Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 91: Kisah Milik Axel, Squash?


__ADS_3

Rey hanya menikmati kesibukannya mempermainkan Asma dengan sentuhan manja. Tidak ada niat lain di hati selain membawa wanita itu ke dalam dekapan menyatukan rasa yang kini menguasai jiwa dan raga. Perlahan tetapi pasti keduanya tenggelam dalam kehangatan.


Impian ada dalam angan tanpa batasan. Cinta hanyalah kata dalam pembuktian. Rasa itu hadir tanpa keinginan menyatu dalam kesadaran. Layaknya arak awan yang meneduhkan.


Dua jam kemudian semua orang sudah berkumpul di ruang makan, tetapi masih menunggu Asma yang katanya tengah membantu Jovanka bersiap karena bangun terlambat. Axel saja sampai berulangkali menoleh ke arah tangga, pria itu tidak sabar menunggu kedatangan sang putri.


Penantian itu selalu menjadi satu hal paling membosankan, namun untuk Axel tidak seperti itu karena bagi dia hanyalah rindu yang terpendam. Sejak Jovanka lahir ke dunia, putrinya itu selalu bersama termasuk tidur sekamar tanpa bisa dipisahkan. Jadi tidak heran kecemasan menguasai hati.


"Mr. Axel, calm down. Putri Anda aman bersama istriku. Minumlah kopinya, nanti keburu dingin." ucap Rey mencoba menetralkan emosi sang partner kerja.


Ketika seorang pria yang terbiasa mendapatkan pelayanan seorang istri, lalu tiba-tiba kehilangan separuh hidupnya, tetapi dititipkan buah hati untuk dijaga dan dirawat. Pasti bukan hal mudah. Para single parent akan berusaha mengubah profesi menjadi dua sosok sekaligus. Seperti kehidupan yang dialami Axel. Duren alias duda keren dengan bisnis yang patut diacungi jempol.


Pria itu jelas melakukan segalanya demi Jovanka seorang. Tidak ada yang bisa menghentikan langkah kaki untuk mendapatkan kebahagiaan sederhana. Namun hari ini, semua berubah hanya karena satu alasan yang harus selalu diingatkan. Dimana pilihan gadis kecilnya, bukan untuk kehidupan mereka berdua.


Sekali lagi hanya menghela nafas panjang, "Sorry, Tuan Rey. Aku tidak terbiasa berpisah selama ini dengan Jovanka. Rasanya ada yang kurang ketika bangun pagi tidak bisa menatap wajahnya yang selalu mengingatkan pada mendiang istriku."


"Mr. Axel, bukankan proyek kali ini juga rancangan dari mendiang istri Anda?" sahut Bagas dengan pertanyaannya yang mengikuti rasa penasaran.


Sebenarnya tidak bermaksud untuk kurang ajar atau lupa keadaan, hanya saja selama ini mengenal Axel dari luarnya saja. Sisa beneran berubah menjadi desas desus para lambe turah. Ada kolega yang mengatakan ini itu, sampai tidak satupun bisa dibuktikan atau mendapatkan klarifikasi dari pihak terkait.

__ADS_1


Miris ketika ada media yang mencetak sebuah berita dengan tajuk utama *Pebisnis Muda Gagal Nikah*. Berita itu memuat kabar burung yang mengatakan Axel seorang pria kurang belaian. Padahal semua itu hanyalah omong kosong agar perusahaan yang dipimpin pria itu tergoyahkan. Sayangnya, tidak ada dampak apapun.


Axel memejamkan mata menikmati sisa kehangatan sebelum ia melupakan seluruh kisah hidupnya. "Eleanor Roosevelt, gadis polos yang selalu aktif. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama."


"Pertemuan kami karena ketidaksengajaan, tetapi berakhir pada pernikahan yang indah walau begitu singkat. Eve selalu melakukan segala sesuatunya sendiri, tidak mengenal kata merepotkan orang lain selama masih bisa menghandle sendiri. Aku bersyukur, istriku meninggalkan Jovanka untuk menjadi pelita hidupku yang redup." sambung Axel tersenyum hangat mengingat wajah mendiang istri yang selalu menjadi wanita hebat di matanya.


Permulaan kisah yang langsung menerjemahkan situasi masa lalu. Jika melihat wajah, postur tubuh dan financial seorang Alex. Maka bisa dipastikan banyak wanita yang antri, tetapi sikapnya cukup tertutup dan untuk mencairkan suasana membutuhkan usaha agar saling memahami.


Sesi sarapan justru dimulai dengan kisah cinta sederhana. Yah, setelah sekian lama menyimpan beban di hati. Hari ini, Axel membuka lembaran kisah kehidupannya yang penuh cinta tetapi singkat. Rey, Bagas dan Fay hanya diam menyimak, terkadang sesekali menanggapi dengan pertanyaan lain.


Semua yang terjadi di ruang makan begitu serius hingga tidak sadar dengan kedatangan langkah kaki yang menuruni anak tangga. Dua gadis beda usia dengan penampilan couple terlihat begitu menggemaskan, bahkan seperti ibu dan anak sungguhan. Keduanya terus berjalan tanpa obrolan apapun.


"Okay, sorry. Sini daddy gendong, kasian Aunty Asma sejak semalem ngurus kamu, princess." Axel mengambil alih tubuh Jovanka, untung saja sang putri tidak memberontak. Jadi aman terkendali, walau ia sadar hanya untuk sesaat.


Pengalihan yang dilakukan Axel, membuat Asma mengedarkan pandangan ke meja makan. Dimana banyak makanan, tetapi masih utuh dan tampaknya sudah dingin. Apa mereka belum makan? Bagaimana bisa ada tamu justru dibiarkan kelaparan.


"Kalian duduklah! Biar aku yang sajikan makanan," ucap Asma mengesampingkan rasa herannya, lalu memulai tugas yang memang menjadi kewajiban seorang istri dan tuan rumah.


Selama tiga puluh menit hanya terdengar dentingan sendok dan garpu yang saling beradu berebut satu sama lain hingga Suketi datang membawa nampan berisi menu penutup yang baru saja selesai di buat. Awalnya tidak ada yang memperhatikan, kecuali Jovanka.

__ADS_1


Gadis kecil itu terus menatap Suketi dengan rasa penasaran. Tubuh pelayan yang tertutup seragam, tetapi ada tonjolan yang begitu jelas diperlihatkan. Goyang kanan, lalu ke kiri, naik turun seperti bola squad yang biasa dia mainkan. Apakah mbak berseragam itu memiliki mainan yang sama?


"Daddy, boleh pinjem squash punya si mbak?" Jovanka menarik lengan kemeja Axel dengan tangan kanan, sedangkan tangan kiri menunjuk Suketi, membuat papanya mengikuti arah yang ditunjuk oleh dirinya. "Daddy kok kenapa bengong? Itu squash, Ma lihat deh."


Permintaan Jovanka menghentikan semua orang untuk terus menyuap makanan. Pandangan mata teralihkan menatap Suketi yang langsung salah tingkah dengan tangan saling bertautan. Nampan berisi sop buah sudah diletakkan ke atas meja. Anehnya, kenapa pelayan itu justru berdiri seperti menunggu gaji di akhir bulan?


Axel menutup mata Jovanka, begitu ia sadar yang di maksud oleh putrinya. "Aku tidak tahu, jika pelayan disini minim sopan santun. Tingkahnya bodoh tanpa memikirkan kehormatan seorang wanita."


"Bagas ...," Rey memanggil saudaranya, tetapi keburu Asma menyeret Suketi pergi menjauh dari ruang makan. "Mr. Axel, maaf untuk kejadian barusan. Kalian lanjutkan makan, Aku permisi."


Diam dengan bibir yang terkunci rapat. Tangannya sudah tidak tahan untuk memberi pelajaran pada pelayan satu itu. Aksi yang dilakukannya menyita perhatian semua orang, bahkan Bi Jia bergegas menyusul nyonya rumah agar tidak mengambil tindakan gegabah. Dia tahu, jika Suketi gadis yang nekat.


Asma berjalan menuju rumah belakang. Dimana para pelayan memiliki tempat tinggal khusus sebagai bonus fasilitas agar merasa di hargai dan tidak mendapatkan penekanan di sisa waktu jam kerja mereka. Bangunan kayu dengan luas sepuluh meter kali delapan meter dan di huni oleh para pelayan saja.


"Bi Jia, dimana kamar Suketi?" tanya Asma tanpa melepaskan cengkraman tangannya hingga membuat si gadis pelayan meringis kesakitan.


Bi Jia maju ke depan membukakan pintu rumah pelayan, lalu melewati beberapa ruangan mencapai kamar terakhir, kemudian membukakan daun pintu bergeser agar sang majikan bisa masuk ke dalam. "Ini kamar Suketi, Non."


Tidak ada lagi kata, tetapi satu tarikan tangan menghempaskan Suketi masuk ke dalam kamar. Asma ikut menyusul dengan tatapan dingin yang siap menenggelamkan. "Bi, kemasi barang-barang gadis ini, sekarang!"

__ADS_1


__ADS_2