Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 33: Rasa Takut


__ADS_3

Rasa kantuk yang mendera sirna sudah. Sentuhan menggelikan semakin menyiksa membangun rasa yang tak biasa. Bukannya tak paham, tapi kesadarannya masih terbang melayang. Semakin lama terasa sengatan listrik yang meningkatkan aliran darahnya.


"Morning, Istriku." Rey menghentikan permainannya, menatap wajah Asma yang terusik akan kenakalannya. "Tidurlah. Aku akan melakukan dengan lembut."


Kerjapan mata yang berat, beberapa saat menyesuaikan pandangan mata hingga terpatri pada jam yang tergeletak di atas meja. Pukul tiga lebih dua menit, tapi hawa dingin yang menelusup mengalihkan perhatiannya. Ingin terkejut melihat tubuh polosnya. Namun, tatapan mata berkabut Rey menjelaskan apa yang terjadi tanpa kata.


Tidak tahu, bagaimana cara pria itu bisa melepaskan semua kain yang melekat pada tubuhnya. "Apa kamu tidak dingin? AC menyala dan sekarang ....,"


Bukan kata yang akan menjadi penjelasan. Rey meraup bibir manis Asma tanpa permisi. Membenamkan kerinduan dalam kehangatan. Hawa dingin yang menyeruak menantangnya untuk memberikan treatment yang terbaik. Sentuhan manja yang membangkitkan hasrat.


Berteman sang rembulan malam. Jejak cinta mewarnai perjalanan panas yang bersambut racauan manja memabukkan. Semakin lama, keduanya tenggelam dalam kenikmatan duniawi. Rey melepaskan seluruh impian dalam kegilaan. Ia tak bisa menyudahi permainannya hanya sekali.


Hentakan demi hentakan hingga ranjang bergoyang tanpa henti. Panas membara berbagi peluh dalam penyatuan halalnya cinta, hingga hentakan terakhir dengan pelepasan benih masa depan. Tubuhnya terkulai, tetapi masih sanggup memberikan sentuhan terakhir dengan doa yang tersembunyi di setiap kecupan keningnya.


"Terima kasih, telah menjadi tempatku berpulang." Bisiknya, lalu merengkuh tubuh Asma agar tetap berada di dekatnya. "Apa sakit?"


"Mas, tidurlah. Aku juga akan tidur." Jawab Asma kembali memejamkan matanya, membiarkan posisi keduanya dalam keadaan yang tak bisa diprotes lagi.

__ADS_1


Melihat wajah lelah dengan mata terpejam sang istri. Seulas senyuman tersungging. Memiliki Asma memang haknya sebagai seorang suami. Raga yang terpampang penuh jejak merah karena ulahnya. Entah ini kegilaan atau hasrat semata. Sesaat menyadarkan kening menyatu bersama kening wanitanya.


"Kenapa ada rasa takut di hatiku? Hanya karena mimpi buruk. Aku membuatmu terbangun dan menunaikan kewajiban sebagai seorang istri." Rey menghela nafas panjang seraya menarik selimut yang tersisihkan beberapa waktu yang lalu.


Untuk pertama kalinya. Ia mempercayai mimpi. Apa yang terjadi padanya? Asma memiliki masa lalu yang masih tidak jelas. Separuh kebenaran sudah terungkap, tapi siapa dia yang pernah menjadi bagian hidup sang istri? Rasa takut kehilangan itu datang tanpa diminta.


Siapapun tahu, jika sebuah hubungan yang diselimuti rasa takut kehilangan harus segera diakhiri. Jangan sampai itu berlanjut pada rasa curiga, lalu berakhir tidak percaya pada pasangan sendiri. Mimpi buruk yang dimaksud Rey, tak lain adalah dia yang berhasil memiliki Asma sebelum dirinya.


Ini bukan tentang permainan ranjang yang berselimut nafsu, tetapi ini tentang keyakinan. Istrinya hanya untuk dia seorang. Tidak ada orang lain yang bisa menyentuh wanitanya. Pemikiran yang kacau. Rey tidak sadar, jika Asma bukan wanita yang peduli akan sesi jeritan kenikmatan di sepanjang malam.


Rasa lelah dengan kacaunya pemikiran, membuat Rey terlelap tanpa melepaskan pelukan. Tubuh yang hangat terus dekat dalam dekapannya tanpa menyisakan jarak. Meninggalkan malam yang membisu dalam keheningan sang rembulan.


"Mas, ini sudah siang. Biarkan aku bangun," pinta Asma tak berdaya, ternyata pelukan tangan suaminya tetap berat bahkan tidak bisa disingkirkan. "Mas Rey!"


Panggilan terakhir yang terdengar tegas. Justru begitu manis di telinga Rey yang langsung semangat membuka kelopak matanya. Ditatapnya wajah sang istri. "Morning, Istriku. Wajahmu manis, bagaimana kamu bisa memiliki wajah yang tidak membosankan?"


Pertanyaan aneh. Asma hanya menghela nafas, lalu membalas tatapan mata Rey yang manja. Tidak ada yang terucap dari bibirnya. Pagi ini, bukan hanya pikiran yang lelah, tetapi tubuhnya terasa remuk. Kekuatan pria yang menguasainya terlalu besar. Sehingga tidak sanggup untuk melakukan pemberontakan.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan melepaskanmu, tapi dengan satu syarat." Rey mengerjapkan mata memohon dengan harapan persetujuan, tidak tahu sifat manjanya datang dari mana. "Setiap pagi, kamu harus memberikan kiss morning. Bagaimana?"


Geram dan kesal. Apa susahnya melepaskan cengkraman tangan dan membiarkan dirinya pergi untuk melakukan ritual mandi? Siapa sangka memiliki suami yang begitu posesif. Tidak ada tampang yang bisa menegaskan kepribadian suaminya itu. Lebih baik berpura-pura tidak tahu maksud dari Rey.


"Mas, boleh aku jujur? Sebenarnya, aku tidak paham. Setiap kali kamu bicara bahasa asing. Jadi, apa arti dari kiss morning?" Kata Asma menahan senyum di dalam hatinya, sedangkan Rey terperangah tak percaya.


Jika wanitanya tidak tahu arti dari ucapan yang ia katakan beberapa kali. Lalu, kenapa baru bilang sekarang? Apakah Asma diam karena alasan yang sama. Benar-benar malu rasanya, tapi bukan berarti kehilangan akal. Ditatapnya sungguh-sungguh mata coklat jernih sang istri.


"Kamu serius tidak tahu bahasa Inggris?" tanya Rey memastikan atas sanksi keraguan hatinya, namun anggukan kepala dengan wajah polos Asma. Cukup sudah menjadi jawaban nanar. "Jika tidak paham, aku sendiri akan memberikan contohnya langsung."


Keseriusan Rey, membuat Asma hanya mengerjapkan mata. Kali ini, ia tak ingin pasrah. Sebuah ide melintas menerbitkan seulas senyuman tipis yang tidak disadari prianya. Tatapan mata yang terpatri, membuatnya menelusup mengalihkan perhatian hingga terbebas dari cengkraman. Meski harus menahan rasa nyeri karena bergerak cepat turun dari ranjang.


"Asma, kenapa lari? Kembalilah." goda Rey tak melakukan pengejaran, setelah Asma melarikan diri dengan mendorong tubuhnya yang lengah sesaat. "Baiklah, mandilah yang bersih ....,"


Tidak peduli dengan apa yang menjadi pengaduan sang suami. Asma berlari masuk ke dalam kamar mandi. Kali ini, pintu dikunci agar tidak ada kesempatan lain bagi Rey mengganggu ritual mandinya. Alih-alih menikmati status sebagai seorang istri. Tatapan matanya hampa.


Pantulan refleksi bayangan tubuhnya yang jelas nampak di depan mata. Memperlihatkan jejak merah yang tidak beraturan. Tidak ada keraguan akan kekuatan dan perlakuan Rey yang sangat berhati-hati dalam penyatuan semalam. Namun, pikiran tak bisa dihentikan.

__ADS_1


Rasa sesak di dada menyadarkan dirinya, bahwa hatinya masih belum siap untuk melakukan semua ini. Kewajiban sebagai seorang istri yang menjadi bagian separuh malamnya. Jika jujur, apakah Rey akan memahami ketidaksiapan seorang istri? Entahlah.


Kamu bisa, Asma. Lepaskan semua masa lalumu, dan rajut masa kini agar menjadi masa depan seperti harapanmu. Rasa takut kehilangan, semua orang pasti merasakan itu. Kamu kuat dengan pendirian tanpa sandaran. ~ ucap hati Asma mencoba menguatkan dirinya sendiri.


__ADS_2