
Tegas dan jelas perintah sang majikan, membuat Bi Nunu mengangguk paham. Wanita itu bergegas menarik tangan Suketi, membawa pergi gadis pelayan itu pergi menjauh. Sementara yang ditarik merasa dongkol, geram tak terima dengan peringatan yang dilayangkan untuknya.
Suara hentakan kaki terdengar begitu jelas, tetapi Rey tidak peduli dan masih enggan melepaskan tangannya dari kepala sang istri. "Nando, sepertinya peraturan harus diperketat. Lakukan tanpa menimbulkan keributan."
"Ok, Bro. Kalian silahkan nikmati jamuannya, aku permisi dulu." pamit Bagas yang selalu melakukan perintah Rey tanpa pernah di tunda.
Kepergian satu orang, menyisakan empat orang. Suasana kembali kondusif dengan perbincangan basa-basi yang mengubah kebersamaan menjadi kehangatan keluarga. Nau tidak menyangka, jika suamia dari kakak onlinenya bisa bersikap humble. Padahal terlihat begitu dingin dengan raut wajahnya yang serius.
"Jadi, kenapa tidak menginap disini saja? Kalian sudah di anggap keluarga oleh istriku, dan menjadi tanggung jawabku untuk memberikan pelayanan terbaik selama kunjungan ke rumah kami." Rey menawarkan diri agar kedua tamunya mau meluangkan waktu lebih lama lagi, ia sadar Asma membutuhkan teman bercanda.
Fay menoleh ke arah Nau dengan isyarat mata agar mendapatkan kesempatan untuk memiliki waktu bebasnya. Yah lagian hari ini bukan hari bebas karena suasana dan keadaan tidak mendukung. Justru hanya ada ketegangan yang tidak direncanakan. Jadi wajar bukan, kalau mengharapkan liburan yang sesungguhnya.
"De, nginep aja, ya." Asma menatap Nau dengan tatapan sedikit memelas, bukan karena memohon, ia hanya sedikit mencoba untuk mendapatkan yang dirinya inginkan.
Terlalu menggemaskan dengan isyarat permohonan yang manis. Suami mana yang rela melihat istrinya menatap pria lain dengan puppy eyes seperti yang di lakukan Asma. Sontak saja, Rey mengangkat tangan menutup kedua mata sang istri, membuat Nau dan Fay tak sanggup menahan diri lagi untuk terkekeh pelan.
"Tuan, Ka Asma tidak akan jatuh cinta dengan adik sepupuku. Begitu juga dengan Nau. Hubungan kami sudah sejak awal menjadi saudara. Tidak ada perasaan aneh di antara kami." ucap Fay meyakinkan Rey, tetapi pria satu itu masih enggan melepaskan tangannya dari wajah sang istri.
__ADS_1
Nau berniat untuk ikut meyakinkan, tetapi tiba-tiba ponselnya bergetar. Tak elak segera memeriksa dan ternyata panggilan telepon dari teman kuliahnya. "Permisi, aku jawab panggilan dulu."
"Mas, rasanya gak enak loh diginiin. Lepasin atuh," rengek Asma yang enggan berdebat, sudah mencoba menyingkirkan tangan suaminya, tetapi terlalu kekeh tidak ingin disingkirkan.
Tidak tega dengan ketidaknyamanan Asma, membuat Rey selalu kalah dalam tindakannya. Namun, semua yang nampak di depan mata menyadarkan Fay. Pasutri di depannya masih tahap mengenal, bahkan tengah merajut cinta dan asa. Jika terjadi goncangan secara bertubi-tubi. Apakah hubungan itu masih kuat?
Satu sisi ada Elora, sedangkan sisi lain ada Suketi. Dua wanita berbeda dengan kapasitas keberhasilan yang minim juga. Di luar sana, Elora bisa berkuasa mendapatkan banyak informasi tanpa harus bersusah payah, sedangkan di dalam rumah. Seorang pelayan sibuk mengintip kamar majikan hanya untuk mengetahui perkembangan hubungan.
Apa bedanya? Ego dan obsesi milik Elora. Hasrat dan iri milik Suketi. Jelas dua jalan berbeda dengan tujuan sama. Mengingat hal itu, membuat Fay berpikir lebih dalam lagi. Haruskan memberitahu anggota keluarga yang bersangkutan untuk mengetahui karakteristik asli dari si pelayan?
Lamunannya menghantarkan pada banyak persimpangan hingga sentuhan tangan kembali menyadarkannya berpijak pada dunia nyata. Tatapan mata yang menelisik hanya membangkitkan seulas senyum yang menjadi penutup isi hatinya. Ia tahu, langkah yang di ambil bisa menjadi masalah baru.
"Apa kakak tahu, jika Suketi menyukai suami kakak?" tanya Fay sedikit penasaran, lebih tepatnya mencari kepastian.
Pertanyaan itu, tidak mengejutkan sama sekali. Dari gerak gerik saja sudah bisa ditebak. Satu yang pasti bahwa jawaban saja tidak akan mampu menyelesaikan masalah. Jika ingin menuntaskan sampai ke akar. Maka harus melakukan sesuatu yang bisa menangkap basah kelakuan Suketi dan juga bukti tanpa harus menumpuk rencana.
"Aku tahu, tapi tunggu beberapa saat lagi. Tiga kesempatan agar gadis itu kembali ke jalan yang benar." jawab Asma tanpa beban pikiran, dulu ia pernah jatuh cinta pada pria yang tidak seharusnya.
__ADS_1
Bukan masalah jatuh cinta pada siapa. Manusia terkadang lupa untuk menyadarkan diri bahwa yang ia idamkan bukanlah haknya. Dunia begitu luas, tetapi berpikir hanya satu waktu yang menentukan kehidupan. Di luar sana banyak yang berjodoh karena kebetulan. Tiga puluh persen karena cinta, dua puluh persen karena perjodohan, empat puluh persen karena sama-sama orang asing dan sisanya memilih menjelajahi satu persatu jalan untuk mencapai tujuan.
Ditengah percakapan Fay dan Asma. Akhirnya Nau kembali, hanya saja pemuda itu sedikit mendengar pembahasan tentang Suketi. Sontak saja meminta penjelasan agar rasa khawatirnya tidak kembali datang bertamu. Begitu mendapatkan yang diharapkan. Kepalanya ikut berputar memikirkan apa yang akan mereka lakukan.
"Jangan spaneng, okay." Asma meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Lalu menoleh ke arah Nau, "Dede, tidak bisakah kalian nginep? Rumah ini cukup banyak kamar kosong."
"Nggak bisa, Ka. Tugasku banyak banget, ini aja baru di calling temen suruh balik karena tadi buru-buru pulang biar bisa jemput Ifii." Nau menolak dengan alasannya yang memang tidak bisa membagi waktu dengan dua arah jalan yang berbeda, ia paham jika situasi mengubah beberapa kenyataan.
"Nau, izinin aku tinggal bareng Ka Asma, ya. Aku udah janji ama Bi Jia buat bantu masalah ...," ucap Fay yang berusaha mendapatkan halnya, tetapi belum juga usai mengucapkan kata-katanya. Bagas sudah datang, pria itu berjalan mendekat ke arah mereka.
Dasarnya dingin dan cuek. Yah gitu aja, wajah datar tanpa senyuman. Sebenarnya terlihat seperti arrogant. Jujur saja, di hati masih mengingat pertanyaan yang menyudutkan dirinya sebagai kekasih seorang pemuda yang notabene adik sepupu sendiri. Apa masalahnya, jika punya pacar? Toh gak merugikan siapapun. Iya gak?
Tatapan mata yang saling diam menyerang antara Fay dan Bagas, bukan hanya disadari oleh Naufal, tetapi begitu juga dengan Asma. Seperti magnet yang memiliki daya tarik menarik. Apakah itu yang disebut jodoh? Tidak. Satu sisi hanya ada ketidaksukaan, sedangkan sisi lain hanya tersisa pertanyaan.
"Baiklah, Ifii bisa tinggal di sini selama liburan, tapi dengan satu syarat. Bagaimana?" ujar Nau memberi satu kesempatan untuk kakak sepupunya memiliki kehidupan yang bebas, dan dengan persetujuan gadis satu itu. Maka pekerjaannya juga bisa terpenuhi tanpa harus memutar otak lagi.
Fay merasa ada yang tidak beres. Apalagi sikap Nau terlalu tenang, bahkan terkesan sudah memprediksikan keadaan yang akan terjadi. Ingin melakukan negosiasi, tapi bagaimana jika berakhir tidak baik? Jangan sampai mencari masalah baru, sedangkan masalah kemarin saja masih diam di tempat.
__ADS_1
"Apa syaratnya? Fay pasti penuhi tanpa ragu. iya 'kan, Fay?" sahut Asma yang sengaja memecahkan keheningan sesaat di antara mereka.