Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 107: Klarifikasi Rey, Tuan Pemarah


__ADS_3

Klarifikasi yang cukup singkat, jelas, padat, membuat semua orang tercengang bahkan beberapa orang langsung tersedak tanpa minuman. Para wartawan yang sibuk memotret dengan antusiasme tinggi, sedangkan para klien saling pandang. Siapapun yang kenal sepak terjang Reyhan Aditya sebagai pebisnis, tentu paham akan ada hal lain yang siap mengguncang dunia para pengusaha.


Rey memberikan isyarat tangan yang tertuju untuk sang pengacara agar memberikan apa yang ia minta sejak tiga jam yang lalu. Dokumen resmi yang sudah disahkan dengan kesadaran penuh dalam tekad yang bulat. Kini hak kedua Asma akan diberikan, dan dengan pengumuman yang akan ia buat, maka dunia tahu istrinya pantas untuk menjadi nyonya Reyhan Aditya.


"Sebagai seorang suami, saya memberikan mahar pernikahan berupa saham empat puluh persen dari saham delapan puluh persen yang menjadi hak saya sendiri. Nona Asma Reyhan Aditya tidak akan menjadi wakil CEO, tetapi menjadi pemimpin proyek yang telah disepakati bersama perusahaan Mr. Axel dalam pembangunan Legend Mall. Sekian terimakasih." sambung Reyhan, lalu beranjak dari tempat duduknya kemudian meninggalkan ruang rapat.


Klarifikasi yang mengejutkan bagi semua orang. Malam ini menjadi malam panjang untuk semua orang. Di luar sana banyak pembicaraan yang hanya sibuk menilai tindakan Reyhan yang dianggap buru-buru, tetapi di lain pihak justru para wanita merayakan hari patah hati nasional.


Tidak memungkiri pamor Reyhan yang selama ini memiliki koneksi banyak kalangan. Terkadang pebisnis muda lain atau sekedar pertemuan dengan rapat tahunan untuk menghadiri berbagai jenis seminar. Kenyataan itulah yang membuat suami Asma bertindak cepat tanpa menunda waktu.


Elora hanya satu dari sekian gadis yang mengejar dirinya, lalu sampai kapan memposisikan istri di antara para wanita lain? Klarifikasi hubungan bertujuan untuk menetapkan hak yang hanya diberikan untuk sang istri, maka seharusnya para wanita lain sadar diri untuk menjauh dari kehidupan rumah tangga mereka.


Tidak peduli dengan emosi milik orang lain. Akan tetapi ketika menyangkut keamanan keluarga, ia tak mau memberikan celah yang bisa dianggap asas toleransi. Satu kesempatan bisa saja berubah menjadi masalah besar. Sementara Asma adalah tujuan dari kebahagiaan yang ia punya saat ini, maka tugas utama untuk melindunginya dengan segala cara.


Perlahan dibukanya pintu ruangan, tetapi tatapan mata tidak menemukan siapapun di dalam kamar rahasianya. Seketika membuat jantungan, tak ingin panik hingga memeriksa bilik kamar mandi yang ada di kamar tersebut. Ternyata juga kosong, lalu kemana istrinya pergi?

__ADS_1


Belum sempat berbalik, tiba-tiba ada tangan menelusup melingkari perutnya. Aroma segar menenangkan menyeruak masuk memenuhi rongga hidungnya. Siapa lagi yang berani menyentuhnya tanpa permisi kecuali sang istri nakal yang memiliki hobi menghilang tanpa permisi.


Dilepaskannya tangan yang saling bertautan, tetapi tetap enggan untuk dipisahkan. "Butterfly, lihat posisi kita berdiri. Gak enak bau kamar mandi, lepasin dulu tanganmu."


"Diem deh, Mas. Ganggu aja, orang ge enak meluk." sahut Asma tak ingin menurut, perasaan yang tidak bisa dijabarkan membawanya pada dilema hati.


Rey pasrah dengan keinginan istrinya yang terdengar tegas, tetapi manja. Satu sisi lain dari seorang Asma yang mendominasi menghangatkan hati dalam pelukan yang membawa kedamaian jiwa. Emosi yang menjadi milik mereka berdua, sedangkan di tempat lain hanya ada aura intimidasi yang menyebar di seluruh ruangan kamar.


"Jadi, siapa yang bertanggung jawab atas masalah di cafe? Mau jawab atau harus ku putar ulang rekaman CCTV di depan matamu, sekarang juga. JAWAB!" bentakan yang mengagetkan, membuat Fay terlonjak terhenyak hampir saja keseimbangan tubuhnya limbung.


Beruntung ada meja yang bisa dijadikan sebagai pegangan tangan, jika tidak? Bisa jadi jatuh terjerembab ke belakang. Untuk pertama kalinya ada yang berani membentak dengan jemari menunjuk ke wajahnya tanpa rasa sungkan. Apa semua masalah harus menjadi tanggung jawab dia seorang?


Bagas merasa bungkamnya Fay karena tidak ingin menjelaskan tentang kronologi yang ada di dalam cafe. Maka dari itu, dikeluarkannya ponsel dari tempat persemayaman. Lalu memutar video berdurasi dua puluh lima menit yang memiliki tayangan jernih tanpa ada sensor.


"Tidak perlu diputar," Fay menekan tombol play hingga menghentikan video yang ada di depan matanya. "Aku akan bertanggung jawab. Apa kita akan ke kantor polisi? Jika iya, mari! Sebelum itu biar ku perjelas satu hal padamu pria pemarah. Jika wanita lain mengulangi kesalahan yang sama seperti si PeKo, maka nasib mereka tidak jauh berbeda."

__ADS_1


"Bagiku, hubungan kami bukan sekedar virtual, tetapi persaudaraan yang nyata untuk diperjuangkan. Sebagai saudara berhak membela, bahkan membalas semua tindakan yang tidak bisa ditoleransi. Benar, aku memberikan pelajaran pada Elora karena dia merendahkan Ka Asma. So?


"The punishment was appropriate for a flirting woman and who intends to damage my sister's household. Do you understand what i means?" tanya Fay tanpa menurunkan pandangan matanya yang bebas menerjang membalas tatapan mata Bagas tanpa rasa gentar.


Skakmat dengan bahasa Inggris yang Fay ucapkan. Jelas ia paham arti dari penjelasan gadis itu. Hanya saja, apa maksud dari merendahkan Asma? Video yang ia punya tanpa suara, bagaimana caranya untuk tahu insiden yang terjadi? Setidaknya harus tahu agar bisa membuat perlindungan hukum sebelum terjadi sesuatu yang tidak terduga.


"Ok, sorry. Bisa jelaskan bagian mana Elora merendahkan adikku?" tanya balik Bagas tanpa memikirkan perasaan Fay yang baru saja ia sudutkan seperti orang lain.


Namun, situasi sudah terlanjur tegang. Akan tetapi hati tidak mengizinkan memberi kemudahan pada pria itu untuk mendapatkan seluruh rincian tragedi yang sebenarnya ada di dalam ponsel. Dimana video dari sang kakak masih tersimpan manis menjadi penghuni gallery. Biarlah tatapan pria itu merajuk dengan rasa melas.


Fay mendorong dada Bagas, membuat tubuh pria itu mundur menjauh darinya. "Tuan pemarah, Aku disini hanya sebagai adik dari Ka Asma. Siapa kamu hingga berhak membentak aku? Apalagi meminta bukti atas tindakan ku. Come on, kamu bukan pria terpenting di dunia ini, terlebih di dalam hidupku. So, stay away from me."


Bolehkah merutuki dirinya sendiri? Benar yang dikatakan Fay. Siapa dia di dalam hidup gadis itu? Sejak awal hanya ada kesalahpahaman yang semakin memperumit keadaan. Entah kenapa selalu ada emosi yang berlebihan dari dalam hatinya. Perasaan waspada setiap kali melihat kedekatan antara Asma dan Fay.


Apalagi setelah melihat kepercayaan kedua wanita itu saling melengkapi satu sama lain. Jika dipikir lebih mendetail, bukankah seharusnya Asma memarahi Fay karena sikap barbar gadis itu? Akan tetapi keadaan yang tersaji berbeda dari kesimpulan yang melintas menjadi sudut pandangnya.

__ADS_1


Pria itu masih tidak paham akan satu hal. Dimana baik Fay ataupun Asma saling memahami tanpa harus menjelaskan panjang kali lebar. Ketika orang lain tidak mengerti teka-teki yang menjadi obrolan mereka berdua, justru kedua gadis itu terbiasa memainkan kata menjadi bahan perbincangan.


Bagas yang sibuk melamun tak menyadari Fay melangkah pergi meninggalkannya dalam kesendirian. Gadis itu lelah menghadapi sikap absurd seorang pria pemarah yang suka sekali mengendalikan orang. Jujur saja harus menyediakan stok kesabaran karena Bagas ditakdirkan menjadi pusat darting dalam hidupnya. Kurang lebih seperti itu.


__ADS_2