
Pemuda dengan penampilan casual, rapi, wangi berjalan menghampiri Fay. Langkah kaki masih stay tengah hingga seorang pelayan mengingatkan lantainya licin, sontak saja pemuda itu menundukkan pandangan. Betapa tercengangnya ia ketika melihat kekacauan yang terjadi di acara sang kakak.
"Nau! Jangan ngelamun, Lo, ikut gue aja." Fay beranjak dari tempatnya, langkah kaki memutari area bekas hukuman untuk Elora. Kemudian menarik tangan adik sepupunya menjauh dari semua orang.
Naufal Bramantyo bersama tim proyek tugas kampus memang datang secara bersamaan. Meski teman lain menyusul setelah Nau sampai ke atas. Siapa yang tidak terkejut dengan ruangan pesta yang wow berantakan seperti baru saja ada guncangan alam. Sehingga Fay harus meluruskan masalah sebelum dunia perkepo-an dihuni saudaranya.
Rooftop samping hotel menjadi pilihan Fay untuk ngobrol bersama Nau. Ia tahu benar bahwa pemuda satu itu memiliki banyak pertanyaan, maka tugasnya untuk menceritakan apa yang terjadi. Semua kisah dari awal kedatangannya ke kediaman Reyhan demi meet up bersama Asma.
Nau menyimak tanpa menyela sedikitpun. Kisah cinta yang cukup rumit bahkan banyak duri di sepanjang perjalanannya. Sesulit itukah? Jika diperhatikan, sang Kakak online masih saja tenang dan tidak gegabah. Akan tetapi kakak sepupunya sendiri benar-benar dipenuhi emosi yang membara.
Selama satu jam kisah rumah tangga diakhiri dengan helaan napas panjang, "Jadi, apa gue harus minta maaf ama tuh tanduk bercula devil? Ogah gue, dikira lagi main-main kali.''
"Ifii, istigfar! Elo ini tumben bener blak-blakan gini. Ka Asma dan semua anggota keluarga bisa atasi, bukan? Apa elo harus sejauh ini bertindak?" tanya Nau. Dia tidak habis pikir dari mana ide gila atas hukuman untuk si pelakor.
__ADS_1
Sejujurnya, ia salut atas pembelaan yang dilakukan sang kakak sepupu. Hanya saja tindakan tersebut melewati batas normal. Dimana bisa saja berubah menjadi laporan ke pihak berwajib. Siapa sangka akan menjadi sebuah tragedi? Ia saja masih mencoba untuk percaya dengan kisah yang begitu complicated.
Fay melirik ke arah Nau yang berdiri di sebelahnya, "Coba gue tanya. Seandainya yang di posisi Ka Asma itu gue, elo gimana? Mau diem aja kaya patung. Gak kan?"
Pertanyaannya jelas seperti tamparan yang menyudutkan. Apa mungkin untuk diam ketika yang mengalami orang terkasihnya. Ia sadari bahwa hati hanya mengutamakan Fay dan bukan Ka Asma. Sementara kakak sepupunya sudah menganggap Ka Asma sebagai kakak.
Hubungan hati yang tidak bisa dijabarkan. Walau demikian, ia tidak menyalahkan karena Fay memiliki kepekaan dan bisa merasakan seseorang yang tulus. Jika tengok ke belakang, Ka Asma juga melakukan tugas sebagai saudara dengan membuatnya yakin untuk selalu mendukung keputusan saudara sendiri.
"Gue gak paham, kenapa semua cowok gak peka. Nau, wanita bisa aja hidup tanpa pria, tapi gak semua cowok bisa hidup tanpa wanita. Ka Asma itu bukan wanita yang main cakar! Noh, contoh Suketi dikirim balik ke desa plus gaji double. Padahal niat hati merebut suaminya.
"Disini, gue cuma lakuin yang hati katakan. Ka Asma bisa menangani masalahnya sendiri tanpa bantuan ku. Elo, masih belum tahu gimana kesabaran wanita satu itu cuma buat kondisi tetap kondusif. Rey beruntung istrinya adalah Ka Asma. Jika wanita lain? Gue gak bisa bayangin karena serangan dari berbagai arah.
"Gue gak minta apapun ke elo, tapi coba pahami kami sama rata. Kamu, aku emang saudara sejak dilahirkan dan Ka Asma saudara online rasa keluarga. Di dunia yang makin tua, kehidupan memberi kesempatan dan harapan. Jangan pura-pura gak paham seperti apa karakter masing-masing, Nau." ungkap hati Fay tanpa tedeng aling-aling.
__ADS_1
Setiap pembenaran berasal dari kenyataan kehidupan. Tidak salah, bahkan sangat bisa diterima. Apakah dia yang terlalu kaku? Ka Asma tidak bisa dianggap asing karena kedua wanita itu selalu berusaha memberi kebahagiaan untuk satu sama lain. Entah Fay tahu atau tidak tentang janjinya pada sang kakak online untuk mendukung setiap keputusan saudara sepupunya.
Nau menahan napas, kali ini dia tidak bisa berbicara gegabah. "Kalian berdua memang satu koin dari dua sisi berbeda. Aku merasa tanpa diriku pun, kalian bisa saling melindungi satu sama lain. Bukankah demikian?"
"Nau, Aku gak maksud buat nyudutin kamu. Believe me, semua yang terjadi harus dibasmi. Wanita seperti ... Sudahlah, mood ku anjlok ingat nama itu. Sebaiknya kita balik! Kasian temen geng loe yang pasti cuma bengong." cakap Fay menyudahi sesi perdebatan mereka.
Tanpa menunggu jawaban, langkah kaki berjalan menjauhi rooftop. Nau terpaksa ikut menyusul. Hati selalu berkata jujur, begitu juga dengan obrolan yang lepas kendali sang kakak sepupu. Dunia ternyata sempit ketika bertemu orang-orang terkasih yang memberikan warna kehidupan.
Kembali keruangan aula, dimana semua orang sudah membubarkan diri. Akan tetapi pihak pengelola masih di tempat tersebut dan tengah membereskan kekacauan. Fay mengajak Nau untuk keruangan lain dan benar saja. Keluarga bersama teman-teman sang adik sepupu ada disana.
Satya beranjak menghampiri kedua insan yang baru saja masuk, "Kalian dari mana? Syukurlah terhindar dari amukan singa. Beh, aumannya menggetarkan jiwa. Ternyata orang berpendidikan bisa murka juga, ya."
Pengaduan Satya, membuat Fay mengedarkan pandangan mata kesekitarnya. Tidak ada wajah yang menjadi tujuan pencariannya, "Dimana dia?"
Nau mengernyitkan dahi, ia tak paham maksud dari pertanyaan kakak sepupunya. Satya saja membicarakan siapa, ia pun juga tidak tahu. Yah sebuah kisah tanpa nama, gimana mau paham? Benar-benar tidak bisa dimengerti.
"Si singa? Keluar ruangan sih buat anter keluarga Ka Asma kembali ke kamar." jawab Satya tanpa beban.
Setelah mendapatkan jawaban yang tepat. Fay pamit terlebih dahulu untuk melihat keadaan yang lain dan meminta Nau agar stay bersama keluarga mereka. Kepergian gadis itu di iringi tatapan mata nanar dari arah tempat duduk paling belakang di dalam ruangan tersebut. Siapa lagi, jika bukan Fatur.
Apa semua ini udah fix? Dia milih cowok kasar yang bisa bikin orang jantungan. Apa gak salah? Sudahlah, mending hari ini langsung pulang ngurus kerjaan.~batin Fatur meraih kesadarannya kembali untuk tetap waras.
__ADS_1
Dilema yang harus diakhiri menjadi keputusan milik Fatur, sedangkan Fay menyusuri lorong hotel mencari keberadaan Bagas. Hatinya merasa harus bertemu pria satu itu karena perbincangan mereka berdua masih belum usai. Kenapa tiba-tiba memikirkan sesuatu yang tidak pernah terbayangkan?
"Mas! Apa kamu lihat Tuan Bagas?" tanya Fay menghentikan seorang pelayan yang memakai pakaian seragam pihak WO.