
Diletakkannya nampan di tengah, lalu duduk di depan sang kakak sepupu. Keduanya saling berhadapan. "Minuman yogurt untukmu, dan soda untuk gue. Mau langsung dipotong gak cake nya?"
Gemas dengan cara Nau yang masih terus saja mengalihkan perhatiannya. Ia hanya ingin tahu, bagaimana pemuda itu putus dengan sang pacar. Dimana kemarin masih dengan tegas mengatakan bahwa Cleo kekasih idaman yang paham akan situasi dan kondisi seorang pemuda dengan segudang kesibukan.
Seorang pemuda dengan rutinitas harian yang mengalahkan jadwal menteri. Dimulai dari kuliah, ekstrakurikuler, beberapa jenis pelatihan, waktu kumpul bareng sama teman dan ditambah seringkali ikut turnamen. Tidak perlu dibayangkan seberapa sibuk seorang Naufal Bramantyo. Lalu, dimana menemukan gadis yang siap berkompromi akan semua waktu itu?
Bukannya tidak percaya pada dunia saat ini karena ia juga seorang gadis. Dimana emosi, pemikiran dan kenyataan terkadang tak sesuai harapan. Meski bisa menemukan pasangan yang sesuai, lalu bisa saling beradaptasi. Belum tentu bisa mempertahankan hubungan. Yah, namanya juga bukan jodoh.
"Oke, Gue jelasin, tapi berhenti natap tajam gitu." Sambung Nau karena tak mendapatkan jawaban, tetapi justru tatapan serius menyelidik terpatri memandangnya. "Gue udah putusin Cleo karena dia selingkuh."
Raut wajah tenang, bahkan tidak ada keterkejutan. Tumben. Apa jangan-jangan Ifi sudah tahu? Jika kekasihnya menyimpang. Eh, jadi suudzon. Padahal sudah jelas. Sang kakak sepupu belum pernah ketemu dengan Cleo yang notabene memiliki kehidupan sibuk sebagai seorang mahasiswi di Universitas yang berbeda darinya.
"Jadi, sekarang status single nih? Apa cuma itu alasan kalian putus?" tanya Ifi memastikan bahwa dugaannya tidak salah dari sasarannya.
Satu pertanyaan yang mengingatkan Nau pada beberapa kenangan masa lalu. Rasa yang pernah ada, ia mencoba menepis itu dengan tegukan soda yang menyegarkan. Pikiran terasa berat, tapi lebih berat angkat beban. Jadi, tetap bisa diatasi meski cukup menyakiti hati.
"Yah, tadi gak sengaja lihat Cleo lagi suap-suapan ama cowok barunya atau bisa dipanggil simpanan. Spontan aja, gue putusin tuh anak di depan umum." Nau menjelaskan dengan serius, tangannya mengepal membuat botol dalam genggaman mleyot yang langsung meluberkan sebagian soda hingga membasahi tangan. "Gue gak salah 'kan?"
Kecewa? Sudah pasti. Tidak seorangpun ingin dikhianati. Apalagi baru merengkuh manisnya sebuah hubungan dalam kebersamaan. Bagaimanapun ada cinta yang pernah menjadi titik penyatuan rasa. Pemahaman yang menjadi kedekatan. Lalu, apa ini salah cinta? Tidak karena yang salah hanya persepsinya saja.
__ADS_1
"Jujur, Cleo salah karena selingkuh, dan keputusanmu juga benar." Ifi mengambil botol yogurt, lalu membuka tutup botolnya. Bukan untuk di minum, tapi di tuangkan ke dalam botol soda milik Naufal. "Coba cicipi!"
Seketika Nau mengernyitkan dahi. Soda dicampur yogurt? Apa kakak sepupunya lagi bereksperimen? Ada-ada saja, tapi tatapan mata tak terbantahkan terus terpatri menatapnya. Mau, tak mau harus mencicipi. Meski hanya setetes saja. Ditutupnya hidung, lalu mencoba meminum eksperimen dari seorang saudari.
Rasanya aneh, air soda yang harusnya terasa segar berubah menjadi ampang. Tidak ada rada yogurt sedikitpun. Penilaian yang di dapat. Tidak patut untuk dicontoh dan jangan coba-coba untuk meniru. Ekspresi wajah Nau cukup jelas tanpa perlu dijelaskan.
"Setiap hubungan harus saling melengkapi. Ibarat soda yang terlalu banyak, dan yogurt yang hanya sedikit. Tentu tidak seimbang karena persentase tidaklah sama. Bukankah, aku pernah bilang. Boleh sibuk, boleh meraih mimpi, tapi ketika kamu memiliki seorang kekasih. Coba seimbangkan."
"Pria berpikir, wanita diam karena memahami dan mau berkompromi. Sayangnya satu pemikiran ini, membuat para adam lupa. Jika hawa juga manusia biasa. So, move on. Next, buatlah hubungan yang lebih sehat dan bisa saling berkompromi satu sama lain."
Benar sudah. Nau diam mendengarkan ceramah dari kakak sepupunya. Jangan menyela karena setiap kata merupakan bentuk kasih sayang. Sebagai seorang pria, sedikit tersentil, membuat telinga panas berdengung, tapi ketika membuka pikiran dan mau menerima. Itu memang kenyataan yang kadang terlupakan.
"Nando, atur persiapannya. Aku akan bawa Asma ke kamar untuk istirahat." Jelas Rey hanya di balas acungan jempol sang sahabat.
Tidak rumit, tapi harus menurut. Begitu sadar, istrinya langsung merajuk untuk pulang. Sudah mencoba beberapa cara, tapi tidak mempan. Akhirnya, melakukan kesepakatan. Dimana Asma bisa pulang, jika bersedia mengikuti terapi yang akan dibimbing langsung oleh dokter ahli.
Awalnya menolak, hingga Dokter bertindak langsung dengan memberikan penjelasan panjang kali lebar. Sebenarnya bukan setuju atas keinginan sendiri. Lebih tepatnya terpaksa dan untuk sepakat. Sang istri juga meminta syarat yang tidak ingin di tolak.
Hampir saja, transaksi gagal total. Namun, setelah saling berkompromi. Semua senang dalam keterpaksaan. Aneh, tapi lebih baik. Setidaknya setiap orang mendapatkan keinginan masing-masing. Maka, tidak masalah jika harus berkorban demi satu sama lain.
__ADS_1
"Tuan, Nona, selamat datang." Sambut Bibi Jia dengan senyum ramah sembari membukakan pintu utama.
"Bi Jia, tolong siapakan kamar tamu untuk dua orang dan juga pastikan ruang olahraga lebih diperhatikan saat melakukan bersih-bersih." tegas Rey tak ingin mengulang perintah.
Bibi Jia langsung menganggukkan kepala, lalu membiarkan kedua majikannya pergi meninggalkan depan pintu. Sedangkan ia menutup pintu utama kembali. Selama ini, majikan selalu sibuk bekerja, tapi setelah ada satu wanita yang menjadi pelengkap. Rumah terasa mulai memiliki kehidupan. Termasuk Tuan Muda yang mulai memperhatikan hal kecil sekalipun.
Keluarga adalah tempat berbagi kasih sayang. Terkadang orang lupa bersyukur. Merasa kekurangan. Andai menoleh, dan menyadari bahwa tidak semua orang memiliki kehidupan sebaik yang kita jalani. Sayangnya, semakin dunia maju. Justru orang berlomba-lomba mendongak ke atas hingga lupa, dibawah masih banyak lumpur dan duri yang tajam.
Akhirnya, Rey bisa melihat istrinya kembali berbaring. Sebenarnya ia khawatir karena gadis itu, tidak ingin ada selang infus di tangan. Wajah pucat bermata sayu. Pasti kelelahan dan memang membutuhkan waktu istirahat yang lebih. Setelah menyelimuti tubuh wanitanya, ia tak lupa mematikan AC kamar agar tidak menambah rasa sakit sang istri.
"Kenapa tidak tidur?" Ditatapnya mata coklat yang sipit, "Pejamkan matamu."
"Mas, apa yang ku dengar benar? Acara resepsi akan dilangsungkan seminggu lagi?" tanya Asma yang tidak sengaja mendengar obrolan Rey dan Bagas saat dirumah sakit.
Pertanyaan sederhana dan tidak harus berpikir panjang kali lebar. Selain menganggukkan kepala seraya menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah manis istrinya. Entah kenapa, pertanyaan itu seperti menyimpan sesuatu. Apakah gadisnya memiliki impian? Seketika ia tersadar. Acara resepsi pernikahan itu, bukan hanya untuknya, tapi untuk istrinya juga.
"Aku baru merencanakan, apa saranmu untuk tema resepsi pernikahan kita? Atau mau bicara langsung dengan pihak WO nya?" tawar Rey mengubah haluan.
Sebenarnya semua sudah diputuskan, tapi jika acara nanti tidak sesuai dengan harapan Asma. Apa arti dari kebahagiaan? Resepsi juga hanya akan dilakukan sekali dalam seumur hidup. Jika dengan perubahan rencana harus menambah biaya anggaran. Tentu tidak mempermasalahkan berapa banyak lembaran uang yang harus dikeluarkan.
__ADS_1