
Suara gemericik air terdengar cukup jelas dari dalam kamar. Sudah hampir tiga puluh menit, sejak istrinya masuk ke kamar mandi. Akan tetapi, kenapa begitu lama sekali? Seingatnya selama beberapa hari bersama Asma. Jadwal waktu mandi sang istri hanya sekitar dua puluh lima menit. Jarang sekali lebih. Tumben hari ini lebih.
Rey yang baru saja selesai merapikan kamar. Duduk termenung di tepi ranjang sembari menunggu dan menatap pintu kamar mandi. Sesekali melirik ke arah jam di dinding. Semakin berdetak maju, hatinya semakin gelisah. Apa terjadi sesuatu? Baru saja ingin bangkit untuk memeriksa, tapi pintu terbuka perlahan.
Melihat istrinya keluar dari kamar mandi. Rey berpura-pura sibuk memainkan ponselnya. Seolah tidak melihat kedatangan sang istri. Sayangnya, Asma tidak peduli dan tetap berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian ganti. Gadis itu benar-benar diam seribu bahasa dengan kesibukan mencari pakaian yang diinginkan.
Satu bagian lemari hanya berisi gaun dan semua terlihat mewah, bahkan begitu modis. Bingung sendiri. Tidak ada pakaian yang dianggap pakaiannya. Jadi bagaimana akan memilih sesuai dengan kebiasaannya? Benar-benar dilema. Sesaat ia ingat, di koper ada pakaian lamanya.
"Mas, dimana tasku?" Asma berbalik menatap Rey yang ikut mengalihkan perhatian ke arahnya. "Aku tidak mendapatkan pakaian yang nyaman untuk bebas bergerak. Jadi aku butuh pakaianku sendiri."
"Tunggu sebentar. Aku akan keluar dan mengambilkan tas mu, tapi kamu duduk dulu." Sahut Rey, lalu beranjak dari tempatnya, kemudian berjalan meninggalkan kamar.
Kepergian sang suami, membuat gadis itu memeriksa isi lemari sekali lagi. Tetap saja hanya beberapa gaun yang biasa dipakai untuk acara. Yah, walau beberapa memang bisa dipakai saat dirumah. Namun, ia tak terbiasa dengan pakaian orang kaya. Meski mencerminkan status sosial.
"Hidup penuh kejutan. Semua kemewahan ini hanya tertuang dalam novel romantis, tapi Allah mengabulkan doaku berlipat ganda. Asma, ingat ya. Siapapun kamu, selalu jadi dirimu sendiri. Astagfirullah, aku lupa ngabarin ibu."
Satu ingatan yang menyadarkan gadis itu. Sontak terburu-buru mencari benda pipih yang entah ada dimana. Benar-benar lupa, padahal selama ini selalu bersama tak terpisahkan. Ingat juga dengan tanggung jawabnya sebagai seorang penulis. Ternyata menjadi istri bisa melupakan banyak hal.
"Adanya ponsel milik Mas Rey," Asma berpikir sejenak, tapi tak ada yang salah jika menggunakan ponsel suaminya bukan? "Bismillah, izin pinjam ponselnya ya, Mas."
__ADS_1
Izin? Namun, tidak dengan orangnya langsung. Kenapa jadi seperti pencuri, ya? Kebiasaan yang tidak bisa dilepaskan. Meskipun, ada pepatah yang mengatakan. Semua milik suami adalah milik istri, tetapi milik istri belum tentu milik suami. Pepatah dari mana? Penulis saja tidak tahu, pepatah itu siapa yang buat.
Tidak ada rasa terkejut. Ketika dengan mudahnya membuka ponsel milik Rey yang ternyata masih tanpa password. Heran, tapi mau bagaimana lagi? Toh, itu yang punya suami. Setidaknya bisa digunakan, tanpa harus menunggu pemiliknya.
"Hah, udah dikasih nama Ibu mertua?" tanya Asma pada dirinya sendiri, ia begitu mudah menemukan kontak milik ibunya. "Mode data on, jadi call langsung aja, deh."
Rasa tidak sabar Asma berganti kebahagiaan dengan kerinduan. Suara laungan salam dari seberang, membuat gadis itu mengingat banyak kenangan. Tak pernah menyangka, jarak memisahkan. Ada rasa yang tidak bisa diterjemahkan. Inikah rasa cinta yang selama ini menjadi kehidupannya? Ibu adalah hal terhebat sepanjang masa.
Obrolan basa-basi terus bergulir. Beberapa gosip terbaru dengan celotehan khas dua sahabat. Begitulah ibu dan anak yang selama ini selalu bersama. Tanpa disadari Asma, Rey sudah masuk membawa barang bawaannya dari kampung. Pria itu berdiri bersandar di belakang pintu dengan tatapan meneduhkan.
Secercah cahaya terpancar dari wajah istrinya. Manis dengan rona bahagia. Senyuman bersama tawa yang terdengar begitu lepas dan tanpa beban. Apakah itu wujud dari Asma yang sebenarnya? Tidak ada duka dalam kilauan sorot mata. Lihatlah, seperti sinar mentari pagi yang menghangatkan.
Senyuman yang bisa menyebar bagaikan virus. Wanitanya begitu menikmati obrolan yang terdengar begitu random. Sesekali menggunakan bahasa Jawa yang menjadi keseharian sang istri. Disini, berdiri menatap tingkah istrinya yang menggemaskan. Entah sudah berapa lama hanya sibuk mengamati dalam diam.
Rey mengangkat tangan kanannya menghentikan pembelaan sang istri. Kemudian menarik koper, lalu berjalan menghampiri wanitanya yang tertegun dengan tatapan mata bersalah. Mungkin, Asma berpikir dirinya akan marah karena menggunakan ponsel tanpa izin.
"Apa kamu tidak dingin? Kamar AC dan hanya memakai handuk." Tanpa permisi, dibukanya koper. Lalu memilih pakaian yang terlihat sudah lama. "Mana yang kamu mau? Pakaian celana pendek ini atau yang ini?"
Tatapan mata tak percaya akan tindakan Rey yang dengan santainya mengangkat dua jenis celana pendek miliknya. Satu bertahan jeans dan satu lagi berbahan kain biasa. Bagaimana bisa, pria yang terbiasa memegang pakaian mahal. Justru terlihat seperti penjual pakaian di pasar.
__ADS_1
"Aku bisa ambil sendiri." Asma beranjak dari tempatnya, kemudian mengambil alih apa yang dibutuhkan.
Rasanya canggung, bahkan tidak enak hati. Rasa bersalah yang membuatnya dilema berganti rasa tidak karuan. Kenapa Rey bersikap seperti sudah bertahun-tahun hidup bersamanya? Sikap yang tak biasa dan itu seperti sengatan listrik yang setiap saat bisa mengejutkan kesadaran tanpa diminta.
Melihat istrinya grogi. Rey terkekeh pelan. Ternyata, si gadis desa bisa juga merasa salah tingkah. Hal yang tak terduga baginya. Jujur saja, satu kebenaran itu memberikan angin segar akan hubungannya. Ia percaya, suatu hari nanti. Hubungan mereka akan lebih dalam tanpa keraguan.
Tiga puluh menit berlalu. Ketiga manusia yang menjadi tuan rumah sudah duduk di kursi masing-masing. Bagas, Rey dan Asma baru saja berkumpul di ruang makan. Beberapa makanan sudah disajikan, tapi makanan pagi yang terlalu menyehatkan. Bagaimana tidak? Salad sayur, sandwich, bahkan sayuran rebus.
"Mrs. Rey, kenapa tidak makan?" Bagas mengernyit karena ekspresi wajah Asma terlihat begitu bosan, bahkan seperti tidak selera makan.
Rey ikut menoleh ke arah istrinya. Benar saja, sang istri hanya menatap makanan di atas meja dengan tatapan malas. Apa ada yang salah dengan makanannya? Atau Asma menginginkan makanan lain. Tentu jika hanya diam saja. Ia tak akan tahu apa keinginan sang istri.
"Apa ini makanan kalian setiap pagi?" tanya balik Asma dengan santainya, membuat Rey dan Bagas memandangnya, lalu menganggukkan kepala. "Nikmati sarapan kalian. Aku permisi dulu."
Kenapa berpamitan? Sebenarnya apa yang terjadi? Bingung dan tak paham. Apa yang diinginkan nyonya baru mereka. Sesaat terdiam dengan tatapan mengikuti langkah kepergian Asma yang berjalan menuju dapur.
.
.
__ADS_1
.