
Ka Bagas cukup minta mereka datang pukul tujuh malam, sisanya akan ku bereskan. Okay?" Asma menyanggupi tanpa berpikir panjang kali lebar, bukan karena tidak memikirkan hal sensitif itu, tetapi ia hanya ingin satu beban yang dipikul oleh pundak sang kakak terangkat.
"Okay, Aku percaya dengan pengaturan yang adikku buat. Kalau gitu biar ku konfirmasi tentang ini, setidaknya bisa mempersiapkan kontrak kerjasama yang akan menjadi terobosan." balas Bagas penuh semangat, baru saja berniat beranjak dari tempat duduknya. Tiba-tiba ia ingat sesuatu, "De, Elora bisa nekat, so I hope you stay away from her."
Stay away? Jika saja menghindari masalah akan menyelesaikan kerumitan hidup, maka di dunia tidak ada orang yang berjuang mati-matian. Apalagi tentang ikatan suci pernikahan. Siapa yang lebih berhak untuk mendapatkan kebahagiaan sederhana, jika bukan suami istri itu sendiri.
Kenyataannya adalah Elora salah satu dari sekian banyak bibit pelakor yang berpikir obsesi sebagai cinta. Lalu memuja dengan segala tipu daya. Siapa yang salah? Harapan yang tersesat tanpa arah tujuan. Seperti embusan angin di tengah dinginnya malam.
Tanpa menjawab peringatan Bagas. Gadis itu membiarkan sang kakak pergi meninggalkan ia seorang diri. Mata yang menatap lurus ke depan dengan tatapan tak berkedip dalam perenungan. Sekali lagi, isi kepala hanya dipenuhi nama si bibit pelakor.
Masalahnya kali ini ada bibit pelakor lain yang lebih berbahaya yaitu Suketi si pelayan. Sebagai sesama wanita ingin menyadarkan gadis satu itu untuk kembali hidup di dunia nyata. Jatuh cinta pada majikan? Tentu bukan sebuah kesalahan, tetapi jika pria itu masih berstatus lajang.
Sah saja untuk memupuk harapan, meski harus tetap sadar kakinya berpijak dimana. Mungkin saja gadis pelayan itu lupa akan satu fakta, dimana Rey tidak sekalipun memiliki rasa yang bisa dianggap sebagai milik seorang Suketi. Dunia filsafat tentang cinta memang penuh liku.
Waktu yang berlalu menghantarkan sinar senja yang temaram menuju peraduan. Berganti malam dengan sinar rembulan. Aroma harum menyebar ke seluruh penjuru ruangan bahkan mencapai kamar atas. Dimana Rey yang baru saja selesai mempersiapkan kontrak kerjasama, baru menyadari pemberontakan massal cacing di dalam perutnya.
"Sabar! Masih jam setengah tujuh kurang lima menit." Diusapnya perut datar yang semakin merasa kelaparan, "Lebih baik menyegarkan diri dulu. Otakku fresh dan tubuh akan wangi. Jangan sampai istri sendiri sibuk lihatin pria lain."
Pemikiran Rey begitu pendek, tetapi benar juga. Kalau suami bau asem keringat, trus tamu cowok penampilan ok. Istri mana yang tidak membandingkan? Hanya sekian detik, bukan bermaksud mengeluh karena terkadang untuk mendapatkan kenakalan. Seorang istri harus keluar dari rasa sungkannya.
Ditutupnya si lepi, lalu ia taruh di atas tempat tidur, kemudian bergegas berpindah tempat untuk menyegarkan diri. Di saat bersamaan Asma masuk dengan keadaan yang berantakan. Tubuh bau bumbu, peluh dan juga lelah, tetapi ketika tatapan mata tidak menemukan keberadaan Rey. Perasaannya lega.
Setidaknya akan aman dari gangguan. Yah itu isi pikiran si gadis desa. Sehingga tanpa menunda waktu bergegas menutup pintu kamar, tak lupa menguncinya. Lalu berlari kecil menuju kamar mandi. Belum sempat menyadari keberadaan Rey di dalam ruangan yang sama, justru suaminya tersenyum tipis terdiam berdiri di balik pintu kaca.
__ADS_1
Awalnya ingin mengambil salah satu botol aroma terapi yang tidak sengaja jatuh ke bawah lemari di dalam kamar mandi, tetapi siapa sangka akan mendapatkan kejutan kecil dengan pemandangan di depan mata. Sementara yang dipandang masih tidak sadar dan tanpa basa-basi melemparkan pakaian kotor ke tempatnya.
Membiarkan sentuhan air hangat dengan busa sabun menutupi seluruh tubuh yang terbenam di dalam bath up. Apa istrinya tidak sadar, jika aroma terapi yang digunakan adalah favoritnya? Bisa jadi atau saking lelahnya hingga tidak sadar. Apapun itu, langkah kakinya perlahan beranjak dari tempat persembunyian.
Mata yang terpejam menikmati ketenangan di dalam kehangatan yang begitu nyaman. Alih-alih mengganggu, Rey hanya mengambil spon, lalu membantu istrinya untuk membersihkan diri. Gadis itu terlonjak kaget, tetapi langsung bernafas lega begitu melihat pria di depan mata bukanlah orang asing.
Dua puluh menit kemudian. Keduanya keluar dari dalam kamar mandi. Rey selalu melakukan hal sama dengan menyiapkan pakaian untuk istri terkasihnya. Hanya saja untuk malam ini, entah kenapa ia bingung memilih gaun yang tepat agar bisa menyesuaikan dengan suasana. Tiga gaun yang menarik perhatiannya di keluarkan dari dalam lemari.
"Butterfly, mana menurutmu yang bagus?" tanya Rey seraya menunjukkan tiga gaun di tangannya, sedangkan Asma tengah sibuk mengeringkan rambut menggunakan hairdryer.
Lirikan mata terpatri pada tiga gaun yang memiliki desain berbeda, tetapi mengusung tema yang sama yaitu flower. Jangan tanya kenapa semua gaun begitu feminim. Berkah suami yang terlalu sering kepo majalah fashion kekinian, maka gaun yang diberikan juga mengikuti mode pada masa kini. Sebagai istri patut bersyukur memiliki suami seperti Rey.
"Apa malam ini begitu special untukmu, Mas? Jika iya, maka pilih seperti biasanya. Aku mulai terbiasa mengenakan barang pilihanmu. Benar 'kan?" ucap Asma dengan pernyataan yang membutuhkan persetujuan.
Rey mengangguk mengerti, tetapi ia masih dilema. Sesaat berpikir untuk mendapatkan pilihan terbaiknya hingga sebuah ide melintas menghadirkan senyum menghiasi wajahnya. "Coba saja satu persatu. Pasti lebih pas, bagaimana?"
Perdebatan pasutri yang harus tersimpan rapat di dalam kamar, sedangkan di bawah sana Bagas sudah berdiri di depan pintu utama. Pria satu itu berulang kali mengembuskan napas. Bukan karena tidak sabar, tetapi merasa pertemuan terlalu cepat di lakukan. Sedikit cemas akan nasib dari akhir kunjungan rumah pertama kalinya.
Penantiannya tak berlangsung lama karena terdengar suara deru mobil yang mendekat hingga nampak dari tempatnya berdiri sebuah mobil sports warna putih melaju mendekati gerbang. Tentu ia mengenali pemilik mobil satu itu karena sang tamu selalu memiliki selera yang bagus dan bisa dijadikan kiblat dalam dunia fashion. Mr. Axel, si duren matang yang menjadi incaran para wanita pebisnis muda.
Pintu gerbang terbuka otomatis, membuat mobil melaju memasuki halaman rumah. Lalu berhenti di halaman yang cukup luas, kemudian mesin dimatikan. Tidak ada yang terjadi selama beberapa saat hingga pintu terbuka. Seorang pria dengan pakaian casual turun membawa buket hingga mawar merah. Pria itu memutari mobil hanya untuk membuka pintu mobil sisi lain.
Sepasang kaki yang tertutup sneakers hitam berjingkat menuruni mobil di bantu pria dewasa yang ada di depannya. Embusan angin malam menyambut menerbangkan helaian rambut panjang dengan jepit kupu-kupu yang menghiasi kepalanya. Kelopak mata bergerak cepat dengan seulas senyum yang menawan.
__ADS_1
"Daddy, berikan bunganya." pinta si gadis kecil tanpa ada rasa takut membalas tatapan mata sang ayah yang selalu stay dengan tatapan tegasnya.
"No." Mr. Axel menolak keinginan sang putri, tetapi tanpa menunda waktu di gendongnya gadis kecil yang selalu menjadi dunianya. Kemudian menyerahkan bunga hingga menutupi wajahnya. "Now, are you happy my boss?"
"Mr. Axel selamat datang di kediaman Tuan Reyhan Aditya." sela Bagas dengan sambutannya seraya mengulurkan tangan kanannya sebagaimana kebiasaan para pebisnis. "Mari, kita masuk ke dalam dan melihat keramahan dari nyonya baru."
"Uncle, siapa nama nyonya baru?" tanya Putri Mr. Axel dengan tatapan menggemaskan, membuat Bagas tidak sadar mengangkat tangannya langsung mencubit pipi gadis kecil itu. "Daddy!"
Rajukan manja yang menambah keimutan gadis kecil itu, hampir saja menyudahi jamuan makan malam sebelum di mulai. Mr. Axel menjelaskan jika putri kecilnya tidak suka ada yang menyentuh tanpa izin, maka dari itu Bagas harus meminta maaf. Tentu tidak keberatan dengan hal sederhana seperti itu. Setelah memastikan tidak ada kemarahan dari kedua tamunya, mereka masuk ke dalam rumah bersama-sama.
Pertemuan pertama yang membawa harapan baru, melihat persiapan yang di lakukan keluarga partner bisnisnya begitu baik. Mr. Axel merasa dihargai, tetapi kenapa hanya ada Bagas yang menyambutnya? Selama ini ia tak mempermasalahkan apapun hanya saja malam ini tidak harus bersikap serius karena mereka bertemu sebagai sesama manusia yang ingin silaturahmi.
"Daddy, siapa itu?" Sang putri menunjuk ke arah tangga, dimana seorang wanita nenuruni anak tangga.
.
.
.
🍃Gaun yang dipilih Rey, mana ya🤔
__ADS_1