Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 26: Hanya tentang Emosi


__ADS_3

Sunyinya malam menghantarkan keheningan. Tidak ada lagi percakapan hingga mereka bertiga mencapai hotel, bahkan seakan sepakat. Rey, Asma dan Bagas kembali ke kamar masing-masing. Membiarkan hati dan pikiran bertarung tanpa kesadaran.


Rembulan terang perlahan beranjak menjemput peraduan, berganti sinar sang mentari. Sayup-sayup terdengar suara adzan yang mengalun indah. Hembusan angin yang menerpa menyentuh dinginnya pagi yang bersambut suara kucuran air dari kamar mandi.


"Asma, kamu sudah bangun?" Rey bertanya dengan mata yang masih mengantuk, beranjak meninggalkan tempat tidurnya.


Rambutnya basah dengan wajah segar. Diliriknya jam dinding, ternyata sudah pukul empat lebih tiga menit. "Mau sholat berjamaah atau sendiri?"


"Mas, akan selalu menjadi imam. Aku tunggu sembari mengabari keluarga." Jawab gadis itu, lalu membiarkan suaminya bersiap.


Rutinitas pagi yang sama dengan kebersamaan dalam doa. Kedamaian antara suami istri ketika melakukan sholat berjamaah. Emosi yang membelenggu akan selalu sirna dalam harapan baru. Setiap hal baik harus dipertahankan.


Waktu berlalu begitu cepat. Hari ini adalah acara resepsi di rumah keluarga Asma. Setelah semua persiapan dan menikmati sarapan pagi bersama. Bagas membawa Asma dan Rey ke salon yang memang sudah disewa untuk hari ini. Kedatangan mereka disambut dengan baik.


Proses make over yang membutuhkan waktu dua jam lebih, membuat Bagas harus bersabar untuk menunggu. Pada akhirnya penantian tak pernah mengecewakan. Penampilan mempelai pria dengan pakaian adat Jawa sungguh memukau. Tatapannya tak bisa teralihkan.


"Wow, super, Bro. Aku gak nyangka bisa melihat sahabat sendiri dengan pakaian adat tradisional seperti hari ini. Yuk, kita selfie." Ajak Bagas tak ingin kehilangan momen penting sahabatnya, membuat Rey tersenyum tipis.


Tidak peduli seberapa banyak pengorbanan yang dilakukan Bagas. Ia tahu, sang sahabat selalu menginginkan yang terbaik untuknya. Jujur saja, memiliki seorang sahabat seperti Bagas Fernando merupakan anugerah. Siapapun yang memiliki sahabat dengan rasa kekeluargaan tanpa syarat.


Rey pasrah dengan tingkah Bagas yang mengajaknya miring kanan, hadap kiri dan lain sebagainya hanya untuk mendapatkan posisi selfie yang memuaskan. Kesibukan mengabadikan momen, tiba-tiba teralihkan. Suara sibakkan tirai dari ruang sebelah menghentikan keduanya.

__ADS_1


Gaun pengantin dengan aksen kebaya bernuansa maroon bergaris emas dengan hiasan bunga. Rambut panjang yang dibuat bridal style berhias rintik bunga seperti putri salju. Anting panjang yang menjuntai jatuh berpadu riasan wajah natural, tetapi elegan.


"Apa kalian tidak menukar pengantin saudaraku?" tanya Bagas memecahkan keheningan di antara semua orang yang ada di ruangan make over.


"Tuan, apa maksud Anda? Ini nona yang tadi. Bagaimana kami akan menukar orang? Ini salon, bukan rumah sirkus." Sahut seorang perias yang menangani make over Asma.


Sontak saja Rey menyikut perut sahabatnya. Di saat situasi speechless. Pria satu itu malah membuat lelucon. Ada saja yang menjadi pusat candaan, sedangkan istrinya tak mengatakan apapun. Selain tatapan mata yang terus menunduk. Apakah ada yang salah?


"Pergilah! Beri kami waktu dan ruang lima menit." Ucap Rey seraya mengibaskan tangan, membuat Bagas menoleh tetapi melihat keseriusan di wajahnya.


Pria itu memahami tanpa bertanya lagi, lalu meninggalkan ruangan make over bersama seluruh staf salon. Apapun yang akan dibicarakan pasutri itu, biarlah menjadi rahasia keduanya. Kepergian semua orang membawa langkah Rey berjalan mendekati Asma.


Aroma parfum bunga sakura berpadu segarnya parfum buah-buahan menyeruak masuk memenuhi rongga hidungnya. Langkahnya terhenti, kemudian mengangkat tangan merengkuh dagu sang istri hingga netra coklat gadis itu jatuh ke dalam matanya.


"Apa kamu tidak malu memiliki istri seperti ku?" tanya Asma dengan suara beratnya, rasa sesak di dada dengan panas di kepala, membuat emosinya terpancing.


Dulu, ketika orang mengatakan. Dia tidak cantik, tidak punya uang, anak kuli dan lain sebagainya. Sungguh, tidak ada kepedulian untuk mendengarkan omong kosong tersebut. Namun, hari ini, ketika dia menjadi bahan perbincangan di antara para staff salon. Hatinya tercubit.


Bukan merasa tidak pantas. Hanya saja ada emosi yang tidak bisa dijabarkan. Orang boleh mengatakan apapun tentangnya, tapi tidak tentang keluarganya. Bisikan lembut yang mengatakan Rey buta karena memilih dia sebagai seorang istri. Sungguh menyakiti hati.


Memang benar, Rey sangat tampan bahkan juga sukses. Lalu dimana letak kesalahan ketika memilih gadis biasa untuk dijadikan sebagai pendamping hidup? Apakah orang-orang yang mengatakan dia tidak pantas. Bisa dianggap pantas untuk bersanding dengan suaminya?

__ADS_1


Pancaran emosi dengan bibir terkunci, membuat Rey membenamkan kecupan hangat pada kening istrinya. "Asma, Allah tahu, jika aku serius dan tidak mempermainkan perasaan calon ibu dari anak-anakku nanti. Jangankan untuk menyesal. Aku tidak memiliki waktu untuk berargumen tentang takdir."


"Allah menjadikanmu bagian dari hidupku." Rey menangkup wajah istrinya, hingga tatapan saling beradu. "Aku adalah tulang rusukmu. Jangan lagi meragukan, lalu mempertanyakan hal tidak mendasar. Tidak ada aku atau kamu karena hanya ada kita."


Lega. Seperti rintik hujan yang jatuh menyapa kulit. Ketenangan bukan tentang pengakuan, tetapi tentang kepercayaan. Rey memiliki segalanya dan tidak merasa menjadi yang paling berkuasa. Pria itu mengajarkan arti hubungan. Tidak ada lagi yang perlu ditakuti.


Namun, dengan diamnya sang istri yang tersenyum menatapnya begitu intens. Pasti ada yang tidak beres, tapi apa? Ingin bertanya, hanya saja pasti tidak ada jawaban secara jelas. Beberapa kali memperhatikan cara sang istri mengambil tindakan. Dia tahu, gadis itu memiliki caranya sendiri.


"Ayo, kita harus segera sampai dirumah. Semua orang sudah menunggu pasti." Ajak Asma tanpa memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.


Manusia bisa membuat banyak alat canggih untuk mengetahui isi pikiran. Terkadang dengan alat penyengat, bisa juga dengan menyuntikkan serum kebenaran. Teknologi yang semakin maju. Tidak memungkiri untuk meningkatkan kualitas dalam setiap kemajuan zaman.


Namun, sedalam lautan. Tak seorangpun tahu akan isi hati manusia. Manipulasi. Satu kebenaran yang bisa menjadi tiga kebohongan, begitu juga sebaliknya. Sederhana saja. Apa yang terucap belum tentu itu benar adanya. Seperti topeng yang menutupi wajah seorang joker. Kita hanya harus berhati-hati dalam lisan dan tindakan.


Suara musik yang terdengar hingga ke sebagian wilayah desa, menandakan kemeriahan akan acara hari ini. Banyak warga yang berdatangan. Bukan sekedar untuk memberi ucapan selamat dan doa. Mereka ingin menjadi saksi momen sekali dan mungkin terakhir dari rumah keluarga Ayah Rasyid.


Bagaimanapun, acara resepsi anak terakhir menjadi kebahagiaan bagi seluruh warga yang mengenal keluarga itu dengan baik. Tidak ada lagi gunjingan warga akan kabar miring tentang Asma. Tidak ada lagi bibir panas yang sibuk mencari celah kekurangan gadis itu.


Setiap tamu undangan akan terpesona dengan mata tak percaya. Asma mendapatkan suami yang tampan, bahkan anak pak lurah saja kalah tampan. Bukan hanya itu saja, berita akan kepandaian Rey mengaji. Semakin menyulut bara api yang siap menghangatkan musim penghujan.


Seluruh rangkaian acara resepsi berakhir dengan baik. Meskipun hingga larut malam, bahkan tamu seakan enggan untuk bergantian dengan tamu yang lain. Beberapa drama terjadi, tetapi Bagas dengan sikap menangani. Meski pria satu itu harus menjadi bodyguard dadakan.

__ADS_1


Pukul sepuluh malam. Rumah kembali sepi. Semua anggota keluarga berkumpul di ruang tamu, termasuk pasutri baru. Hari yang melelahkan untuk semua orang. Ayah Rasyid menatap putrinya dengan linangan air mata.


"Nak, jadi apa kalian langsung ke Jakarta?" tanya Ayah Rasyid memulai obrolan di antara keluarga.


__ADS_2