Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 22: KELUARGA


__ADS_3

Assalamu'alaikum," laungan salam dari luar yang terdengar hingga ke dalam rumah.


"Waalaikumsalam," sahut dari dalam yang terdengar bersambut suara langkah kaki mendekat.


Benar saja, tidak perlu menunggu terlalu lama. Seorang pria dengan rambut poni depan panjang membukakan pintu menyambut tamu, "Dek, kok gak ngabarin kalau mau datang? Ayo masuk."


Diraihnya tangan sang kakak. Menyalami seraya mengecup dengan khidmat, begitu juga dengan Rey yang meniru apapun yang istrinya lakukan. Tetapi tidak dengan Bagas, karena pria satu itu lebih nyaman hanya berjabat tangan saja.


Mereka masuk ke dalam rumah. Asma mengedarkan tatapan matanya, seluruh sudut ruangan yang masih sama. Meskipun ada beberapa perbedaan dengan adanya perabotan baru, mungkin disiapkan untuk acara nanti. Ketika melihat ibu datang, gadis itu langsung menghamburkan diri memeluk hangat.


"Aku kangen ibu. Yuk ngopi, Bu." Ajak Asma membuat Rey dan Bagas saling memandang.


Tentu kedua pria itu heran. Sarapan pagi saja, gadis itu sudah meminum kopi hitam, sedangkan jarak waktu belum ada satu jam. Masa iya mau minum kopi lagi? Sudah pasti akan membuat perut kembung. Ingin mencegah, tapi melihat kebahagiaan Asma. Hati mereka hanya bisa mengalah.


Ibu dan anak berkumpul bersama keluarga yang lain. Tidak ada jarak, atau perbincangan yang sungkan. Rasanya seperti keluarga kandung, bahkan Rey harus berusaha sebaik mungkin untuk adaptasi. Keluarga sederhana dengan cinta yang besar.


Pantas saja. Sikap istrinya tidak bisa ditebak dalam sekali pertemuan. Rupanya kehidupan gadis itu sangat jauh dari ekspektasi yang ia simpulkan. Keluarga tempat pertama yang bisa menjadi sandaran, dan berbagi suka dan duka. Semua pelajaran di serap seiring waktu.


"Ndu, apa kalian tidak mau ke Temanggung dulu untuk menengok nenek?" tanya Sang kakak yang lebih akrab memanggil adiknya dengan panggilan ndu yang berarti nak.


Asma menoleh ke arah Rey. Dimana suaminya tengah sibuk bermain bersama salah satu keponakannya yang masih berusia lima tahun. "Belum kami pikirkan, Mas. Sebaiknya selesaikan acara dulu, baru bisa membuat keputusan mau bagaimana untuk ke depan."

__ADS_1


Sang kakak manggut-manggut memahami penjelasan dari adiknya. Satu yang ia rasakan. Lega. Setelah mendapat kabar Asma menikah dengan pria yang bisa bertanggung jawab. Beban pikiran seorang kakak terasa lepas dari pundaknya.


Perasaan yang sama, seperti perasaan orang tuanya. Selama ini, mereka hanya mengkhawatirkan akan masa depan si putri bungsu. Gadis yang selalu menjauhi pergaulan, bahkan terlalu penyendiri. Takdir membawa hubungan baru dengan peresmian dalam janji suci nan sakral.


Kehadiran keluarga besar, membuat suasana rumah itu benar-benar hidup. Beberapa tetangga bahkan mulai berdatangan hanya untuk melihat siapa suami dari Asma. Mereka bukan hanya kaget, tapi juga penasaran. Apakah mungkin, gadis yang dingin dan pendiam menikah dengan tunangannya?


Sayangnya, rasa penasaran itu harus pupus dengan penolakan Ibu Zulaikha. Dimana istri Ayah Rasyid tidak memberikan izin untuk menantunya keluar dari kamar. Drama pun tidak bisa terelakkan. Akhirnya hanya ada kekecewaan para tetangga yang memiliki hobi cari sensasi.


"Apa mereka pada kurang kerjaan ya? Bisa-bisanya mau main nyelonong gitu aja ....,"


Pelukan dari belakang menghentikan gerutunya. Tangan yang melingkar memeluk seraya memberikan kecupan hangat, "Ibu, jangan marah-marah. Udah biasa juga, tetangga memang kurang bahan bakar gosip. Jadi biarkan saja."


Begitulah cara seorang putri mengembalikan kesabaran ibunya. Hanya pelukan hangat dengan bisikan lembut. Hati yang memanas akan meredam dalam emosi kasih sayang. Keluarga besar yang mengutamakan kebersamaan. Di tengah persiapan, Rey dan Bagas mencoba untuk menjadi bagian dari keluarga Ayah Rasyid.


Pukul 20.00 WIB. Suara canda tawa memenuhi rumah sederhana. Malam tak berbintang, tetapi penuh dengan cahaya kebahagiaan. Momen seperti malam ini, entah sudah berapa lama menjadi impian orang tua Asma.


Namun, ditengah kebersamaan itu. Rey memperhatikan setiap tindakan istrinya yang ternyata tetap pendiam dan lebih banyak menjadi pendengar setia. Padahal obrolan dari kakak perempuan, bibi dan lainnya sangat beragam. Apakah memang sang istri terbiasa diam?


Selangkah lebih maju untuk mengenal kepribadian Asma. Terkadang ia melihat pantulan sikapnya pada tindakan sang istri. Diam tetapi mengamati segalanya. Ketika sesuatu tidak dapat diterima dalam hati atau pikiran. Gadis itu akan mengutarakan dengan cara unik.


Lamunannya buyar karena senggolan tangan yang terus mengganggu. Sesaat menoleh ke samping. Dimana Bagas duduk di sebelahnya. Sang sahabat mengkode untuk keluar rumah. Tak mungkin menolak. Kedua pria itu beranjak dari tempat duduk, lalu berjalan meninggalkan ruang tamu.

__ADS_1


Hembusan angin malam menerpa. Semribit dengan hawa dingin yang menusuk. Apakah musim mulai berganti? Entahlah. Keduanya hanya ingin menikmati malam. Kesibukan selama beberapa hari, membuat kedua sahabat itu tidak memiliki waktu untuk sekedar ngobrol sebagaimana biasanya.


Bagas menatap langit nan gelap. Pernikahan Rey adalah kebahagiaan yang tidak akan pernah tergantikan. Rasanya tanggung jawab sebagai seorang sahabat terpenuhi dengan baik. Namun, ada yang mengusik hatinya. Sesuatu yang tidak sengaja di dengar dari obrolan keluarga Asma.


Melihat keraguan pada diri sahabatnya. Rey memegang bahu kanan pria yang duduk di kursi plastik, tetapi wajah mendongak menatap langit. "Ada apa, Nando? Apa yang mengusik pikiranmu?"


"Rey, boleh aku tanya satu hal?" Bagas mengalihkan tatapan matanya, jujur hatinya tidak siap untuk mengatakan apa yang mengusik pikirannya pada sang sahabat.


Suara yang ragu dengan tatapan dilema. Rey bisa merasakan ada yang tidak beres. Ekspresi dari Bagas selalu tidak enak dipandang. Setiap kali bertanya akan pertanyaan, tetapi berujung dengan pernyataan yang menyakitkan. Namun, siap, tidak siap. Akan lebih baik mengangguk memberikan persetujuan.


"Apa kamu tahu tentang pertunangan Asma dan ...,"


"Tidak." Jawab dari belakang begitu singkat dan jelas menusuk telinga, membuat Rey dan Bagas menoleh ke belakang.


Asma berdiri di belakang mereka hanya berjarak dua meter, sedangkan pintu rumah tertutup rapat. Apakah gadis itu mendengar semuanya? Pertanyaan yang aneh. Dia baru saja menjawab, maka sudah pasti mendengarkan.


Langkah nya berjalan menghampiri kedua pria yang kini menjadi bagian kehidupannya. Satu hal yang bisa dipastikan. Rey menganggap Bagas sebagai saudara, begitu juga dengan Bagas yang menganggap suaminya sebagai seorang adik. Sekilas cerita akan kehidupan kedua pria itu, ia sadar bagaimana ikatan terjalin seerat keluarga inti.


"Apakah masa laluku penting? Jika iya, dengarkanlah." ucap Asma berdiri menatap langit malam.


Serpihan ingatan yang tak ingin dia kenang. Sekali lagi mencoba untuk disatukan. Setiap bagian yang akan menyisakan rasa sakit tak berdarah. Rasa yang tidak bisa ia ungkapkan menjadi bait puisi. Tanpa ragu, Asma menceritakan kisah hidup antara dia dan masa lalu. Buku yang tertutup, kembali terbuka.

__ADS_1


Setiap kata yang keluar, membuat Rey memejamkan mata. Rasanya ingin sekali menghentikan cerita yang manis di awal, tetapi semakin jauh hanya ada pengorbanan dari istrinya. Bagaimana bisa, seorang gadis remaja menjadikan hubungan sebagai proses pendewasaan diri?


Bukan hanya Rey yang merasakan sesak di dada. Bagas tak kuasa menahan bendungan air mata yang mengenang. Satu pertanyaan, justru membuat luka lama kembali terbuka. Ia salah karena meragukan Asma. Sungguh naif akan satu kabar yang ia dengar hingga mempertanyakan kesetiaan gadis yang ia pilihkan untuk sahabatnya.


__ADS_2