
Keduanya berpisah. Dimana Rey berjalan menaiki anak tangga, sedangkan Bagas memilih ke ruang kerja. Namun, pria itu tengah berusaha untuk menghubungi seseorang. Hanya saja orang yang dihubunginya tak kunjung menerima panggilannya. Entah apa yang sedang dilakukan sang anak buah. Ingin sekali mengumpat, tetapi percuma. Kini hanya bisa menunggu hingga suara dering terhenti, lalu mencoba lagi dan lagi.
Tak mengubah kesibukan menjadi kedamaian. Diletakkannya ponsel ke atas meja, lalu mengambil beberapa file pekerjaan yang tersimpan berjejer rapi di rak meja. Tiba-tiba saja terpikirkan soal proyek yang baru setengah jalan. Dimana proyek itu mengharuskannya untuk pergi meninggalkan negara Indonesia, sedangkan situasi tidak memungkinkan.
"Apa sebaiknya Rey dan Asma saja yang pergi?" Tangannya menarik kursi, kemudian duduk seraya membuka file pertama. "Jika iya, bisa dengan dalil pergi untuk honeymoon, tapi sepertinya tidak mungkin."
Sepuluh hari kedepan akan digunakan untuk program pemulihan kesehatan. Akan tetapi enam hari sebelum sepuluh hari berakhir menjadi hari terpenting dalam hidup keluarganya. Bagaimana bisa mengusik semua itu? Apakah harus mengatur ulang jadwal pertemuan? Keputusan yang hanya bisa dilakukan oleh Rey seorang.
Bukan bimbang, ia hanya merasa tidak seharusnya mengganggu satu bulan pertama kehidupan baru sang saudara. Selama ini Rey bekerja pagi, siang dan malam tanpa mengenal lelah. Di saat para karyawan menikmati liburan tahun baru atau hari raya saja. Saudaranya memilih untuk membereskan deadline tahunan. Workaholic.
Sesuatu harus dilakukan agar acara resepsi tetap berjalan lancar, tanpa berpikir lebih lama. Panggilan telepon di alihkan ke nomor lain, sesaat menunggu hingga suara sapaan terdengar dari seberang. "Jeni, antar berkas yang harus Bos tandatangani. Sekarang!"
__ADS_1
Singkat sekali panggilan yang langsung di akhiri secara sepihak. Untuk apa berbicara lama? Jeni adalah sekertaris yang bekerja menjadi anak buah pertamanya. Namun, bukan berarti. Wanita itu memiliki akses untuk dekat dengan Rey. Disinilah posisi penengah diperlukan agar bisa mengoperasikan perusahaan dengan bantuan makhluk lain.
Bukan tanpa alasan juga, menyebutkan Jeni sebagai makhluk. Wanita itu mirip ulet bulu yang nempel di ranting pepohonan. Jika sampai tahu bahwa superhero yang selalu menjadi pujaan hatinya telah beristri. Kemungkinan besar si sekertaris akan jatuh pingsan selama tujuh hari tujuh malam.
Meninggalkan ketegangan Bagas yang mencoba untuk mencari solusi atas masalahnya, di kota lain. Tepatnya di sebuah rumah. Anak-anak baru saja berpamitan, lalu naik memasuki mobil satu persatu. Mereka tak lupa memasang sabuk pengaman agar tetap safety. Rombongan travelling ready untuk meninggalkan Jawa Tengah yang menjadi kebanggaan mereka.
Satu mobil di huni empat orang, sedangkan mereka menggunakan tiga mobil agar bisa membawa peralatan yang memang memakan tempat. Berteman suara radio FM dengan penyiar terkenal yang bernama Bang Fatur. Orang memanggilnya Si Abang Cinta. Bukan karena tampan, tetapi tema lagu yang dibawakan selalu romantis dan pria yang mengaku single itu, selalu memberikan ramalan yang tepat.
"Nau, mau?" tawar Fay menyodorkan kacang garuda yang menjadi cemilan selama perjalanan, meski mobil baru saja meninggalkan halaman rumahnya. "Ya sudah, buat aku aja. Gak mau 'kan?"
Maka, kelima orang tersebut yang akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan rapalan secara ekslusif. Masuk akal? Sebenarnya tidak masuk logika. Itu pemikiran Fay yang memilih mengabaikan bualan dari dalam speaker yang terdengar konyol. Diturunkannya jendela kaca, membiarkan sepoi angin menerpa wajahnya.
Beberapa saat hanya tersenyum sinis mendengar beberapa hasil ramalan yang berhasil menghubungi Bang Fatur, tidak habis pikir dengan cara manusia yang mempercayai penglihatan dari sesama manusia. Bukankah yang harus dipercaya hanyalah Allah? Kenapa mereka berburu kebenaran dan ingin mengetahui masa depan. Jika pada akhirnya tetap mengikuti alur kehidupan.
Ditengah keluhan yang ada di dalam hatinya. Perhatiannya teralihkan dengan audiens yang merupakan nomor tiga dari calling lucky untuk bisa berbincang dengan Bang Fatur. Suara yang berat dengan nada tegas. Seperti memiliki beban hidup, tetapi sulit mengungkapkan. Tidak tahu kenapa, suara itu mengalir bergema menelusuri gendang telinga.
__ADS_1
Baiklah, Tuan X. Gambar tangan Anda sudah aku terima. Mari kita lihat, bagaimana kehidupan Anda akan berjalan setahun ini." Fatur yang berada di studio memulai keahliannya, membaca garis tangan untuk melihat prediksi sesuai dengan nasib sang audiens. "Wah, sudah dekat dengan jodohnya. Sabar, Tuan X. Jodoh otw menjemput pangeran impian, tapi ada satu masalah."
Fatur kembali memperhitungkan rasi bintang dengan garis tangan si Tuan X. Suara helaan nafas panjang terdengar begitu jelas. Apakah kali ini, so abang penyiar frustasi tidak menemukan jawaban? Ia pun tidak tahu, dan hanya bisa menunggu. Sesaat berpikir, andai ramalan bisa menunjukkan jalan menuju jodohnya. Sudah pasti menjadi audiens pertama yang mendaftarkan diri sebagai pasien.
"Tuan X, hindari perjalanan dalam bentuk apapun. Perjalanan ke luar kota, apalagi ke luar negeri selama satu minggu ke depan. Pastikan jodoh Anda bertemu di waktu dan saat yang tepat. Selamat dan semoga berhasil. Omong-omong, inisiatif jodoh Anda adalah berawal dari i dan akhiran a."
"Ifii! Loe, gakpapa bukan?" Nau yang tak sengaja menoleh ke samping tertegun ketika melihat Fay senyum-senyum sendiri. "Kalau laper bilang aja. Nanti bisa berhenti di tempat peristirahatan untuk mengisi amunisi lambung ....,"
Apa tidak boleh senyum? Padahal alasannya tersenyum hanya karena kekonyolan dari acara sang penyiar. Mengenai jodoh yang harus ini dan itu. Jadi apa jodoh akan tertukar atau justru salah alamat? ''Iam fine, cuma kenapa orang harus percaya ramalan? Bang Fatur bukan cenayang kan?"
"Bukan, Fay, tapi dia itu ....," sahut Satya yang sedari awal diam, tetapi tatapan Nau melarang pemuda itu untuk mengatakan siapa Fatur sebenarnya.
Curiga pastinya. Apalagi Satya mengubah jawaban dengan suara siulan seraya mengalihkan perhatiannya pada lalu lalang kendaraan di luar sana. Ditatapnya sang sepupu yang kembali fokus menyetir. Tahu dan paham, jika pemuda satu itu berusaha menghindari tatapan matanya.
"Satya, kamu punya nomor Cleo? Kirim donk ke aku, biar bisa ku ajak ketemuan di Jakarta sekalian liburan bareng." tukas Fay dengan sepenuh hati menikmati ketenangan jiwa, tetapi seketika merasakan lirikan tajam yang siap menerkam. "Buruan, Satya!"
__ADS_1