Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 64: Support Pertanyaan


__ADS_3

Sebuah aplikasi yang dirasa cukup menarik. Meski ia tidak tahu apa kegunaannya karena memang tidak paham, namun semua itu dilakukannya untuk mendapatkan jawaban. Pasti ada hal yang bisa menjadi petunjuk, tetapi setelah aplikasi selesai di download. Bagaimana langkah selanjutnya?


Entah keberuntungan atau apa, tiba-tiba Bi Nunu datang hanya untuk meminta izin mengambil mangkuk dan gelas yang sudah kosong. Secara kebetulan, di saat mengambil nampan di belakang Bagas. Wanita berhijab itu melihat layar ponsel sang majikan sepintas.


"Tuan, masuk aja pake google. Nanti langsung buat akun atas nama Tuan." Celetuk Bi Nunu mengejutkan Bagas yang termenung, untung reaksi pria itu hanya speechless helaan nafas, bukan melompat kaget.


"Bibi kok tahu?" Bagas menoleh ke samping, dimana Bi Nunu berada. Wanita itu meninggalkan nampan, lalu mengambil ponselnya dari balik saku celemek, kemudian memperlihatkan aplikasi yang sama yang dipunya. "Ouh, jadi apa gunanya aplikasi itu?"


Dia yang kuper, atau pelayan rumahnya yang memiliki pengalaman luas dan selalu up to date? Padahal bukan soal itu. Bagi para wanita, sisa waktu dimanfaatkan sebaik mungkin, sedangkan untuk pria memilih istirahat total. Akan tetapi, bagi Bagas pekerjaan lebih penting selama ini.


Jangankan hari senin sampai sabtu. Hari minggu saja masih kober untuk memeriksa pekerjaan yang tertunda atau kembali melakukan pertemuan agar pekerjaan selesai tepat waktu. Benar-benar pria gila kerja. Semua itu demi keberlangsungan banyak pihak yang menjadi tanggung jawabnya dan Reyhan.


"Tuan, aplikasi itu untuk membaca novel yang kaya sinetron di TV, bisa juga cari gambar yang ada tulisan, tapi kecil-kecil. Trus, Tuan bisa coba nulis juga." Bi Nunu menjelaskan dengan logat bahasa yang medok ke Jawa, padahal menggunakan bahasa Indonesia, membuat Bagas hanya menyimak berharap bisa paham.


Setelah menjelaskan, Bi Nunu pamit undur diri meninggalkan Bagas yang fokus menatap layar ponselnya yang mati. Bingung sendiri dengan dilema hatinya. Apa harus memulai? Jika iya. Kenapa tidak langsung mencoba saja?


Satu tekanan menekan tombol on/off daya. Lalu beralih membuka aplikasi NovelToon yang baru saja ia donwload, kemudian melakukan pendaftaran dan benar saja muncul beberapa pilihan untuk membuat akun. Tanpa menunda lagi, ia memilih menggunakan google address dan langsung tersedia akun tanpa proses yang rumit.


Sekarang apa langkah selanjutnya? Bagas mencoba mengingat, tetapi di saat bersamaan tatapan matanya tak sengaja melihat ponsel Rey yang ada di sebelahnya. Sontak saja, pria itu beralih mengambil ponsel lain tersebut, lalu memeriksa dan tak lagi bersusah payah dengan usaha tanpa arah tujuan.


Bagaimana tidak? Ponsel Rey sudah memiliki riwayat bacaan novel, tetapi anehnya kenapa novel horor? Setahunya pria satu itu tidak menyukai hal-hal yang berbau gaib. Percaya akan adanya mereka yang tak kasat mata, namun tidak untuk bersinggungan dengan hal-hal mistis. Sekarang yang dibutuhkan sudah didapatkan.


"Banyak sekali karyanya," Bagas mencoba mencari judul yang sama melalui ponselnya, lalu membuka akun penulis yang kemungkinan besar adalah milik adik angkatnya. "Ada yang romantis, tapi milih horror. Rey beneran cari mati, tapi aku juga ikut penasaran sih."


Kesibukan Bagas yang mencoba dunia halu masih berlanjut dengan wajah serius yang mulai membuka salah satu karya. Dimana karya itu berkisah seorang putri mafia dengan identitas tersembunyi. Dari segi cover dan scrolling komentar, pilihannya jatuh cinta dan ingin tahu kisah yang tersaji.


Sementara itu, Rey masih mencoba untuk berkompromi dengan Asma. Istrinya tidak mau menjelaskan lebih jauh, tetapi sudah membuat keputusan, sedangkan ia hanya ingin melindungi wanitanya agar tetap baik dalam penjagaannya. Mau, tak mau hanya bisa mengalah.


"Baiklah." Rey merengkuh pinggang sang istri, memeluknya dari belakang dengan harapan meredakan keras kepala Asma. "Katakan, siapa saja yang akan menginap?"


"Hanya rombongan anak-anak, tapi mereka sudah memiliki tempat penginapan. Aku hanya ingin ke-dua sahabat sekaligus saudara online ku menginap. Kami ingin bertemu agar bisa bersilaturahmi, tapi keputusan terakhir silahkan Mas ambil." Jelas Asma menahan suaranya agar tidak melewati batas seorang istri.


Perdebatan diadakan hanya untuk mencapai mufakat bersama. Ketika perdebatan sudah berubah menjadi saling serang dan mengutamakan ego masing-masing. Maka tidak akan ada hasil yang baik, justru hanya menyisakan kepahitan akhir saja. Rey menurunkan keras hatinya dan Asma mengurangi keras kepalanya.


"Ini rumahmu, lakukan yang membuatmu merasa bahagia. Aku ada di rumah untuk menjagamu." Putus Rey tak ingin lagi memperpanjang masalah yang mungkin hanya overthinking saja.


Jika tidak percaya orang luar, wajar saja. Namun, ia harus percaya pada istrinya sendiri bukan? Mendengar keputusan Rey yang akhirnya memberikan izin, membuat Asma lega. Bukan bermaksud egois, tetapi ia juga merasa kesepian. Rumah besar, keluarga baru, suasana baru. Setidaknya kedatangan Fay dan Nau bisa mengusir rasa sepi di hati.

__ADS_1


Waktu terus bergulir, tak terasa sinar mentari berganti gelapnya malam. Semua sudah berkumpul untuk menikmati makan malam, tetapi menu yang tersaji di atas meja. Seketika menghentikan nafsu makan yang melanda. Bagaimana ingin makan? Sayuran mentah yang diracik menjadi salad terlihat menyegarkan, tetapi tidak untuk dinikmati.


"Sus, dimana Dokter?" Asma menoleh ke arah suster yang berdiri di sisi kanan meja, gadis yang masih mengenakan seragam itu menunjuk ke arah dapur. "Aku permisi dulu."


"Butterfly! Makananmu?" Cegah Rey yang diabaikan Asma, dimana gadis itu tetap meninggalkan ruang makan dengan langkah kaki yang mendekati pintu dapur.


Melihat itu, Bagas hanya tersenyum santai. Ia sudah mulai hafal. Asma akan membuat hal baru lagi, "Tunggu saja, Rey. Pasti balik lima belas menit atau dua puluh menit lagi."


"Aku tahu, cuma you know. Dokter bisa darting kalau istriku selalu memberikan jawaban di setiap keputusan. Sepertinya program harus dihentikan." Jawab Rey merasa tak enak hati, bukan khawatir akan Asma, tetapi ia merasa kasihan pada dokter yang menangani sang istri.


Pernyataan Rey memang benar sebagaimana adanya, namun apa gunanya kekhawatiran itu? Toh setiap kali Asma melakukan sesuatu pasti memiliki alasan dan solusi tanpa merepotkan orang lain. Jadi, secara keseluruhan sang adik akan menangani keadaan dengan caranya sendiri.


"Suster, coba lihat apa yang terjadi di dapur!" titah Bagas membuat suster menganggukkan kepala, lalu pergi berlalu menjauh dari meja makan. "Sekarang tenanglah! By the way, boleh aku tanya sesuatu?"


Cara yang aneh. Untuk pertama kalinya, sang sahabat bertanya izin untuk mengajukan pernyataan. Biasanya akan selalu to the point pada fokus utama. Namun ada apa dengan malam ini? Apakah masalahnya terlalu besar atau bagaimana?


Ditatapnya sang sahabat dengan tatapan serius, "Tell!" Rey menyedekapkan kedua tangan di dadanya.


Bagas beranjak dari tempat duduk yang kebetulan memang menempati kursi lain di seberang meja, sehingga berhadapan dengan tempat Rey duduk. Lalu berjalan menghampiri sang sahabat, kemudian menarik kursi terdekat agar bisa duduk tanpa harus memiliki jarak benda mati seperti meja kaca yang hanya menyajikan salad sayur.


Sementara Rey masih setia menunggu dengan rasa penasarannya. Entah apa yang akan ditanyakan oleh Bagas, tetapi pasti sesuatu yang serius karena wajah pria itu nampak begitu tegang dengan tatapan yang waspada. Mungkin takut jika ada yang mendengarkan percakapan mereka. Bisa saja seperti itu.


"Novel?" Rey mengernyit mencoba memahami arah tujuan Bagas, hingga di dalam kepala terlintas seorang tokoh iblis bernama Lucifer dari novel horor yang Asma jabarkan. "Apa kamu membaca karyanya?"


Pertanyaan balik dari Rey, seketika menghempaskan pertahanan nafasnya. Jika pertanyaan, dijawab pertanyaan. Jadinya apa? Tidak ada kejelasan, selain kebingungan. Akan tetapi, ia paham maksud dari pertanyaan sahabatnya itu.


Anggukan kepala pelan seraya mengambil ponselnya, lalu meletakkannya di atas meja. Dimana layar ponsel yang menyala masih menampilkan beranda seorang penulis dan benar saja. Profil hitam dengan tulisan kuning keemasan dengan icon kupu-kupu memang atas nama Asma. Itu akun istrinya yang digunakan untuk menulis.


"Semua memang hasil tulisannya. Aku sudah memeriksa itu dengan baik." Jelas Rey tanpa ragu karena memang sudah melihat beberapa aplikasi tempat istrinya menuangkan ide cerita.


Ponsel milik Asma yang terbilang memiliki ram paling kecil saja. Bukan hanya dipenuhi oleh aplikasi editing saja, tapi beberapa jenis aplikasi media sosial dan juga dokumen serta banyak aplikasi yang dikhususkan untuk menulis saja. Termasuk laptop yang ada di kamar. Gadis itu menambah beberapa aplikasi tanpa sepengetahuannya.


Sampai detik ini saja, ia masih mencoba untuk mencerna. Darimana gadis itu belajar banyak hal dalam waktu singkat. Padahal seingatnya kesibukan Asma sudah cukup di depan ponsel seraya menikmati musik. Kecuali malam karena itu waktu khusus untuknya saja.


"Jadi, bagaimana menurutmu?" Bagas semakin serius melanjutkan perbincangan, membuat Rey menaikan alisnya. "I means, apakah ini baik untuk Asma? Menjadi seorang penulis pasti memakan banyak waktu dan kesehatan harus diperhatikan."


Sepertinya benar yang dikatakan oleh Bagas. Akan tetapi, sekilas bayangan seulas senyum dengan sorot mata penuh kehidupan. Bagaimana caranya merenggut kebahagiaan itu dari sang istri? Tidak. Menjadi seorang suami bukan mengambil hak kebebasan dari seorang istri.

__ADS_1


"Jika ini tentang kesehatan. Aku akan berusaha mengingatkan dan membantunya agar bisa menjaga pola hidup yang sehat." Rey menjeda ucapannya, tatapan mata beralih ke arah dapur, lalu kembali menatap sang sahabat. "Menulis bukan beban untuk Asma, tetapi kebahagiaan. So, i accept that."


"Rey, kita saudara dan seperti janjiku untuk selalu mendukung keputusanmu. Aku akan menjadi saudara terbaik untuk Asma juga." Balas Bagas tak lagi ingin mempertanyakan hal yang kini sudah pasti.


Percakapan serius berakhir dengan sesi perbincangan yang lebih santai. Dimana Rey dan Bagas mengutarakan pendapat mereka tentang novel yang berbeda, bahkan sepakat untuk bertukar novel agar bisa memahami tulisan yang bagi mereka memang dipenuhi diksi puitis.


Seperti pemikiran Bagas yang mulai memahami bagaimana karakter adik angkatnya itu. Mungkin Asma tidak sadar, jika tokoh novel yang menjadi MC utama seperti stuck menjadi pribadinya sendiri. Bisa seperti itu bukan? Salah atau benar, tidak memerlukan klarifikasi.


Dua puluh menit telah berlalu. Benar saja, Asma kembali bersama Bi Jia dan juga Bi Nunu. Ketiga wanita itu datang membawa nampan yang pasti berisi makanan. Aroma harum menggoda menggelitik rasa lapar yang meronta. Ternyata perut sudah demo meminta amunisinya.


"Mas, tolong pindahkan piring salad ke sisi lain meja." Pinta Asma dengan sopan, membuat Rey tersenyum dan membantu istrinya yang meminta tolong. "Bi, letakkan dulu."


Asap putih yang mengepul semakin mengeluarkan aroma sedap makanan. Ternyata menu makan malam yang disajikan berbanding terbalik dari yang dokter sediakan. Semangkuk sup daging dengan aroma rempah yang menggugah selera, ikan bakar dengan tumis cabe yang menggiurkan. Apalagi ditambah nasi merah dengan porsi KFC.


"Asma, apa semua ini kamu yang masak?" Bagas tak sanggup menahan lagi untuk bertanya seraya mengambil sendok dari atas meja.


Rey masih diam memperhatikan setiap pergerakan sang istri. Dimana gadis itu tersenyum membiarkan kedua bibi pergi kembali ke belakang membawa nampan yang sudah kosong. Tangan yang terampil menyajikan makanan seperti sudah terbiasa.


"Tiup dulu! Jangan sampai lidah kepanasan," ucap Asma mengingatkan tanpa memberikan jawaban atas pertanyaan Bagas. "Mas, makanlah!"


Mangkuk sup yang ada di atas meja diabaikannya, lalu meraih tangan sang istri membuat gadis itu menoleh ke arahnya dengan isyarat mata bertanya. Tanpa kata, membimbing Asma agar duduk di atas pangkuannya. Makan malam di mulai dengan tatapan mata yang menenggelamkan. Tanpa mempedulikan Bagas yang ngedumel di hati.


Nyamuk aja bisa hisap darah mangsa, nah aku? Minum kuah sup sayur ayam. Menyedihkan, kapan ya jodohku datang? Setidaknya bisa di ajak nonton atau di ajak gulat. Huft, beneran jadi setan hidup aku.~batin Bagas trus menyeruput kuah sup dari sendoknya.


Makan malam yang berteman kecemburuan membuat Rey hanya tersenyum tipis atas hawa panas yang ada disekitarnya. Ia tahu, Bagas mencoba untuk mengabaikan pemandangan di depan mata yang menusuk. Akan tetapi rasa makanan masih mempertahankan keberadaan pria itu. Setidaknya sampai sup dan nasi serta ikan bakar ludes.


"Mas, bisa lepasin? Aku mau ambil ponselku yang tertinggal di kamar." pinta Asma yang memang posisinya terkunci dengan kedua tangan sang suami yang menghalangi pergerakannya, membuat pria itu mengambil ponsel di atas meja. "Mas! Nomor Fay tidak ada di ponselmu."


"Habiskan makan mu dulu!" Rey melepaskan kedua tangannya dari penjagaan, membuat Asma beranjak dari tempat duduknya, tetapi pergerakannya di tahan. "Aku yang ambil dan kamu tetap disini!"


Pasrah sudah dengan keputusan Rey yang menatapnya tak ingin dibantah. Sekali menurut, tidak salah kan? Langkah kaki sang suami yang menjauh, membuat ia meneruskan menyuap makanan yang hanya tinggal dua suap saja, sedangkan Bagas sibuk mengelap bibir dengan tisu kering yang ada di atas meja.


"Asma, apa ini pertemuan pertama kalian?" tanya pria itu dengan santainya, satu pelajaran yang harus diingat. Dimana berbicara dengan Asma jangan mode serius, atau hasil dari percakapan hanya akan ada ketegangan saja.


"Yes, why?" tanya balik Asma tanpa sungkan mengunakan bahasa asing yang langsung mengalihkan perhatian Bagas, tetapi yang mengubah suasana masih sibuk menikmati suapan terakhirnya. "Why be surprised? Didn't you find out who I am."


Apa tidak salah dengar, Asma dan bahasa asing? Sepertinya perlu ke dokter telinga. Siapa tahu sudah waktunya untuk membersihkan kotoran yang tertutup hingga menyumbat. Bisa saja seperti itu bukan? Namun, ketika menelisik dengan tatapan mencari ketidakpastian. Nyatanya wajah sang adik nampak santai bahkan tanpa beban.

__ADS_1


"Jika seorang kakak bisa mencari tahu tentang adiknya. Apa adik tidak boleh mencari tahu tentang kakaknya?" Tangannya sibuk menumpuk mangkuk yang ada di atas meja, lalu mengumpulkan piring kotor menjadi satu agar mudah dibereskan oleh pelayan nantinya. "Anggap saja, ini rahasia kita. Lihat, Mas Rey sudah balik. Calm down, ok."


__ADS_2