah menjadi beban berat dipundak. Pasangan yang sudah digandeng aja, masih bisa kabur alias lepas. Ya karena bukan jodohnya. Sesimple itu sih, kayaknya gak perlu comment juga untuk hal-hal yang bisa dipahami secara harfiah.

__ADS_1


"Ekhem! Kalian gak mau siap-siap? Setidaknya makan dulu," tegur seseorang dari arah berlawanan yang tak sengaja melihat kedua bersaudara itu sibuk dengan obrolan entah apa.


__ADS_2