Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 31: SORRY


__ADS_3

"Nona Asma."


Bukan Asma yang melanjutkan ucapannya, tetapi Rey. Pria itu menyela karena tak ingin para pelayan memperlakukan sang istri sesuka hati. Bagaimanapun, istrinya adalah nyonya rumah. Jadi sudah sepantasnya mendapatkan panggilan yang sesuai dengan status yang disandang saat ini. Meski tidak bermaksud lain.


"Suamiku sudah memutuskan." Sekilas melirik melihat kepastian sang suami. Niat hatinya ingin menjadikan rumah sebagai keluarga, tapi Rey sudah menghentikan. "Pak Yanto, tolong ajak yang lain untuk kembali bekerja. Tinggalkan kami bertiga."


Perintah yang berupa permintaan, membuat Pak Yanto menurut. Lalu memberi isyarat tangan agar semua pelayan meninggalkan ruang makan. Suara langkah kaki yang menyebar menuju pos pekerjaan masing-masing menyisakan keheningan malam.


Diraihnya gelas yang kosong, lalu menuangkan jus jeruk yang sudah tersedia di atas meja. "Apa kalian bisa bersikap normal? Santai, bicara dengan baik, dan buang wajah tegang kalian. Jangan buatku merasa, kalian seperti ....,"


"Sudahlah." Asma menghela nafas panjang, kemudian meletakkan jus ke atas meja depan Rey dan Bagas. "Habiskan makan malam kalian. Aku kembali ke kamar."


Tanpa membuang waktu lagi. Gadis itu berjalan meninggalkan ruang makan. Langkahnya terus menyusuri lantai marmer. Satu langkah, demi langkah semakin menjauh, sedangkan Rey seketika mengusap wajahnya kasar. Hembusan nafas kasar dengan tatapan nanar menatap segelas jus jeruk yang ada di depannya.


"Rey, apa kita terlalu kaku? Aku rasa, kita butuh belajar untuk memperbaiki sikap. Bagaimana menurutmu?" tanya Bagas, pria satu itu mengacak rambutnya kasar hanya untuk mengurangi kecemasannya.


Entahlah. Dia sendiri pun benar-benar tidak tahu harus apa. Selain mengedikkan bahu karena tak paham harus melakukan apa. Situasi di rumah memang cukup rumit. Bagaimana mengatakan pada Asma. Jika rumah besarnya seperti bangunan kosong tak berpenghuni.


Tentu saja beda dengan rumah sang istri. Walau kecil, rumah menjadi hangat dengan kebersamaan. Selama ini, rumah hanya dijadikan tempat istirahat pada sisa waktu setelah melakukan aktivitas sehari-hari. Terkadang dia dan Bagas juga menginap di apartemen atau justru masih stay di kantor untuk lembur.


Namun, malam ini menjadi malam perdana makan malam keluarga. Bisa dibilang, selama ini tidak ada sesi duduk di meja makan kecuali memiliki waktu senggang. Hidup keduanya memang hanya dipenuhi kesibukan dari pagi sampai pagi. Begitu juga dengan para pelayan yang bisa dikatakan baru masak baik dan benar pada malam ini.


Semua itu hanya untuk menyambut Asma. Makan malam dengan kumpul keluarga, bahkan Rey lupa. Jika istrinya terbiasa makan sepiring berdua. Pria itu terlalu memikirkan harus melakukan apa di hari pertama kebersamaan antara dia, Asma dan Bagas.

__ADS_1


Keheningan yang menyapa, membuat Bagas menepuk bahu sahabatnya. "Kembalilah ke kamar! Temui istrimu dan bicarakan semua ini, hanya salah paham. Jangan sampai Asma merasa sendirian di rumahnya sendiri."


"Kamu benar, sebaiknya aku ke atas." Sahut Rey, lalu mendorong kursi setelah beranjak dari tempat tidurnya.


Pria itu pergi meninggalkan meja makan, tanpa menghasilkan makanannya. Langkah kaki terus berjalan maju, tapi baru beberapa langkah langsung berbalik menatap Bagas yang masih duduk terdiam di belakang. "Nando, undur jadwal meeting satu minggu lagi. Aku akan menemani istriku di rumah agar bisa adaptasi secara bersama-sama."


"Okay, Bro." Jawab Bagas seraya mengacungkan jempol, meski dia sadar jika meeting yang sudah tertunda. Tidak bisa di cancel lagi. Mau, tidak mau. Dirinya harus turun tangan seorang diri.


Sementara itu, Asma baru saja memasang earphonenya. Panggilan yang masih terus berdering, membuat gadis itu menunggu dengan sabar. Berpikir, jika sahabatnya sudah terlelap atau mungkin masih sibuk telfon dengan pacar. Siapa yang tahu?


Niat hati ingin duduk di depan jendela menikmati sepoi angin. Apalagi langit malam cukup cerah dengan sinar rembulan yang mulai menampakan diri. Indah dan mempesona. Setiap kali menatap sang rembulan. Banyak kisah yang melintasi benaknya.


Sebait kasih dalam kerinduan.


Menyatukan rasa terlarang.


Inikah kisah tanpa haluan?


Berarak dalam kesendirian.


Kesunyian tanpa keraguan.


"Apa artinya?" tanya Rey yang mendengar setiap kata yang terucap dari bibir istrinya.

__ADS_1


Kedatangan Rey yang tiba-tiba, membuat Asma melepaskan earphones. Lalu menoleh ke belakang. Dimana sang suami berdiri di depan pintu dengan wajah kusut. Namun, tetap saja tampan. Memang sudah begitu cetakannya. Apapun ekspresi pria itu, tidak akan mengurangi ketampanannya.


"Mas, udah selesai makannya?" tanya balik Asma yang memilih mengalihkan perhatian topik pembicaraan.


Langkah suaminya kembali berjalan menuju ke arahnya. Tidak ada keraguan, tetapi hanya ada keseriusan. Apa yang terjadi? Mungkinkah karena kejadian di meja makan beberapa menit lalu? Tak ingin berpikir negatif. Dibiarkannya sang suami duduk di depannya hingga tatapan mata saling terpaut dalam keheningan.


Mendadak atmosphere disekelilingnya berubah menjadi panas dingin. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa terlalu banyak ketegasan dengan tatapan mata nan tajam. "Mas, sampai kapan akan menatapku tanpa berkedip?"


"Sorry," Rasa sesak yang mengusik hati, perlahan dihempaskan bersama helaan nafas panjangnya. "Aku benar-benar tidak tahu harus apa. Kamu tahu, kami berdua. Aku dan Bagas sangat jarang di rumah. Sebenarnya ....,"


Sekali saja. Rey berbicara panjang kali lebar hanya untuk menjelaskan kesalahpahaman yang mungkin bisa menjadi pemicu keraguan di hati istrinya. Pria itu mengatakan segala sesuatunya. Dimulai dari rutinitas harian, hingga bagaimana kedua pemuda menghabiskan waktu saat liburan. Penjelasan yang sangat padat dan rinci.


Satu persatu terungkap. Ternyata sesuai dugaannya. Kehidupan orang kaya selalu terjadwal untuk masalah bisnis, tetapi melupakan kebahagiaan sederhana. Hidup hanya tentang untung dan rugi. Bagaimana mengembangkan usaha, menstabilkan perekonomian dan juga menjadi nomer satu dari tujuan utamanya.


Semakin jauh menjelaskan, Asma hanya bisa menahan nafas. Ingin berkomentar. Namun, ia sadar. Jika perjuangan untuk membangub bisnis tidak semudah membalikkan tangan. Bagaimanapun dunia bekerja secara berkesinambungan. Ada yang lari mengejar gemerlap dunia, tapi ada yang malas dengan pemikiran yang dangkal.


"One again, sorry. Aku tidak bermaksud untuk mengabaikanmu saat makan malam." ucap Rey, lalu meraih tangan istrinya.


Genggaman tangan yang menghangatkan. Walau itu hanya untuk menenangkan. "Tuan kulkas, memang cocok untukmu, Mas. Bagaimana jika kita mengubah kebekuan dirumah ini menjadi kehidupan yang baru? Apa kamu akan setuju?"


Pasrah sudah. Apapun panggilan dari sang istri. Tuan kulkas? Bener-bener miris, tapi ulahnya juga. Hanya saja, Asma tengah memberikan pertanyaan atau pernyataan? Atau justru persetujuan? Kenapa mendadak tidak bisa membedakan ucapan dari lawan bicaranya? Sungguh tidak masuk akal.


Melihat suaminya sibuk melamun. Sontak ia menjentikkan jemari di depan wajah pria itu, "Tuan Kulkas! Apa kamu mendengarkan aku?"

__ADS_1


"Ya, Istriku." Rey menjawab tanpa beban, "Sekarang katakan apa rencanamu? Aku yang akan mendengarkan."


__ADS_2