Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 47: Impian dan Perjuangan


__ADS_3

"Saudari? Ku harap demikian." Goda Rey, tidak sekalipun memiliki keraguan akan perasaan Bagas.


Lagi pula, jika sahabatnya mau, sudah pasti akan menjadikan Asma sebagai pasangannya sendiri. Bukan menjodohkan dengannya yang notabene masih maju mundur akan semua rasa di hati. Ketiganya berjalan bersama dengan obrolan ringan tentang menu makan malam.


Bagas ikut terkejut setelah mendengar apa yang akan dimakan malam ini, tetapi tepukan yang mendarat di bahunya. Sudah cukup memberikan reaksi untuk tenang dan santai. Setidaknya, jadwal kedatangan dokter dan suster sudah dikonfirmasi akan terlambat karena masih mengurus berkas cuti dari rumah sakit.


Pesanan sudah di pesan dan hanya bisa menunggu. Bagas mengajak kedua saudaranya untuk duduk di taman samping rumah sembari menikmati semilir angin malam dengan secangkir coklat hangat yang mengepulkan asap putih. Beberapa jenis tanaman hias yang entah apa namanya karena Asma tidak tahu. Kecuali beberapa jenis bunga anggrek dan juga bunga teratai di kolam ikan koi warna-warni.


Taman rumah dengan luas sekitar sepuluh meter kali lima belas meter. Sepertinya memang sengaja dibuat minimalis dengan ayunan besi di bawah pohon mangga. Meja bundar dan kursi besi yang saling berhadapan dengan tudung payung untuk menghalau hujan. Ada gazebo di sudut utara yang akan menjangkau semua taman.


"Asma, apa kamu jadi membuat usaha?" tanya Bagas memulai perbincangan, membuat Rey melirik ke arah istrinya yang sibuk meniup asap dari cangkir. "Aku ingat, kamu pernah mengatakan ingin membuat cafe. Apa sekarang mau mewujudkan impianmu?"


Seruput coklat hangat yang menghantarkan rasa manis melting di mulut, bercampur rasa pahit khas coklat yang menghilangkan rasa mual. Takaran yang sangat pas. Sepertinya yang membuat minuman malam ini, sudah terbiasa. Diletakkannya cangkir kembali ke atas meja. Tatapan mata terpatri pada dalamnya warna coklat.


"Yah, Aku mau, tapi dengan uang ku sendiri. Mungkin beberapa tahun lagi, sebuah kedai kecil di pinggir jalan. Pasti akan terwujud," balas Asma mengulas senyum manis yang terlalu jarang untuk di perlihatkan.

__ADS_1


Beberapa tahun lagi? Apakah istrinya sedang menyindir? Punya suami yang sanggup membangun perusahaan besar tanpa harus menunggu waktu lama. Kenapa memilih untuk mengumpulkan uang, lalu bersusah payah untuk mewujudkan mimpi. Padahal bisa saja tinggal menyebutkan, maka akan dipenuhi tanpa harus menunda waktu.


Ingin sekali menegur, tetapi apakah tidak melukai hati sang istri? Begitu juga dengan Bagas. Pria itu hanya bisa menghela nafas panjang. Di luar sana, para wanita mengejar pria berduit hanya untuk memenuhi kebutuhan salon, dan shopping. Sementara di hadapannya, sudah jadi istri sah, tapi merasa orang asing.


Seakan memahami apa yang menjadi uneg-uneg kedua pria di dekatnya. Asma mengalihkan tatapan matanya menatap langit malam yang gelap tanpa adanya bintang. "Jika ini hanya masalah uang, aku tahu bisa menggunakan hak sebagai seorang istri dan mendapatkan apa yang ku mau tanpa susah payah."


"Ini bukan tentang uang, tapi tentang kerja keras. Semua usahaku untuk ibu. Apapun impianku, semua demi ibu. Aku memang istri seorang pengusaha, tapi aku sendiri tetap orang biasa. Tidak membandingkan, tetapi hanya berbicara fakta. Senyuman akan selalu menghiasi wajah ketika perjuangan telah berhasil mencapai puncaknya."


Selalu rumit. Ketika orang di ajak naik mobil untuk pergi keliling kota. Asma menolak dengan alasan jalan kaki lebih sehat karena tahu struktur jalanan selama melakukan perjalanan tersebut. Orang-orang cenderung melupakan sekeliling, ketika menaiki kendaraan yang melaju lebih cepat. Berbeda jika jalan kali. Semut di pinggir trotoar pun, bisa menjadi kenangan tersendiri.


Rey ikut meletakkan cangkirnya ke atas meja, lalu meraih tangan Asma hingga membuat gadis itu beralih menatapnya. "Katakan padaku, apa kewajiban seorang suami? Jika kamu sudah memutuskan untuk berjuang dengan usahamu sendiri. Apa artinya memiliki suami yang bisa memenuhi kebutuhanmu, tapi ditolak mentah-mentah."


Terlalu frontal cara penyampaian Rey, membuat Asma hanya tersenyum simpul dengan tatapan mata tenang tanpa beban. Benar, dan tidak salah dengan pernyataan dari suaminya. Akan tetapi, bisa sedikit lebih halus. Jika memungkinkan, sedangkan Bagas memilih diam menyimak.


"Mas, apa kamu merasa sudah begitu mengenalku?" tanya Asma membalikkan keadaan yang langsung menyurutkan tatapan mata tajam suaminya. "Aku belum mengenalmu, sebaik Bagas mengenal sahabatnya. Ketika hubungan dipertanyakan. Apa aku akan meragukanmu sebagai seorang suami? Jika iya, tentu kamu tidak memutuskan untuk tetap menikah denganku."

__ADS_1


Mau bilang apa lagi? Pertanyaan bermula dari hati yang tidak menerima keputusan mandiri dari seorang suami. Tentu egonya terluka. Satu pemikiran terlintas dengan slogan, uang suami tidak lagi berguna. Pemikiran yang buruk dan menjadi penyakit. Sementara Asma membuat semua menjadi lebih jelas, tanpa ada batasan.


Beberapa mengatakan. Uang suami adalah uang istri, tapi uang istri adalah uangnya sendiri. Hubungan rumah tangga yang memiliki kewajiban mencukupi kebutuhan adalah kepala keluarga dan makmumnya harus membelanjakan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Tidak untuk berfoya-foya sendiri. Suami istri akan saling melengkapi satu sama lain.


"Rey, bukannya aku ikut campur." Bagas mencoba untuk menengahi, ia tak ingin ada pertengkaran yang bisa menjadi awal dari ke salah pahaman. "Asma benar, kamu juga benar. Akan tetapi, setiap keberhasilan harus dimulai dari titik terendah. Kalian tengah membicarakan satu impian. Bukankah, kalian harusnya saling mendukung agar bisa saling memahami."


"Sejak awal, Asma tahu, siapa aku, tapi apa dia memanfaatku? Tidak. Percayalah, dukunganmu untuk istrimu, sudah cukup menjadi semangat baru. Kalian masih proses pengenalan lebih dalam, jangan masukkan ego dan juga keras kepala." Sambung Bagas, membuat kedua saudaranya serempak menghirup udara dingin begitu dalam.


Diam tanpa kata. Baik Asma atau Rey, keduannya mencoba untuk mengatur perasaan dan mengendalikan pikiran masing-masing. Hitungan hari menghabiskan waktu bersama. Belum bisa dinyatakan mengenal satu sama lain, bahkan yang hidup serumah selama sepuluh tahun saja. Masih tetap belajar memahami pasangan mereka sendiri.


Persepsi antara mengenal dan saling memahami. Sangat sering di salah artikan. Orang bisa saja mengenal satu sama lain, seperti hubungan teman, sahabat, saudara atau pacar dan suami istri. Namun, belum tentu memahami karena untuk tenggelam dalam emosi dan pikiran seseorang. Tidak diperlukan kata yang keluar dari mulut, tetapi hati sudah meyakini akan apa yang ia pahami.


Di tengah keheningan, tiba-tiba Suketi datang melaporkan ada pengantar makanan di luar sana yang menunggu pembayaran. Bagas memilih untuk meninggalkan taman, tentu mengajak pelayan yang matanya jelalatan dengan tatapan sinis. Sebagai pria, ia tahu pelayan satu itu harus di awasi sepanjang waktu. Firasatnya selalu on untuk waspada.


"Mas, Aku minta maaf," Ditatapnya wajah sang suami dengan tatapan rasa bersalah, "Seorang istri berhak untuk mendapatkan nafkah lahir dan batin dari suaminya, tetapi impianku adalah sebagai seorang putri. Ku harap, kamu paham. Ini hanya tentang memberikan kebahagiaan untuk seorang ibu. Tidak bermaksud untuk merendahkan mu sebagai suamiku."

__ADS_1


__ADS_2