Jodoh Di Awal

Jodoh Di Awal
Bab 138 Solusi


__ADS_3

Keluarnya dari rumah itu Mita bingung harus bagaimana? Pikirannya tiba-tiba seperti berhenti ditempat tidak bisa mikir lagi hingga beberapa saat berlalu ketika mendengar teriakan segerombol anak kecil yang sedang berlari melewatinya barulah ia sadar.


"Astaghfirullahaladzim...." ucapnya sambil mengusap muka lalu menarik napas panjang.


Masih diam ditempat dengan berpikir. Bingung harus apa?


Niatan hari ini urusan MUA musti kelar meringankan beban supaya besok bisa mengurus yang lain,mengecek rumah lama yang rencananya dijadikan tempat akad nikah dan lain-lain. Urusan nikah kan banyak apalagi Mita mengurus sendiri,sudah tidak ada orang tua yang biasanya berdiri digarda depan untuk mengurus keperluan pernikahannya. Kalaupun punya saudara laki-laki kandung percuma juga tidak bisa diandalkan untuk dimintai bantuan karena sama sibuknya mengurus rumahtangga yang justru lebih rumit permasalahannya.


"Ya Allah tolong tunjukkanlah jalan!" ucapnya sedih sambil menengadah ke langit yang langsung menyipitkan mata spontan melindungi dengan tangan,lupa kalau hari sedang terik cahaya matahari sangat menyilaukan matanya.


Tiba-tiba terlintas keinginan menemui Yahya dan langsung tancap gas.


Disaat seperti ini yang dia butuhkan adalah teman curhat siapa tahu bisa memberikan solusi kebetulan Yahya kan calon suaminya sudah pasti lebih kompeten jika diajak diskusi.


Tanpa memberi kabar terlebih dahulu pada Yahya akan kedatangannya,bersyukurnya Yahya ada ditempat kalau saja tidak ada dijamin dia pasti nangis nelangsa karena terpuruk dan merasa sendiri.


"Kenapa gak ngabarin dulu kalau ke sini?" Mita bukannya jawab malah duduk disofa didalam ruangannya dengan wajah suram tampak menyedihkan. Kalau sudah begitu Yahya tidak berani banyak bertanya.


Yahya berjalan keluar ruangan menuju dapur restoran dan kembali dengan makanan dan minuman diatas nampan.


Sekembalinya Yahya tampak terkejut melihat Mita yang mengelap airmata dengan kesal. Disimpannya makanan dan minuman dimeja lalu menghampiri Mita dengan panik.


"Hei kenapa?" dicerita sinetron jika ada adegan seperti ini pemeran prianya pasti langsung memeluk menenangkan pemain wanita berbeda dikeadaan mereka,Yahya masih menghormati prinsip Mita yang tidak ingin bersentuhan sebelum menikah.


"Huhuhu...." Yahya kaget karena Mita justru menangis kencang dan didetik berikutnya tangisannya terdengar memilukan membuat Yahya kebingungan. Merasa kasihan,maunya menenangkan tapi bingung bagaimana caranya.


"Kamu kenapa?" akhirnya Yahya memberanikan diri.


"Kalau ada masalah cerita." Mita langsung menata tajam kearahnya yang terhenyak kaget. Tidak tahu tapi rasanya saat ini Mita tidak bisa lagi menahan perasaannya yang seperti tertekan. Dia merasa kecewa dan sakit hati pada sikap Yahya yang langsung keluar saat dia baru duduk bukannya menanyakan keadaanya.


"Cerita? Cerita gimana kamunya aja langsung keluar....hwaaa...." jawabnya emosi dan menangis lagi seperti anak kecil. Yahya hanya bisa menarik napas. Yahya memahami kalau saat ini Mita tidak dalam kondisi baik-baik saja jadi meluapkannya dalam kemarahan dan tangisan.


"Melihat kamu nangis kaya gini aku jadi bingung huffttt....." ucapnya sambil menggelengkan kepala.


"Aku tadi keluar ngambilin kamu makan sama minum." Mita langsung berhenti menangis dengan sesenggukan.


"Itu...." Yahya menggerakkan matanya ke arah makanan dan minuman didepannya.


Mita malu sekali,menutupinya dengan terlihat sibuk mengelap air matanya dengan tisu.


"Niatnya tadi biar kamu makan dan minum dulu baru bicara."

__ADS_1


"Nunggu perut kamu kenyang dulu."


"Aku tahu kok kamu lagi ada masalah....datang-datang muka ditekuk ditanya juga gak jawab." tahu kan disini siapa yang salah.


"Bicara juga butuh tenaga kalau laper kan jadinya begini....marah-marah gak jelas."


"Suuzon bawaannya."


"Atau kamu lagi PMS?"


"Katanya perempuan kalau lagi PMS suka gampang marah,iya?"


"Soalnya gak biasanya kamu seperti ini...."


"Kaget juga aku kena semprot sama kamu....atau mungkin kamu sedang tertekan?" tebak Yahya sambil memandang lekat Mita yang terus menunduk.


Memang sejak pagi dia terus menahan diri jadi ketika ia merasa tertekan dan putus asa pada akhirnya kemarahannya meledak. Memikirkan betapa menderitanya ia merasa tidak ada yang mempedulikannya. Entahlah zikir yang dia ucapkan hari ini seakan tidak ada pengaruhnya,tidak bisa menenangkan hatinya seperti sebelumnya tetap saja ia marah.


"Maaf...." jawabnya lirih,menyadari kesalahannya dan kembali menangis bedanya kali ini tangisan penyesalan.


Yahya kembali menarik napas.


"Makan dulu!" Mita masih diam,merasa malu pada Yahya atas sikap kekanak-kanakkannya.


"Atau mau disuapi?" goda Yahya yang langsung disambut gelengan. Yahya tersenyum melihat Mita yang dengan gerakan cepat menyuap makanan ke dalam mulut tanpa bersuara. Hanya terdengar isakan disela makannya seperti anak kecil.


Yahya ingin tertawa tapi ditahan ingin menjaga perasaan Mita yang pastinya malu. Dan menurutnya ini moment yang langka sekaligus lucu.


"Boleh sholat?" tanyanya setelah Mita selesai makan. Mita menggelengkan kepala. Jadi sudah tahu kan apa kondisinya?


Beginilah seorang perempuan yang dalam kondisi kotor karena mungkin tubuh yang merasa tidak nyaman jadi bawaannya emosi apalagi kalau yang sampai nyeri saat haid bisa keluar keringat dingin. Dalam posisi inilah setan tidak akan lengah terus menghasut untuk bersikap diluar batas dan kudu dipahami,godaan yang semacam ini terasa lebih berat dari hari-hari biasa.


Yahya pamit untuk sholat asar lebih dulu setelah mendengar azan berkumandang.


"Sekarang cerita ada masalah apa?" setelah mengerjakan sholat Yahya siap mendengarkan.


"Aku belum dapat MUA." jawabnya sedih.


"Loh pas ditanya Mama katanya sudah dapat." suaranya terdengar kalem.


"Aku bohong."

__ADS_1


"Mas Yahya tahu kan mama kaya apa?"


"Aku mikirnya nanti mama nyari MUA profesional akhirnya minta uang ke papa."


"Aku gak mau itu...." sambil menggelengkan kepala.


"Aku maunya yang sesuai kemampuan kamu mas."


"Aku gak mau merepotkan orangtua kamu mas."


Dititik ini Yahya merenung betapa calon istrinya sangat pengertian.


"Semenjak kehilangan orangtua aku tahu rasanya....sulitnya mencari nafkah karena itu aku gak mau ngebebani kamu juga mas."


"Asal nikah sah yang penting niatnya kan."


"Kalaupun punya tabungan bisa buat masa depan kan?"


"Sebagian orang berpikir menikah karena cinta sudah sangat membahagiakan bisa senyum lebar....bukan seperti itu." Mita menggelengkan kepala.


"Enggak hanya pemenuhan nafsu yang seperti diangankan yang katanya surganya dunia dan selalu ditunggu-tunggu tapi sebetulnya pernikahan adalah awal dari kehidupan baru yang ujiannya lebih besar karena tanggungjawabnya juga besar dan lebih kompleks permasalahannya....huffttt tentunya butuh uang dalam perjalanannya." jelasnya panjang lebar.


"Ibaratnya saat masih bujangan kita maunya makanan yang enak terus bisa menolak yang gak enak tapi begitu menikah kita sudah gak bisa menolak lagi mau enak atau enggak makanan musti dimakan dan ditelan."


"Kaya ta'aruf....perkenalan gak cocok bisa ditolak beda kan kalau udah nikah mau pasangan buruk pun harus belajar menerima karena itu bagian dari konsekuensi."


"Lagipula mana ada yang sempurna." Yahya mengangguk setuju.


"Masalahnya....kita juga gak bisa sembunyi-sembunyi dari mama yang pasti bakalan marah kalau riasan kamu nanti gak lebih menonjol dari orang biasa."


"Kamu tahu kan sifat mama." Mita terdiam.


"Mama kalau ngamuk mengerikan." Yahya menggelengkan kepala,serasa buntu. Mita lebih bingung,mendadak nyalinya menciut teringat kejadian tadi pagi.


"Terus gimana dong?" ucapnya lemas.


"Ngomong aja ya ke mama....yah kamu bilang kemauan kamu biar gak terjadi sesuatu dibelakang,gimana?" ucap Yahya memelas.


"Aku gak mau kamu diomelin mama." Mita tampak berpikir panjang.


"Pasrah aja sama Allah niatnya kita kan baik insya Allah dikasih kemudahan sama Allah." Mita menarik napas panjang lalu mengangguk setuju.

__ADS_1


__ADS_2