Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 72: Diam? Pertanyaan


__ADS_3

Paham dengan maksud dan arah tujuan sang istri. Rey tak ingin semakin larut dalam masalah yang sebenarnya jauh dari genggaman tangannya. Bukan berarti mengabaikan si biang masalah, tetapi akan lebih baik tetap memiliki ketenangan dalam suasana yang sudah memanaskan hati dan pikiran.


"Kamu tahu, aku tidak memiliki jawaban mau sampai kapan, karena bagiku kehidupan hanya tentang keluarga dan bisnis. Sedangkan wanita itu, tidak pernah menjadi prioritas utamaku. Jangan pernah berikan hak pada orang yang tidak memiliki ruang dalam hidup kita." jelas Rey mencoba menyadarkan Asma untuk melupakan dan hanya fokus pada kehidupan mereka saja.


Benar yang dikatakan Rey, bahkan sangat tepat. Akan tetapi, satu kenyataan yang tidak bisa diubah adalah Elora tidak akan berhenti sampai mendapatkan keinginannya. Namun melihat ketegasan sang suami. Ia memilih untuk diam dan memikirkan segala sesuatunya seorang diri.


Seluruh kisah diakhiri dengan baik tanpa menghadirkan pertanyaan lebih. Rey berpikir istrinya memahami penjelasan terakhirnya, namun bukan seperti yang ia pikirkan. Asma diam karena menghentikan argumen yang pasti tidak berujung. Biarlah seulas senyum menjadi persetujuan tanpa kata.


Sementara itu, Bagas baru selesai bekerja. Langkah kaki yang berjalan menaiki anak tangga. Niat hati ingin menuju ke kamarnya sendiri, tetapi tak sengaja melihat kamar Fay yang terbuka setengah. Bukan penasaran, tapi ia baru ingat sikapnya yang kurang sopan.


"Apa samperin aja, ya?" Tangan yang bersembunyi di balik saku celana, dengan wajah serius memikirkan hal sederhana. "Biarin aja lah, aku cape. Mending istirahat aja."


Ketika takdir masih menjadi bayangan dalam oase tanpa penantian. Apalah arti dari kebimbangan? Dunia dan takdir akan tetap menjadi dua sisi yang berbeda. Manusia mencoba untuk menggenggam dunia. Beberapa berhasil dengan impian mereka.


Namun, tidak seorangpun akan menggenggam takdir. Takdir lah yang memeluk dalam kebenaran-Nya. Seperti hujan dikala terik matahari menerpa. Seperti bintang jatuh, namun takkan pernah kembali ke angkasa.


Bagas tetap berjalan menuju kamarnya, tetapi baru saja melangkahkan kaki beberapa jengkal. Pintu kamar saudaranya terbuka, lalu Asma muncul menunjukkan wajahnya. Seperti tengah menyembunyikan emosi. Apakah sesuatu sudah terjadi atau sang adik masih marah?


"Ka, dimana Fay?" Asma menatap Bagas tanpa tatapan tajam atau menyelidik. Kali ini tatapannya terlalu polos, membuat pria di depannya termenung. "Ka Bagas! Kenapa menatapku seperti itu?"

__ADS_1


Tak ingin menimbulkan kecurigaan atas pemikirannya yang melanglang buana. Bagas bergegas menggelengkan kepala, lalu mengulurkan tangan kanannya menunjuk ke arah kamar dimana Fay berada. Ternyata Rey ikut keluar, hanya saja pria satu itu tampak lebih baik. Apakah semua sudah normal?


"Mas, Aku temui Fay dulu." Asma pamit bersama langkah kaki yang meninggalkan kedua pria beku. Ia tahu, jika Bagas masih penasaran dan Rey pasti akan menjelaskan sebagaimana mestinya.


Diam bukanlah sebuah kejahatan. Ada kalanya membiarkan tanpa harus terjerumus seraya terus mengamati keadaan yang ada. Solusi akan di dapat, ketika ketenangan tetap bersama setiap tarikan dan helaan nafas. Itulah yang tengah dilakukan Asma untuk menghadapi masalah kali ini.


Pintu kamar yang terbuka, tetapi Asma tetap mengetuk pintu hingga mengalihkan perhatian Fay yang tengah berdiri menatap ke luar jendela. Gadis itu berbalik, lalu tersenyum. "Boleh masuk?"


"Masuk saja, Ka." Fay mempersilahkan tanpa ingin menambah kecanggungan di antara mereka berdua, melihat suasana pertemuan pertama sudah cukup menegangkan untuk semua orang.


Asma melangkah maju, namun untuk menghindari kemungkinan yang bisa menyebabkan kebocoran rahasia. Gadis itu langsung menutup pintu kamar dan tak lupa menguncinya. Kini yang ada hanya mereka berdua, bukan hanya pintu yang akan menghalangi karena menggunakan remote kontrol mengubah ruangan menjadi kedap suara.


Dari seluruh sudut dan tempat di dalam kamar. Asma memilih untuk duduk di sofa, termenung seraya memainkan memori yang ada di dalam kepalanya. Akal yang berusaha untuk tetap waras dengan ketenangan yang tenggelam. Kerumitan dalam hubungan tengah dijabarkan dalam kesendirian.


Namun, semua bahaya itu hanya terus berperang dalam pikirannya. Semua yang menjadi kemelut, seketika teralihkan ketika uluran tangan menyodorkan segelas air putih ke hadapannya. Ternyata Fay memperhatikan kegelisahan hatinya.


"Ka Asma kenapa? Apa semua ini karena wanita tadi." Fay ikut duduk, setelah kakaknya menerima gelas air putih darinya.


Seteguk air melegakan tenggorokan, tapi tidak mengubah haluan yang menggerogoti emosi dalam dirinya. "Fay, maaf untuk kejadian hari ini. Aku tidak tahu pertemuan pertama kita, justru berubah kesalahpahaman."

__ADS_1


"Ka, tidak masalah. Aku paham karena bukan keinginan kita juga." Fay mencoba untuk tidak mengambil hati karena memang yang terjadi tidak disengaja, "Apakah semua baik, Ka?"


Lagi dan lagi memberikan pertanyaan yang sama. Entah kenapa, tapi hanya pertanyaan itu yang terlintas. Seakan jawaban yang di dapatkan mampu mengklarifikasi keadaan yang ada. Namun, bukan bermaksud melakukan pemaksaan. Apalagi melihat Ka Asma yang diam, tenang, tetapi menghanyutkan.


"Tidak ada yang baik, Fay. Setelah melihatmu sebagai istri dari suamiku. Elora bisa berbuat nekat, sedangkan acara resepsi tinggal menghitung hari. Jujur saja, aku bingung harus bagaimana." ungkap hati Asma yang harus berkata jujur tanpa mengalihkan topik pembicaraan.


Ia tahu, seperti apapun masalah dan kerumitannya. Fay akan mendengarkan, berdiskusi sehingga mereka menemukan titik terang. Terkadang perdebatan dan pertanyaan akan menyadarkan ketidakwarasan yang bisa menyesatkan. Kepercayaan didapat bukan dari permintaan, melainkan dari ketulusan yang dirasakan.


Fay terhenyak sesaat, ia lupa. Benar juga yang dikatakan kakaknya. Jika wanita glamor yang menunjukkan jari ke arahnya di lorong hotel pasti berpikir istri dari Rey adalah dia. Sementara istri yang asli masih tersembunyi dalam perlindungan. Kini mulai jelas, kenapa sikap Bagas sangat overprotective terhadap Asma.


Jika wanita tadi adalah orang biasa. Pasti akan bersikap lebih tenang dan santai. Sayangnya Rey dan Bagas terkesan begitu melindungi bahkan bertindak sangat hati-hati. Semua tindakan itu hanya berarti satu hal. Elora bukan gadis sembarangan dan pasti memiliki kekuasaan yang bisa melakukan hal di luar batas.


"Ka, kapan resepsi pernikahan diadakan?" tanya Fay mencoba untuk ikut membantu keadaan yang ada.


"Tepat tujuh hari dari sekarang." jawab Asma lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang, "Sudahlah, lupakan itu. Katakan apa kamu punya tujuan destinasi di Jakarta?"


"Ka, apa ini waktunya untuk berlibur?" Fay menatap gadis di depannya dengan gelengan kepala pelan, bagaimana bisa mengubah mode serius menjadi santai seperti di pantai, sedangkan masalah tidak akan pergi begitu saja.


Sadar dengan ucapannya. Namun, apa gunanya ketenangan? Jika masalah semakin membelenggu. Untuk mempertahankan kewarasan, maka harus bermain ayunan. Terhempas ke depan, lalu kembali ke belakang. Mencoba memahami arah angin agar bisa mengikuti permainan takdir.

__ADS_1


"Semua akan baik, Fay. Jatuh cinta atau obsesi? Keduanya berawal dari niat hati. Benar 'kan?" tukas Asma seraya tersenyum tipis dengan ide yang melintas memenuhi isi kepalanya.


__ADS_2