
Menikah tanpa didampingi orangtua pasti menyedihkan tapi yang harus disadari adalah dunia hanyalah persinggahan sementara,tempatnya ujian. Jadi sudah kewajiban setiap manusia belajar ikhlas menerima ketetapan Allah SWT. Boleh merasa sedih tapi jangan berlebihan. Boleh merasakan kehilangan tapi jangan berlebihan pula karena yang berlebihan itu tidak baik hanya akan mendekatkan pada kekufuran.
"Bagaimana saksi sah?" tanya bapak penghulu pada semua yang hadir.
"Sah sah sah..." setelah itu bapak penghulu memimpin doa dan semua orang mengangkat tangan lalu mengaminkan doa. Dititik ini seharusnya sepasang pengantin sungkem,meminta maaf dan memohon doa kepada kedua orangtua untuk pernikahan yang langgeng namun sayangnya kedua bersaudara ini terus mencoba menahan diri untuk terlihat tegar dan bahagia.
"Kak...jika selama ini aku adikmu menyakiti perasaan mu dengan kata-kataku,aku yang menyimpan marah,jengkel dan mungkin dendam padamu aku minta maaf lillahi ta'ala."
"Aku berharap semoga setelah ini apapun yang terjadi jangan lagi terjadi salah paham diantara kita,lebih baik jujur agar aku bisa mengerti kesulitan kakak."
"Kalau memang aku salah tolong tegur aku dengan kata-kata yang baik dan jika aku mengingatkan kesalahan kakak mungkin dengan kata-kata yang kasar dan menyakitkan tolong maafkan aku!"
"Aku tidak punya keluarga lain selain kakak dan sebagai yang lebih tua,sekarang kakak juga sudah menjadi pemimpin dalam keluarga tolong bimbing aku adikmu untuk tetap istiqomah dalam menjalankan firman-firman Allah SWT!" sambil mencium tangan Dani berkali-kali dengan penuh takzim.
"Insya Allah...insya Allah...aamiin." balas Dani lalu mencium ubun-ubun adiknya serta memberikan pelukan hangat penuh kasih pada adiknya yang menangis tergugu didadanya.
"Kakak juga minta maaf selama ini suka seenaknya,tidak peduli sama kamu. Sering menyakiti perasaan kamu. Bersikap kekanakan malah bisa dibilang kamu lebih memiliki kedewasaan dibanding kakak,sering kamu ingatkan tapi malah marah-marah. Kakak egois. Lillahi ta'ala kakak minta maaf sama kamu."
"Iya srooook...aku maafin"
"Kita saling mengingatkan saja dek seperti kata kamu tidak ada manusia yang kadar imannya sama setiap harinya. Kadang kuat,kadang lemah jadi tugas kita adalah saling mengingatkan." Mita kembali mengangguk-angguk dipelukan Dani.
Semua orang larut dalam kesedihan mereka hingga ikut meneteskan airmata. Betapa mereka berdua terlihat seperti saudara yang perlu dicontoh oleh jutaan saudara diluar sana. Saling meminta maaf,saling memaafkan,saling mengingatkan dan saling membantu.
"Jangan lagi diemin aku yah! Aku jadi suka sedih dan kepikiran,ngerasa bersalah sroook......" ucapnya manja.
"Iya insya Allah..."
"Perhatiin aku lagi yah kaya dulu karena ada kalanya aku butuh perhatian!"
__ADS_1
"Iya insya Allah..."
Kata siapa istilah dunia milik berdua itu hanya untuk pasangan kekasih atau pasangan suami istri. Lihat saja adik kakak ini berpelukan dan saling bicara sampai lupa situasi dan kondisi. Lupa masih banyak orang. Lupa dengan pengantin perempuan yang sejak tadi menunggu mereka untuk saling melepaskan diri.
"Habis ini aku minta jangan lupa ngasih aku hadiah kalau sudah punya uang lebih."
"Yeay ke situ ngomongnya. Masih nyut-nyutan ini kepalaku,baru juga belajar mengikhlaskan sesuatu yang hilang kamu sudah meminta hadiah." Mita melepaskan diri sambil nyengir dengan menggerakkan mata keatas lalu menggigit bibir.
"Kata mas Adnan,kakak......" Mita tidak jadi melanjutkan,takut karena ada yang melotot. Yah dia paham maksudnya dan hanya tertawa. Baru sadar jika dunia ini bukan hanya milik mereka berdua,jadi yang lain bukan pengontrak.
"Aduh dek lihat bajuku basah kena ingus kamu lagi!" keluh Dani dengan tampang nelangsa yang disambut kekehan Mita.
"Nyewa ini dek bukan punya sendiri."
"Maaf...nanti sama aku langsung direndem." ucapnya dengan kepala menunduk sambil menahan malu.
Semua orang jadi tertawa melihat interaksi mereka. Mita yang jadi malu-malu mengingat sikapnya tadi lalu menutup muka.
"Belajar jadi imam yang baik dulu!" jawabnya sambil mengedipkan mata dengan senyum penuh arti.
"Kalau aku pasti boleh kan Dan?" sela Hafiz dengan senyum percaya diri.
"Belajar jadi lelaki yang baik dihadapan Allah dulu biar bisa membimbing adik aku!" Hafiz terlihat tidak suka,merasa diberi PR teka teki membuat semua orang terkekeh.
"Baik dihadapan Allah yang gimana?"
"Aku kaya anak SD yang belum paham sama PR." keluhnya sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal mengundang tawa semua orang.
"Tanya sama orangnya!" Dani menggerakkan kepalanya ke arah adiknya yang bengong.
__ADS_1
"Sholat,puasa,ngaji maksudnya?" tanya yang lain yang sepertinya tertarik pada Mita yang langsung menggeleng.
"Sebetulnya semua hal yang bukan karena mengharap ridho Allah SWT bisa dianggap salah dihadapan Allah."
"Kok begitu?"
"Pernah gak kita melakukan ibadah hanya biar dianggap baik sama orang,biar dipuji juga."
"Itukan niatnya bukan karena Allah dan termasuk ujub dan riya' juga."
"Kalau itu sih kayanya aku sering,rasanya bahagia mendengar pujian dari orang,merasa hebat gitu."
"Merasa hebat insya Allah juga salah dihadapan Allah karena semua kemampuan yang kita miliki berasal dari Allah bukan karena diri sendiri."
"Tangan ini nikmat dari Allah kan bukan kita yang buat dan saat menghasilkan sesuatu yang hebat tentu saja atas seizin Allah SWT."
"Maaf ini yah,jika Allah mengizinkan seseorang tidak punya tangan dari lahir atau mengalami kecelakaan terpaksa tangannya diamputasi maka itu yang terjadi."
"Seharusnya kita malu merasa hebat."
"Eh maaf kok jadi kaya sesi tanya jawab diacara ceramah sih." Mita garuk-garuk kepala,merasa malu jadi pusat perhatian.
"Malah bagus lagi mbak Mita bisa jadi amal ibadah mengobrolkan akhlak yang baik,ilmu buat yang lain juga." sahut pak ustad.
"Tapi ini momentnya kurang pas pak ustad,ada orang yang lebih berilmu daripada saya."
"Beneran bagus lho mbak,jarang yang membahas akhlak,gurunya siapa?" tanya pak ustad yang membuat Mita salah tingkah.
"Lihat diyutub pak ustad."
__ADS_1
"Boleh tahu yah namanya?"
"Iya pak ustad tapi sekarang silahkan menikmati makanan yang kami siapkan. Maaf seadanya. Silahkan menikmati!" acara akad nikah ditutup dengan makan bersama.