
Perjalanan kembali berlanjut. Sang suster terpaksa diam duduk di kursi sebelah pengemudi. Dimana lirikan mata terus saja berkelana. Jujur saja risih dengan tatapan yang ambigu seakan dirinya adalah puding coklat siap santap. Ingin mengeluh, tapi sadar diri.
Andai saja tidak membuntuti, mungkin saat ini masih sibuk membersihkan ruangan pasien di beberapa sudut rumah sakit. Sekarang bagaimana? Hanya bisa menerima perlakuan pria itu tanpa keluhan. Padahal ingin sekali berkata kasar seperti kebiasaannya.
"Ekhem! Siapa namamu?" Pria itu mencoba untuk mengalihkan perhatian, semakin lama memperhatikan bentuk tubuh si suster justru junior terus berkedut meminta asupan.
"Bintang." sahut sang suster belia menundukkan pandangan matanya.
Rasa penasaran semakin merasuk, tetapi ekspresi gadis itu jelas ketakutan. Apakah dirinya monster? Entahlah, apapun itu baginya tidak penting karena semua yang terjadi pasti demi kebaikan. Apalagi mengingat keadaannya, ia membutuhkan seseorang yang bisa menjadi alat pelampiasan hasrat.
Sebagai penikmat ranjang yang ulung, penglihatannya tidak mungkin salah. Bintang memiliki ketertarikan pada dirinya, tetapi gadis itu hanya penasaran dan bukan sebagai pelaku. Tubuh yang gemetar dengan bibir terkunci rapat. Sudah cukup menyatakan keraguan akan tindakan yang sudah dia ambil.
''Bagus namanya, seorang suster lagi. Magang ya?" tanya pria itu lagi dengan tangan masih sibuk menyetir, dimana mobil mulai memasuki halaman Hotel Graha.
Anggukan kepala sebagai jawaban menerbitkan seulas senyum tipis nan nakal. Menyenangkan bertemu gadis polos yang masih awam dengan dunia luas, tetapi terlihat penurut. Kapan lagi bisa bermain dengan barang langka? Begitulah isi pikiran Andreas.
Pria yang tanpa rasa sungkan membawa Bintang memasuki hotel tempatnya menginap. Tidak seorangpun menanyakan siapa gadis berseragam suster itu. Hotel Graha memang salah satu hotel yang menerapkan sistem no kepo. Semua pelanggan bebas selama membayar layanan kamar.
Terkesan bodo amat dan hanya memikirkan keuntungan saja. Maka dari itu, Andreas memilih hotel tersebut agar bisa mendapatkan hak sebagai seorang kekasih. Akan tetapi justru menemukan kelinci percobaan yang sangat segar.
__ADS_1
Kamar nomor lima kelas dua. Itulah kamar yang menjadi miliknya dan sengaja di pesan selama seminggu. Seperti rencana awal hanya untuk melihat pekerjaan yang akan menjadi tanggung jawabnya, tetapi ia juga berharap mendapatkan kepuasan. Tidak peduli dengan julukan bad boy yang selalu menjadi mahkota di atas kepala.
"Tuan, kamarnya besar loh. Apa gak takut sendirian?" celetuk Bintang dengan pertanyaan konyolnya yang langsung mengalihkan perhatian Andreas.
Kekaguman yang ditunjukkan Bintang melalui sorot matanya, jelas memberi alasan untuk mendekat. Tanpa basa-basi menarik lengan gadis itu hingga membentur dada bidang yang beraroma parfum cool menggoda. Gugup dengan rasa penasaran yang menyatu semakin menambah adrenalin untuk menguasai.
"Kamu bisa tinggal disini, bagaimana?" Andreas menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Bintang, lalu merengkuh dagu gadis di depannya. Tatapan mata saling terpaut menyelami emosi masing-masing. "Apa yang kamu pikirkan?"
Pertanyaan singkat, hanya saja terkesan begitu meremehkan. Entah apa yang merasuki hati dan jiwa mudanya. Tanpa kata tangannya menarik kaos Andreas hingga kedua bibir saling bersentuhan. Sesaat diam seraya memejamkan mata. Rasanya lembut seperti puding yang biasa menjadi makanan penutup.
Sentuhan pertama berhasil menyentak nyali Andreas. Pria itu tak ingin melepaskan kesempatan yang bagus, "Cuma segini?" Ditatapnya Bintang seraya menekan tubuh gadis itu semakin erat tanpa jarak.
"Tuan ...," Berusaha untuk menjelaskan isi hati dan pikiran, tetapi sentuhan nakal pria yang menguasai tubuhnya terus berkelana mengalirkan sengatan aneh. Rasa panas di sekitar tengkuk leher dengan darah yang berdesir hebat. Tanpa penolakan memasrahkan diri melepaskan ketegangan.
Di tengah pergulatan yang baru saja dimulai, tiba-tiba terdengar suara bel pintu. Andreas menghentikan permainannya, lalu melepaskan tubuh Bintang yang sudah bebas dari hambatan. Kemudian berjalan mendekati pintu untuk memeriksa siapa yang datang.
Betapa terkejutnya dia ketika melihat kekasihnya sudah berdiri di depan pintu, ''Ck. Kenapa tidak nanti malam sih? Nanggung, gimana nih ya." Bingung dengan keadaan yang tidak menguntungkan, tapi sebuah ingatan melintas membuat otaknya berjalan normal.
Diambilnya seluruh pakaian yang berserakan di lantai, lalu menarik Bintang masuk ke dalam kamar mandi. Setelah memastikan tidak ada barang yang mencurigakan, barulah menyiapkan diri seperti baru selesai mandi. Semua rencana dilakukan dalam waktu singkat.
__ADS_1
"Baby, sorry lama. Biasa habis mandi," sambut Andreas seraya menarik tangan kekasih hatinya.
Pintu yang masih terbuka bukan alasan untuk melepaskan wanitanya dari ritual penyambutan. Tanpa permisi, keduanya menyatukan pagutan manja yang saling menuntut hingga suara decakan terdengar cukup keras. Seperti sudah terbiasa dengan keserakahan.
"Auww, jangan buru-buru Dre. Tutup dulu pintunya!" Wanita itu melemparkan tas jinjingnya ke atas ranjang, dan membiarkan Andreas melakukan perintahnya sebelum memulai pertarungan.
Seperti biasa, permainan tidak akan memuaskan tanpa ada tantangan baru. Entah kenapa hari ini merasa ingin bermain dengan cara berbeda. Bagaimana caranya mengutarakan pada Andreas tentang isi hati yang salah? Pasti pria itu menolak.
Satu tarikan tangan mengembalikan kesadaran, "Apa permintaanmu kali ini?"
"Dre, bisakah cari wanita lain untuk menjadi partner ranjang kita malam ini?" Ia menatap lembut pria yang bermain mengusap punggungnya tanpa permisi. "Jangan marah, hanya saja aku ingin tahu rasa berbagi pria seranjang tanpa sekat. Please?"
Seperti gayung bersambut, Andreas mengangguk mengiyakan. Akan tetapi memberikan syarat dimana sang kekasih harus menutup mata dengan kain hitam. Kain itu bertujuan untuk menghindari kontak mata pada wanita ketiga di antara mereka. Tentu saja langsung di iyakan tanpa keraguan.
Situasi yang rumit untuk Bintang, tetapi tidak untuk Andreas. Pria itu memberikan kode agar si gadis belia menurut, sedangkan kekasihnya seperti biasa mengikuti instruksi yang terus menerus menjadi perintah kenikmatan. Pagi yang indah bersambut derit ranjang bergoyang.
Awalnya hanya menonton semua sesi sebagai pemanasan hingga semakin lama mulai berpengaruh. Dimana rasa ingin mendapatkan hal sama mulai timbul menguasai isi kepalanya, "Tuan, aku mau ...,"
Andreas mengulurkan tangan yang langsung disambut tanpa keraguan, "Kemari! Lakukan ini padanya, dan aku akan melakukan hal sama padamu."
__ADS_1
"Bagaimana kalau mba nya bangun?" tanya Bintang takut dengan wanita yang kini terlelap di atas ranjang, sayangnya bukan jawaban yang di dapat. Andreas mengubah posisi merengkuh tubuhnya hingga jatuh menyingkirkan wanita yang ternyata tidak sadarkan diri.
Tangannya menyusup mencari kelemahan, "Aku milikmu, sekarang tenanglah. Ayo kita mulai permainan yang sebenarnya. Tunjukan bakatmu, jangan sampai kalah darinya."