
"Maybe." Jawab Rey seadanya, ia tak punya kata untuk pertanyaan Bagas yang absurd. "Kamu cek aja sendiri, ponselku di atas nakas."
Cek sendiri? Untuk apa memeriksa. Jika sudah jelas jawabannya. Pasti ponsel sahabatnya polos, tidak ada password, sidik jari atau jenis keamanan yang lain. Jadi sudah jelas Asma bisa mengambil nomor Nona La Sheira dengan mudah. Akan tetapi, tetap saja pertanyaan lain datang menghampiri.
Bagas sibuk melamun memikirkan apa yang sudah terjadi, sedangkan Rey bergegas mengganti pakaiannya dan ingin segera menyusul Asma ke bawah. Ia ingin tahu, apa yang dilakukan sang istri. Yah siapa tahu membutuhkan bantuannya, sedangkan wanita yang sibuk menjelajah pikirannya. Justru tengah memainkan botol yang berlabel coconut oil.
Siapa yang tidak tahu? Fungsi dari satu suplemen penambah kebugaran tubuh itu. Coconut oil sangat bagus untuk program kesehatan dan dokter membawa khusus untuk keluarganya. Setelah mendengar penjelasan panjang kali lebar tentang program pemulihan kesehatan untuk sepuluh hari ke depan.
"Bu Dokter, aku akan setuju dengan semua menu yang Anda katakan, tapi aku punya keluhan." Tangannya terhenti, lalu dilepaskannya si botol coconut oil, kemudian menautkan kedua tangan menangkup wajah. "Silahkan siapkan makanan tanpa micin atau bumbu penyedap apapun. Pastikan saja daftar yang ku coret, tidak Anda buat. Meski itu untuk kesehatan."
"Non, semua menu sudah ditetapkan ....," Suster mencoba untuk memberikan pemahaman pada pasien kali ini, tapi gadis itu tidak tahu seberapa keras kepala gadis yang menjadi pasiennya.
Seulas senyum dengan tangan terangkat menghentikan niat baik sang suster. "Dok, Suster setuju memakan semua menu yang aku tolak. Buah ok, tapi tidak dengan jus seledri. Sayur okay, tapi tidak dengan tumbuhan liar. Jangan salahkan aku, jika masakan tidak akan ku makan."
Sehat boleh saja, tapi bukan berarti penyiksaan. Memakan makanan yang bergizi dengan cara masak yang benar. Tentu sangat bagus untuk kesehatan. Namun, jika bahan yang diolah saja, selama ini tidak pernah tersentuh. Kenapa masih ditawarkan? Keras kepala, ia tahu itu.
Langkah kaki sang suster mundur menyerah, sedangkan dokter yang setidaknya seusia kakak pertamanya hanya tersenyum mendengarkan keluhan yang masih cukup dimaklumi. "Baiklah, ini daftar menu selama sepuluh hari. Coret mana saja yang Nona tidak inginkan."
Sebuah notebook mini di sodorkan ke Asma. Tak akan membuang kesempatan yang ada. Notebook diterima, lalu diperiksa satu persatu nama menu makanan dan bahan yang terkandung di dalamnya. Sangat rinci dengan jumlah persentase kalori, suplai vitamin dan lain sebagainya. Interesting.
__ADS_1
"Suster cantik, pulpennya." Tatapan mata nakal dengan senyum tipis seraya mengulurkan tangan kanannya, membuat si suster menurut menyerahkan pulpen. "Makasih, Sus."
Suara langkah kaki yang terdengar menuruni anak tangga. Tak mengusik kedamaian Asma yang menikmati mencoret daftar menu. Setiap hari ada satu menu yang akan ditolak, tetapi sudah di ganti sesuai pemikirannya. Tentu yang menurutnya baik dan menyehatkan.
Satu persatu menu daily sudah berganti menjadi menu non ekstrim. Setidaknya seluruh catatan dari Bu dokter sangat jelas. Dimana semua akan seimbang. Tidak ada masalah untuk semua itu, kecuali beberapa bahan dan jenis makanan yang memang tidak ia suka.
Tiba-tiba seseorang menyentuh kepalanya, reflek menoleh mendongak hingga tatapan sang suami terpatri tenggelam dalam dirinya. "Sudah selesai?"
"Yes, apa yang kamu lakukan? Menu makanan, bukankah itu dari dokter?" tanya Rey mengalihkan tatapannya, ia mencoba untuk memahami apakah istrinya memiliki masalah.
Asma tidak akan memiliki masalah. Gadis itu selalu siap membuat masalah untuk orang lain. Tidak perlu mengkhawatirkan gadis dengan tabiat yang bisa menjaga dirinya sendiri. Lihat saja suster yang memilih diam dan berdiri di belakang Bu Dokter. Rey terlalu berlebihan, jika mencemaskan si gadis desa yang memiliki akal untuk menangani situasi yang menimpanya.
Apa tidak salah meminta persetujuan darinya? Pasien yang benar-benar akan menguras kesabaran. Di luar sana banyak pasien dengan beraneka ragam keluhan dan juga keras kepala. Hanya saja, pasien satu ini mengeluh, lalu meminta persetujuan, kemudian memeras dengan kesadaran penuh. Apa yang bisa dikatakan lagi?
Setidaknya mereka bukan di rumah sakit. Maka peraturan ketat tidak berlaku untuk pasien satu ini. Suka, tidak suka. Mau, tidak mau. Sebagai dokter harus memberikan perawatan yang terbaik. Tidak masalah jika harus menyesuaikan diri dengan pasien. Lagi pula, kesehatan akan selalu dihasilkan dari dua sisi. Satu sisi makanan yang sehat dan sisi lain ketenangan pikiran.
"Nona hanya memeriksa, Tuan." Bu Dokter membenarkan tanpa ada paksaan, ia sadar harus bersikap lebih dewasa agar bisa menghadapi pasien kali ini.
Pernyataan dokter menjelaskan keadaan. Sayangnya berbanding terbalik dengan pemandangan yang ada di depan mata. Jelas Asma sibuk mencoret daftar menu, lalu menuliskan menu lain. Apa istrinya juga seorang dokter? Kenapa semua menjadi semakin rumit saja. Selama sepuluh menit menunggu, akhirnya berakhir juga.
__ADS_1
Notebook dikembalikan pada Bu Dokter. Ditariknya kursi, lalu duduk. Ia menunggu reaksi dari wanita setengah paruh baya yang masih terlihat awet muda. Beberapa saat hanya ada penantian hingga notebook ditutup meninggalkan senyuman hangat.
"Saya setuju dengan semuanya. Baiklah, Suster mari kita ke dapur. Sudah waktunya untuk memulai programnya. Permisi, Tuan, Nona." Pamit Bu Dokter, membuat tatapan Rey tertuju pada Asma yang diam sembari memainkan pulpen di tangan kanannya.
Sadar benar dengan tatapan mata sang suami yang sibuk memperhatikannya. "Ada yang ingin ditanyakan, Mas?"
"Aku, bisakah aku tanya pada adikku?" Sahut Bagas seraya membawa ponsel Rey, langkahnya pasti, tetapi tak mengantarkan hati Asma.
Dibiarkannya pria itu untuk turun menghampiri meja makan. Ia bisa menerima pertanyaan apapun. Lagi pula, Rey terlalu bersikap canggung. Sebenarnya terkesan dingin, pasti banyak pertanyaan yang dipendam. Meski begitu, masih ada Bagas yang tidak sungkan untuk mengajukan demo dadakan.
Sekarang bukan hal sulit untuk menemukan jawaban dan pertanyaan. Dua pria itu sepaket dalam artian saling mendukung, mengasihi dan melindungi. Bukannya tidak paham. Terkadang lebih baik berpura-pura tidak tahu apa yang sedang terjadi. Maka akan ada pencerahan yang bisa memberikan pembelajaran baru.
Langkah kakinya terhenti. Tepat di antara Asma dan Rey, lalu meletakkan benda pipih milik Rey ke atas meja. Kemudian menjejerkan dengan benda pipih milik Asma. Dua ponsel dengan perbedaan yang sangat mencolok. Satu ponsel bermerk dan satunya lagi bisa dibayangkan harga benda mati itu paling murah di semua gerai penjualan elektronik.
"Pertanyaannya?" tanya Asma tak mempedulikan ponsel yang ada di sebelahnya, membuat Bagas menghela nafas panjang, sedangkan Rey menahan senyum.
Untuk pertama kalinya. Ia melihat Bagas frustasi hanya karena satu ulah dan itu dilakukan oleh istrinya. Benar-benar mengejutkan, tetapi ia ingin tahu. Apa pertanyaan dari sahabatnya itu. Jujur saja tidak paham apa yang tengah mengusik kepala pria satu itu.
"Bagaimana caramu membahas semua persiapan resepsi? Jika Nona La Sheira selalu menggunakan dua bahasa dan itu sudah menjadi logat yang tidak bisa dihilangkan." ucap Bagas yang mana sesuai dengan prediksi Asma hingga membuat gadis itu menyandarkan tubuhnya ke belakang.
__ADS_1