
Serangan telak dari Elora mencengangkan bahkan langsung membuat para tamu undangan saling berbisik. Wanita itu menyerang tiga sasaran sekaligus tanpa berpikir apa yang akan menjadi dampaknya. Tuan Burhan tak sanggup lagi menahan diri, tetapi tidak bisa berbuat apapun karena putrinya sudah dipenuhi emosi.
Rey mengepalkan tangan, ia ingin sekali memberikan pelajaran berharga untuk wanita kurang ajar seperti Elora. Sayangnya tertahan karena Asma mencekal tangan, "Butterfly?"
"Five minutes, Hubby." jawab Asma meminta waktu agar Jovanka tidak lagi di tempat tersebut, ia hanya menunggu Bagas sampai.
Elora masih menggebu-gebu membuat semua tamu undangan mengikuti arah tujuannya. Terdengar manis, santai tanpa beban pikiran. Tuduhan yang terus dilayangkan masuk dalam perhitungan hingga Bagas datang bersama Fay dari arah berlawanan.
Tanpa basa-basi, Asma mengambil alih Jovanka dari gendongan Mr. Axel. Lalu memberikan pada Jenny yang ikut berkumpul. Sang sekretaris kakaknya tahu harus pergi membawa anak itu dari acara pesta. Langkah kaki yang menjauh mengalihkan perhatian semua orang, tapi Elora semakin menambah ketegangan.
"Percuma disingkirkan, semua orang juga bisa melihat kemiripan antara ibu dan anak. Bukankah begitu para hadirin? Lihat saja warna mata ...," ujar Elora begitu semangat menunjukkan kebenarannya yang hanya bualan.
Asma tersenyum tipis, "Tuan Burhan. Apakah dia benar putrimu? Jika ya, tolong ingatkan menjaga ucapannya."
Tatapan mata tajam menusuk terpatri pada pria yang berdiri di belakang Elora. Seorang ayah harus menahan malu atas tindakan anaknya yang barbar. Ia tahu, kelemahan seorang ayah adalah ego dari anak sendiri. Sebagai seorang putri dari ayah lain, tentu tidak ada perbedaan dalam hubungan.
"Nona Elora!" panggil Asma lebih lembut dari biasanya tapi sangat ditekankan hingga orang-orang sadar bahwa wanita itu tengah menahan diri agar tetap tenang. "Seorang wanita dihargai dari ucapannya dan didengar dari tindakannya."
__ADS_1
Tidak ada lagi yang bisa menahannya karena Elora sudah melewati batas kesabaran. Ketika penghinaan hanya jatuh pada dia seorang, maka bisa dimaafkan. Akan tetapi semua mendapatkan tuduhan. Setiap manusia tidak diperbolehkan menilai sesuka hati. Apakah hal sesederhana itu, terlalu sulit dipahami?
"Jadi maksudnya? Aku ...," Pembelaan Elora tak bisa diteruskan, wanita itu mendadak merasa dibawah tekanan. Tatapan mata Asma yang tenang justru siap menenggelamkan.
Langkah kaki berjalan secara perlahan, "Nona Elora, jika kamu pikir dengan memfitnah ikatan cinta kami, maka bisa mendapatkan suami ku. Maaf saja, itu hanya khayalan mu. Camkan baik-baik, AKU ADALAH ISTRI SAH REYHAN ADITYA." Asma tak ingin lagi main-main dengan wanita seculas Elora.
Suara pengakuan yang bergema menggetarkan jiwa para tamu undangan. Wajah-wajah yang dipenuhi keraguan seketika menunduk merasa malu. Pikiran negatif yang menyapa terbang memudar bersama hembusan angin. Siapa mereka? Sehingga berhak menghakimi kehidupan orang lain.
Rey tak kuasa melihat amarah Asma yang berselimut sesak di dada. Ia tahu benar, istrinya bukan tipe wanita pendendam, tapi melihat emosi yang masih ditahan dan hanya diluapkan seperlunya. Sungguh itu seperti membakar hati dan pikiran sendiri.
Sementara Mr. Axel bertahan diam karena ia ingin memberi kesempatan pada Asma menunjukkan posisi yang sebenarnya. Dimana Elora tidak sebanding dengan wanita itu, Jovanka berhak mendapatkan kasih sayang seorang ibu, meski bukan ibu kandung sendiri.
Benar-benar menyebalkan sikap Elora yang mendadak seperti wanita malang dengan mata berlinang air mata. Cepat sekali wanita itu mengubah mode ekspresi wajah. Dia bilang tidak picik? Lalu sekarang disebut apa? Ratu drama. Fay yang berdiri di belakang bersebelahan dengan Bagas melangkah maju, tapi gelengan kepala sang kakak menghentikannya.
"Baiklah, maaf aku salah." Asma mengikuti permainan Elora, lalu menyunggingkan senyuman termanis di bibir seraya meneduhkan tatapan matanya. "Apa Nona Elora datang ke acara kami hanya untuk mempertanyakan status identitasku saja? Kurasa tidak, jadi niat apa yang membawamu datang?"
Semilir angin yang berhembus membawa Elora ke atas awan. Wanita itu mengusap air mata palsunya, lalu berjalan menghampiri Asma yang berdiri ditengah para tamu undangan. Kemudian mengulurkan tangan begitu saling berhadapan, "Aku datang untuk mengucapkan selamat atas pernikahanmu, tapi bagaimana dengan status aslimu? Apakah ini pernikahan pertama atau?"
__ADS_1
"Elora, JAGA BICARAMU!" Seru Rey tak sanggup lagi diam, sebagai seorang suami, ia bertanggung jawab atas harga diri istrinya.
Langkah kaki yang berjalan cepat berniat menghampiri Asma. Namun baru melangkah maju beberapa langkah, tiba-tiba suara tamparan keras menyentak kesadaran semua orang. Tidak ada lagi senyuman manis, atau tatapan mata meneduhkan. Tangan yang terasa panas menghantarkan kebenaran. Biarlah semua orang paham arti hak manusia.
Nyeri akibat sentuhan lima jari yang menyambut pertanyaan tak berakhlaknya. "Beraninya kau!"
"Why? Apa kamu tidak belajar sopan santun. Semua orang bisa melihat, mendengar dan paham apa niatmu, tapi kamu pikir mereka itu bodoh." Asma mengibaskan tangannya yang masih terasa sedikit panas, "Orang harus belajar menghargai, bukan menjatuhkan. Tuan Burhan, Anda terlalu naif memanjakan ego seorang anak."
Apa yang sudah terjadi, akan, dan belum terjadi. Semua itu biarlah sebagaimana garis takdir yang sudah ditentukan, tapi seorang wanita berhak atas pembelaan harga dirimu sendiri ketika direndahkan. Elora lupa bahwa dia juga seorang wanita. Maka tugas Asma mengingat sebagai sesama wanita.
"Nyonya Reyhan, maafkan atas kelancangan putriku." lirih Tuan Burhan tak bisa lagi bertahan melihat apa yang akan terjadi.
Jujur saja, ia merasa Elora semakin egois hingga melupakan bahwa bisnis mereka masih bersangkutan dengan keluarga Reyhan. Apa yang bisa diharapkan dari putri yang lupa daratan. Obsesi membawa wanita itu terbang ke awan, tetapi lupa akan ketetapan Allah yang tidak bisa dipaksakan.
Miris ketika ada permohonan dari orang tua untuk anaknya yang tidak tahu arti perikemanusiaan. Sungguh dirinya tidak berniat sejauh itu, tapi kewarasan sangat dibutuhkan. Elora dan dia, sama-sama wanita, maka tidak perlu membedakan emosi yang sama-sama memiliki rasa tangguh untuk melakukan perjuangan.
"Pa! Kenapa minta maaf? Sudah jelas dia menamparku, tapi Papa malah minta maaf." ketus Elora setengah membentak Tuan Burhan, wanita itu menunjukkan tabiatnya tanpa harus dipancing orang lain.
__ADS_1
Melihat situasi semakin mencekam, Reyhan merengkuh tubuh Asma. Tanpa peduli pada tatapan geram wanita lain akan cinta yang dia curahkan untuk sang istri. Kecupan hangat bersambut usapan lembut bersambut helaan napas pelan. "Butterfly, calm down!"