Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 121: PASUTRI


__ADS_3

Banyak orang hidup tanpa beban masa lalu, begitu juga sebaliknya. Apa itu masa lalu? Tentu semua hal yang terjadi setelah terlewati tanpa bisa diubah lagi kecuali memperbaiki diri. Masa lalu seringkali berubah menjadi rahasia. Ada yang sengaja disembunyikan dan ada yang sengaja mencurahkan tanpa rasa takut.



Terkadang satu pertanyaan sudah cukup mewakili, sehingga manusia memiliki rasa takut yang berlebihan. Jangan-jangan ini dan itu, yah terlalu mudah parnoan. Padahal tak semestinya selalu bersangkutan dengan peristiwa lampau. Meski banyak yang terjebak dengan kisah usai.



Kepergian Asma, membuat Bagas memperhatikan foto yang ada di gallery ponselnya. Sebuah keluarga kecil suami istri dan seorang anak laki-laki yang berusia tiga tahun. Terlihat agak aneh karena tatapan mata judes dari wanita yang diyakini sebagai seorang istri, lalu kesedihan di mata sang suami, hanya anaknya saja terlihat baik dan bahagia.



Informasi yang diminta mengenai pria di foto, sedangkan Asma hanya memberikan detail singkat berupa nama dan juga ciri-ciri saja. Pertanyaannya adalah apakah pria itu orang masa lalu atau masa kini? Selain itu, berdasarkan informasi yang diberikan anak buahnya. Keluarga di foto juga tinggal di Jakarta.



Satu persatu informasi ia coba urutkan, sayangnya Bagas hanya memperhitungkan satu sisi kehidupan. Andai pria itu menghubungkan dua sisi secara bersamaan, maka akan jelas bentuk dan kisah yang sebenarnya. Meninggalkan sang perenung, di ruang keluarga semua orang sudah mulai membubarkan diri untuk beristirahat.



Besok malam adalah acara resepsi yang pasti membutuhkan banyak tenaga. Akan tetapi untuk Asma tugas jauh lebih penting. Wanita itu bukan kembali ke ruang tamu, melainkan masuk ke kamarnya sendiri. Dimana beberapa pekerjaan telah menunggu kedatangannya. Sejak menjadi pemimpin proyek banyak waktu dihabiskan untuk berdiam diri di depan lepi.



Ruangan mewah dengan AC yang slalu menyala menjadi tempat yang kurang ia sukai. Jujur saja tubuhnya masih adaptasi dengan semua fasilitas mewah tersebut. Seringkali mematikan AC jika di kamar seorang diri, lalu membuka pintu balkon membiarkan udara di dalam ruangan berganti. Semilir angin yang menerpa wajah selalu mengembalikan kesadaran yang semakin menipis.



"Dugaanku memang benar, tapi sudahlah. Sekarang tidak ada yang perlu dirisaukan." Asma beralih haluan, ia melangkahkan kaki menghampiri meja kerja milik bersama.



Dimana si lepi masih menyala, lalu menarik kursi untuk diduduki kemudian memulai pemeriksaan ulang pekerjaan semalam. Kesibukan wanita itu tak mengenal waktu, ia terlalu larut tanpa sadar akan kedatangan Rey. Pria itu memperhatikan keseriusan wanitanya dalam menekuni pekerjaan dibidang yang baru.



Jika boleh jujur, ia mulai salut karena istrinya kekeh belajar dan selalu bertanya ini itu agar mendapatkan jawaban dari setiap keraguan. Ia tahu, Asma meminta bantuan banyak orang yang ada disekitarnya hanya untuk memenuhi tanggung jawab seorang pemimpin. Selama beberapa ia melihat perjuangan tanpa rasa lelah.



Ternyata benar yang dikatakan Bagas bahwa Asma mampu untuk mengelola pekerjaan tanpa harus berpikir ulang. Meski beberapa hal harus diperhatikan secara intens, ia tetap bangga akan kerja keras sang istri. Apalagi di tengah kesibukannya masih berusaha untuk menulis dan melayani keluarga.



"Butterfly, apa kamu tidak mau liburan?" Rey mengalungkan kedua tangannya memeluk Asma dari belakang, tatapan mata ke depan melihat apa yang diperiksa sang istri.



"Semua orang pasti ingin liburan, Mas. Apa pekerjaan akan selesai dengan liburan? Jika iya, boleh saja." balas Asma begitu santainya menanggapi pertanyaan Rey, membuat pria itu terkekeh pelan.



Ia lupa akan tanggung jawabnya, "Sorry, My wife. Kurasa liburan untuk honeymoon tidak ada yang melarang. Iya 'kan?"



Arah pembicaraan sudah berubah haluan. Bukan sekali atau dua kali, sang suami mengalihkan obrolan ke arah honeymoon. Semua itu pasti memiliki tujuan utama. Sebagai seorang istri, ia paham apa keinginan seorang suami. Hanya saja, apakah mereka berdua sudah siap dengan tanggung jawab masa depan?



Ditutupnya si lepi tanpa mematikannya, lalu ia melepaskan kedua tangan yang melingkar di leher, kemudian beranjak dari tempat duduk. Tanpa kata, dibimbingnya sang suami agar menduduki tempat yang baru saja ia duduki. Tatapan mata saling beradu enggan tuk berpaling.



Mata emerald yang meneduhkan terpatri tatapan mata coklat menenggelamkan. Usapan lembut menyapa wajah mengalihkan perhatiannya, "Butterfly ...,"


__ADS_1


"Hmm, terlalu manis suaramu, Hubby." sela Asma tak membiarkan Rey mengutarakan isi hati, ia hanya memiliki satu kesempatan untuk meluruskan pemikiran yang mungkin tengah tersesat.



Jemarinya terus menari mempermainkan adrenalin seorang pria. Keheningan bersambut semilir angin menghantarkan sentuhan demi sentuhan. Sesaat ia berhenti, "Apa yang kamu takutkan? Masa lalu atau masa depan?" Bisiknya menyentak kesadaran Rey yang terbuai akan sentuhan singkat sang istri.



Sesaat mengalihkan perhatian maka berakhir kekuasaannya terabaikan. Asma bisa mempengaruhi kesadaran tanpa harus berusaha sekuat tenaga. Wanita itu paham bahwa dirinya telah dimiliki sepenuh hati. Tidak akan ada penolakan meski berusaha melakukan perlawanan.



Direngkuhnya pinggang wanita itu hingga jatuh ke pangkuan. "Aku takut kehilangan istriku. Apa itu dianggap kejahatan?"



"Rasa takutmu hanya akan menjadi keraguan. Cobalah pahami bahwa hubungan kita tidak seharusnya jatuh kedalam jurang ...," Bagaimana akan menjelaskan secara sederhana, terkadang ia lupa berbicara dengan seorang pria dingin dan bukan pujangga cinta.



"Hubby, disini hanya ada aku dan kamu, lalu menjadi kita. Memang benar, hak berarti milik dan kewajiban berarti tanggung jawab. Akan tetapi, di atas keduanya masih ada keyakinan. Bukankah kehidupan itu sederhana? Kita harus hidup saat ini, lepaskan masa lalu, sedikit rajut masa depan.



"Jujur saja, aku akan permudah tanpa harus memperdebatkan sesuatu yang bisa menjadi salah paham. Apakah tujuan honeymoon agar kita bisa mengikuti program hamil? Jika iya, aku setuju." ucap Asma menyelesaikan ungkapan hati yang lebih mengedepankan pemikiran sederhana.



Istri yang pengertian, ia pikir harus mengkode wanitanya seperti di film-film. Padahal film yang baru ditonton cuma tiga film dan itupun berkat kegabutan sang istri. Sebagai suami seorang penulis, ternyata banyak hal yang bisa dipelajari. Kehidupan tidak melulu tentang file, masalah bisnis yang terkesan membosankan.



Sekali, dua kali, ia menjadi pribadi yang normal. Bukan berarti selama ini kurang normal ya, hanya saja kehidupan Asma lebih berwarna. Wanitanya memiliki dunia yang digenggam bahkan terkadang di saat menemani lembur bekerja. Ia tak jarang ikut sibuk membaca novel hasil dari ke-haluan seorang Asma.



Namun dari semua novel, hanya satu yang ia hindari yaitu novel horor. Bukan takut tapi merasa merinding saja. Ia tidak habis pikir bagaimana cara membedakan tulisan dari berbeda alur yang ditulis secara bersamaan. Pernah sekali ia meminta untuk diajari dengan niat ingin tahu kehidupan seorang penulis.




"Hmm, singa betina ya?" Asma menyipitkan mata, membuat Rey tersenyum kikuk tetapi tidak dengan tangan nakalnya. "Mas!"



Panggilan peringatan Asma hanya dianggap angin lalu. Rey semakin menikmati kekuasaannya. Pria itu tak segan mengeratkan pelukan menyusup mengharapkan kehangatan. Perlahan menyerahkan diri dalam pagutan rasa, membawa keduanya tenggelam dalam buaian hasrat.



Diantara cinta dan sentuhan, pasutri itu melakukan penyatuan dengan satu harapan demi masa depan. Sementara itu, di kamar lain hanya ada keributan. Suara bentakan seorang wanita terdengar memekakkan telinga yang mendengarnya. Dia yang murka karena melihat masa lalu dari suaminya.



"Cit, apa harus teriak seperti ini? Di luar masih ada Niko. Sadarlah!" Sang pria berusaha mengendalikan keadaan yang semakin kelewatan batas kesabaran.



Namun wanita itu semakin murka. Diambilnya vas bunga yang ada di atas nakas, lalu tanpa aba-aba ia lemparkan lemparkan ke arah pria yang berdiri di depan pintu kamar mandi. Suara pecahan kaca sesaat memenuhi ruangan kamar. Seakan tidak ada tempat untuk hati tenang, ia mengambil mangkuk buah, kemudian melemparkan lagi tetapi bisa dihindari suaminya.



"Kamu minta aku sadar diri? Trus gimana sama dirimu? Dimana harga diri sebagai seorang istri yang selalu menjadi nomor dua dan wanita rendahan itu? Cih, dia perusak rumah tangga. Ngaca dulu biar sadar!" Wanita itu benar-benar tidak bisa mengendalikan emosinya, di hati dan kepala hanya ada umpatan kasar yang ditujukan untuk masa lalu sang suami.



Istri mana yang tidak marah? Jika tiba-tiba melihat selembar foto seorang wanita lain di dalam dompet suaminya sendiri. Apalagi dibalik foto tertulis, aku masih merindukanmu. Ia paham dan tahu benar bahwa pernikahan yang kini tengah dijalani hanya untuk status saja.

__ADS_1



Namun bukan berarti ada pihak ketiga yang hadir karena tidak diperbolehkan. Entah kenapa, pria yang menjadi suaminya itu selalu hidup di masa lalu. Seringkali ia berpikir, seperti apa wanita itu? Kenapa begitu berpengaruh di dalam hidup seorang Kalingga. Pria yang selalu menyendiri, tetapi menjadi pilihan keluarganya.



Kalingga berusaha untuk tetap tenang, "Citra, sebanyak apapun kamu menghina dia. Percayalah, dia tidak peduli karena kamu bukan bagian dari kehidupannya. Aku tahu, ini tidak adil hanya saja coba pahami dunia ku bukan untuk digenggam oleh keinginan egoismu."



"Sekarang apa maumu?" Tangannya menunjuk menantang Kalingga yang selama ini hanyalah sebagai suami status, "Jangan harap kita pisah. Kamu harus ingat jasa orang tuaku ...,"



Penuturan yang membosankan seperti biasa, wanita itu berkelana menambah bait ceramah menjelaskan visi misi pernikahan mereka yang kenyataannya hanya sebuah tiang pondasi tanpa menyangga bangunan. Rumah tanpa dinding dan atap, apa masih bisa disebut tempat berpulang?



Percuma saja untuk memberi harapan atau kesempatan pada Citra. Pernikahan yang diputuskan terlalu terburu-buru berakhir menjadi penyesalan, "Sudah? Sekarang dengarkan aku baik-baik. Kamu memang istriku, tapi dia yang menemani bahkan berjuang agar aku bisa sampai ke titik ini."



"Kemarahan mu tidak jauh beda dengan bara api, tapi dia tetap tenang dan sabar menghadapi keras kepalaku. Disini kamu menggunakan hak untuk menekan kewajibanku, tapi dia rela melepaskan hak agar langkah masa depanku tidak terhenti."



Kalingga menghirup napas dalam-dalam, lelah rasanya menghadapi istri temperamen. Ia yang terbiasa dimengerti, disayangi bahkan diutamakan. Kini justru harus belajar mengerti, mengalah dan menjelaskan agar istrinya ingat kepribadian tidak bisa direnggut orang lain.



"Ha-ha-ha, jika dia memang seistimewa itu, kenapa bukan dia yang jadi istrimu, hah. Jangan lupa di antara kita ada Niko, putra kita." ketus Citra tak mau mengalah lagi, terserah suaminya mau berkata apa. Baginya mempertahankan hubungan sangatlah penting karena kedua orang tua bisa murka jika sampai ada perpisahan.



Perkataan Citra ada benarnya, kenapa istri yang dia impikan bukanlah kekasih hatinya. Melainkan wanita lain yang datang memohon untuk dinikahi demi bayi tak berdosa. Perdebatan antara hak, cinta, luka dan kenyataan hanya akan berakhir rasa sesak di dada. Harapan itu setipis lapisan kulit bawang.



Keributan yang terjadi di dalam kamar, membuat seorang anak yang tengah bermain ketakutan. Anak itu meringkuk memeluk kedua lututnya dengan tubuh gemetar. Pikirannya yang begitu polos dengan hati yang rentan merasa tertekan. Bukan hanya sekali, tetapi setiap kali suara teriakan terdengar hingga keluar kamar orang tuanya.



Kehidupan itu tak serumit pemikiran orang-orang dewasa yang menambah, meng-kali, lalu membagi masalah tanpa ada penjumlahan. Akan tetapi, terkadang sebagai orang tua melupakan sebuah fakta. Dimana menjaga lisan dan tindakan sangatlah penting. Boleh saja bertengkar, tapi ingat nada suara agar tetap di dalam kamar.



Keinginan Kalingga memang sederhana, tetapi melupakan kenyataan bahwa ia telah memiliki istri yang harus dijaga hatinya. Sementara Citra hanya mengedepankan haknya tanpa ingat kewajiban seorang istri. Pernikahan yang seharusnya menjadi simbiosis mutualisme berubah panas bak neraka dunia tanpa pembakaran.



Biarlah waktu berlalu sebagaimana takdir telah menggariskan. Setiap insan yang bernyawa memiliki angan mencapai tujuan, namun tak semua berakhir pada hasil yang diharapkan. Bagaimana senja temaram menjemput kegelapan malam berteman arak awan yang bergelombang.



"Apa kamu siap untuk memberikan kejutan?" tanya seorang pria matang yang baru saja masuk ke kamar ganti wanita di sebuah butik ternama.



Balutan gaun merah maroon dengan belahan dada rendah tanpa lengan, bawahnya menjuntai ke belakang, tetapi bagian depan hanya sebatas lutut. Rambut disanggul dengan hiasan mutiara merah muda yang melingkar, kalung liontin bulat berkilau, anting suweng sebesar biji jagung. Riasan tebal dengan tema red glowing.



Cantik dan menonjolkan sisi wanita dewasanya, "Aku selalu siap, apalagi hari ini sebagian hidupku bisa menjadi milikku. Bukankah aku lebih pantas dinobatkan sebagai ratu kecantikan? Aura yang bisa mematahkan hati banyak pria."


Kecantikannya memang pantas diacungi jempol hanya saja wanita itu lupa arti dari cantik adalah inner beauty. Secantik apapun seorang wanita, tetapi sikap hanya mengedepankan ego dan bertindak sebagai seorang penggoda. Apa yang bisa dikatakan? Nihil.


Langkah kaki keduanya meninggalkan tempat persiapan. Dimana di depan butik sebuah mobil sudah terparkir manis menunggu kedatangan sang pemilik, lalu mereka masuk tanpa menunda waktu. Barulah mobil itu melaju menyusuri bahu jalan yang tampak ramai. Padahal masih pukul delapan lebih tiga puluh menit pagi.

__ADS_1



"Tuan, Nona. Di jalan xxx tengah ada perbaikan jalan, jadi rute kali ini sedikit jauh untuk mencapai tempat tujuan. Mohon bersabar," jelas Pak Supir sesaat sebelum mengubah arah jalan agar kedua majikannya tidak salah paham.


__ADS_2