Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 125: Jodoh?


__ADS_3

Suara itu terdengar tidak asing. Apakah ia tak salah dengar? Bukan merasa bahagia apalagi terharu, justru perasaan bercampur aduk menjadi satu. Di antara percaya dan keraguan, sadar dan ketidaksadaran. Bagaimana bisa di tengah acara yang penuh kehangatan. Ia merasa terdampar di tengah lautan.



"Fay!" Asma menggenggam tangan saudaranya untuk menyadarkan wanita itu atas lamaran yang tiba-tiba diajukan. "Masa depan tidak ada yang tahu, tapi kamu memiliki hak untuk memilih pasanganmu sendiri."



"Apakah kehidupanmu memiliki tujuan? Putuskan siapa yang bisa menjadi teman seumur hidupmu. Fatur jodoh dari keluarga atau Ka Bagas yang terbiasa bertengkar denganmu. Aku tahu ini diluar ekspektasi, but every opportunity does not come twice." lanjut Asma kemudian mengalihkan perhatiannya pada Bagas yang masih berdiri di belakang tempat mereka duduk.



Namun dibelakang kakaknya juga ada Fatur. Pria itu tampak terkejut dengan pengakuan hati dari pria lain untuk calon jodohnya. Meski dengan kejadian tersebut, ia sadar bahwa Fay memang belum menerima dirinya sebagai pasangan. Hanya saja apa kekurangan dia sehingga tidak bisa menjadi calon imam wanita itu?



Apakah karena sikap posesif dan suka bertanya ini dan itu? Atau karena ia terlalu buru-buru ingin hubungan segera diresmikan? Jujur saja, tindakan Bagas seakan menantangnya untuk sadar diri dan kembali turun ke bumi. Seperti baru terbang saja ya? Yah, ia merasa bahwa beruntung bisa dijodohkan dengan Fay, tetapi melupakan perasaan milik wanita itu.



Jika ada yang bertanya bagaimana perasaannya. Pasti dijawab sudah mulai membuka hati, tapi bagaimana dengan Fay? Namanya juga manusia yang tempat khilaf dan salah, iya gak? Kembali lagi pada keadaan yang menegangkan antara Fay dan pengakuan Bagas.



"Ka, katakan padanya untuk memberikan aku waktu." ucap lirih Fay hampir tak mampu berkata-kata lagi karena emosi yang semakin menekan hati.



Asma beranjak dari tempatnya, ia berjalan menghampiri Bagas yang menatap punggung Fay begitu intens. Entah hati harus merasa bahagia atau sedih karena situasi di luar harapannya. Sejak awal berpikir dengan satu tindakan sang kakak, maka semua kembali normal. Ternyata dugaan itu salah besar.


__ADS_1


"Ka, ikutlah denganku! Kita harus bicara." ajaknya dengan langkah kaki hanya melewati Bagas, membuat pria satu itu menghela napas panjang.



Kepergian Asma bersama Bagas menjadi kesempatan Fatur mendekati Fay. Pria itu hanya ingin tahu dimana posisinya saat ini. Masihkah jadi calon atau hanya sebatas teman. Bagaimanapun ia juga memerlukan kepastian yang harus dipertanggungjawabkan sebagai seorang pria. Apalagi di tengah mereka ada orang tua kedua belah pihak.



Jenny paham situasi Fay yang terjebak, maka dari itu ia memilih diam dan tetap menemani saudara dari istri bosnya. Satu yang disadarinya bahwa kerumitan yang terjadi juga andil dari seluruh anggota keluarga. Perjodohan selalu berakhir dua pilihan yang seringkali berubah menjadi bumerang.



Fatur menarik kursi yang berjarak satu kursi dari Fay, lalu duduk dengan tatapan tertahan jatuh menatap meja. "Fay! Perkenalan kita baru dimulai, tapi jujur aku merasa nyaman denganmu. Dari pribadiku mengenai hubungan kita tidak ada problem apapun. Satu pertanyaan untukmu dariku."



"Apakah kamu benar-benar siap menjadi istri seorang penyiar radio? Aku tahu dirimu bukan wanita yang membandingkan status, hanya saja hati memerlukan tempat untuk pulang. Meski aku berharap menjadi rumah untukmu, tetap saja ego ini hanya jadi harapan semu." jelas Fatur dengan segala pemikiran yang mengusik kepala dan hatinya.




Fay mendongak menatap Fatur sekilas, kemudian mengalihkan tatapan mata ke belakang di mana para tamu undangan terlihat bahagia menikmati pesta resepsi. Siapa sih yang menolak untuk menikah di usia yang tepat? Sebagai wanita dengan hati yang patah dan pemikiran simple, nyatanya ia memerlukan kecocokan prinsip.



Seperti bertemu jodoh yang klik tanpa mengaitkan waktu, status, jarak dan emosi. Yah bisa dikatakan jodoh pasti bertemu. Terlalu sederhana hingga terkadang berharap menemukan sosok seperti Ka Asma dalam versi seorang pria. Pemahaman yang tidak diragukan lagi.



"Aku pikir semua akan baik dengan menerima perjodohan, tapi ternyata hati tidak bisa dipaksakan." Fay mencoba memilah kata di dalam pikiran agar lisan tetap pada batasannya, "Kamu pria yang baik bahkan memiliki ruang lingkup kehidupan yang dinamis. That's very great, hanya saja Aku tidak suka buru-buru."

__ADS_1



Fatur hanya bisa menahan napas seraya sesekali melirik Fay. Ternyata semua ketidaknyamanan berasal dari sikapnya sendiri. Lalu bagaimana bisa mempermasalahkan hal tersebut? Ketika akhirnya tahu penilaian Fay untuk dia yang notabene memang hiperaktif. Kesibukan memang kerap kali menjadi kendala komunikasi.



"Beri aku waktu untuk memikirkan segala sesuatunya karena masa depan tidak bisa diulang. Aku permisi," pamit Fay beranjak pergi meninggalkan Fatur dan Jenny.



Sementara di ruangan lain, Bagas baru selesai mendapatkan ceramah yang cukup menyudutkan hati. Apalagi bukan dari orang lain karena kali ini yang berhadapan secara langsung adalah Reyhan sendiri. Rupanya pengakuan lamaran beberapa waktu lalu juga sampai ke telinga sang saudara.



Sentuhan tangan yang melingkar ke perut menghantarkan ketenangan, ia tahu terlalu emosi dan meluapkan segala sesuatunya dalam sekali waktu. Akan tetapi apapun itu hanya dilakukan demi kebaikan Bagas. "Butterfly! Apa kamu mendukung keputusan Bagas?" Dilepaskannya tangan sang istri, lalu membimbing wanita itu agar menghadap ke arahnya.



Asma berniat untuk menjelaskan kesalahpahaman yang ada pada Reyhan. Sayangnya Bagas menggelengkan kepala pelan agar ia tetap diam dan tidak harus mengubah situasi yang ada menjadi berubah arah. Keputusan dengan datang melamar Fay, memang murni dari pemikirannya sendiri.



Walaupun semua berawal dari permintaan sang adik. Tetap saja, Asma hanya mengutarakan isi hati dan berharap padanya untuk menyelamatkan masa depan Fay. Tidak mengatakan untuk melamar, tetapi hanya meminta untuk bekerjasama menjadi pacar pura-pura agar perjodohan dengan Fatur dibatalkan.



Maka dari itu, Asma tidak bersangkutan dengan lamaran yang ditujukan pada Fay. Kesadaran masih ia genggam dan hati menerima keputusan tersebut dengan ikhlas. Jadi jelas situasi yang ada mutlak karena keinginannya yang ingin membawa Fay untuk lebih dekat dengan dirinya.



"Jodoh hanya Allah yang tahu, Hubby. Jika Fay adalah tulang rusuk Ka Bagas. Aku akan mendukung tanpa harus mempertanyakan. Seperti jodoh pilihannya untukmu, maka kita menikah karena Allah." jawab Asma seraya mengusap lengan Reyhan dengan lembut penuh pengertian.

__ADS_1


Skakmat. Jodoh tidak bisa ditukar karena itu sudah ditetapkan. Seakan mencoba untuk memahami yang sudah pasti, tapi sesaat lupa bahwa kehidupan pun hanya titipan dari Yang Maha Esa.


__ADS_2