Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 75: Alibi Bagas, Canggung


__ADS_3

Setelah mengatakan keinginannya, gadis itu beranjak pergi meninggalkan taman. Sementara Bagas jatuh terduduk lesu seraya menjambak rambutnya sendiri. Tidak habis pikir, ketika sudah memberikan sebuah peringatan yang tidak boleh dilanggar. Justru adiknya secara sadar ingin melewati batasan. Bagaimana jika Rey tahu?


Ingin menolak, tapi percuma. Asma tidak akan melupakan permintaan yang sudah diajukan. Namun, ia harus melakukan sesuatu agar bisa menghindari masalah hingga waktu yang tepat. Walau untuk itu harus mengambil jalan yang salah. Hanya saja, apa yang akan menghentikan niat sang adik? Apakah dengan menghadirkan keluarga?


Jika benar begitu, kenapa tidak mencoba? Tidak perlu lagi menyiapkan kejutan untuk hadiah pernikahan. Kini yang terpenting adalah menjauhkan Asma dari Elora. Yah, jika tidak dijauhkan bisa menjadi masalah baru, sedangkan kebenaran akan hubungan yang Rey katakan masih belum mendapatkan bukti cukup. Apalagi Pedro masih melakukan pemeriksaaan yang diharuskan.


Bukan lagi dilema. Rasanya kepala berputar tanpa ada yang memukulnya, benar-benar tidak bisa tenang dengan situasi yang ada. Andai saja Elora tidak pernah ada didalam kehidupan mereka. Sudah pasti semua baik dan akan bahagia sebagaimana harapan sederhana milik keluarga mereka.


Kesibukan Bagas yang merenungi persimpangan masalah yang dihadapinya, membuat pria itu tidak sadar akan kedatangan Rey yang sengaja menyusulnya karena terlalu lama menunggu di meja makan. Begitu melihat tampang kusut dengan tatapan mata sendu sang sahabat. Ia sadar ada yang tidak beres.


Tak ingin mengejutkan, Rey mengusap bahu Bagas dengan perlahan. "Nando, are you okay?"


"Yap, memangnya aku kenapa?" tanya balik Bagas berusaha mengubah ekspresi wajahnya yang tegang, tetapi sayangnya tidak akan mengubah kesimpulan yang sudah terlanjur terpatri dalam ingatan.


Akan tetapi, waktu makan siang bisa terlewat, sedangkan di dalam sana ada tamu yang tidak boleh kelaparan. Tak ingin menambah kecemasan, apalagi menghadirkan pertanyaan lain. Rey mengesampingkan rasa penasarannya untuk beberapa waktu, demi kebaikan bersama.


"Sudahlah. Ayo, kita makan siang." Ditariknya tangan Bagas yang terlihat enggan beranjak dari tempat duduknya, "Apa yang kamu bicarakan dengan Asma?"


"Kami hanya membahas resepsi, Nona La memberikan konfirmasi untuk beberapa permintaan yang ternyata susah didapatkan dalam waktu singkat. Jadi aku mencoba untuk negosiasi dengan Asma. Hanya itu saja," Bagas menjelaskan dengan begitu santainya, berharap sang sahabat percaya dan tidak lagi penasaran.


Seperti yang diharapkan. Rey hanya ber-oh ria menganggap penjelasannya sebagai kebenaran. Lalu mereka memulai acara makan siang bersama. Kedatangan Fay sedikit mengubah menu makan yang disajikan. Asma telah memberikan instruksi agar makanan diperhatikan.

__ADS_1


Tidak ada percakapan selama menikmati makan siang, walau Rey harus menahan diri untuk tidak mengambil makanan dari piring istrinya. Kegusaran yang terlihat jelas, membuat Asma menghela nafas pelan. Bukannya tenang, gadis itu tidak tega akan ketidakberdayaan sang suami.


"Bi Jia!" Panggil Asma yang berhenti menyuap makanan, lalu meraih tisu dari atas meja. "Lanjutkan makan kalian, Aku permisi."


"Butterfly, mau kemana?" tanya Rey yang ikut beranjak dari tempat duduknya.


Kepergian pasutri itu menuju dapur, sedangkan Fay masih berusaha untuk tetap bersikap biasa saja. Padahal beberapa kali Bagas melirik menatap ke arahnya. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu tentangnya. Ingin menghindar, tetapi tidak mungkin.


"Maaf, apa ada yang salah denganku?" Fay mencoba untuk memberanikan diri, bukannya gak berani, tapi lebih tepatnya menjaga emosi untuk stay cool down.


Bagas menggelengkan kepala. Ia merasa tidak penting untuk menjelaskan situasi yang ada pada gadis di depannya. Lagi pula, gadis yang menjadi sahabat sang adik itu, pasti akan pergi meninggalkan rumahnya dalam waktu satu atau dua hari ke depan.


"Mas, tangan kondisikan!" tegas Asma berusaha untuk melepaskan diri, tetapi tetap bertahan untuk menyuapi suaminya yang entah sejak kapan berubah menjadi manja.


Seharusnya yang manja itu dia sebagai istri. Lah ini malah kebalik, yah bagaimanapun keadaannya. Tetap bersyukur memiliki suami dan keluarga yang bisa menerima apa adanya. Kini masalah apapun yang akan menjadi halangan dan cobaan. Pasti akan dilewati dengan kesabaran.


Lima belas menit berlalu, Rey keluar bersama Asma dari dapur dengan tangan yang saling bergandengan. Akan tetapi, begitu melihat kearah meja makan. Keduanya saling pandang. Bagas yang berdiri di sebelah Fay seraya mengusap punggung gadis itu, membuat cemas. Sebenarnya apa yang terjadi?


"Ka, ada apa?" Asma melepaskan tangannya berlari menghampiri meja makan.


Bagas yang masih berusaha membantu Fay. Akhirnya menyingkir, membiarkan Asma melakukan yang seharusnya. Dimana Fay tersedak makanan, tapi apa penyebabnya? Patut dicari tahu. Setelah memberikan segelas air putih yang langsung diteguk hingga tandas. Barulah perasaan kembali normal.

__ADS_1


"Makasih, Ka Asma." ucap Fay sedikit lirih, membuat Bagas merasa bersalah, tetapi pria itu tak ingin adiknya tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Sayangnya gelagat yang mencurigakan sudah tertangkap basah. Mengingat situasi yang ada, Asma berusaha untuk tetap tenang. Tanpa kata membimbing Bagas untuk duduk di kursi hingga saling berhadapan dengan Fay. Sementara Rey mencoba untuk memahami situasi yang ada dan membiarkan istrinya bertindak.


"Bisa jelaskan apa yang terjadi?" Asma memulai pertanyaan paling sederhana dengan harapan bisa mendapatkan kebenaran tanpa harus berbicara panjang kali lebar.


Tatapan mata Bagas jatuh pada bayangan gelas di atas meja, sedangkan Fay menundukkan pandangan memilih diam. Keduanya kompak tidak ingin membahas apa yang sudah terjadi. Melihat itu, tak membuat Asma kehilangan akal. Tanpa ingin memperpanjang masalah. Dibawanya Rey untuk meninggalkan ruang makan.


Suara langkah kaki yang terdengar menjauh, mengubah suasana menjadi sedikit melegakan. Biarlah tetap dalam diam dan tidak perlu ada penjelasan. Yah itu yang dipikirkan Bagas dan Fay, akan tetapi kebenaran akan terungkap walau keduanya bungkam. Bagaimana itu mungkin?


Begitu langkah memasuki kamarnya, Asma bergegas mengambil laptop yang ada di atas meja kerja suaminya. Kesibukan gadis itu, membuat Rey hanya melihat dengan setiap tindakan dan juga keputusan yang akan dibuat. Meski ia terkejut karena Asma bisa memeriksa rekaman CCTV yang memang ada di tempat-tempat tersembunyi.


"Mas, bisa bereskan ini? Ka Bagas sepertinya suka membuat masalah." Si lepi diputarnya, layar yang terus bergerak seakan tengah proses penghapusan.


Bukan hal tidak mungkin untuk merusak sistem malware dalam suatu sistem operasi. Tak ingin membuat usaha sang istri gagal. Diambilnya laptop dari pangkuan gadis itu, lalu menyabotase pekerjaan Bagas yang memang tengah berusaha menghapus rekaman CCTV dari ponsel pribadinya.


Tak elak terjadi pertarungan tak kasat mata dengan teknik yang mengharuskan sepuluh jari bekerja lebih cepat dari biasanya. Melihat itu, Asma termenung menatap suaminya. Entah apa isi hatinya, tetapi setiap kedipan mata dengan seulas senyum nakal yang tersungging menunjukkan karisma dalam diri sang suami.


"Butterfly, jangan pandang diriku seperti itu. Bagaimana jika aku kalah?" goda Rey dengan rayuan yang menghadirkan gelengan kepala ringan Asma. "Tunggu dulu. Apakah jika menang mendapatkan hadiah?"


Seketika perasaannya tak enak. Ingin menolak,tapi rasa penasarannya membutuhkan jawaban yang pasti. Helaan nafas yang tertahan, "Apapun yang kamu inginkan."

__ADS_1


__ADS_2