
Untuk pertama kalinya hati terasa lebih berarti. Apakah rasa bahagia itu selalu menjadi hal istimewa? Panggilan Jovanka untuknya benar-benar tulus, bahkan ia merasa gadis itu sudah merebut hati. Namun ia sadar tidak baik memberikan harapan palsu untuk anak kecil.
''Jovanka sayang, Tante gak janji untuk bisa pulang bareng kamu, Nak. Gini aja deh, Tante bakalan izin ke daddy buat kamu nginap disini. Bagaimana?'' tawar Asma, ia harus mengingat posisinya yang menjadi seorang istri.
Meski terbiasa untuk mengasuh anak kecil bukan berarti bisa seenaknya. Apalagi kali ini adalah putri dari rekan bisnis Rey yang notabene putri seorang pebisnis. Dari hasil kesimpulan setelah mendengar penjelasan Ka Bagas. Jelas Mr. Axel bukan pria yang mudah menyerahkan permata hatinya di bawah pengawasan orang asing.
"Mama jangan sedih, urusan daddy jadi urusan princess. Mama tahu, daddy suka minum ...," belum juga usai mengutarakan isi hatinya, suara deheman sudah menghentikan pengaduannya. "Daddy, balik dulu ke sana!"
Mr. Axel berdiri di tengah pintu yang terbuka setengah. Tatapan mata lurus ke depan menatap putri tunggalnya yang sibuk memeluk wanita bergaun biru cerah tanpa ada jarak. Setelah sekian lama, baru malam ini menemukan kebahagiaan kecil sang putri dan Jovanka begitu menikmati waktu tanpa dirinya.
Sebuah keberuntungan yang tidak bisa dibiarkan pergi. Kenakalan yang terpancar dari sorot mata Jovanka dan Asma menjadi pantulan cermin yang menggambarkan keduanya sama-sama memiliki emosi yang teratur dengan akal yang seimbang. Sesaat mengingat mendiang istrinya.
"Daddy! Tuh lihat, daddy selalu sibuk ngelamun. Gimana mau jagain Jovanka? Mama ikut pulang ya." celoteh Jovanka semakin bersikeras mendapatkan keinginannya, membuat Asma menahan rasa gemas karena tatapan gadis itu begitu imut menggoda.
Sementara Alex merasa tak enak hati atas sikap putri kesayangannya yang terlalu berlebihan, bahkan ia tidak tahu siapa wanita yang bisa merebut perhatian dari seorang Jovanka. Di rumah saja memiliki tiga pengasuh wanita, tapi tidak satupun bisa dekat dengan anak satu itu karena yang selalu terdengar hanya keluhan.
Langkah kaki berjalan menghampiri Jovanka dan Asma, "Princess tidak boleh seperti itu, bagaimana jika aunty sibuk? Bukankah sudah ada daddy."
__ADS_1
"Daddy gak sayang Jovanka, lagi." sahut anak itu, lalu menyembunyikan wajahnya ke dalam pelukan Asma.
Situasi yang tiba-tiba saja menjadi tak menentu menyadarkan Alex akan niat kedatangannya ke taman. Padahal ia ingin mengajak putrinya untuk makan malam bersama, tapi sekarang terlanjur ngambek duluan. Jika sudah demikian, ia harus melakukan sesuatu agar mendapatkan perhatian sang putri kembali. Jangan sampai kemarahan anak itu berkelanjutan hingga keesokan hari.
Alex mengusap kepala Jovanka seraya meminta maaf, tetapi gadis itu semakin memeluk erat Asma dan enggan untuk berbalik menoleh ke arahnya. Penolakan yang dilakukan sang putri, membuat hatinya tak tenang. Hanya saja ia tidak bisa memutuskan tanpa tahu apapun tentang wanita yang sudah mencuri hati gadisnya.
Hubungan ayah dan anak menunjukkan kedekatannya. Amarah sederhana milik Jovanka serta rasa khawatir milik Alex. Keduanya begitu saling melengkapi tanpa perlu diperjelas dengan kata-kata yang bisa meyakinkan seberapa dekat ikatan yang ada. Melihat semua yang terjadi hanya karena ulahnya, tentu ia memiliki kewajiban untuk memperbaiki.
"Jovanka sayang, nanti kamu gak bisa nafas, Nak. Ayo lepasin sebentar, kita cari ice cream saja. Mau gak?" Asma mencoba untuk membujuk anak itu, tetapi masih diam tak bergeming. "Jangan ngambek lagi, Daddy pasti sayang Jovanka. Iya 'kan, Tuan Alex?"
Rentangan tangan sang ayah membuat gadis itu melepaskan diri dari Asma, lalu beralih menghamburkan diri ke dalam dekapan pria yang selalu menjadi segalanya. Kehidupan begitu kejam karena di usia yang masih dini, justru tidak sekalipun bisa merasakan kasih sayang seorang ibu. Maka dunia milik Jovanka hanyalah Mr. Axel yang selalu berusaha memenuhi semua harapan.
Di saat bersamaan, Fay datang untuk mengingatkan sudah waktunya makan malam. Akhirnya mereka berpindah tempat meninggalkan taman tanpa ada drama lain lagi. Namun, begitu semua berkumpul hanya ada kebekuan suasana. Benar-benar tidak habis pikir.
Kali ini yang menyajikan makanan adalah Bi Jia dan Bi Nunu. Semua persiapan dibuat sedemikian rupa untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. Rasanya seperti dejavu mengingat makan malam pertama di rumah baru yang seperti kuburan saja. Asma hanya menghela nafas berat, ternyata pria dingin ketemu pria kalem berakhir freezer.
"Bi Jia, tolong minta semua orang untuk makan juga. Terima kasih udah siapin makanan kami." ucap Asma mempersilahkan si bibi untuk kembali ke belakang, lalu mengedarkan pandangannya. "Selamat makan, jangan sungkan karena semua makanan untuk dihabiskan."
__ADS_1
"Butterfly, bisa bantu gulung lengan bajuku?" tanya Rey yang merasa tidak nyaman dengan pakaian rapi untuk acara malam ini, padahal Asma mengingatkan untuk memilih pakaian yang casual saja.
Tidak ada jawaban selain anggukan kepala pelan, kemudian beranjak dari tempat duduknya seraya mendorong kursi. Tiga langkah kaki menghapus jarak yang ada, lalu melakukan keinginan Rey tanpa banyak tanya. Asma sibuk menggulung lengan baju tiba-tiba saja ada yang menarik blazer luar gaunnya.
''Mama, bantuin Daddy juga ya.'' Jovanka menunjuk ke tempat duduk Alex yang sebenarnya tidak kenapa-napa.
Semua orang bingung karena Jovanka memanggil Asma dengan sebutan ibu, sedangkan kedua wanita beda usia itu baru pertama kali bertemu. Tak ingin menghadirkan kesalahpahaman, Alex segera mengklarifikasi dengan pernyataan yang pasti. ''Maaf atas kelancangan putriku. Jovanka melihat sosok ibu dalam diri Asma. Sekali lagi maaf atas nama putriku.''
Bagaimana harus bersikap? Mereka mencoba memahami tanpa memutuskan kemungkinan yang ada. Makan malam kembali dilanjutkan. walau tetap saja seperti kuburan. Setidaknya masih ada teman keributan dan semua itu karena tingkah laku ketiga gadis yang ada di antara para pria beku.
"Mama curang," Jovanka berusaha untuk menarik tangan Asma, tetapi usahanya hanya sia-sia. Potongan terakhir kue berakhir masuk ke dalam mulutnya. "Daddy ayo pulang, aku mau ngambek sama Mama."
"Kok ngadu sama Daddy? Benaran gak mau baikan nih?" goda Asma seraya mencolek pipi Jovanka yang chubby, meski tangan mungil berusaha menyingkirkan rasa gemasnya. "Ya udah kalau ngambek. Tante mau makan ice cream bareng aunty Fay aja. Yuk, aunty Fay kita ke dapur."
Ice cream sudah ditawarkan sebagai perwakilan maaf, tetapi gadis itu masih merengut dengan bibir manyun lima senti, tangan bersedekap dengan tatapan marah yang begitu menggemaskan. Sepertinya usaha Asma gagal. Apa Jovanka tidak suka ice cream?
"Siapa mau pizza?" Alex ikut membantu merayu Jovanka hanya untuk membalas usaha Asma karena berhasil mengembalikan perhatian putrinya beberapa waktu yang lalu, sesuai dugaannya dimana sang putri berteriak mengajukan diri nomor satu.
__ADS_1