
Kenapa tiba-tiba menggunakan nama Ka Asma? Bukankah seingatnya, kakak online satu itu juga ada di pulau Jawa. Jadi mana mungkin bisa menemani kakak sepupunya untuk jalan-jalan di Jakarta? Tidak mungkin bukan, tapi jika tidak mengiyakan, pasti akan mengubah suasana hati menjadi tidak baik.
"Ok. Jika memang Ka Asma yang nemenin jalan-jalan, tapi wajib ketemu ama gue dulu." Putus Nau tak ingin menghapus harapan dimata sang kakak sepupu.
Ia sadar, dimana kehidupan Fay untuk menikmati dunia luar sangat dibatasi. Bukan karena statusnya sebagai seorang wanita, tetapi tidak aman untuk membiarkan kakak sepupunya menikmati jalanan yang terkadang bisa bertemu makhluk astral alias mantan. Maka dari itu, keluarga sangat berharap perjodohan kali ini.
Setelah memberikan persetujuan, Nau memutuskan agar semua orang kembali melanjutkan perjalanan. Sementara di kota tujuan mereka. Hiruk pikuk kendaraan terus memenuhi jalanan. Deretan mobil dengan antrian panjang. Sepertinya terjadi kecelakaan atau mungkin ada perbaikan jalan.
"Okay, bawa mereka langsung ke apartemen dan tetap bersama mereka. Aku akan segera sampai."
Laporan dari salah satu anak buahnya yang mengatakan penjemputan sudah dilakukan, membuatnya bergegas mencari jalan lain. Ia tak ingin keluarga barunya merasa diabaikan. Apalagi baru pertama kali datang ke kota Jakarta. Selain itu, apa yang menjadi kejutan tidak seharusnya sampai ke telinga sang sahabat.
Beberapa waktu hanya fokus menyusuri jalanan yang tidak biasa dilewati, tapi akhirnya setelah perjalanan selama kurang lebih dua puluh lima menit. Mobilnya memasuki halaman nan luas dengan papan nama Apartemen Cahaya di atap gedung nan menjulang tinggi. Kilauan yang menyilaukan mata karena pantulan sinar mentari.
Setelah memarkirkan mobil di tempat biasanya, barulah turun meninggalkan tempat parkir. Lalu berjalan menyusuri lorong bangunan sisi kanan untuk masuk ke gedung melalui jalur khusus. Bukan lobi yang dituju, melainkan lift yang tersedia untuk pemilik apartemen flat terbaik.
__ADS_1
Niat hati ingin menghubungi anak buahnya, tetapi sebuah nama tertera berkedip di layar benda pipih miliknya. Tak ingin menimbulkan kecurigaan, panggilan langsung dijawab hingga suara salam menyapa gendang telinganya.
''Walaikumsalam, katakan!'' jawabnya seraya mempersilahkan sang lawan bicara untuk menyampaikan maksud dari panggilan tersebut.
Entah apa yang dikatakan oleh pihak seberang hingga membuat wajah pria itu gelisah dengan ekspresi yang tidak dapat diartikan. Apalagi kedua alisnya saling bertautan. Panggilan berakhir dari sepihak hanya dalam waktu tiga menit, tepat bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.
''Selamat siang, Tuan Bagas. Mereka ada di dalam sedang beristirahat.'' seorang pria dengan seragam biru donker menyambut tuannya dan tanpa basa basi langsung melaporkan situasi saat itu juga.
''Ok, pergilah! Lanjutkan pekerjaan kalian.'' Bagas mengibaskan tangan, membuat para anak buahnya bergegas meninggalkan lantai teratas di apartemen cahaya, sedangkan ia sendiri menghampiri flat apartemen yang memang miliknya.
Semua akan berjalan seperti keinginannya. Acara resepsi yang hanya menghitung hari dengan persiapan yang sudah dilangsungkan oleh pihak wo. Kini ia hanya perlu menyiapkan hadiah untuk pasangan baru yang seharusnya mendapatkan tiket honeymoon.
Akan tetapi sepertinya tidak diperlukan karena pasutri itu sudah menjadi pasangan yang seutuhnya. Bukan karena harga tiket mahal, hanya saja, ia tahu Rey pasti sudah menyiapkan sesuatu sebagai penyambutan Asma. Jadi lebih baik untuk memboyong keluarga sang adik ipar datang ke Jakarta sebagai kado pernikahan.
Asma bukan hanya memberikan pertanyaan, tetapi juga menerapkan sistem yang bisa menguras tenaga dan pikiran. Gadis itu memang melakukan semua yang dikatakan olehnya, tetapi sebagai gantinya. Ia harus menggantikan pekerjaan si tuan rumah.
Ditengah melakukan sesi yoga. Tentu yang berolahraga adalah Asma dan di bantu suster yang wajib mencontohkan di depan mata. Namun, sang dokter hanya diperbolehkan duduk dengan laptop yang menyala. Jemarinya sibuk berselancar untuk menikmati barisan huruf dan angka sebagai pekerjaan barunya.
''Bu Dokter, apakah sudah selesai?'' tanya Asma disela peregangan yang dilakukannya, sedangkan yang di tanya buru-buru membenarkan kacamata, lalu membaca ulang hasil ketikannya. ''Sus, berapa banyak pesan whatsapp yang biasa kamu balas dalam sehari?''
Orang diam hanya memiliki dua alasan. Satu jawaban iya dan satunya lagi penolakan, tetapi ia tahu jika dokter itu masih belum adaptasi untuk melakukan pekerjaannya. Maka yang bisa dilakukan mencari target baru dan yang ada hanyalah sang suster.
''Mungkin seribu pesan atau kurang dari itu,'' Suster nampak ragu dengan jawabannya sendiri, dan itu terlihat jelas dai ekspresi wajahnya.
Sesaat memperhitungkan seberapa cepat suster mengetik balasan untuk setiap pesan. Setelah memastikan dengan sedikit kepercayaan, sejenak ia menghentikan sesi olahraganya. Kemudian beranjak dari tempat duduk, lalu berjalan menghampiri Bu Dokter yang terlihat lelah.
__ADS_1
''Istirahat itu perlu, Bu Dokter.'' Diambilnya segelas air untuk wanita yang tampaknya kesal karena ulahnya. ''Calm down. Suster, bisa kamu gantikan tugas Bu Dokter? Jika tidak, aku akan lanjut sendiri.''
Apa itu bentuk lain dari ancaman? Ingin menolak, tapi tatapan ibu dokter dengan gelengan kepala pelan membuatnya terpaksa menerima apapun yang akan menjadi tugasnya. Pasien kali ini benar-benar menyulitkan semua orang.
Sesi olahraga selama satu jam menjadi sesi tepanas dalam sejarah terbaru kehidupan seorang dokter dan si suster. Bagaimana tidak? Asma siap menjalankan tetapi, tapi dengan syarat ada yang menggantikan pekerjaannya sebagai seorang penulis.
Hanya mengetik tanpa ikut memikirkan alur atau nama tokoh yang harus dihafalkan. Permintaan atau syarat memaksa? Entahlah, pada intinya menetapkan sistem simbiosis mutualisme. Padahal pekerjaan itu sudah memiliki skill masing-masing.
Hari pertama yang melelahkan, bagi Asma lelah fisik. Akan tetapi bagi Dokter dan Suster lelah jari dan juga fisik. Baru saja duduk di depan laptop hanya untuk mengetik selama satu jam di bagi dua sesi, punggung sudah terasa panas bahkan bengkek alias pegal.
"Terlalu acak," Jemari sibuk membenarkan tulisan yang ada di layar lepi, tetapi tidak secepat menggunakan ponselnya. "Salin aja kirim ke web, aku bisa membenarkan dari HP setelah ini."
Jemari yang terampil mengeksekusi pekerjaan, membuat gadis itu tak menyadari langkah kaki yang baru saja masuk kembali ke kamar. Penampilan yang menonjol dengan pakaian olahraga yang sepertinya agak ketat, membuat Rey menghentikan langkah kakinya dengan memperhatikan tubuh sang istri dari belakang.
Bukan tidak sadar, tetapi lebih tepatnya membiarkan. Aroma parfum yang familiar sudah cukup mengabarkan kedatangan pria itu, hanya saja tidak perlu menunjukkan bahwa ia tahu atas keberadaan sang suami yang berdiri menatapnya dengan tatapan tak berkedip.
.
.
.
...🍃Noted🍃...
#mulai besok hanya 1 bab, but langsung 2k. Hari terakhir up double, kecuali otak beres. Othoor up double 😁🥱
__ADS_1