
Rey menahan diri untuk tetap tenang. Sekarang yang ia pikirkan hanya ingin segera melihat keadaan Asma, sedangkan Bagas yang paham akan perasaan sang sahabat. Ia berinisiatif mendekati sang dokter. Langkah kakinya terdengar begitu tegap dengan tatapan mata tajam.
"Dok, izinkan saudaraku masuk karena Asma istrinya. Sementara masalah lainnya, serahkan padaku. Rey, pergilah!" Bagas mengerlingkan mata, membuat Sang sahabat menganggukkan kepala, lalu berjalan melewati jalan tengah.
Tidak bisa menahan suami dari pasiennya. Bagaimanapun ia sudah selesai melakukan tugas, maka keluarga pasien bisa mengunjungi karena kondisi memungkinkan. Dibiarkannya pria itu membuka pintu ruangan, sedangkan ia berhadapan dengan keluarga pasien yang lain.
"Jadi, bisa jelaskan. Apa yang menjadi masalah dari saudariku? Jujur lebih baik, Dok. Aku tidak ingin ada yang ditutupi." Ujar Bagas mengalihkan perhatian Sang Dokter.
Sang dokter mengarahkan Bagas untuk ikut dengannya, tetapi pria itu, tidak paham isyarat tangannya yang terulur. "Sebaiknya, kita bicarakan di ruangan Saya. Tidak enak, jika ada orang lain yang mendengar."
Setelah paham apa maksud dari si dokter. Keduanya berjalan bersama meninggalkan depan ruang pasien. Mau, tidak mau. Bagas mengikuti keinginan sang dokter. Padahal bisa saja bicara di depan kamar karena situasi memang begitu sepi, bahkan teramat sangat senyap. Namun, tidak dengan Rey.
Pria itu menatap nanar ke arah atas brankar. Dimana istrinya terbaring lemah tak berdaya dengan tangan terpasang selang infus. Meski di dalam ruangan masih ada seorang suster. Tetap saja, ia tak sungkan membenamkan kecupan sayang ke kening Asma untuk menghantarkan emosinya pada sang istri.
Cinta bukan tentang kata love you. Namun, tentang tindakan tanpa kata. Emosi tanpa nama. Sesaat terdiam menikmati suara genderang yang bertalu-talu bersemayam dari dalam detakan jantungnya. Cinta selalu sederhana, tanpa paksaan, tetapi hanya tentang penerimaan.
Baru beberapa hari Asma tinggal bersamanya, tapi kondisi gadis itu sudah drop. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ia kurang memperhatikan atau ada hal yang tidak diketahuinya? Bingung karena memang tidak tahu hingga suster datang mendekatinya.
"Tuan, pasien dalam keadaan pengaruh obat. Jadi membutuhkan waktu kurang lebih satu jam setengah untuk kembali sadar. Silahkan duduk, saya permisi." Suster menjelaskan sekaligus berpamitan.
__ADS_1
Satu pertanyaan. Kenapa harus diberi obat? Dimana pasti obat tersebut memiliki dosis obat tidur yang cukup untuk membuat seseorang terlelap menuju alam bawah sadar. Namun, mengingat Bagas masih bersama dokter. Lebih baik menunggu, sembari menjaga Asma yang terlihat begitu tenang. Meski wajahnya kelelahan.
Tiga puluh menit kemudian.
Suara pintu terbuka mengalihkan perhatiannya. Ternyata Bagas masuk dengan wajah santai, bahkan sudah menentang tas kresek hitam yang entah isinya apa. Tatapan matanya menyudutkan, meski tetap terlihat bersahabat. Hanya saja, kenapa feeling mengatakan akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan? Entahlah.
"Rey, bisa kita bicara serius?" tanya Bagas setelah meletakkan tas kresek ke atas nakas, ingin langsung menerjang, tapi melihat situasi dan kondisi tidak mungkin. Lihat saja, wajah sahabatnya begitu kusut, "Kita bicara di sini, tidak akan meninggalkan Asma."
Diam akan selalu berarti dua hal. Setuju dan penolakan. Ketika tatapan mata tak menentang, maka artinya setuju, tetapi ketika tatapan mata tajam, maka artinya menolak. Selalu seperti itu yang terjadi. Akhirnya kedua pria itu memilih duduk di sofa sisi lain ruangan berteman pemandangan yang ada di luar jendela.
Sepertinya berat sekali untuk mengutarakan. Dari gestur tubuh serta mimik wajah. Nampak jelas, seberapa galau dan cemasnya sang sahabat. Jika ini berkaitan dengan Asma. Tentu ia harus tahu secara detail, tanpa ada yang ditutupi.
"Rey, sebenarnya kondisi Asma membutuhkan perawatan. Gadis itu, selama ini menjalani kehidupan sesuka hati. Tubuhnya terlalu lemah, apalagi jika harus untuk melayani kebutuhan seorang suami. Dokter menyarankan agar Asma mendapatkan bimbingan mengubah pola hidupnya." Jelas Bagas menghembuskan nafas kasar, sedangkan Rey tengah mencerna setiap kata yang diucapkan sang sahabat.
Alis terangkat dengan bibir terkunci rapat. Wajah serius dengan tatapan mata yang tajam. Jelas Rey tengah berpikir serta mengingat flashback hari-hari yang dihabiskan bersama Asma. Istrinya memang makan makanan yang bisa dikatakan cukup berat, bahkan beberapa kali memilih menikmati mie instan. Belum lagi sehari bisa minum kopi hitam empat kali, ditambah jarang minum air putih.
Namun, tetap saja masih makan buah-buahan dan makanan lain yang sehat juga. Hanya saja kurang olahraga dan terlalu banyak duduk untuk menikmati dunia halu. Penilaian itu, bukan hanya dari yang diamati olehnya. Akan tetapi, sang ibu mertua menjelaskan beberapa kegiatan yang pasti akan dilakukan oleh putrinya.
__ADS_1
Melihat Rey melamun, Bagas menepuk-nepuk bahu sahabatnya. "Sebaiknya ini dilakukan secepat mungkin karena pola hidup yang sehat akan memperbaiki sistem tubuh. Aku juga ingin segera memiliki keponakan. So, jangan tunda lagi."
"Sepertinya akan sedikit sulit kecuali kita melakukan secara serempak." Sahut Rey setelah mempertimbangkan segala sesuatunya.
Bagas mengernyitkan dahi. "Apa maksud dari kata serempak? Jangan bilang, apapun yang dimakan dan diminum Asma. Termasuk olahraga yang akan diterapkan oleh dokter nantinya. Kita harus ikut serta. Apa begitu maksudmu?"
Tidak ada bantahan. Selain anggukan kepala. Sontak saja Bagas meringis. Tidak bisa membayangkan bagaimana caranya menikmati makanan yang pasti hampir mirip rumah sakit. Dokter sudah menjelaskan beberapa contoh makanan sehat. Maka dari itu, ia merasa lebih baik tidak menjalani kehidupan yang sehat ala rumah sakit.
"Diam artinya setuju. Urus semua persiapan dengan dokter dan ya, pastikan dokter serta suster yang bertugas hanya wanita." Putus Rey tanpa keraguan, membuat Bagas hanya mengangguk pasrah.
Setiap kali perintah yang didapat memiliki dasar alasan yang jelas dan menguntungkan. Tidak perlu meragukan karena ia paham. Rey tidak akan gegabah mengambil keputusan. Percakapan berakhir dengan kesepakatan, tetapi dilanjutkan tentang masalah bisnis. Terlihat serius tanpa gangguan.
Sementara di tempat lain, Nau baru saja sampai ke tempat makan yang biasa menjadi tempat langganan. Sang kakak sepupu sudah turun, bahkan sebelum diminta. Ia hanya bisa tersenyum simpul akan ulah wanita di depannya. Tidak ada yang lebih baik dari berkumpul bersama keluarga. Meskipun itu bersama saudara sepupu. Tetaplah ada ikatan yang tidak bisa diterjemahkan dalam bahasa.
Keduanya duduk di kursi dengan meja nomor empat. Tentu setelah memesan makanan pada si Amang penjual yang sibuk mondar-mandir melayani pembeli. Tidak ada obrolan, selain kesibukan memainkan benda pipih masing-masing hingga pesanan datang. Setelah menunggu kurang lebih sepuluh menitan.
"Silahkan, dinikmati. Permisi." Pamit si Amang kembali menyibukkan diri bermesraan dengan peralatan memasaknya.
__ADS_1
"Nau, cuci tanganmu dulu! Masa mau langsung makan, sih." Cegah sang kakak sepupu menghadirkan kekehan pelan dari Naufal yang merasa kelaparan.