
Ia hanya bisa mencoba menyembunyikan Asma karena saat ini bukan waktu yang tepat. Apalagi mengingat sang adik masih dalam pengawasannya. Ia tak tahu, gadis itu sanggup menghadapi Elora atau justru mendapatkan tekanan batin, sedangkan selama beberapa waktu yang menjadi kehidupan mereka. Justru ia dan Rey masih bungkan akan masalah satu itu.
Satu pertanyaan yang diabaikan Elora, tetapi wanita itu berjalan menghampiri Fay yang masih bersikap tenang. Sayangnya kedatangan Rey yang langsung berdiri menjadi penghalang menghentikan langkah si dokter. Tatapan mata yang memuja, membuat Rey muak. Sungguh ia bosan dengan gangguan yang selalu datang dari satu hama di depannya itu.
Kini tidak ada alasan lagi untuk menyepelekan masalah yang ada karena ia harus bersikap tegas untuk melindungi sang istri. Apalagi setelah melihat Fay yang mau saja menjadi tempat kesalahpahaman. ''Aku tidak peduli apa alasanmu datang kemari, tapi jauhi keluargaku. Terutama istriku.''
Tanpa keraguan Rey mengibaskan tangan agar Bagas membawa Asma dan Fay untuk pergi dari lorong tersebut. Langkah kaki yang bergeser, membuat Elora maju berusaha untuk mendekati Fay. Akan tetapi, ia terus menghalangi dan demi menahan pergerakan si dokter. Akhirnya mencekal lengan wanita itu dengan erat.
''Hentikan! Apa maumu? Nando bawa mereka pergi dari sini!" Tegas Rey dengan suara geram akan sikap keras kepala yang ditunjukkan Elora.
Semua tahu, jika Elora tergila-gila dengannya, tapi kegilaan itu bisa membahayakan Asma. Meski secara tidak langsung, kini yang akan menjadi sasaran adalah Fay. Entah harus bagaimana, ketika kesalahpahaman sudah terlanjur terjadi. Mau, tidak mau harus melakukan sesuatu demi melindungi keluarganya.
''Lepaskan. Aku mau lihat seperti apa istrimu itu,'' Elora berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan sang pujaan hati, namun tenaganya tak sekuat pria. ''Rey, aku cuma mau ucapin selamat ....,''
__ADS_1
Apakah bisa dipercaya? Elora yang terkenal ambisi dan ingin mengucapkan selamat. Tidak. Wanita itu pasti sudah merencanakan sesuatu dan tidak bisa dibiarkan. Melihat situasi yang semakin menegang, Bagas terpaksa tanpa permisi menarik tangan Fay agar menjauh dari Rey. Tak lupa membawa Asma untuk berjalan di depan.
Semua yang terjadi di depan mata, tetapi fokus Elora hanya pada Fay. Gadis berambut panjang yang terdiam mengikuti langkah Bagas. Sayangnya, wanita itu tidak melihat keberadaan Asma yang terhalang oleh tubuh Bagas. Pintu kaca yang bergeser menyambut kepergian ketiga insan yang masih saling diam tanpa kata.
Setelah memastikan aman. Barulah Rey melepaskan tangan Elora. Niat hati ingin ikut menyusul, tetapi satu sentuhan mengagetkannya. Reflek mendorong tubuh si dokter yang hampir saja memeluknya tanpa permisi. Jangankan untuk dipeluk, ia tak sudi untuk menatap wanita yang tidak memiliki harga diri.
Elora memang cantik dari keluarga berada bahkan pendidikan setara. Hanya saja kelakuan minus sejak masa kuliah atau lebih tepatnya setelah pertolongan yang dilakukannya. Padahal hanya pertolongan kecil yang bisa dilakukan semua orang. Entah apa yang membuat obsesi dan cinta menyatu bagaikan tarikan nafas di dalam raga.
"Nona Elora yang terhormat, jaga sikap Anda! Raga ini bukan untukmu, tetapi milik istriku. Sekali lagi jauhi dan jangan coba masuk ke dalam dunia kami. Hubungan kita hanya sekedar anak pebisnis."
Rey berjalan meninggalkan lorong hotel, membiarkan Elora meratapi nasibnya. Sementara ia sendiri menikmati kegusaran hati yang kini tertuju pada Asma. Bagaimana menjelaskan pada istrinya tentang wanita satu itu? Apakah harus mengatakan bahwa mereka pernah satu fakultas atau harus menjabarkan pertemuan bisnis yang menjadi babak lebih dalam?
Serba salah yang dirasakan Rey. Justru tidak dengan Bagas. Dimana pria itu sengaja membawa Asma dan Fay untuk kembali ke mobil. Tugasnya yang pertama memastikan kedua wanita itu aman dan tidak mengalami masalah, meski secara sadar merasakan tatapan tanda tanya yang siap menguliti pernyataan dalam kebenaran.
__ADS_1
"Ka Asma tahu siapa wanita tadi?" tanya Fay mencoba untuk menggali situasi yang ada, tetapi yang di tanya masih diam dengan tatapan tak teralihkan menatap kaca spion tengah mobil yang ada di depan. Sontak ia menggoyahkan lengan sang kakak onlinenya. "Ka Asma!"
Bukan takut akan diamnya seorang Asma. Bisa saja saking terkejutnya, justru menghilangkan kesadaran gadis itu, tetapi yang terjadi bukan demikian. Seakan memahami perasaan sang adik. Bagas berulangkali menghela nafas panjang. Ingin menjelaskan, masih ada Rey yang lebih berhak. Mau, tidak mau harus menunggu sahabatnya itu.
Tidak menunggu lama, Pria yang ditunggu muncul dari pintu lift yang ada di depan sana. Wajah tegang yang berusaha tetap santai, tetapi jelas tidak semudah itu menyembunyikan rasa di hati. Rey tampak tertekan, walau langkah kakinya terus maju ke depan. Begitu sampai di samping mobil, ia langsung membuka pintu, kemudian masuk berkumpul bersama yang lain.
Suasana dingin menyambutnya. Tentu tanpa perlu bertanya sudah tahu alasan di balik aura yang begitu menegangkan, "Nando, kita pulang!"
Perjalanan yang berteman dengan keheningan, membuat Fay menahan diri untuk membiarkan semua terjadi sebagaimana mestinya. Apalagi pertemuan pertama berubah menjadi drama yang tidak bisa dihindari. Mau bilang apa? Sebelum mendapatkan penjelasan pasti, tentu yang tersedia hanyalah sepintas keraguan dan tanda tanya.
Tiga puluh menit berlalu, mobil memasuki gerbang yang terbuka secara otomatis. Satpam yang berjaga membungkukkan setengah badan untuk menghormati, lalu kembali duduk ke tempat semula. Satu persatu turun dari mobil begitu Bagas mematikan mesinnya. Tak terkecuali Asma. Gadis itu meninggalkan semua orang tanpa menoleh ke belakang.
"Hey, maafin istriku. Ayo masuk dan anggap rumah sendiri." ajak Rey menoleh ke arah Fay yang bingung harus melakukan apa, "Nando, antarkan Fay ke kamar yang sudah disiapkan Asma."
__ADS_1
"Rey, pergilah! Tanggung jawabmu menjelaskan tentang Elora pada istrimu." tukas Bagas tanpa mengindahkan permintaan sang sahabat karena yang ia pikirkan masih fokus pada Asma.
Bukan bermaksud mengabaikan keberadaan Fay, tetapi melihat situasi dan diamnya sang adik. Jujur saja, ada rasa takut akan emosi gadis itu. Ketika langsung menunjukkan ketidaksukaan atau penolakan. Tentu mengubah arah dengan jelas. Hanya saja, sekali diam. Siapa yang akan paham arti dari kebisuan? Tidak seorangpun.