Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 136: Masih Di Cafe


__ADS_3

Citra selalu memiliki banyak alibi untuk setiap tawaran perpisahan yang diharapkannya. Dia tidak lupa akan kenyataan pernikahan mereka berdua, tapi hati sudah tidak sanggup bertahan. Rasa sesak di dada kian menghancurkan asa yang tersisa.


Namun semua rasa itu berubah menjadi debu tak berarti. Dimana tatapan matanya tak lepas dari sensasi panas yang menjalar. Di depan sana tangan pria lain berani menyuapi wanita kesayangannya, sedangkan dia? Harus terpenjara dengan pernikahan penuh drama.



Sebenarnya siapa yang salah? Ia, takdir atau kisah mereka? Jujur saja, cinta yang selalu diagungkan tiba-tiba saja terlepas dari genggaman tangan dan semua itu karena dirinya sendiri. Andai saja, dulu mau berubah sedikit saja, mungkin hari ini hanya ada kebahagiaan di dalam kehidupan yang singkat.



"Terserah! Aku cabut dulu, dan bilang ke Niko untuk tetap minum obatnya." ucap Kalingga berpamitan. Jika meneruskan tetap berada di tempat itu, maka siapa yang menjamin ia bisa menahan diri untuk tidak mendekati sang mantan.



Langkah kaki yang beranjak dari tempat duduk, membuat Citra mendengus kesal. Lagi-lagi suaminya bersikap sesuka hati. Hubungan mereka semakin memburuk hingga tidak tahu harus bagaimana. Andai tidak ada Niko, sudah pasti sejak awal mengajukan gugatan cerai. Siapa yang tahan dengan suami seperti Kalingga?



Si pria yang hidupnya tenggelam dalam masa lampau. Semua itu hanya karena satu alasan yaitu sang mantan tunangan. Seketika ia ingat pertengkaran terakhir yang menjadi ajang perbandingan kepribadian. Jujur saja, ia sempat berpikir. Mungkinkah ada wanita yang bisa sabar dengan Kalingga?



Jika benar-benar ada, pasti wanita itu bodoh. Kalingga tidaklah tampan atau mapan seperti keluarga besarnya, tapi pria itu bisa dimanfaatkan tanpa harus bersusah payah. Apalagi berkat ibu mertua, semua masalah bisa cepat terselesaikan.



"Mama, mana Ayah?" Niko menoleh kesana kemari mencari keberadaan Kalingga yang sudah tidak nampak di area cafe.



"Ayah? Anak ibu yang manis, kita makan berdua saja ya. Tadi ayah harus balik kerja, jadi ...," Digendongnya sang putra, lalu didudukkan ke atas pangkuannya. "Maafin, Ayah, ya."



Anak lelaki itu benar-benar kecewa karena setiap pergi bersama kedua orang tuanya. Selalu saja ada yang pergi duluan. Entah terkadang ayahnya atau ibunya. Apa tidak ada yang sayang dengan dia? Raut wajah sendu menghapus senyum manis yang biasa menghangatkan suasana.



Sementara itu, di meja Asma. Rey baru sadar akan kelakuan istrinya yang tidak terduga. Bagaimana tidak? Semua makanan benar-benar abis oleh mereka berdua dan itu hanya karena satu suap pancingan yang mengubah kekesalan berakhir kekenyangan. Meski begitu, minuman yang dipesan masih belum semuanya tersentuh.



"Mas, kenapa menatapku begitu? Ada yang salah dengan wajahku?" tanya polos Asma membalas tatapan mata Rey. Suaminya hanya tersenyum menggoda, tapi justru membuatnya merinding disko.



Pasti ada maunya ketika Rey menatapnya dengan tatapan binar permohonan. Feeling selalu sadar akan setiap perubahan ekspresi sang suami tetapi bukan berarti suudzon ya. Ini sekedar emosi yang tidak harus dijabarkan karena cukup untuk dimengerti oleh hati dan pikiran.

__ADS_1



Rey meraih kedua tangan Asma, lalu menyatukan dengan kedua tangannya. "Butterfly, bisakah kita berlibur setelah acara resepsi. Libur sekeluarga deh, gimana?" Tatapan mata masih saja tak ingin menyudahi harapannya sebagai seorang suami terhadap sang istri.



Meski pernah ditolak dengan alasan pekerjaan. Ia tahu bahwa Asma juga selalu mendahulukan tugas seorang istri. Bukannya mengedepankan ego mengikuti keinginan hati sendiri. Beberapa kali hubungan mereka harus berhadapan dengan perdebatan yang pelik. Nyatanya sampai saat ini, wanita itu berusaha memahami situasi dengan kepala dingin.



"Sebenarnya, Mas ini mau ngajak liburan kemana?" Pertanyaannya terlalu biasa dan itulah respon yang apa adanya. "Gini deh, bukankah proyek masih dimulai dan keluarga juga masih ada disini. Seminggu kedepan kita liburan. Tempat dan akomodasi terserah mas yang atur."



Seperti hujan di siang hari yang terik. Persetujuan Asma menambah kebahagiaan hari ini, tidak masalah jika hanya mengatur perjalanan. Toh dengan satu panggilan semua yang dibutuhkan langsung siap tanpa harus antri di barisan pembayaran. Terkadang uang dan posisi memang sangat berharga di kondisi tertentu.



Obrolan liburan pasutri itu, ternyata juga didengar Bagas. Pria yang baru saja datang tapi sudah disajikan kemesraan kedua orang penting dalam hidupnya. Agak heran dengan nasibnya sendiri. Kenapa? Karena setiap kali berniat menghampiri Rey atau Asma. Ada saja yang membuatnya harus tahan diri.



Jujur saja jiwa jomblonya meronta. Pengen banget menyadarkan kedua insan itu supaya melakukan puasa kemesraan. Yah, setidaknya bisa menjaga perasaan dan keadaan. Jika dipikirkan ulang, Rey dan Asma sudah sah menjadi suami istri. Lah, kenapa malah sewot?




"Ka! Ngapain berdiri disitu?" Asma menatap Bagas yang diam bengong seperti baru putus cinta. Lalu melambaikan tangan, "Ayo gabung! Gak cape jadi patung selamat datang?"



Kelakuan Asma yang masih mode santai, membuat Rey terkekeh. Kelakuan kakak beradik ternyata sebelas duabelas. Kurang dan lebihnya saling melengkapi bahkan tidak bisa dibantah. Allah menciptakan setiap insan dengan perbedaan masing-masing, tapi ketika manusia mampu memahami dirinya sendiri. Sungguh dunia lebih kecil dari yang dikatakan.



Suka, duka. Tawa, air mata. Semua manusia pasti merasakan semua itu tanpa terkecuali. Hanya saja yang membedakan bentuk dari perjuangan semasa hidupnya. Dimana ujian setiap insan tidaklah sama. Jangan bicara tentang dunia karena tidak seorangpun bisa merengkuh dengan kedua tangannya.



Langkah kaki berjalan mendekat ke arah mereka dengan wajah masam. Bibir nyengir kuda, meskipun begitu Bagas terlihat tetap okay karena memang sudah tampang good looking. "Kalian dicariin semua orang, malah enak-enakan makan. Lupa ngajak aku lagi. Kebangetan banget ...,"



"Ka! Bisa gak, duduk dulu baru ngomel. Kita juga manusia yang butuh asupan energi." sergah Asma menatap Bagas dengan santai tanpa beban hati.


__ADS_1


Pria satu itu menurut, ia memilih kursi di antara pasutri yang bisa saja penuh kemesraan meski di depan umum. Sebenarnya bagus karena dengan begitu, para kaum hawa tidak melirik saudaranya. Bisa bahaya kalau ada yang jatuh cinta lagi. Satu masalah saja baru bisa hengkang dari kehidupan mereka.



"Nando, kamu cari aku atau istriku?" Rey menatap Bagas dengan mata tak berkedip, tatapan serius terpatri enggan untuk diabaikan.



Melihat sikap dingin suaminya kembali hadir. Sontak saja Asma mengambil mangkuk sop buah, "Tiba-tiba gerah banget, ya." Sindiran halus bersambut suapan buah dingin yang bercampur kuah manis menyegarkan.



Lirikan mata teralihkan menembus netra coklat sang istri yang justru sibuk menikmati sop buah. Sindiran wanita itu benar-benar membuat hatinya mencelos. Ia sadar diri terlalu posesif, padahal yang datang cuma Bagas dan bukan pria lainnya. Wajarkan cemburu? Meski jelas sang saudara dianggap kakak oleh istrinya.



Aroma cemburu yang menyebar ke udara menghentikan niat hati Bagas. Sebenarnya ada sesuatu harus dikatakan pada Asma, tapi melihat situasi yang ada. Bukan waktu dan tempat yang tepat. Sementara lebih baik disimpan sendiri. Hanya saja, sejak kapan seorang Reyhan bisa bucin?



Dulu aja sebelum menikah. Hmm mirip patung berjalan, disenyumin, digodain para kaum hawa. Boro-boro say hello, melirik saja malas. Reyhan seperti manusia tak berhati ketika menyangkut para wanita. Padahal yang antri banyak. Katanya pesona pria arrogant lebih nendang.



"De, apa kalian berantem?" Bagas menoleh ke kanan, lalu ke kiri. "Kenapa cuma ditatap. Gak mau kiss gitu?"



"Hmm, jangan mulai deh, Ka. Tuh, Mas Rey lagi mode sensi," cetus Asma membalas pertanyaan Bagas berharap suasana tetap tenang tanpa harus berbicara hal serius.



Kebersamaan mereka bertiga masih berlanjut tanpa ketegangan yang berlebihan, sedangkan di sisi lain. Seulas senyum menyudahi sebuah hubungan yang memang tidak bisa diperjuangkan. Meskipun baru awal, tetap saja hati tidak bisa berbohong. Mungkin takdir memiliki jalan lain setelah persimpangan berakhir.



"Satu tahun dimulai sejak hari ini, Aku akan tetap menunggu. Jika hati dan pikiranmu berubah, datanglah padaku. Di hari itu juga, kita akan menghalalkan hubungan. Assalamu'alaikum," pamitnya bersama sebuah janji terakhir yang tulus dari hati.



Suara derap langkah kaki yang menjauh tak mengubah keputusannya. Apalagi hati sudah menetapkan pilihan yang ia anggap benar dan tepat untuk masa depannya. Ia tahu bahwa saat ini tengah mengedepankan egonya sendiri. Sekali saja, biarkan hidup sebagaimana kata hati meminta.



Sentuhan tangan di pundak kanan bersambut rasa tenang atas dukungan yang dirinya dapatkan. Rasa syukur tidak dipungkiri karena kini jalan masa depan terbuka lebar. Hanya saja, hati masih berusaha untuk memahami jalan yang menjadi tujuannya. Sudah benar dan tepatkah?


__ADS_1


"Jadi, siapa yang menjadi alasanmu memiliki keyakinan untuk berdiri tanpa sandaran?" tanya si pemilik tangan yang masih stay di pundak sang pembuat keputusan.


__ADS_2