
Niat hati hanya ingin bertanya, tetapi yang didapat justru jawaban skakmat. Kenapa pertanyaan menjadi pernyataan? Jawaban menjadi kebenaran. Adil atau tidak adil? Seketika semua pemikiran berubah. Apakah sudut pandang seorang saudara terlalu sempit?
Sakit rasanya ketika mendapatkan pertukaran yang hanya memiliki satu hasil dari keputusan. Yes or no? Apapun jawabannya pasti memiliki kemungkinan masing-masing, tetapi sebagai seorang adik untuk pertama kali berpikir ulang atas semua tindakan yang sudah terlanjur dilakukannya.
Ia sengaja membawa Fay dengan niat awal mengajak gadis itu untuk menjauh dari mantan, lalu orang tua mengajukan syarat bahwa dirinya harus meyakinkan kakak sepupu agar menerima perjodohan. Seperti setiap keinginan ada jalan karena satu tindakan Fay menjadi pertukaran bersyarat.
Benar yang dikatakan Ka Asma. Apakah keadaan Fay baik? Setelah semua yang dipaksakan terhadap wanita itu? Jika satu perbandingan yang dibalikkan untuk dirinya saja, sudah cukup mengoyak harga diri. Bagaimana dengan keyakinan Fay?
Pantaskah di dalam persaudaraan ada syarat? Jika iya, kenapa harus mengenai masa depan? Satu persatu masalah seperti diwajibkan mendapatkan keuntungan. Padahal Fay hanya ingin memiliki sedikit kebebasan dan juga bisa hidup tenang. Apa itu salah?
Lamunan atas rasa sakit yang menyentuh hati Nau, membuat Asma menepuk lengan pemuda itu. "Aku tahu, kamu saudara yang baik dan bertanggung jawab, De. Akan tetapi, cobalah membalikkan emosi tanpa melepaskan sudut pandang orang yang kamu sayangi."
"Kita terbiasa merasa benar karena itu demi kebaikan. Sayangnya pembenaran milik kita tidak bisa digenggam semua orang. Be wise, De." sambung Asma dengan suara lembut, tugasnya hanya mengingatkan tanpa merusak ikatan.
Rasanya aneh ketika harapan itu tenggelam di antara keyakinan dan keraguan. Ucapan Ka Asma bisa diterima hati dan pikiran, tetapi bagaimana dengan janjinya pada orang tua Fay? Janji sudah terlanjur diucapkan tentu tidak mungkin untuk ditarik kembali. Iya 'kan?
Nau menghela napas panjang, sesaat meluapkan segala rasa yang datang menyapa. "Gue terima semua nasehat Ka Asma, tapi masalah sekarang sudah terlanjur jauh. Gimana aku jelasinnya ya," Ia mengusap wajahnya frustasi akan keadaan yang menjebak.
__ADS_1
Pembicaraan yang terlalu sedikit kata, tetapi apapun masalah yang ada pasti bisa mendapatkan solusinya. Serumit apapun itu, usaha, doa dan waktu akan mencapai jalan akhir dari takdir yang sudah ditetapkan. Manusia boleh berencana, tetapi tidak menetapkan.
"Lakukan satu hal untuk Fay, De. Apapun yang dia putuskan dalam kehidupannya. Ulurkan tanganmu sebagai pendukung pertama. Diantara aku dan kamu, Fay membutuhkan keduanya, tetapi di tengah keluarga? Kamu yang bisa melindungi haknya. Cukup itu saja." pinta Asma tanpa beban hati karena semua sudah seperti yang ia pikirkan dan rasakan.
Satu harapannya yaitu mulai hari ini, Fay bisa lebih bebas mengambil keputusan hidupnya sendiri dan ada yang selalu mendukung serta mengingatkan. Andai jalan yang dipilih salah arah tujuan. Percakapan antara kakak beradik itu menjadi konsumsi semua anak muda yang ada di ruangan tersebut.
Mereka seakan memahami tidak seharusnya mengganggu, maka dari itu diam seperti patung pahatan hingga percakapan berakhir terdengar suara salut karena bisa mengajak seorang Nau berdiskusi panjang kali lebar tanpa ditentang oleh pemuda satu itu. Seorang pemimpin pasti memiliki karakteristik yang menonjol, tetapi Asma juga memiliki sikap.
Widya berjalan menghampiri Asma, tatapan matanya tak henti terpana. Lalu ia mengulurkan tangan kanannya, "Ka, angkat aku jadi adik donk. Please ...,"
"Aku juga!" sahut teman lain yang ikut mengerumuni Asma, membuat Nau tersingkir dengan gelengan kepala heran.
"Ka Asma! Teman lain pada minta dijadikan adik, boleh gak kalau jadiin aku pacar."
Speechless dengan pernyataan salah satu temannya, Nau menatap tajam Satya. Pemuda yang biasanya waras, kenapa hari ini justru konslet? Apa tadi salah sarapan atau semalam mendapat mimpi kejatuhan pelangi. Entah apa yang mempengaruhi anak satu itu, tetapi suasana ruangan tiba-tiba berubah merinding.
Suara derap langkah kaki tegas bersambut deheman keras mengalihkan perhatian semua orang. Teman kelompok Nau langsung mundur berlindung di belakang Asma kecuali Nau dan Satya. Kedatangan Rey dengan wajah datar tanpa senyuman serta geraham mengeras, jelas saja pria itu tengah menahan diri untuk tetap tenang.
__ADS_1
"Coba ulangi!" Tatapan matanya tajam siap menenggelamkan Satya kedalam sumur hitam, enak aja mau jadiin istri sah sebagai pacar abg labil.
Situasi sudah begitu tegang, tetapi sikap Asma masih santai. Wanita itu hanya diam menyunggingkan senyum tipis melihat apa yang akan terjadi. Bukan karena tidak paham, ia hanya menunggu Rey melakukan tindakan pertama. Tatapan Satya yang meminta bantuan untuk diselamatkan, sedangkan suaminya terus menekan emosi pemuda itu.
"Tuan, maafkan teman ...," pembelaan Nau tak sampai akhir karena kakaknya menggelengkan kepala agar ia tidak ikut campur.
Suara tegukan saliva kasar mulai terdengar. Ketegangan semakin mencekam, tetapi tidak ada yang berani bergerak dari posisi masing-masing. Dirasa semua sudah berlebihan, Asma berjalan menghampiri Rey yang berdiri dengan kedua tangan bersembunyi di balik saku celana.
"Sayang!" Ditatapnya wajah yang benar-benar menahan diri untuk tetap diam, "Pemuda itu hanya bercanda. Jangan ambil hati, tenanglah!"
"Bagaimana? Apa kamu akan tenang jika ada wanita lain yang mengatakan hal sama pada ku? Semua orang harus tahu, bahwa kamu istriku." tegas Rey tak ingin mentoleransi sikap yang kekanak-kanakan dari teman adik online sang istri.
Emosi yang Rey genggam adalah rasa cemburu, sedangkan kata yang dia ucapkan berubah menjadi posesif. Bisa dimaklumi, tetapi tidak baik jika diteruskan menjadi kebiasaan. Kadar dari emosi itu sendiri bisa menjadi belenggu cinta bersyarat. Akan tetapi pernikahan bukan rantai yang mengekang.
"Pertanyaan itu, apa harus aku jawab? Hubungan ini bukan tentang publikasi yang harus semua orang ingat. Kita ada untuk satu sama lain. Jika itu tidak cukup, haruskah aku atau kamu memasukkan pihak ketiga?" ujar Asma membalikkan kenyataan yang harus dipahami suaminya.
Ketegasan yang ditunjukkan sang istri, membuat Rey mengembuskan napas pelan. Sadar akan dirinya yang terlalu menggebu-gebu atas kepemilikan. Seharusnya ia paham dan bersikap lebih dewasa menyikapi keadaan dengan ketenangan. Lagi dan lagi hanya bisa merengkuh tubuh wanitanya membiarkan emosi luruh dalam kehangatan.
__ADS_1
Ketegangan berakhir dengan pemandangan romantis sepasang suami istri. Ditengah kehangatan itu, Nau menyadari bahwa hubungan pernikahan tidak bisa diputuskan semudah membalikkan telapak tangan. Hatinya sadar telah berbuat salah menetapkan syarat kebebasan berganti perjodohan untuk kakak sepupunya sendiri.
Sorry, Fii. Gue gak nyangka bakal sejauh ini, tapi gue janji bakal dukung apapun keputusan loe mulai sekarang.~batin Nau memberikan keyakinan akan pilihan yang dirinya tetapkan.