
Makan malam berakhir dengan drama kecil, tetapi setelah pizza datang. Semua orang sepakat untuk duduk bersama di ruang keluarga. Dimana ruangan itu memiliki konsep ala cafe kekinian. Karpet bulu nan tebal lembut tergelar menutupi area lantai empat meter kali lima meter.
Sebuah meja kaca bulat yang ada di tengah sebagai tempat meletakkan minuman atau cemilan, tapi kali ini hanya ada pizza, soda, dan ice cream. Benar-benar waktu terbaik untuk menikmati kebersamaan keluarga. Baik tuan rumah atau tamu, keduanya saling duduk berhadapan mengelilingi meja.
"Princess, pegang pizzanya, Nak." Mr. Axel mengulurkan sepotong pizza yang ditaburi garis mayonaise, tetapi putrinya justru membimbing tangannya hingga terulur ke Asma. "Nak?"
"Mama dulu, baru Jovanka, Dad." ucap Jovanka sedikit lirih, tetapi masih memperhatikan Asma yang duduk di sebelah Rey.
Percakapan antara ayah dan anak itu terlalu pribadi. Sementara yang lain sibuk membicarakan hal random. Sayangnya semua yang terjadi tertangkap basah oleh Fay. Dimana gadis itu sesekali menghela nafas. Dia berpikir kenapa kehidupan selalu tentang kesalahpahaman. Satu masalah belum usai, dan kini akan muncul masalah baru.
Awalnya masih biasa saja ketika Jovanka memanggil kakaknya dengan panggilan mama, tapi sekarang? Jika tidak diluruskan bisa bermasalah di kemudian hari. Lihat saja tatapan penuh harap di mata Jovanka dan ketidaktahuan Mr. Axel tentang hubungan Asma yang menjadi istri dari partner bisnisnya.
"Ka, bisa bicara sebentar?" Fay mengalihkan tatapan mata pada kakaknya yang masih bersikap terlalu polos.
"Kalian kalau mau bicara disini saja! Udah malem gak usah ke luar rumah." Bagas mengingatkan agar kedua wanita itu tidak kemana-mana.
Sontak saja, Fay memutar bola mata malas. Berurusan dengan pria seperti Bagas? Pengennya tuh bisa getok kepalanya. Tahu sebal? Yah, itulah perasaan yang ada di hati sebagai bentuk penggambaran ekspresi tak suka dan ingin menjauh.
Sayangnya mereka seatap dan harus berbagi oksigen. Apa boleh buat? Mau, tak mau harus menjaga sikap dan ucapan. Setidaknya salah satu harus mempertahankan kewarasan yang ada. Kurang lebih seperti tom and jerry versi terkini. Gak saling pukul, justru saling menjauh.
Di saat kedua insan itu sibuk saling menatap satu sama lain, tiba-tiba saja suara jentikan jari mengembalikan kesadaran. "Sudah cukup pandangannya atau mau ku panggilkan pak penghulu langsung?"
"Ka Asma!"
__ADS_1
"De?"
"Kompak bener kalian. Mas Rey, kayaknya ada yang jatuh cinta nih." Asma terkekeh pelan melihat wajah Fay yang menahan diri untuk tetap cuek, sedangkan Bagas membuang muka menatap ke arah lain seraya mengembuskan nafas kasar.
Tidak habis pikir dengan pemikiran adiknya. Menikah dengan Fay? Apa dunia sudah terbalik? Entahlah, berpikir sejauh itu dengan wanita asing, tentu bukan bagian dari hidupnya saat ini. Baginya ia harus menemukan seseorang yang tepat. Wanita yang mampu menyeimbangkan dunia keluarga dan bisnis.
"Butterfly, jangan ganggu keduanya. Aku ada nomor pak penghulu, mau ku panggil sekarang?" Rey menawarkan diri ikut menggoda Fay dan Bagas, percakapan yang mengalir seperti air semakin menghangatkan hatinya.
Namun tanpa mereka sadari. Mr. Axel merasa bingung dengan semua yang terjadi di depannya. Ia berpikir, jika Asma hanyalah sekretaris atau mungkin saudari dari Rey, dan Fay istri dari Rey. Akan tetapi, situasi mengatakan hal berbeda. Apa dirinya melewati hal penting dari keluarga partner bisnisnya?
"Sorry, bukankah dia istrimu, Tuan Rey?" Mr. Axel menunjuk ke arah Fay yang membuat semua mata mengalihkan fokus perbincangan mereka.
Kebingungan sang tamu jelas terpancar dari sorot mata. Pria itu seperti tersesat dalam pemahaman situasi. Wajar saja, karena keadaan yang terjadi memang seperti kesimpulan di dalam kepala, namun ia harus menjelaskan secara baik tanpa menyinggung perasaan. Semua itu karena melihat Jovanka yang menganggap Asma sebagai seorang ibu.
Rey menggelengkan kepala, lalu menunjuk ke arah istri sahnya. "Nyonya Reyhan Aditya, Miss Asma." Lalu beralih menunjuk ke Fay, "Miss Ififay, saudari istriku."
Tidak bisa memungkiri ia terkejut dengan pernyataan sang tuan rumah. Sekarang bagaimana cara dia menjelaskan pada Jovanka untuk menjaga sikap? Seketika merasa tak enak hati dengan panggilan mama yang putri nya berikan untuk Asma. Kenapa Rey tidak mencegahnya?
Asma menyadari bahwa partner bisnis suaminya tengah dilema. Semua jelas tergambar melalui tatapan mata yang terdiam dengan bibir terkunci rapat, sedangkan Jovanka sibuk menikmati kunyahan pizza dengan mayonaise yang belepotan di bibir. Harapan itu indah, jika menjadi kenyataan. Bukan begitu?
"Jovanka!" Asma melambaikan tangan menatap gadis kecil itu dengan tulus, membuat yang dipanggil beranjak dari tempat duduk, lalu menghampirinya. "Mas Rey, tisu."
Diambilnya kotak tisu yang diminta Asma, tanpa jawaban menyerahkan karena ia tahu sang istri hanya ingin merawat anak itu. Ia ingin mempermudah segala sesuatunya tanpa harus menimbulkan perbedaan pendapat, apalagi masalah yang bisa mengancam bisnis keluarga.
__ADS_1
Perlakuan Asma yang telaten mengelap mulut Jovanka, membuat Mr. Axel tertampar kenyataan. Kini semua jelas, tidak ada lagi pembatasan ilusi. Hanya saja bagaimana menghadapi putrinya? Ia kenal betul sifat dominan sang putri yang selalu ingin mendapatkan segala sesuatu tanpa penolakan. Bukan manja, tetapi hanya membutuhkan perhatian lebih.
"Thank you, Ma. Boleh makan lagi?" Senyuman lebar yang menghadirkan lesung pipi membuat Jovanka seperti boneka yang sangat cantik menggemaskan.
Tak ingin mengganggu mood seorang anak, Asma berusaha untuk bersikap lebih lembut. Dibimbingnya tubuh Jovanka untuk duduk di pangkuan, lalu memeluknya tanpa kata selama beberapa saat. Sejenak menenangkan pikiran agar mampu mengutarakan pemikiran yang kini memenuhi kepalanya.
"Mama kenapa? Jova ...,"
Usapan lembut di kepala menghantarkan kesiapan untuk memulai penjelasan sederhana. "Jovanka sayang, boleh tante tahu kenapa princess cantik memanggilku sebagai mama?"
Ayolah, Jovanka masih kecil. Pertanyaan terlalu berat. Tidak bisakah untuk bersikap lebih lembut lagi dan tanpa pertanyaan yang memberatkan otak seorang anak usia dini. Lihatlah gadis kecil itu merasa bingung sesaat, lalu mendongak membalas tatapan Asma. Kedua mata dengan warna coklat yang saling terbenam menelusuri harapan satu sama lain.
"Jangan khawatir, Jovanka. Bicaralah, tante hanya ingin mendengar isi hati seorang princess." sambung Asma tanpa mengalihkan perhatiannya dari Jovanka, dimana gadis itu tersenyum manis.
Bukannya menjawab, Jovanka langsung mengecup kedua pipi Asma tanpa permisi. Kecupan sayang seorang anak untuk ibunya. Axel yang melihat itu semakin khawatir. Jika dibiarkan, bisa saja putrinya mengalami patah hati. Bukan tidak menghargai emosi, tetapi ia tahu saat ini gadis kecil itu tengah merajut harapan yang tidak mungkin digapai.
Selama ini Jovanka hanya hidup dengannya, tanpa ada kasih sayang seorang ibu. Banyak wanita hilir mudik mencoba untuk meluluhkan hati sang putri, hanya saja tidak satupun berhasil menarik perhatian gadis itu. Namun malam ini? Seorang wanita berhasil mencuri semua perhatian bahkan langsung mendapatkan panggilan sayang.
Dulu tidak ada rasa takut karena tahu betapa keras kepalanya Jovanka. Tidak peduli berapa banyak wanita yang menawarkan diri. Alasan yang sama akan mengakhiri hubungan sebelum di mulai, tapi kini? Rasa takut datang mengetuk pintu hatinya. Bukan takut untuk diri sendiri, melainkan ketakutan akan hati sang putri.
"Nak sudah malam, ayo kita pulang." ajak Mr. Axel tiba-tiba hingga mengalihkan perhatian semua orang, sedangkan yang di ajak langsung kembali mendekap Asma tak ingin pulang. 'Princess nya daddy!"
Penolakan secara langsung, membuat Axel menahan nafas. Rey memahami ketakutan duda satu itu, "Mr. Axel, biarkan putrimu bersama Asma. Calm down. Semua akan baik, trust me."
__ADS_1
Ketakutan itu bukan hanya milik Mr. Axel karena saat ini tubuh Jovanka bergetar. Asma yang merasakan itu berusaha tetap tenang, lalu membenarkan pelukan beralih ke gendongan, kemudian beranjak dari tempat duduknya. Sebelum ada yang bertanya, isyarat tangan menghentikan semua orang.
"Ayo jalan-jalan, Sayang. Apa kita harus menghitung bintang?" Asma membawa Jovanka menjauh dari semua orang, tetapi baru beberapa langkah sudah berhenti. Lalu menoleh ke belakang, "Fay, bisa bantu tangani sisanya?"