
Persetujuan mengalihkan perhatian semua orang, tetapi bukan ke arah Fay melainkan teralih pada pria yang menjadi partner kerjasama pihak B yaitu Mr. Axel. Pria itu mengumumkan keputusan untuk tetap melanjutkan proyek meski syarat dan ketentuan serta partner harus diubah lagi.
"Aku juga setuju, tapi dengan dua syarat. Apa bisa?" Fay ikut mengutarakan isi pemikiran yang harus dia katakan secara terbuka karena ia memiliki banyak penekanan di dalam kehidupan.
Jika hanya menyangkut kakaknya, ia tahu Ka Asma bisa memahami dan tidak banyak komplain karena mengenal seperti apa dirinya. Akan tetapi tidak dengan kedua pria yang ada di kamar tersebut. Jelas saja harapan dan kenyataan harus diseimbangkan agar tidak berubah menjadi masalah baru di kemudian hari.
Rey mencoba mencerna keadaan yang tiba-tiba seperti tiupan angin menghempaskan awan di dalam benaknya, sedangkan Asma mempersilahkan Fay untuk melanjutkan ucapan yang harus didengar sebelum semua keputusan berakhir dengan kepastian. Semua harus mendapatkan hak agar bisa menjalankan kewajiban dengan ketulusan hati.
Sementara itu, di tempat lain seorang wanita baru saja keluar dari ruang kerja. Akhirnya jam kerja telah berakhir dan bisa menikmati kebebasan. Langkah kaki menjauh dari lorong dimana ruangannya berada, sesekali mengangguk tersenyum ketika ada yang menyapa. Ramah dengan seulas senyum manis yang selalu tersungging.
Fokusnya hanya berjalan menyusuri lorong hingga tidak menyadari ada yang mengikuti. Tiba-tiba ada yang menarik tangan dengan gerakan gesit membawanya masuk ke sebuah ruangan rawat. Entah kebetulan atau bagaimana? Ruangan itu kosong tanpa pasien, tetapi tangan yang membekap mulut langsung menghentikan niat untuk berteriak.
"Empp?" Tatapan mata melirik ke bawah agar tangan itu menyingkir dari bibirnya, sakit sih tidak. Hanya saja sudah seperti tahanan, "Huft, ngapain kamu kemari? Pake acara menjebak segala. Kurang kerjaan banget tau."
Benar-benar ketus dengan tatapan mata sinis. Itulah yang ia rindukan dari wanitanya. Ketika kesal bisa merayu dengan godaan yang akan selalu menyatukan keduanya dalam kehangatan. Reflek mengangkat tangan, mengusap pipi lembut sang kekasih menghantarkan tatapan manja.
"Jangan ngambek, Sayangku. Aku cuma kangen, lagian kamu ditelpon malah nomor selalu di luar jangkauan. Ponselmu kemana? Jatuh ke sungai, lagi?" Pria itu tak sungkan merengkuh pinggang wanitanya yang kini menempel tanpa jarak, "Apa sambutannya begini? Kiss me, baby."
__ADS_1
"Kiss? Gak ada waktu, lepas!" sinis Wanita itu seraya mendorong tubuh pria di depannya, tetapi pria itu justru semakin mengeratkan pelukan hingga meraup kasar bibir yang selalu menggoda iman.
Pagutan panas yang menjadi penolakan berujung kenikmatan. Tanpa memikirkan tempat, sepasang kekasih itu bermain perang lidah membagi kerinduan hasrat terlarang. Sentuhan yang mematikan semakin terus berkelana tanpa hambatan. Tidak peduli siapa yang memulai. Keduanya tenggelam ketidaksadaran.
Suara decak yang terus mengisi ruangan kosong beralih menjadi aliran panas yang membakar raga. Bukannya menghentikan kegiatan mereka, sepasang kekasih itu semakin liar memainkan peran masing-masing hingga beberapa kancing terlepas begitu saja.
"Stop," Ditahannya tangan si pria yang mulai menuju ke area terlarang, meski tatapan mata sama-sama berkabut penuh hasrat. Ia sadar ruangan itu adalah tempat umum. "Ini rumah sakit, sudah cukup sambutannya. Pergilah!"
"Ouh, come on, baby. Lihatlah junior meronta sudah tegak berdiri. Please sedikit saja." Tatapan memelas yang biasa ia layangkan, tetapi tidak digubris oleh wanitanya yang langsung membenarkan kancing pakaian. "Kali ini aku menyerah, tapi datanglah malam ini ke penginapan."
Kegilaan terbiasa terjadi ketika sama-sama kehilangan akal sehat. Pasangan itu sadar dengan perbuatan tak senonoh mereka, tetapi dengan santai melanjutkan adegan vulgar yang tanpa keduanya sadari menjadi tontonan live seorang suster dari dalam kamar mandi. Suster tercengang dengan adegan yang menggairahkan jiwa mudanya.
Bagaimanapun ia masih gadis polos dan disuguhi adegan yang benar-benar di luar ekspektasi. Antara sadar dan tidak sadar, aliran darah mengalir seperti sengatan hangat yang terus menyebar menguasai pikiran. Ada keinginan untuk merasakan sentuhan sama dari pria tadi.
Kehilangan akal bukanlah sebuah keanehan. Terkadang manusia hilang kendali hingga membawa rasa yang tidak seharusnya untuk digenggam tanpa paksaan. Seperti tatapan mata suster itu, dimana si gadis bergegas mencari keberadaan pria yang terekam jelas di benak pikirannya.
Lorong, demi lorong dilewati seraya mengedarkan pandangan. Akan tetapi tidak menemukan pria yang terus menguasai pikiran hingga mencapai tempat parkir. Barulah tatapan mata menangkap bayangan rupa yang sama memasuki sebuah mobil, tetapi tidak bersama wanita yang berprofesi sebagai dokter.
__ADS_1
Entah apa yang membuatnya berani hingga nekat berlari menghampiri mobil yang masih terdiam di tempat parkir. Langkah kaki melipir melewati parkiran sisi belakang, lalu membuka bagasi yang menjadi keberuntungan dirinya. Meski engap, ia tak peduli dan bersyukur ketika mobil mulai bergerak meninggalkan area rumah sakit.
Perjalanan yang terasa cukup panjang, membuat suster mencoba melihat sekeliling yang hanya gelap dengan sinar sedikit. Akan tetapi dari celah kursi bisa melihat pria yang fokus menyetir dengan tangan satu, sedangkan tangan satunya lagi sibuk mengotak-atik ponsel.
"Kenapa orang dewasa selalu lupa peraturan lalu lintas? Heran deh, kalau kecelakaan siapa yang nanggung? Diri sendiri 'kan." gumam suster itu bermonolog pada dirinya sendiri.
Mobil yang melaju dengan kecepatan maksimal tiba-tiba berputar arah haluan hingga melewati lubang jalan aspal yang terlihat menganga. Sontak saja kepala suster terbentur kursi di depannya, "Awww ....
Ugal-ugalan!"
Suara yang terdengar begitu keras langsung mengalihkan perhatian si pengemudi. Pria itu menginjak rem tanpa aba-aba, membuat mobil oleng seketika. Sekali lagi terdengar suara rintihan dari arah bagasi. Senyuman yang menantang membangkitkan jiwa pemangsanya.
Rupanya ada kelinci percobaan.~batin pria itu, lalu melepaskan sabuk pengaman, kemudian keluar meninggalkan mobil.
Suara langkah kaki yang terdengar semakin mendekat, membuat suster membekap mulutnya kembali dengan mata terpejam berdoa agar tidak ketahuan. Sayangnya siluet cahaya memaksa diri untuk membuka mata secara perlahan. Netra tajam tetapi menghanyutkan menatap dengan keraguan.
"Bocil," Pria itu mengedarkan pandangan mata menyusuri lekuk tubuh si gadis belia yang memakai seragam suster, tidak perlu menjelaskan dari mana asalnya. Semua jelas di depan mata, "Keluar! Apa mau nginep di bagasi?"
__ADS_1
"Aku? Disini aja, Tuan. Gak papa kok, beneran deh." tukas gadis itu benar-benar pasrah karena sudah ketahuan, tetapi bukan di dengarkan justru pria itu langsung merengkuh tubuhnya ke dalam gendongan. "...,"