
Panas, lebih tepatnya menusuk tepat ke ulu hati. Pertanyaan Fay sederhana dengan membalikkan posisi. Seketika Satya menyandarkan tubuh ke kursi, tatapan matanya tertuju pada pasutri yang tengah duduk menikmati kue sepiring berdua.
Di depan sana, Asma menerima suapan manja suaminya, lalu disini? Dia hanya bisa menatap tanpa hak untuk menghentikan. Ia sadar bahwa kenyataannya adalah mencintai wanita yang bersuami. Jika di balik posisi, tentu tidak mau merasakan cemburu seperti yang membakar hatinya.
Namun, lebih dari itu, ia waras dan tidak mungkin berpikir lebih dari sekedar menyukai wanita idamannya. "Sorry, Aku memang salah. Perasaan ini akan kulupakan demi ketenangan hati."
"Good job, ingat selalu bahwa cinta bukan berarti memiliki. Kadang kisah cinta sepihak lebih baik diikhlaskan dalam do'a. Insya Allah kita tenang dan orang yang kita cintai mendapatkan kebahagiaan. By the way, kalian jadi mau pulang besok?" Fay menepuk pundak Satya. Itu sekedar untuk memberikan dukungan.
Nau mengangguk seraya memberikan sebuah kado kecil yang sudah disimpan sejak masuk ke acara resepsi. Kado itu diulurkan ke Fay, "Ifii, bisa kasih ke Ka Asma? Gue dapet titipan dari seseorang, emang sih gak kenal. Cuma tadi nitip pas di parkiran."
Kotak kado seukuran kotak cincin berbalut kertas biru tua. Siapa yang ngirim? Kalau udah di parkiran, pastinya bisa masuk ke acara dan kasih kadonya sendiri. Iya 'kan? Rasa penasaran serta pertanyaan hanya bisa disimpannya seraya menerima kado tersebut dari tangan Nau.
"Kalian nikmati pesta dulu, Aku ke Ka Asma." pamit Fay, lalu berbalik kemudian melenggang pergi meninggalkan meja anak-anak.
Kotak kado di tangan kanannya seperti ada yang tidak beres. Hati tiba-tiba merasa harus waspada, tapi kenapa begitu? Di antara ratusan tamu undangan. Semua wajah tampak sumringah dengan kebahagiaan menikmati acara. Lalu siapa yang memilih hanya menitipkan kado?
Meja makan dengan penghuni yang familiar menjadi tempat tujuan Fay. Wanita itu tanpa sungkan ikut bergabung dengan Rey, Asma, Mr. Axel, Jovanka, dan Bu Utari. Entah apa yang sedang dibahas karena terlihat santai tanpa beban pikiran. Hanya saja kenapa tidak ada Bagas. Kemana pria satu itu pergi?
"Fay!" Asma memperhatikan gelagat saudaranya yang seperti kebingungan, "Kamu cari siapa? Ka Bagas? Dia pamit keluar buat jemput seseorang."
"Gak kok, Ka. Siapa bilang nyariin pria nyebelin kek gitu." elak Fay walau sebenarnya memang sedikit penasaran kemana Bagas pergi.
Tidak biasanya Fay salah tingkah. Bukankah tadi Ka Bagas baru bilang kalau hubungan kedua insan itu akan segera di publish. Jika benar, apa ada yang mengganjal hati saudaranya? Untuk kejelasan harus dipastikan agar tidak terjadi hal-hal diluar ekspektasi.
Ia senang dengan dimulainya hubungan Bagas dan Fay. Walaupun begitu bukan berarti akan menelan keadaan secara mentah. Bagaimanapun hubungan harus memiliki chemistry dan juga saling percaya. Tidak ada syarat ataupun alasan untuk permintaan berjuang.
__ADS_1
"Hmm. Nyebelin ya? Ya sudah gak usah dicari. Diam aja disini bareng kita." sahut Asma tanpa ingin memperpanjang argumennya. Di depan orang banyak harus bersikap sewajarnya saja.
Perdebatan yang belum dimulai tapi sudah diakhiri berubah menjadi keheningan hingga suara manis mengalihkan perhatian semua orang.
"Aunty, makan yuk! Dari tadi Papa cuma diem, gak pengertian ...," celoteh Jovanka membuat Axel terkekeh pelan. Pasalnya mereka berdua tengah mode ngambek, tapi seperti biasa. Gadis satu itu memiliki cara untuk menarik perhatiannya.
Padahal di meja sudah ada beberapa jenis makanan yang pastinya ramah untuk semua perut beda usia. Kenapa masih mau cari makanan? Kan bisa makan apa yang ada, tapi wajah masam si gadis mungil membuat Asma mengulurkan tangan kanannya yang langsung disambut seruan bahagia seorang anak.
Jovanka berlari walau beberapa langkah menghampiri tempat Asma duduk yang memang diseberang meja. Dipeluknya tubuh yang selalu harum lembut menenangkan. Siapapun yang melihat pasti berpikir ibu dan anak penuh kasih sayang. Apalagi ketika Asma mengangkat Jovanka agar duduk dipangkuannya.
"Sayang, kemana perginya senyuman manismu? Apa ada yang mencurinya?" goda Asma bersungguh-sungguh, sedangkan yang ditanya melirik ke depan menatap Mr. Axel yang masih diam tak ingin ikut campur.
Situasi sedikit menegangkan bahkan Rey membiarkan istrinya berinteraksi tanpa gangguan darinya. Ia bisa melihat bagaimana Asma sudah siap menjadi seorang ibu dari segala aspek, meski kadang-kadang agak merinding kalau sudah mode diam.
Axel menghela napas panjang, lalu mengambil sepiring kue, kemudian menyendok. "Maafin Papa, ya. Ayo makan!" Tangannya terulur tetapi Jovanka masih diam tak bergeming. "Jovanka, Sayangnya Papa. Papa beneran minta maaf."
Sepertinya bukan masalah sepele sehingga Jovanka enggan untuk mempermudah permintaan maaf sang papa. Melihat itu, Rey mendekati si gadis kecil, lalu mengusap kepala seraya membisikkan sesuatu yang membuat Asma menahan napasnya.
Ingin sekali memprotes, tapi sudahlah. Masih aman dan terkendali, jadi tidak akan terjadi apapun. Seharusnya demikian. Apalagi setelah mendapat bisikan, Jovanka turun dari pangkuannya dan kembali mendekati Axel menerima suapan kue. Kemudian berpelukan sebagai bentuk perdamaian.
"Mas, apa yang kamu janjikan? Jangan aneh-aneh." bisiknya dengan berpura-pura mengambil minuman di depan Rey. Suaminya hanya mengerlingkan mata nakal. "Sabar, Tuan kulkas comeback."
Gumaman Asma begitu lirih sehingga tidak ada yang mendengar. Kebersamaan di meja itu tak luput dari tatapan mata seseorang yang tengah mengawasi dari kejauhan. Kaki yang berpijak di tempat pesta bahkan harus mengerahkan segala upaya. Siapa sangka acara mewah itu diatur tanpa ada cacat sedikitpun.
Tiba-tiba sentuhan tangan mengagetkannya, sontak ia menoleh ke belakang hingga bersambut nampan berisi minuman. "Antar ke meja cocktail! Buruan balik lagi." Mau, tak mau hanya mengangguk paham, kemudian berjalan meninggalkan tempat bahan makanan dan minuman.
__ADS_1
Langkah kaki yang semakin maju dengan detakan jantung tak karuan. Rasa yang pernah membara ternyata masih ada. Apakah cintanya sebesar itu? Rindu di hati tak mampu menahan diri. Ingin sekali mendekat, lalu memeluk tubuh yang berbalut gaun indah tengah bercengkrama dengan orang-orang penting.
Tangannya ikut gemetar hingga nampan mulai bergoyang tak seimbang. Seperti orang yang sakit karena tidak kuat menahan beban yang tidak seberapa. Tempat yang ia tuju melewati meja pemilik acara, sontak membuatnya semakin tidak karuan. Apalagi setiap kali senyuman tipis si pemilik netra coklat tersungging menghiasi wajah manis.
"Hubby, apa kita bisa membangun rumah di tepi pantai?" tanya Asma hanya sekedar iseng dengan lintasan ide yang selalu datang tanpa permisi.
Binar mata sang istri sepanjang acara tidak pernah luntur. Hal itu membuat Rey sadar bahwa pantai salah satu tempat favorit istrinya. Jangankan rumah di tepi pantai. Selama ia mampu, tentu apapun keinginan Asma akan diwujudkan tanpa berpikir dua kali.
"Why not, istriku mau rumah yang seperti apa? Bisa diobrolin dengan arsitek kantor, tapi apa harus pantai sini? Atau mau dipantai lain?" balas Rey tanpa harus memikirkan biaya yang akan dikeluarkan.
Disaat bersamaan tatapan matanya tak sengaja melihat pelayan yang membawa nampan seperti tidak kuat. Ia cepat beranjak dari tempat duduknya dan dengan sigap membantu memegang nampan. "Kamu tidak apa-apa? Kalau sakit jangan paksain. Pelayan!"
Rey memanggil pelayan lain yang kebetulan lewat, lalu meletakkan nampan ke atas meja yang kebetulan kosong. Sebagai seorang manusia tentu kewajiban memperdulikan sesama. Apalagi pelayan yang ada di hadapannya seperti tengah shock. Meski tidak tahu penyebabnya. Ia hanya bisa membantu sekedar saja.
"Iya, Tuan." ucap pelayan lain begitu berdiri menghadap sang pemilik acara.
Rey mengangkat tangannya, lalu memanggil seseorang untuk melakukan sesuatu. Kemudian panggilan berakhir tanpa ada perdebatan panjang kali lebar. "Antar dia keruangan pemeriksaan, dan pekerjaan ini minta pelayan yang lain. Pergilah!"
"Hubby! Boleh aku ke pantai?" ucap Asma sedikit mengeraskan suaranya agar Rey bisa mendengar.
*Panggilan sayang untuk pria asing yang kini menjadi suamimu. Apa di hatimu masih ada tempat untukku? Sakit mendengar panggilan kesayangan untuk orang lain dan bukan untukku.~gumam hati seorang pelayan dengan kedua tangan mengepal erat*.
.
.
.
Maaf ya, agak telat up karena memang kurang fit. 😌
__ADS_1