
Ponsel yang terulur tetap menggantung di udara. Para perias justru tak tahan melihat ketampanan seorang Bagas, pria itu benar-benar menggoda dan jika bisa pasti langsung dibawa pulang. Wajah ceria dengan senyum khas yang menawan. Siapapun bisa langsung jatuh cinta.
"Ka, ambil saja selfie. Kasian mereka ngeces," Asma sengaja menekan suaranya, ia tak ingin orang lain mendengar. "Lagian Kakak ngapain ke ruangan wanita, mau pamer karena ganteng ya?"
Narsis, kurang lebih seperti itulah yang bisa terlihat dari diri seorang Bagas hari ini, tapi tetap saja sindiran sang adik tidak diambil hati. Justru hanya tertawa pelan seraya merangkul gadis itu. Foto selfie ala Bagas agak mencemaskan karena pria itu bersikap sebagai seorang kakak sungguhan.
Tanpa disadari pria itu, Rey yang baru masuk berdiam diri mematung. Rahangnya mengeras menahan hawa panas di dalam hati, pikiran tak karuan karena pemandangan di depan mata. Dimana tangan Bagas tersampir merangkul pundak sang istri tanpa rasa sungkan. Selain kepercayaan yang tersisa, rasanya ingin sekali meninju saudaranya itu.
"Ekhem!" dehemnya cukup keras hingga mengalihkan perhatian semua orang di dalam ruangan tersebut.
Tatapan tajam tertuju padanya yang siap menerkam, apalagi kedua tangan bersedekap di depan dada. Rey menahan rasa cemburu, tetapi ia tak peduli. Kapan lagi bisa menggoda sahabat satu itu? Pemikiran jahil yang seketika meronta berubah menjadi eksekusi dadakan.
"De, tanganmu jangan begitu," Bagas menarik tangan kiri Asma hingga agar bergelayut manja ke lengannya. "Nah gini baru bener."
Sekali lagi melakukan selfie yang tampak seperti pasangan. Melihat itu Rey tak bisa menahan diri lagi. Ia tahu jika Bagas hanya tengah menggodanya, tetapi benar-benar kelewat batas. Langkah kaki berjalan tegas tanpa keraguan semakin mengikis jarak yang ada di antara mereka. Tiba-tiba ...
"Kalian mau pelukan 'kan?" tanya Asma mengalihkan tatapan matanya ke Rey, lalu ke Bagas. "Lakukan saja, tapi jangan bertengkar di hari istimewa keluarga kita."
__ADS_1
Peringatan manis seorang istri yang merangkap menjadi adik, tentu sudah cukup untuk membuat kedua pria itu sadar akan situasi. Jikapun tetap bertengkar, maka ancaman berikutnya bukanlah sebuah perkataan tapi tindakan nyata. Tak ingin suasana berubah memburuk, maka harus ditangani sebelum badai menerjang.
Gertakan Asma memang ampuh, tetapi akibatnya adalah Bagas tersingkir dari sisinya. Lalu berganti Rey yang sepenuh hati memiliki hak untuk menggandeng tangannya. "Cari saja pasanganmu sendiri, Asma istriku."
Pria yang pencemburu, padahal itu saudara sekaligus menjadi kakak ipar. Memang sih hitungan tetap bisa menikung hanya saja dari kedua sisi tidak memiliki pikiran aneh yang hanya berakhir malapetaka rumah tangga. Asma terlalu tegas untuk berselingkuh, sedangkan Bagas mencintai pasutri itu tanpa syarat.
Tanpa meneruskan perdebatan. Dibiarkannya Rey menggandeng tangan Asma, kemudian mereka meninggalkan ruangan ganti secara bersama-sama. Sudah waktunya untuk memasuki ruang aula tempat acara resepsi di langsungkan. Langkah kaki berjalan tanpa tergesa-gesa. Anehnya sepanjang lorong yang dilewati banyak penjaga yang berjaga.
"Hubby, apa pengaturan harus seketat ini? Aku rasa sangat berlebihan," ucap Asma tanpa sungkan menyampaikan isi hatinya.
Sepertinya sudah cukup jelas dengan hal itu, yah karena tidak bisa didebat. Kemungkinan terbesar ancaman adalah dari para wanita yang mencintai Rey. Satu wanita sudah dikenali, tetapi bagaimana dengan wanita lain? Jika dari pihak lain seperti rekan bisnis, maka kemungkinan hanya satu yaitu mereka yang menolak keputusan pengalihan saham atas nama sang istri.
Bisnis is bisnis. Pedoman itu sangat diterapkan dalam kehidupan seorang pebisnis hanya saja seorang pengusaha slalu memikirkan untung dan rugi. Sayangnya di dalam cinta, manusia hanya memikirkan untung tanpa pamrih. Misalnya seorang kekasih ingin makan buah jambu yang ada dipuncak pohon, padahal kekasihnya tidak bisa memanjat pohon. Lalu?
Usaha yang dilakukan bisa dipastikan, tetapi hasil dari usaha itulah yang tidak selalu berakhir sesuai harapan. Kembali ke acara resepsi, dimana pintu ruang aula terbuka secara perlahan membiarkan tiga insan yang saling bergandengan tangan memasuki ruangan. Langkah kaki berjalan pelan mengalihkan perhatian semua orang.
Senyum manis yang tersungging menghiasi wajah Asma, sedangkan Rey ikut tersenyum karena melihat binar kebahagiaan di mata istrinya. Sebanyak apapun harta yang ia punya, nyatanya hanya memerlukan satu senyuman tulus dari wanita itu. Ini bukan soal cinta sekedar kata, tetapi ini cinta seorang suami untuk seorang istri.
__ADS_1
Para tamu undangan menyambut hangat pasutri yang baru saja masuk. Pagi ini menjadi debut awal Asma menunjukkan jati dirinya dihadapan khalayak umum, terutama dikalangan para pebisnis yang menjadi partner kerja sang suami. Rey tetap berdiri di sebelah sang istri karena saat ini dukungannya sangatlah penting.
"Congratulations on your wedding Mr and Mrs Reyhan Aditya. May the sacred bond of marriage be blessed with longevity and happiness." Tuan Danang seorang kolega asing yang berasal dari London sengaja datang demi melihat acara pertama dari pebisnis seperti Rey.
Bukan tanpa sebab, siapapun tentu tahu bahwa Reyhan tidak sekalipun mengadakan party untuk setiap kesuksesan yang selama ini diraihnya. Pebisnis satu itu suka menyendiri dan bermain di balik layar. Yah jadi satu acara sudah cukup menjadi kesempatan langka. Meskipun para tamu undangan orang-orang pilihan semua, tetap meriah melebihi tahun baru.
Rey menyambut uluran tangan Tuan Danang, begitu juga dengan Asma yang tak ingin mempermalukan sang suami. Tangan yang berbalut sarung tangan tipis adalah syarat jika ingin bersalaman dengan para tamu undangan. Siapa lagi jika bukan ulah suaminya sendiri, "Thank you, Mr Danang. Enjoy our simple party."
Jawaban fasih yang diucapkan Asma sedikit menyita perhatian Rey. Sekali lagi istrinya menggunakan bahasa asing, tapi kode mata Bagas membuatnya paham. Pasti wanita itu sudah dipersiapkan agar bisa menjadi tuan rumah yang baik dan benar. Pasalnya bukan hanya Tuan Danang saja yang harus dihadapi selama acara.
Rey tak sungkan menunjukkan sisi romantisnya sehingga membuat wanita yang kini menjadi pusat perhatian hanya bisa menahan diri seraya tersenyum tanpa beban hati. Tahu rasanya tak nyaman karena jadi bahan tontonan? Yah meskipun ini harinya, tetap saja lebih nyaman duduk sambil ngobrol bareng keluarga.
"Mas, Aku temui Fay dulu ama yang lain. Kamu sama Bagas ya?" pamit Asma melepaskan tangannya dari lengan Rey, kedipan mata sang suami mengantarkan kepergiannya menjauh dari para kolega bisnis.
Ruangan lain dengan hiasan sama menjadi tujuan Asma, gadis itu terus berjalan meski sesekali harus terhenti karena menyambut salam para tamu undangan. Pesta resepsi yang dibuat non-formal memang menjadi pilihan terbaik. Setidaknya mereka bisa bebas tanpa harus menunggu MC untuk mempersilahkan ini dan itu.
"Assalamu'alaikum, semuanya." ucap salam hangat mengalihkan perhatian semua anggota keluarga, tatapan mata yang terpatri ke arahnya hanya ia balas senyum tipis tanpa paksaan.
__ADS_1