
Mita tahu Dani ingin menghiburnya dengan mengajak 'cari angin' nyatanya tidak membuat nya langsung tertarik hingga menyegerakan diri bersiap-siap.
Entahlah...ada apa dengannya? Saat hati dan pikiran penuh syukur maka hari-hari terasa ringan dijalani tidak peduli seberapa sulitnya hidup dan saat aliran hitam sudah merasuk beginilah jadinya tidak berenergi,terpuruk,putus asa dan merasa paling menderita.
"Astaghfirullah....aku harus bangkit dari perasaan ini atau aku akan jadi orang yang sangat berdosa." Helaan napasnya terdengar keras hingga Dani yang berada didepannya bisa mendengar dan menyadari kondisi adiknya.
Satu-satunya cara menenangkan hati dan pikiran adalah kembali menghadap Allah sang pemberi kehidupan dan pemberi pertolongan.
**********
Sedari tadi Dani bolak-balik melihat ke arah pintu kamar adiknya yang masih tertutup rapat,tidak tahu apa yang dilakukannya didalam kamar. Sudah tiga jam tapi belum keluar juga membuat Dani was-was takut terjadi sesuatu.
Baru juga ia berdiri ingin mengetuk pintu kamar Mita tiba-tiba pintunya dibuka dari dalam nampaklah Mita sudah siap mengenakan pakaian rapi sambil menyampirkan tas selampang kecil ke bahunya. Dani bernapas lega.
"Dek...lama amat ngapain aja dikamar,aku sampe jamuran nungguin kamu?" tanya Dani dengan muka cemberut,memang iya dia lama karena dia butuh mengeluarkan semua unek-uneknya dan tidak ada tempat berkeluh kesah terbaik selain Allah yang sudah pasti bisa diandalkan dan tidak akan bocor ke manapun.
"Jamuran? Mana coba sini aku pengen lihat?" goda Mita,mengelilingi kakaknya untuk mencari yang katanya jamuran sambil tersenyum.
"Ye...malah senyum-senyum gak jelas." Dahinya berkerut heran melihat mata sembab adiknya seperti habis menangis badai tapi anehnya bisa lepas tertawa,ekspresi wajahnya juga ceria tidak asem seperti tadi pagi.
"Ngapain aja dikamar?" disenyumin saja seakan baik-baik saja,Dani menarik napas ogah berpikir lagi yang penting adiknya kembali happy,dia juga butuh ketenangan sendiri.
"Eh...pake rangkul-rangkul begini." Dani terhenyak melihat adiknya memeluk perutnya erat sambil menumpukan dagu ke bahunya jika orang lain yang belum tahu mereka kakak adik pasti salah paham,nampak mesra seperti pasangan kekasih dimabuk cinta serasa dunia milik berdua.
"Lepas malu dilihat orang...itu kenapa kepala gak pake helm?" protesnya sambil berusaha melepas kaitan tangan adiknya diperutnya namun Mita makin mengeratkan. Ia sudah seperti tugu Monas yang kokoh dan tinggi hingga adiknya bisa bersandar nyaman padanya.
"Diam ih...aku lagi pengen menikmati hidup kalau pake helm mana bisa nyenderin dagu begini...ayo jalan!" eh...main perintah,Dani sudah seperti tukang ojek plus-plus...maksudnya plus jadi kakak,plus jadi sandaran. Dani meletakkan helm cadangan didepan jok yang didudukinya
__ADS_1
"Lewat jalan tikus...!" rasanya nyaman sekali bersandar seperti ini pikirnya sambil memejamkan mata ditambah semilir angin kok jadi tambah nyaman mungkin karena tadi capek menangis jadi sekarang bawaannya ngantuk.
"Ke kampus dulu yah!" Dani meminta persetujuan.
"Heem..." itu jawabannya.
Sepanjang perjalanan Mita terbuai antara merasakan kenyaman dan seperti dikipasi angin alami jadinya makin mengantuk,sempat seperti melayang lalu kehilangan keseimbangan begitu mau jatuh dia memaksakan matanya melek terus begitu lagi adeeh...seperti anak kecil naik motor terus ketiduran.
Perjalanan baru dimulai,Dani merasakan sesuatu yang berat dipunggungnya hingga membuat badannya terdorong ke depan dan seperti ada yang mengajaknya rubuh ke kiri. Terpaksa ia berhenti daripada jatuh,bersyukurnya ini jalanan masuk kampung jadi sepi kendaraan.
Disitulah dia sadar orang dibelakang diam saja.
"Ya Allah...dia tidur." Dani menghela napas,menambah stok kesabaran untuk dirinya sendiri.
"Dek..." panggilnya tapi Mita tidak merespon,ingin rasanya langsung berdiri saja,badannya pegal dari tadi jadi sandaran tubuh adiknya. Dia memencet hidung adiknya agar segera bangun.
"Apa-apain sih hidung ku pake dipencet?" ucapnya galak sambil duduk tegak.
"Gak usah nge gas gitu yang harusnya marah itu aku...dibonceng malah tidur...dasar anak kecil!" dengusnya sebal.
"Siapa yang anak kecil? Siapa yang tidur? Aku gak tidur." Dani malas berdebat langsung turun dari motor
"Aku mau rehat diwarung itu." Dani meninggalkan Mita yang kebingungan sambil masih duduk diatas motor.
"Lho...kok aku ditinggal,ini gimana motornya?" teriak Mita panik.
"Ya kamu bawa ke sini..." Dani balas berteriak serasa hidup dihutan mereka teriak-teriak dijalan,tidak sadar sedang jadi tontonan orang sekitar.
__ADS_1
"Aku kan gak bisa naik motor..." Mita mencak-mencak sambil mendengus sebal.
"Dorong..." Dani menyeringai puas tanpa menoleh ke arah adiknya,ia sebenarnya juga kesal dengan kelakuan adiknya dan merasa capek setelah ditimpa sekarung beras.
Sampai didalam warung ia langsung memesan es teh dan mencomot gorengan yang disediakan didalam piring untuk mengganjal perutnya yang lapar.
"Ya ampun neng kasihan amat sih pacarnya gak mau tolongin sini biar saya aja yang tolongin..." Pria itu mengambil alih menuntun motornya ke pinggir jalan dan Mita membiarkan saja.
"Dia bukan pacar saya."
"Suaminya ya?" tanya pria itu penasaran.
"Bukan..." ucapnya sambil melengos kesal. Pria itu mengerutkan dahi bingung.
"Pacar bukan suami bukan terus dia siapanya eneng?" Bukannya menjawab Mita ikut masuk ke dalam warung tidak menghiraukan tatapan-tatapan nakal diluar. Ternyata marah menghabiskan energi.
"Ini es tehnya..." ibu pemilik warung mengulurkan segelas besar es teh langsung direbut dan diminum oleh Mita sambil membelakangi Dani.
Melihat interaksi keduanya pemilik warung mesam-mesem jadi ingat masa lalunya,menikah dengan suaminya karena dijodohkan awalnya ribut terus lama-lama jadi saling sayang takut ditinggalkan.
"Neng...gak boleh begitu sama suami dosa neng!" pemilik warung menasehati Mita yang langsung disambut helaan napas panjang.
"MASALAHNYA KAMI BUKAN SUAMI ISTRI BU KAMI SAUDARA KANDUNG!" jawab Mita penuh penekanan.
"Hah...kirain heeheeheee kaya mesra gitu boncengan sambil pelukan.!"
"Apa ku bilang dek kamu sih suka bikin huru-hara orang jadinya salah paham..." dengus Dani mukanya merah menahan malu.
__ADS_1
"Iseng banget kamu tuh..." sambungnya sambil melengos kesal.