Istri Rasa Depkolektor

Istri Rasa Depkolektor
Bab 129: Ternyata ...


__ADS_3

Fay terkekeh pelan melihat hasil dari inspirasi dadakan yang dijadikan sebagai hukuman untuk si wanita tak bermuka. Satu ember berisi bilasan air pertama dari cucian peralatan makan yang sudah dicampur air es sehingga sensasi dingin beraroma amis, bumbu rempah menjadi treatment spesial ala resepsi.


Kemudian ember kedua merupakan kumpulan dari kuah sisa makanan. Baik kuah rawon, soto, bakso, semua mangkuk bekas makanan yang diangkat ke belakang dengan sisanya. Sebenarnya ingin menggunakan air selokan, tapi banyak tamu undangan yang hadir. Maka ia memilih jalan termudah tanpa harus bersusah payah.


Wajar bukan, jika Elora murka karena kini berubah menjadi wanita paling bau. Sayangnya Fay bodoamat dan justru melenggang kaki berjalan menghampiri Asma. Dimana sang kakak masih dalam perlindungan dua pria sekaligus. Terlihat banyak pasang mata kaum hawa yang iri. Bukankah iri itu tanda tak mampu?


"Ka Asma mau komplain?" Fay mencegat ungkapan sang kakak sebelum terlanjur memberikan ultimatum yang pasti akan menyulitkan dirinya. "Wanita itu berpikir, Kakak hanya seorang diri. Apa aku dilarang menunjukkan keberadaanku sebagai seorang saudari?"


Apa gunanya menjawab pernyataan yang memang tidak harus di debat? Ia tahu, bahwa Fay selalu ingin melindungi dengan caranya sendiri. Meski melakukan sesuatu secara berbanding terbalik dengan kepribadian kalem. Tetap saja niat selalu sama dan tidak bermaksud egois. Keberanian itu patut diacungi jempol.


"Setiap tindakan memiliki pertanggungjawaban. Kamu, aku, kita semua tahu itu. Jadi?" Asma membalik tanda tanya pada Fay agar gadis satu itu mengerti bahwa cara yang dilakukan terlalu barbar.


Kemarin kuah bakso mercon dan berakhir ia memanggil dokter yang disarankan Bagas. Sekarang? Apa harus memanggil psikiater atau tukang laundry? Elora pasti sangat malu dengan semua yang barusan terjadi. Jujur saja, agak merinding melihat kelakuan barbar seorang Fay. Apalagi ia tidak tahu, ide segila itu dari mana?

__ADS_1


"Aku tidak tahu tentang hukum, Ka." Fay mengangkat tangan kirinya, lalu menunjuk ke arah Elora tanpa menatap si wanita tak bermuka. "Dia! Bisa menjadi pelakor tak diharapkan. Kemarin menuduh aku menjadi seorang perebut, lalu beralih menganggap Kakak sebagai ... Sudahlah, intinya jangan terlalu baik pada wanita bertanduk seperti dia."


Cara Fay yang frontal, membuat Rey menghela napas panjang. Tidak terbayangkan jika istrinya adalah gadis itu, "Tenang! Keributan tidak akan menyelesaikan masalah. Apakah hukuman kami tidak cukup?"


"Hukuman kalian cukup untuk para tamu undangan, tapi tidak bagi persaudaraan." jelas Asma yang tidak ingin lagi menikmati drama lagi, lalu dilepaskannya tangan Rey yang masih merengkuh pinggangnya.


Kemudian berjalan menghampiri Fay, "Terimakasih telah menjadi saudara terbaik." Keduanya berpelukan menghadirkan rasa haru untuk semua orang yang melihat arti kasih sayang.


Sahabat atau saudara? Ketika kedua hubungan itu bersatu maka yang hadir hanya keyakinan hati tanpa batasan. Syarat tak lagi bermakna karena cinta mengalir tanpa diminta. Janganlah berkata tak mampu bangkit selama kita memiliki orang-orang terkasih.


"Hadirmu memberi cinta tapi sering tak kurasa,


pergimu memberi luka dan kini kau hadir kembali

__ADS_1


dengan rasa yg berbeda, apakah cinta kita masih


sama atau rasa ini sudah tiada?" Asma merasakan ikatan batin antara dirinya dan Fay. Ikatan persaudaraan dari hati, meskipun mereka bukanlah saudari kandung.


Fay tidak bisa berkata-kata lagi, ia begitu terharu mendengar ucapan Asma. Tak terasa air matanya pun luruh, ya benar Fay begitu menyayangi Asma layaknya saudari kandung. Ia tidak akan bisa menerima ada orang lain yang berusaha menyakiti sang kakak.


"Ka, aku di sini dan tetap akan begitu. Kita ini saudari, kita terikat karena hati kita. Maaf, mungkin sikapku keterlaluan tapi semua itu aku lakukan untuk Kakak." ujar Fay yang sudah berderai air mata. Keduanya tenggelam dalam rasa haru dan kehangatan dekapan.


Memang benar yang Fay lakukan sangatlah salah, tapi itu semua tidak sebanding dengan apa yang Elora lakukan terhadap Asma, itulah yang ada di pikiran Fay.


Semua tamu yang menyaksikan itu hanya mampu terdiam dan merasa terharu dengan apa yang mereka lihat. Ketulusan dan kasih sayang antar saudara yang tidak bisa dibeli dengan apapun.


Fay segera melepaskan pelukan Asma dan berjalan menghampiri Elora yang duduk bersimpuh di lantai dengan kondisi yang mengenaskan.

__ADS_1


"Sekarang lebih baik elo pergi dari sini dan jangan pernah ganggu rumah tangga kakak gue lagi! Gue gak akan segan-segan berbuat lebih dari ini kalau sampai lo ngulangi lagi. Camkan itu!" ujar Fay dengan jari yang menunjuk ke arah Elora.


Elora yang sudah merasa malu akhirnya memilih untuk pergi dari acara resepsi itu. Dengan langkah tertatih dan emosi yang tertahan. Dalam hati ia bersumpah akan membalas Fay dan Asma.


__ADS_2