
Ingin sekali menjawab tidak, tetapi pikirannya masih waras hingga mengiyakan pertanyaan Fatur. Sadar bahwa pria itu memiliki harapan untuk hubungan ke arah lebih serius, lalu bagaimana dengan dirinya sendiri? Hanya mengikuti permainan waktu.
Setelah selesai memperjelas apa yang harus dijelaskan, langkah kaki berjalan menjauh dari meja dimana Fatur masih menetap di sana. Jangankan menoleh ke belakang, gadis itu justru mempercepat derap langkah menghampiri Bagas yang sudah menunggu di dalam mobil.
Gerak gerik Fay yang terkesan ingin melarikan diri, membuat Bagas mengamati segala sesuatunya dari dalam mobil. Tatapan mata tak berkedip selama lima belas menit terakhir. "Apa dia butuh bantuan? Kenapa aku merasa hidupnya penuh tekanan batin. Gadis yang malang."
Suara pintu berderit bersambut langkah kaki memasuki mobil, "Maaf kelamaan ya?" Fay memasang sabuk pengaman agar tidak semakin mengulur waktu, tapi suasana hati yang tak menentu membuat tangannya terasa begitu licin.
Untuk pertama kalinya susah sekali memasang sabuk pengaman pada tempatnya hingga Bagas mengambil alih. Pria itu membantu tanpa permisi seakan mengerti emosi hati yang tidak bisa diajak kompromi. Meski tatapan mata menelisik mempertanyakan apa yang terjadi.
Bukan hanya itu saja, Bagas yang biasanya menyebalkan justru memberikan perhatian. Dimana ia memberikan sebotol air hanya untuk meredam ketidak tenangan yang melanda hati Fay. Setelah semua lebih baik, barulah menyalakan mesin mobil. Keduanya memulai perjalanan dalam keheningan.
Sementara itu, suara amukan terus bergema di seluruh ruangan kamar nan mewah dengan desain nuansa merah muda. Pemilik kamar yang mengamuk membuat semua orang menjauh dari kamar tersebut kecuali satu orang yaitu tante dari sang putri tuan rumah.
Seorang wanita dewasa berhijab yang berusia tiga puluh lima tahun dan biasa dipanggil Aunty Khansa. Wanita itu langsung masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu hingga mengalihkan perhatian sang pemilik kamar. Dimana keponakan tunggalnya berlari menghamburkan diri ke dalam pelukan.
Rasa sakit yang terdengar dari suara isak tangis keponakannya menyadarkan berapa cinta yang bisa menjadi kebahagiaan, ternyata bisa juga menjadi kehancuran. Akan tetapi, apapun yang terjadi pada gadisnya, tetap saja ia tidak mungkin membela karena tahu siapa yang salah dan siapa yang benar.
Kedatangannya kali ini sebagai seorang tante sekaligus seorang wanita. Tangan terangkat sibuk mengusap kepala gadis yang kini tengah patah hati, "El, sudahlah. Aunty tidak mau kamu menyia-nyiakan masa mudamu. Di luar sana masih banyak pria lain. Kenapa masih kekeh ingin mendapatkan suami orang?"
__ADS_1
"Aunty ...," Elora berusaha membela dirinya, tetapi sadar bahwa sang tante bisa saja semakin menceramahi, "Bagaimana hati ku menjauh dari cinta yang selama ini menjadi detak jantung di setiap helaan napas? Jika semudah itu, pasti aku sudah menikah dengan pria lain."
Pernyataan Elora yang hanya sibuk memberi alibi, membuat Khansa melepaskan tubuh yang masih mendekapnya. Lalu ia mencengkram lengan kanan gadis itu, kemudian membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Tentu tak lupa mengunci agar tidak ada orang lain yang tahu pembahasan mereka berdua.
Dari luar kamar mandi hanya terdengar suara rintihan permohonan yang sesekali diiringi tawa atau teriakan penolakan. Semua suara yang tidak jelas berhenti setelah tiga puluh menit berlalu. Aunty Khansa keluar dari kamar mandi diikuti Elora dengan wajah menunduk.
"Aunty tidak ingin mendengar keluhan lagi dan jangan lupa kabari berita baiknya. Satu kesalahan bisa dimaafkan, tetapi berulang kali? Itu bukan kesalahan melainkan kesengajaan. Kamu seorang wanita, maka pahami kodratmu!" Aunty Khansa enggan berbalik menatap Elora yang pasti berusaha untuk meruntuhkan keputusannya.
Sebagai seseorang yang memiliki kesibukan lain, bukan berarti tidak mengawasi setiap pergerakan Elora. Bagaimanapun ia diberi amanat untuk menjaga gadis itu, tugas seorang ibu yang tidak bisa dipenuhi mendiang kakak iparnya. Maka dialah yang harus meluruskan jalan sang keponakan.
Jejak cinta milik kekasih gelapnya tergambar jelas bahkan sentuhan pria itu masih begitu membekas menghangatkan aliran darahnya. Ingatan yang berputar mundur ke belakang membayangkan pergulatan panas di atas ranjang. Tanpa sadar suara hasrat terucap mencelos keluar dari bibir basahnya.
"Ck. Aku benar-benar bisa gila tanpa pelampiasan tapi bagaimana menghindari pengawasan aunty?" El menjambak rambutnya sendiri kehabisan ide untuk menemukan cara agar bisa berkeliaran di luar sana. "Come on, berpikirlah sesuatu."
Sibuk mondar-mandir tanpa mengenakan apapun, membuat Elora seperti orang tidak waras. Semua rasa lenyap berganti keinginan hasrat yang menggebu-gebu. Tiba-tiba suara dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Benda mati yang tergeletak di atas nakas menjadi alasan baru untuk tetap tenang.
__ADS_1
Apalagi sebuah pesan yang masuk memberikan jawaban tanpa pertanyaan. "Datanglah! Aku menunggumu dalam surga yang bisa kau rengkuh. Puaskan dahagamu sebelum surga ini tenggelam dalam kenangan."
Tatapan matanya sibuk mengawasi CCTV melalui ponselnya. Semua sisi hingga seseorang yang ditunggu datang menyamar menjadi pengantar pizza. Seulas senyum menghiasi wajah El. Semua akses diizinkan hanya untuk menggiring si pengantar pizza masuk ke dalam kamarnya.
Lima menit telah berlalu berganti suara ketukan pintu dua kali, tiga kali, lalu sekali. Sebuah kode yang hanya mereka berdua yang tahu. Pintu terbuka tanpa menunggu ketukan yang selanjutnya, membuat si pengantar pizza masuk. Baru beberapa langkah sontak ia berbalik begitu mendengar pintu tertutup.
Tatapan mata tak percaya ketika pandangan pertama jatuh pada pahatan indah yang langsung mengaburkan akal sehat, "Non, ini ...," Ia tergagap karena melihat Elora tanpa busana bahkan tubuhnya gemetar.
"Ada apa?" Elora mengerlingkan mata kanannya seraya melambaikan tangan agar si pengantar pizza maju, tetapi pemuda itu berdiri seperti patung. "Rupanya pemuda polos. Bukankah kamu pernah bilang punya hutang budi dengan papaku? Jadi bayar itu dengan memenuhi keinginan ku."
"Jangan berpikir aneh, hari ini cuaca begitu panas jadi aku ingin memakai lulur dan juga tubuhku terasa begitu pegal. Tanganmu yang berotot bisa memijat lebih kuat. Lakukan itu untukku dan hutang budimu impas. Ssttt! Jangan menolak atau papa bisa marah." sambung Elora membuat si pengantar pizza menelan saliva kasar.
Dia hanya bekerja paruh waktu di cafe sebagai pengantar pizza, sedangkan jam malamnya digunakan untuk kuliah khusus. Kenapa Elora membahas balas budi? Semua itu karena papa si nona muda memberikan banyak bantuan berupa finansial agar bisa melanjutkan pendidikannya. Wajar saja disebut memiliki hutang budi.
Namun bagaimana membalas budi dengan cara yang terpampang di depan mata? Benar-benar tidak bisa berpikir lagi dengan jernih bahkan pizza ditangan jatuh terlepas terjun bebas. Elora hanya menahan senyum karena sikap pemuda itu kalang kabut. Entah kenapa ingin sekali mengerjai.
Kegilaan di hati hanya tentang hawa napsu, tetapi wanita itu tidak peduli akan resiko selanjutnya. Kamar mewah yang menjadi saksi hanya diam tak bergeming mempersilahkan sang pemilik kamar melakukan kegiatan panas hingga menyandera pemuda polos bersamanya.
Meninggalkan sentuhan yang menuntut, di luar sana tepatnya di depan sebuah gedung pencakar langit. Sekelompok muda-mudi tengah menatap dengan tatapan kagum, "Wow, desainnya bisa jadi inspirasi. Apa ini tidak salah tempat ya?"
__ADS_1
"Tidak. Gue udah konfirmasi sampai tiga kali, tapi fix lokasi, tempat dan alamat ya memang gedung perusahaan ini. Seingatku semua diatur dengan baik, jadi gak perlu izin double. Kita masuk dulu, ayo!" ajaknya sebagai ketua kelompok.