
Rasanya sedikit lebih baik setelah mencurahkan isi hati dan pikiran yang mengganggunya selama beberapa waktu. Kini wanita itu hanya berharap keluarga majikannya bisa diselamatkan dari cacing panas yang suka mengintip, sedangkan Fay merasa memiliki tanggung jawab baru.
Keduanya kembali ke tempat masing-masing. Dimana Fay memilih untuk memasuki kamarnya merenung apa yang akan dirinya lakukan, sementara itu Nau sudah berada di jalanan. Akan tetapi, pemuda itu terpaksa memesan taksi online. Yah berhubung mobil masih berada di bengkel.
Perjalanan cukup memakan waktu, bahkan saking tidak sabarnya Nau berulang kali bertanya seberapa jauh lagi jarak yang harus ditempuh. Pak supir hanya bisa menjawab dengan telaten. Meski merasa cukup risih, tetapi maklum karena pelanggan pertamanya itu baru tinggal di Jakarta.
Satu jam kemudian. Mobil taksi memasuki kawasan rumah pribadi yang sesuai dengan alamat. Wilayah dengan sekeliling pepohonan rindang yang bersambut sebuah bangunan mewah bercat putih. Gerbang besi yang menjulang tinggi dengan simbol singa. Benar-benar wow.
Satu pertanyaan yang mengetuk isi kepala Nau. Apakah itu benar rumah Ka Asma? Rumah mewah berlantai dua yang tampak begitu luas. Takut salah alamat, membuat pemuda itu mencoba menghubungi kakak sepupunya. Suara dering ponsel terdengar beberapa saat, lalu berganti laungan salam dari seberang.
"Waalaikumsalam, Ifii. Gue udah sampai di depan, tapi rumahnya mewah gitu. Apa gak salah alamat nih? Loe, gak prank gue, bukan?" ujar Nau dengan rasa penasarannya.
Bukannya bermaksud curiga, tapi namanya orang waspada, wajar bukan? Apalagi baru bertemu pertama kali, trus udah di ajak ke rumah aja. Tidak mau suudzon, tetapi begitulah perasaannya. Namun jawaban dari seberang hanya meminta dia menunggu di luar saja. Mau, tak mau harus menunggu.
Setelah membayar supir taksi. Nau turun menghampiri gerbang yang tingginya sekitar tiga meter lebih. Tatapan mata mengedarkan pandangan, tiba-tiba saja terdengar suara derit besi berdecit. Lalu Pak satpam yang berjaga di dalam posko keluar berjalan menghampiri tamu nyonya muda.
"Selamat sore, Aden. Temannya, Nyonya ya?" sambut Pak Satpam dengan pertanyaan untuk memastikan, membuat Nau hanya menganggukkan kepala pelan. "Mari masuk!"
__ADS_1
Sambutan yang hangat, meski masih setengah was-was dengan keadaannya. Semua rasa ragu di dalam hati berubah secara perlahan menjadi kepercayaan. Apalagi begitu langkah kaki memasuki pintu utama. Dimana seorang pria sudah menunggu kedatangannya bersama Fay yang duduk di sofa ruang tamu.
Jadi benar? Rumah itu benar-benar milik Kakak online nya. Sungguh jauh dari bayangan, bahkan terlampau di luar ekspektasi. Hanya saja, dari semua kejutan yang ada. Tatapan mata pria yang ada di hadapan Fay, tampaknya tipe pria serius tanpa menerima penolakan. Pria itu menarik perhatiannya.
"Nau, susahkah cari alamatnya?" tanya Fay menyambut kedatangan adik sepupunya tanpa mempedulikan tatapan Bagas yang sepertinya masih meragukan hubungan ia dan pemuda satu itu.
Naufal hanya tersenyum masam karena ia tahu. Kakak sepupunya tengah merencanakan sesuatu. Entah itu apa, tapi tatapan mata yang fokus dengan seulas senyum manis tersungging menghiasi wajah. Sudah jelas ada yang tidak beres. Belum juga memahami situasi yang ada. Suara langkah kaki menuruni anak tangga mengalihkan perhatian mereka.
Rey dan Asma turun bersama-sama. Pasutri itu nampak begitu akur, bahkan menunjukkan kebahagiaan yang nyata. Nau yang baru melihat wajah suami dari kakak onlinenya, pemuda itu sedikit terpaku. Yah, wajah pria dewasa dengan karisma yang patut di akui sebagai selama lelaki. Jodoh memang selalu unik.
"Selamat datang, De. Gimana perjalanannya, lancar?" Asma mengulurkan tangan, ia ingin menyambut Nau, tetapi Rey menarik tangannya, lalu menggantikan niat hatinya. ''Mas, apa kamu suka sama Dede?"
"Lancar, Ka. Rumah yang indah, bisa jadi referensi karya seni kelas desainku." puji Nau seraya mengedarkan pandangan, bukan sekedar pujian palsu karena rumah itu memang memiliki desain interior yang patut dipelajari.
Rey melepaskan tangan, lalu mempersilahkan semua untuk duduk. Bagas juga memanggil Bi Nunu untuk membuatkan mereka minuman segar. Mereka duduk di ruang tamu dengan posisi terpisah. Bagas yang duduk di sofa single, Fay duduk di sisi timur bersebelahan dengan Nau yang duduk di kursi rotan, sedangkan pasutri duduk menghadap Fay.
Semua nampak tegang, tetapi tetap berbincang basa-basi sebagaimana orang melakukan pertemuan pertama. Hanya saja, Fay dan Asma serempak memilih jadi team penyimak. Apalagi para lelaki sudah mulai masuk ke topik yang membosankan. Bisnis? Pembahasan marketing yang lebih baik digunakan untuk tidur.
__ADS_1
"Permisi, ini minumannya." Bu Nunu yang membawa nampan berjalan begitu hati-hati, membuat Asma tanpa sungkan beranjak dan berniat membantu. "Eh, Non mau apa? Duduk saja lagi. Ini pekerjaan yang mudah."
"Makasih, Bi." Asma tak ingin merepotkan, tetapi berujung penolakan. Lalu, tatapan matanya beralih ke arah Suketi yang berjalan dengan lenggak-lenggok, terlebih lagi seragam sengaja di buat ketat. "Bi, tolong minta Bi Jia berikan seragam baru untuk Suketi!"
Satu nama yang disebut gadis itu, seketika mengalihkan perhatian Fay. Ia melirik menelisik seperti apa yang namanya Suketi. Sayangnya, sekali tatapan mata menangkap bayangan si pelayan. Rasanya ingin langsung mengungkapkan niat buruk pelayan satu itu. Pantas saja kegatelan, ternyata dari penampilan saja bisa mengundang nafsu pria.
"Non, bajuku masih bagus dan baru. Masa mau diganti?" protes Suketi dan tetap melakukan pekerjaannya menyediakan cemilan ke atas meja, sesekali melirik ke arah Rey yang fokus dengan obrolan para pria.
Pasti hatinya melonjak bahagia ingin terbang bersama mimpi semunya. Suketi jatuh cinta, tapi lupa dengan orang yang ia cintai hanya berlandaskan nafsu semata. Fay menyadari ketika pelayan itu membusungkan dada hanya untuk menarik perhatian para lelaki di sekitarnya. Menjijikkan.
Asma menahan diri agar tetap bersikap baik, di ambilnya nampan yang sudah kosong dari Bi Nunu Lalu ia berikan pada Suketi, "Di rumah ini ada banyak pria. Aku memang belum berhijab, tapi bukan berarti kamu bisa sesuka hati berpenampilan seperti ini! Setidaknya, hargai diri sendiri sebagai wanita."
"Butterfly, tenang." Rey beranjak meraih tangan istrinya, bukan karena tidak sadar dengan tindakan Suketi, tetapi ia tak ingin sang istri memiliki ketegangan baru lagi. "Kita bisa memberikan seragam baru. Jadi biarkan pelayan pergi. Okay?"
Memang benar yang dikatakan oleh Rey. Seragam baru bisa diberikan, tapi apa jaminan untuk tidak mengubah size yang bisa menonjolkan bagian tertentu wanita. Meskipun baru beberapa hari tinggal dirumah suaminya. Asma memperhatikan semua yang ada disekitarnya termasuk Suketi.
Pelayan dengan usia berdarah muda. Tatapan mata yang terkadang liar jelas terpancar, hanya saja ia menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan keresahan pikirannya pada Rey. Setidaknya harus ada antisipasi karena niat buruk seseorang sudah cukup mempengaruhi aura sekitar.
__ADS_1
"Bi Nunu, bawa Suketi pergi ke belakang dan berikan seragam barunya!" titah Rey seraya mengusap kepala Asma agar gadisnya tidak lagi tenggelam dalam rasa kesal.