
Bukan bermaksud untuk menilai, tetapi ia membawa Asma keluar meninggalkan para lelaki karena memiliki alasan khusus. Jujur saja sejak pertemuan pertama ada hal yang menarik perhatiannya. Jika seseorang memang polos pasti kalem dan bukan menjadi pengamat. Intuisi seorang sebagai seorang pengacara selalu menemukan titik kebenaran.
"Anda ingin tahu apa, Bu? Saya menyebutkan isi kepala, atau mengungkapkan isi hati?" Ditatapnya seekor ikan dengan sirip warna keemasan yang berenang ke tepian, cantik dengan kombinasi warna yang memang serasi.
Pertanyaan balik Asma memberi satu jawaban ketidak sukaan klien baru sang majikan. Wanita itu polos hanya wajah dan tindakannya saja, sedangkan cara penyampaian ucapan patut dipertimbangkan. Yah seperti dugaan awal bahwa ada sesuatu yang tersembunyi.
Bu Utari tersenyum kecut dengan cara Asma menangani dirinya. Bukan wanita yang bisa digertak, apalagi dianggap remeh, lalu sekarang mau bagaimana? Jika dipikirkan lagi, bukankah tidak ada masalah untuk melanjutkan proyek? Pertanyaan demi pertanyaan hanya bergulir di dalam pikiran dia seorang.
Tiba-tiba terdengar suara jentikan jari hingga kembali menyadarkannya. Tatapan mata berbalas netra coklat jernih yang kini terus terpatri mengawasinya, "...,"
"Kita itu sama yang membedakan hanyalah kepribadian, urusan bersama Allah, dan tujuan hidup. Aku hargai caramu menguji dengan meremehkan seorang wanita biasa yang baru saja datang dari desa. Benar, aku tidak paham bisnis.
"Apakah ini cukup menjadi jawaban? Kurasa tidak karena yang ingin ibu Utari dengar dariku tentang hal lain. Benar 'kan? Begini saja, tunggu sampai pertemuan kita yang kedua. Semua akan jelas tanpa harus dijelaskan." Asma mengakhiri pergulatan pikiran si ibu pengacara.
Tidak ada lagi yang bisa diperbincangkan, membuat Asma berjalan meninggalkan Ibu Utari sendirian merenung apa yang ia sampaikan. Sementara dirinya sendiri berjalan melihat sekitar memperhatikan desain cafe yang memang cukup elegant dengan dua nuansa berbeda. Satu tema alam berpadu tema perkotaan.
Bisa dijadikan tempat instagramable oleh anak-anak zaman now. Setidaknya banyak pengunjung yang memiliki hoby berbeda bisa bercengkrama menjadi satu untuk sekedar minum kopi bersama. Terlihat cukup ramai di beberapa meja pelanggan, tetapi tak ingin membuat sang suami cemas maka ia kembali ke ruangan pertemuan.
Tak berselang lama di susul Ibu Utari hingga keduanya masuk diwaktu yang bersamaan. Rey membiarkan Asma duduk di tempat semula, begitu juga Axel yang mempersilahkan bu Utari menempati kursi sebelumnya. Mereka berempat bersiap menikmati hidangan yang sudah tersedia di atas meja.
Dimana menu kali ini masakan Korea yaitu jjamppong atau dikenal sebagai mi seafood pedas, bulgogi (Daging BBQ), dakgangjeong (Ayam Goreng Pedas) dan sebagai pelengkap ada patbingsoo (Es Serut Korea). Bagi Rey, Axel dan Ibu Utari tentu menu tersebut seringkali dijumpai, tapi bagi Asma berbeda. Meskipun hanya nama saja yang berbeda.
__ADS_1
"Butterfly, jika kamu suka pedas makanlah jjamppong dan dakgangjeong. Perpaduan citarasa yang sama pedasnya, tapi berbeda level saja." Rey mencoba membantu istrinya yang tampak bingung dengan menu makanan mereka.
Perhatian Rey untuk Asma sedikit menghadirkan rasa cemburu di hati Axel. Ia rindu kebahagiaan sederhana bersama mendiang istrinya. Andai saja waktu bisa diputar kembali, mungkin hari ini akan lebih sempurna. Apalagi jika dua wanita dengan tatapan mata yang sama dipertemukan.
Jujur saja, perasaan yang merasuki hati bukanlah cinta melainkan seperti dejavu mengingat kenangan masa lalu. Masa yang selalu menjadi awal mula perubahan dunianya bersama Jovanka. Tiba-tiba ia teringat akan janjinya pada sang putri, "Astafirullah, Aku pamit dulu. Putriku pasti mengamuk di rumah."
Apa maksud dari mengamuk? Pengakuan Axel mengalihkan perhatian semua orang, terutama Asma yang langsung merasa was-was. "Ada apa, Mr. Axel? Apa Jovanka di rumah sendirian?"
"Saya tidak bisa jelaskan, tapi nanti bisa selesaikan formalitas bersama pengacara ... saya harus pergi dulu." pamit Mr. Axel lalu bergegas meninggalkan ruangan pertemuan membuat semua orang saling pandang.
Terkadang para orang tua sibuk mencari nafkah untuk memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anak mereka hingga seringkali lupa bahwa seorang anak juga membutuhkan waktu yang bisa dihabiskan bersama-sama. Selalu sederhana seperti duduk bersama sambil berbicara tak tentu arah, bermain isyarat atau sekedar berpelukan.
Namun semakin maju dunia. Manusia sibuk mewujudkan ini dan itu yang memang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Dua pandangan cara didik orang tua pun beragam. Seperti orang tua yang membiasakan anak ikut terlibat dalam setiap kegiatan rumah, meski memiliki pelayan dengan jumlah puluhan.
Satu hal lagi yang seharusnya diterapkan yaitu jangan menilai seseorang hanya dari sekali pandang atau dengan kata lain, belum mengenal. Ingatlah bahwa setiap insan yang bernyawa memiliki ujian hidup masing-masing. Jika kita di posisi mereka, apakah bisa sekuat itu? Pertanyaan ini jangan sampai terlupakan.
"Maaf atas ketidaknyamanannya, Tuan Axel memang seringkali pulang lebih awal. Apalagi jika sudah mengingat tentang putrinya yang setiap siangnya dititipkan ke para suster." jelas Ibu Utari, membuat Rey bernapas lega.
Bagaimanapun Jovanka anak yang baik, bahkan sangat manis. Kepergian Axel tak membuat yang lain ikut pergi. Makanan sudah dipesan, jika tidak dimakan hanya berarti satu hal yaitu mubazir. Satu persatu menu makanan mulai berpindah ke perut masing-masing. Tidak ada diskusi selain suara denting sendok yang sibuk menyendok kuah mie pedas.
Satu jam telah berlalu, tetapi di cuaca yang cukup terik membuat tenggorokan kering. Rasa haus melanda membutuhkan asupan pengegar rasa. Tatapan mata menyusuri area sekitar tempatnya berdiri. Sejauh mata memandang hanya ada ombak pantai yang bergulung berlarian saling mengejar.
__ADS_1
"Ayo, kita ke cafe Maya." Ditariknya tangan yang nganggur tanpa kata permisi, tidak peduli jika protes akan didapatkannya.
Sebagai seorang pria harus bertanggung jawab dan situasi saat ini, mengharuskannya untuk bertindak sedemikian rupa karena ia tak ingin mendapat cap sebagai pria tidak peka. Satu kejadian sudah cukup menjadi pelajaran. Langkah kaki keduanya terus menyusuri pantai hingga satu ayunan berhasil melepaskan cengkraman tangannya.
"Gak usah pegang-pegang, modus!" celetuk Fay begitu terbebas dari pegangan tangan Bagas, lalu tanpa berpikir dua kali ia menginjak kaki pria itu sebagai hadiah yang pantas, kemudian melenggang berjalan melewatinya. "Bukan muhrim!"
Penolakan Fay atas ajakannya menghancurkan reputasi seorang cogan. Sakit di kaki tidak seberapa karena hanya ngilu, tapi tatapan ejekan Nona La bersama team langsung membuatnya malu. Padahal niat hati baik langsung menjadi hambar tanpa bisa diperbaiki lagi. Kenapa harus terjadi di depan banyak orang?
Sudahlah. Bagas menggelengkan kepala mengusir pikiran aneh yang mulai menelusup masuk ke dalam kepalanya, lalu kembali berjalan menyusul Fay yang sudah jauh berada di depan sana. Suara lonceng terdengar begitu nyaring menandakan ada pelanggan yang masuk ke dalam cafe. Datanglah beberapa pelayan yang memang tengah bebas.
"Selamat siang, Nona mau pesan apa?" tanya ramah pelayan pria berkacamata menyambut kedatangan Fay, tetapi yang disambut justru mengedarkan pandangan mencari seseorang yang katanya sudah ada di tempat tersebut.
Belum juga menemukan orang yang dicari, seseorang sudah main tarik tangan tanpa permisi. Tubuhnya berputar hingga menghadap wajah yang selalu menjadi alasannya menahan emosi hati, "...,"
"Permisi, bukankah namamu Ififay?" Suara keras yang sedikit terdengar ditahan mengalihkan perhatian Fay dan Bagas secara bersamaan, tetapi posisi kedua insan itu begitu dekat dengan jarak dua puluh sentimeter.
.
.
.
__ADS_1