Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 29: Babak Baru Kehidupan


__ADS_3

Tatapan tajam menghentikan rasa penasaran sang pelayan, "Suketi. Apa kamu dibayar untuk kepo urusan majikan? Tidak kan. Kembali ke belakang!"


Terdiam dengan kepala menunduk, ia lupa jika hanya seorang pelayan. Bagaimana lagi, sejak datang menjadi seorang pelayan dengan majikan seorang pria tampan. Hatinya terus menjerit ingin tahu kehidupan majikannya. Kurang kerjaan, tetapi rintihan hati tidak bisa dikendalikan.



Namun, di rumah mewah itu juga ada bodyguard sekaligus saudara sang majikan. Tuan Nando yang galak, bahkan sekali bicara bisa pedas melebihi ceramah ibu yang ada di kampung. Pria satu itu yang selalu menjadi penghalang diantara dia dan Tuan Aditya.



Langkah kaki Suketi yang menjauh, membuat Bagas kembali melanjutkan perjalanannya. Rumah mewah dengan ruang tamu terbuka, di sisi kanan berbatasan dengan ruang makan. Lalu diantara keduanya menjurus tangga yang berkelok sebagai jalan menuju lantai atas.



Rumah yang memiliki lima pelayan wanita dengan sepuluh penjaga keamanan. Bukan hanya mewah karena. rumah itu dibangun sebagai tempat ternyaman untuk menghabiskan sisa waktu setelah menjalani rutinitas seharian yang melelahkan.



"Apa aku harus mengetuk, atau membiarkan barang Asma di kamarku dulu, ya? Kenapa jadi serba salah gini." Rey menggaruk kepalanya yang tidak gata begitu sampai di lantai atas.



Biasanya main masuk, tapi berhubung akal sehatnya bekerja dengan baik. Kesadaran tetap bersamanya. Mana mungkin memperlakukan pria beristri sama seperti pria yang single. Apalagi mengingat Asma baru saja sampai dirumah. Akhir nya, Bagas menyudahi perdebatan batin. Kemudian membawa semua barang ke kamar pribadi terlebih dahulu.



Pria itu tidak tahu, jika di dalam kamar sahabatnya hanya ada suara decak kebersamaan. Rey menikmati meraup manisnya bibir sang istri. Tubuh yang lelah mendapatkan obat terbaik. Pagutan manja menghangatkan ranjang yang kesepian.



"Mas, sudah. Aku kehabisan nafas." Bisik Asma mendorong pelan dada bidang suaminya, tetapi bukannya mundur. Rey justru mengeratkan pelukan. "Sebentar lagi magrib, Mas."



Peringatan yang manis. Mau, tak mau harus melepaskan buruannya. Namun, tatapan mata terus. Terpatri pada netra coklat yang sipit. Tangannya sibuk menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian waktu wanitanya.



"Sejak kapan kamu menjadi penulis?" Rey tak melepaskan Asma untuk beranjak dari kekuasaannya. "Asma, apa sulit menjawab pertanyaanku. Ini pertanyaan yang biasa."



Menghela nafas panjang, lalu memejamkan matanya. Mengingat kapan jemarinya memulai menorehkan bait kata dalam angan yang menjadi kenyataan. "Hampir dua tahun. Sekarang bisa lepaskan aku? Biarkan aku mandi."

__ADS_1



"Baiklah, kali ini, ku lepaskan, tapi ....,"



Terserah apa yang Rey pikirkan. Asma mendorong tubuh suaminya hingga berbalik posisi. Dikecupnya bibir menggoda sang suami, lalu beranjak dari tempat tidur. Tak ingin memberikan kesempatan lain. Sedikit trik untuk melepaskan diri dengan memberikan hadiah kecil.



Tingkah nakal wanitanya mulai kelihatan. Tidak tahu belajar dari mana, tapi tangannya tergerak mengusap bibir menikmati sisa sentuhan. Manis. Ketika dia yang memulai, hanya ada kepasrahan. Akan tetapi, ketika Asma yang memulai. Rasanya sangat berbeda.



Sembari menunggu Asma melakukan ritual mandi. Rey mempersiapkan pakaian untuk istrinya yang memang sudah dipesankan secara khusus. Tentu sekretaris Bagas yang mengurus semua keperluan wanita. Ia tak ingin ada kekurangan dari fasilitas yang memang menjadi hak seorang nyonya Reyhan Aditya.



Gaun berlengan tiga perempat dengan belahan dada rendah, sedangkan panjangnya dibawah lutut dengan bahan jatuh. Dipadukan dengan blazer brukat sebagai outfit luar agar tidak menjadi tontonan jika digunakan untuk keluar rumah. Lagi pula, sebagai suami harus menjaga aurat istrinya.



Semua sudah siap dan ekspektasi dalam pikiran Rey adalah gaun itu akan anggun ketika dikenakan Asma. Kurang lebih seperti itu. Baru saja menyelesaikan tugasnya, sayup-sayup terdengar laungan adzan. Benar yang dikatakan sang istri. Sudah waktunya untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim.




Setelah berpikir memutuskan antara iya dan tidak. Diraihnya ponsel sang istri, sebuah nama tertera melakukan panggilan. Bukan melalui whatsapp, tapi itu panggilan dari messenger. Atas nama my bunny. Foto yang tertera, masih teringat jelas siapa si penelepon itu.



Baru saja ingin mengembalikan ponsel ke tempat semula. Suara pintu kamar mandi yang terbuka mengalihkan perhatiannya, tetapi tanpa sadar jemarinya menggeser layar menjawab panggilan tersebut. Lalu meletakkan kembali ponsel ke atas nakas.



"Mas, itu kamu yang siapkan?" Asma menatap gaun yang ada di atas ranjang, bukan hanya pakaian luar, pakaian dalam pun sudah disiapkan. Kenapa jadi canggung sekali, ketika seluruh privasi menjadi begitu terbuka.



Wajah malu dengan rona merah di pipi, membuat Rey tersenyum tipis menganggukkan kepala. "Pakailah, jika tidak nyaman. Kamu bisa pilih di lemari. Semua milikmu, sekarang aku harus mandi. Tunggu sebentar, kita akan sholat berjamaah."


__ADS_1


Percakapan pasutri yang terdengar cukup jelas. Gadis yang tengah menunggu di seberang lautan berpikir Asma tengah sibuk menonton televisi. Padahal semua yang terjadi bukanlah drama dari sebuah film. Keheningan yang terjadi, membuat penasaran. Padahal panggilan sudah lebih dari lima menit.



"Honey! Are you there?" Seru Ovita Ayunda dengan suara melengking khasnya yang sontak mengejutkan Asma.



Baru saja mengenakan gaun yang disiapkan Rey. Telinganya sudah berdengung dengan rasa yang tidak bisa dijabarkan. Buru-buru menyambar ponselnya, lalu melihat layar benda pipih itu. Ternyata panggilan video sedang berlangsung.



"Bee, sejak kapan kamu menelponku?" Asma bingung sendiri, bagaimana gadis satu itu bisa terhubung dengannya. Padahal seingatnya, ponsel dibiarkan on data tanpa dimainkan.



Wajah cemberut dengan bibir maju, tatapan mata menyelidik, membuat Asma mengubah ekspresi wajahnya kembali tenang tanpa ketegangan. Namun, bukan berarti akan selamat dari sesi interogasi sang sahabat. Lihat saja, cara Ovita Ayunda menatapnya tak berkedip.



"Asma, apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" Keseriusan yang memenuhi layar ponsel dengan tatapan curiga menghantarkan rasa bersalah dalam diri Asma.



Satu kebenaran memang masih disembunyikan. Sekarang, haruskah ia berkata jujur? Mengatakan tentang pernikahan kilatnya? Jika jujur, bagaimana reaksi dari gadis itu. Serba salah. Apalagi ketika mengingat permintaan kecil dari sahabatnya yang ingin melihat proses pernikahannya dengan cara virtual.



Satu permintaan kecil yang tidak bisa dikabulkan. Tanpa sadar, pertanyaan itu membawanya tenggelam dalam lamunan hingga terdengar suara panggilan yang semakin menghantam rasa bersalah memenuhi hati. Menyesakkan dada.



"Asma, bisa ambilkan handuk? Aku lupa membawanya." Pinta Rey dengan kepala yang menyembul dari balik pintu kamar mandi.



Suara seorang pria yang dipikir hanya suara berasal dari TV. Ternyata suara asli dari seseorang. Terkejut dengan kenyataan yang ntah apa? Apapun yang menjadi kebingungannya, hanya Asma yang bisa menjelaskan agar keraguan menghilang dari dalam benaknya.



"Bee, tunggu satu jam lagi. Aku akan jelasin semuanya, assalamu'alaikum." Pamit Asma mematikan panggilan sepihak bahkan tanpa menunggu balasan dalam dari sahabatnya.


Aku akan ceritakan semuanya, tapi nanti Bee. Saat ini, aku sendiri masih mencoba untuk belajar mempercayai kehidupan yang berubah drastis.~ucap batin Asma meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas, lalu beralih membuka lemari, kemudian mengambil handuk.

__ADS_1


__ADS_2