Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 109: Persetujuan, Pertanyaan


__ADS_3

Persiapan yang singkat, meski menghabiskan waktu hingga satu jam lebih sepuluh menit. Bukan karena sibuk dandan, tetapi bingung mau pake pakaian seperti apa. Apalagi pakaian yang dibawa hanya untuk jalan-jalan saja. Casual yang bisa bebas bergerak, untung saja sang kakak mengirimkan paket khusus.


"Wah, pas banget. Kok bisa ya?" Fay menatap pantulan tubuhnya dari cermin.


Gaun simple yang elegan begitu melekat membalut tubuh kecilnya. Benar-benar terkesan seakan dibuat khusus untuk dia seorang. Setelah memastikan semua aman dan tidak ada yang tertinggal. Barulah ia berjalan meninggalkan kamar. Apalagi yang ditunggu? Selain datang untuk menikmati sarapan bersama.


Benar saja, semua orang menunggu kedatangannya. Rey dan Asma menyambut penuh kebahagiaan, tetapi Bagas melirik pun tidak. Pria aneh yang selalu menjadi pemicu kekesalannya. Heran terkadang dengan pria satu itu, tapi ia tak ingin ambil pusing.


Ditariknya kursi secara pelan, lalu duduk. "Maaf terlambat, kenapa tidak makan duluan?"


"Peraturan rumah mewajibkan untuk makan bersama. So? Gara-gara kamu, kami melewati waktu sarapan pagi." sahut Bagas begitu sinis seraya membalikkan piring di depannya.


"Jangan berantem masih pagi ini," Asma melayani Rey sebagai seorang istri dengan mengambilkan nasi beserta lauk pauk yang khusus menjadi menu pagi ini.


Sesi sarapan memang tetap berlanjut hanya saja benar-benar hening. Selain suara dentingan sendok, maka tidak ada suara yang lain lagi. Beberapa menit telah berlalu hingga Asma beranjak dari tempat duduknya. Wanita itu mengangkat telepon yang entah dari siapa hingga menjauh dari semua orang.


Lihat saja Rey yang penasaran walau masih bersikap tenang, atau Bagas yang tak hentinya menatap keberadaan sang adik. Sementara Fay memilih untuk tenang menikmati sarapan pagi agar hari ini memiliki kekuatan untuk menghadapi rumitnya kehidupan.

__ADS_1


Begitu panggilan berakhir, Asma kembali berkumpul bersama keluarganya. "Nona La, dia mengkonfirmasi semua persiapan sudah selesai dan meminta salah satu pihak keluarga untuk memeriksa di tempat pemesanan. Hanya saja rapat bersama Mr. Axel tidak mungkin ditunda. Jadi bagaimana?"


"Bagas saja yang rapat bersama Fay, dan kita pergi memeriksa persiapan. Okay?" sahut Rey dengan permintaan persetujuan dari semua orang, membuat Asma mengalihkan perhatian menoleh ke arah Fay lalu beralih menatap Bagas.


Tidak yakin akan aman, jika meninggalkan kedua lawan jenis yang suka sekali cakar-cakaran itu hanya berdua saja. Bagaimana ia lupa dengan kejadian beberapa waktu terakhir. Keduanya sama-sama dewasa dengan cara penyelesaian masalah yang berbeda. Andai mau bekerjasama bisa jadi lebih berhasil.


"Jujur Aku tidak ingin melepaskan Fay begitu saja, tapi melihat keadaan yang ada ... Baiklah. Fay bisa pergi bersama Bagas, tapi memeriksa persiapan pesta resepsi saja. Aku sudah janji dengan Mr. Axel untuk membahas perubahan rencana yang ku anggap kurang pas." jelas Asma dengan persetujuannya.


Helaan nafas tertahan dengan wajah tegang. "Kalian pergilah rapat! Aku akan ajak gadis itu ke tempat acara resepsi."


Sinar mentari yang menyapa seharusnya menghangatkan raga. Akan tetapi semua tak lagi sama ketika kejutan datang tanpa diminta. Sesuai dengan kesepakatan bersama, kedua mobil keluar meninggalkan rumah melaju beriringan hingga mencapai persimpangan. Mobil Rey pergi ke kiri, sedangkan mobil Bagas ke kanan.


Sadar bahwa satu persetujuannya akan berakhir menjadi hasil akhir berbeda dari keinginan. Apakah Bagas dan Fay bisa mengesampingkan perbedaan sudut pandang yang selalu menyulut pertengkaran diantara mereka. Entahlah, jujur saja sedikit khawatir, tetapi overall merasakan semua masih aman terkendali.


Tiba-tiba terasa usapan lembut menyentuh kepalanya, sontak mengalihkan perhatian hingga saling temu pandang. "Mas, fokuslah menyetir."


"Aku tahu, tapi wajah murungmu harus disingkirkan. Ada apa hmm? Kamu khawatir pada kedua anak yang udah dewasa?" tanya Rey yang berhasil menebak isi pikiran sang istri.

__ADS_1


Diam, lalu menundukkan pandangan mata yang enggan menjelaskan. Bingung? Bukan seperti itu, Asma hanya merasakan akan terjadi sesuatu sebentar lagi. Tidak tahu apa karena firasatnya hanya menghadirkan debaran jantung yang berpacu tanpa arah tujuan.


Rey ikut menghela nafas, lalu sedikit mengurangi laju kecepatan mobilnya. "Butterfly, jika kau ragu maka kita bisa memutar haluan arah menyusul mereka berdua agar kamu tenang. Apa itu yang kamu mau?"


"Tidak, Mas. Fay masih memiliki kesabaran untuk menghadapi sikap Ka Bagas yang seringkali melewati batas. Yah, mereka berdua bisa berusaha untuk saling mengenal dengan cara bekerjasama." Tegas Asma berusaha meyakinkan diri sendiri, rasa ragu yang bertahan coba ia singkirkan.


Namun sebagai seorang kakak yang mengenal tabiat dari dua sisi koin berbeda arah. Tentu firasat tidak meleset dari terkaan yang ada. Dimana di mobil lain hanya ada keheningan, tetapi laju kendaraan semakin bertambah cepat tanpa rasa sungkan.


"Apa kamu bosan hidup?" Kerlingan mata malas tertuju pada pria yang diam membisu dengan bibir ngedumel tanpa suara. Heran saja, Bagas itu benar-benar pria atau sebenarnya pas lahir gagal menjadi wanita.


Dibalasnya lirikan sinis Fay yang memang tertuju padanya, "Why? Apa kamu takut mati?"


Fay langsung istighfar dengan pertanyaan balik Bagas yang begitu nyelekit. Tangan hampir saja terangkat melayangkan bogem mentah, tetapi ingat bahwa tindakannya akan berakhir perdebatan tanpa akhir. Maka lebih baik mengalah karena pepatah bilang. Manusia waras harus sadar diri.


Satu jam telah berlalu dengan rasa lelah yang meredam semangatnya. Ingin sekali menikmati waktu tanpa harus darting karena masalah perbedaan sudut pandang. Begitu mobil berhenti di parkiran sebuah hotel, barulah bisa menghirup udara bebas tanpa ada batasan.


"Selama sampai tujuan, semoga Allah mengampuni tutur kata hamba yang ...,"

__ADS_1


"Hei, buruan masuk! Nona La Sheira sudah menunggu kita." Seru Bagas menghentikan rasa syukur Fay, lalu berjalan di depan tanpa menunggu gadis yang bersamanya mendekat dulu. "Cewek aneh, sikapnya selalu berubah tanpa ada jaminan."


__ADS_2